
Berubahnya seseorang tidak bisa di hitung oleh waktu apalagi seperti membalikan telapak tangan, semuanya pasti butuh proses yang mungkin sangat panjang atau lama.
Begitu pula dengan Haidar, meskipun ia sudah berjanji pada dirinya akan merubah sikapnya untuk Alina tetapi tidak semudah dan secepat itu. Ia pun masih butuh beradaptasi apalagi menghadapi Alina yang tingkat kecerewetan nya yang sudah akut.
Di perjalanan pulang menuju rumah Alina, hanya ada kesunyian di dalam mobil Haidar biasanya Alina mengoceh tetapi sekarang Alina hanya diam.
Sampai akhirnya Haidar yang memulai membuka suaranya dan membuat Alina otomatis langsung tersenyum sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
..."Masih sakit?" Tanya Haidar pelan....
Dengan bermodal akting agar mendapatkan perhatian lebih, Alina mengangguk an kepalanya pelan sambil memegangi kepalanya.
..."Ini masih sakit Haidar." Keluh alina....
Entah ada angin apa tangan haidar terulur untuk mengusap kepala Alina yang tadi dikeluhkan sakit. Jantung Alina pun berdebar tak karuadan begitu pula yang di rasakan oleh Haidar.
..."Lain kali gak usah jadi pahlawan makanya." Ujar Haidar....
Dan baru kali ini Alina mendengar ucapan Haidar yang sangat panjang, biasanya kan hanya satu kata atau maksimal tiga kata.
... "Ini beneran Haidar yang ngomong?" Ujar Alina seakan tidak percaya....
Haidar hanya diam tidak menjawab pertanyaan konyol yang Alina layangkan untuknya.
..."Haidar, gue seneng tau Lo kaya gini meskipun masih ada cueknya dikit." Seru Alina....
..."Eh tapi, omongan alparo yang tadi gak bener kan?" Tanya Alina teringat ucapan alparo....
Haidar menatap Alina dan menaikkan alisnya seakan bertanya, maksudnya?
..."Itu yang katanya lo gak suka sama cewek?" Seru Alina....
..."Bener!" Jawab Haidar asal....
..."Se..serius? Lo..Lo beneran gak suka cewek? Berarti perjuangan gue selama ini sia-sia dong!" Ujar Alina gugup karena kaget....
__ADS_1
Haidar mengangkat bibirnya sedikit dan menciptakan senyuman kecil, tetapi Alina tidak menyadari nya.
..."Becanda!" Sahut Haidar....
Alina membuang napasnya lega. "Oh sekarang lo pinter bercanda ya sama gue!" Goda Alina membuat Haidar terdiam.
..."Haidar." Panggil Alina....
Haidar hanya ter dehem sebagai jawaban.
..."Lo nolongin gue dan anterin gue gini ikhlas dari hati kan? Bukan karena lo ngerasa bersalah atau kasihan sama gue kan?" Tanya Alina serius....
Ini juga yang mengganjal pikirannya. Menurut Alina perubahan sikap Haidar terlalu cepat jadi aneh.
..."Menurut Lo?" Tanya balik Haidar....
Memang awalnya Haidar merasa bersalah kepada Alina, karenanya Alina sampai harus ke rumah sakit. Tetapi setelah di perjalanan ia ikhlas dari hati untuk mengantarkan Alina pulang.
..."Ih kok sekarang Lo ngeselin sih?" Rajuk Alina....
..."Jangan banyak bicara, nanti sakit lagi. Ujar Haidar sambil mengelus kepala Alina dan membuat Alina ingin pingsan saat ini. Emang lebay sih namanya juga Alina....
..."Haidar, bilangin ke pacar lo ya. Maaf kalo hari ini Lo nganterin gue, kalian jangan bertengkar ya karena gue. Semoga lo bahagia selalu." Ujarnya membuat Haidar terdiam....
..."Tapi please, tetap izinin gue buat berjuang dapetin lo. Terserah lo mau anggap gua apa tapi yang jelas hati gue cuma buat Lo." Ujarnya lagi....
Lagi-lagi Haidar mengelus kepala alina. Bisa-bisa Alina tidak akan shampoan nih kalo begini terus.
..."Iya." Jawab Haidar tulus....
..."Aaa Haidar, Lo bisa gak sih terus kaya gini eh maksudnya gak sweet gini, eh bukan gitu gimana ya bingung jelasinnya." Gerutu Alina membuat Haidar gemas dan akhirnya senyum lebar....
Alina melihat senyuman itu untuk pertama kalinya. Senyuman tampan yang tidak pernah Alina lupakan.
..."Haidar, lo bisa senyum!" Seru Alina senang....
__ADS_1
..."Ya Allah, Alina rela deh kena tonjok tiap hari biar Haidar perhatian dan senyum kaya gini ." Doa Alina membuat Haidar gemas, rasanya ingin sekali menarik hidungnya yang mancung itu....
..."BERISIK!" Keluh Haidar pura-pura....
Wajah Alina langsung berubah jadi murung. "Ih dikira udah berubah, eh balik ke kode awal lagi."
..."Jangan berdoa kaya gitu, gue gak suka dengernya." Ujar Haidar sambil tersenyum dan di anggukin oleh Alina....
Alina turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah, rasanya ingin loncat-loncat dan teriak-teriak karena sangat bahagia.
Tapi semuanya sirna karena kedua sahabatnya ternyata berada di dalam rumah Alina sedang menunggunya.
..."Dari mana dulu sih?" Keluh Meilla....
..."Lah lo berdua ngapain lagian ke sini?" Tanya Alina....
..."Nungguin lo, mau denger cerita yang sebenarnya dari lo!" Ujar Elsa....
Alina duduk di sofa sambil senyum-senyum.
..."Di suruh cerita, dia malah ngelamun anjir!" Maki Meilla karena tak sabar....
..."Kalian tau gak sih, hari ini gue bahagia banget!" Ucap Alina sambil memeluk bantal sofa....
..."Buruan cerita masalah tadi, gak usah Lo cerita tentang si Haidar." Kesal Meilla....
..."Tunggu dulu, dengerin cerita gue yang di mobil tadi baru gue ceritain masalah yang tadi." Seru Alina lalu menceritakan detail keadaan di mobil Haidar....
Elsa berteriak histeris, karena ikut bahagia sedangkan Meilla hanya bisa diam karena sudah terlanjur kesal dengan Haidar.
Setelah itu Alina langsung menceritakan tentang kejadian di SMA Nuansa. Dari awal sampai akhir tanpa terlewatkan Meilla merasa bersalah karena menyalahkan Haidar. Padahal disini yang salah alparo.
..."Lain kali jangan cuma kena tonjok Lin, kena sambet cerulit baru mantap!" Ujar meilla kesal....
..."Tega banget lo il!" Ujar Alina....
__ADS_1
Lalu mereka bertiga pergi ke kamar Alina yang berada di atas, mereka saat ingin merebahkan tubuhnya. Alina dan Meilla dikejutkan oleh teriakan elsa.
..."Haidar sama yang lainnya, mau tawuran sana SMA Nuansa woy!" Seru Elsa membuat Meilla dan Alina kaget....