Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Curhat lagi..


__ADS_3

Pengakuan dari Haidar dan juga Meilla membuat Alina bingung harus percaya atau tidak. Kalian tahu kan kalau selama ini mereka berdua seakan banyak membohongi nya, membuat nya kecewa.


Alina menghela napasnya setelah mendengar itu semua, sebenarnya bingung harus bersikap seperti apa lagi.


“Maaf banget kalau keputusan aku itu nyakitin kamu, boleh gak kalau kita masing-masing dulu? Ehem maksudnya bukan putus, tapi kaya introspeksi diri masing-masing dulu.” ujar Alina pada akhirnya setelah lumayan lama diam dan sedang berpikir bagaimana baiknya.


Alina berpikir ini mungkin salah satu cara agar hubungan nya dengan Alina semakin terbuka nanti kedepannya. Secara selama ini Haidar belum cukup jujur pada Alina. Iya kan?


Haidar kaget mendengar itu, begitu pun Meilla. Bagaimana bisa Alina berpikir demikian, apakah Alina tidak ingat dengan perjuangannya dulu untuk mendapatkan Haidar? Batin Meilla.


Haidar menggeleng, “Gak bisa, gak bisa gitu. Semua udah aku kasih tahu kamu. Kamu harus ngerti kenapa aku gak kasih tau hal ini ke kamu!” seru Haidar tak terima.


“Haidar, ini masalah besar menurut aku. Apalagi kamu udah sering ngajak aku ke jenjang serius. Kalau kamu gak bisa terbuka tentang kamu dan masalah kamu, untuk apa?” seru Alina.


“Selama ini aku udah kasih tahu kamu tentang hidup aku, Alina. Kalau tentang masalah ini aku gak bisa cerita karena itu bisa menyinggung Meilla. Di sini aku yang salah, aku yang khilaf dan hampir ngambil masa depan Meilla.” tegas Haidar.


Alina menatap Haidar dengan dalam, “Haidar, setidaknya kamu kasih tahu hal ini ke aku lebih dulu dari pada aku tahu dari orang lain.”


“Sangat tidak percayanya kamu sama aku, itu lah kenyataan nya Haidar!” lanjut Alina.


Haidar menggeleng, “Bukan gitu Alina, kamu juga harus ngerti posisi aku dan Meilla. Itu bukannya aib ya?”


Alina menghela napas, “Ah ya, mungkin aku nya aja yang terlalu berlebihan. Tapi please kasih aku waktu untuk memikirkan bagaimana kedepannya ya, aku sayang kamu kok dan pasti kamu tahu itu. Aku cuma butuh introspeksi diri dan aku rasa kamu juga.”


Haidar menggeleng, “Gak bisa seperti itu Alina, semua bisa di bicarakan baik-baik. Aku gak mau kaya gitu, aku mau kita tetap sama-sama.”


“Iya kita tetap sama-sama, tapi kasih aku waktu beberapa hari Haidar. Jujur, saat ini aku bingung sama perasaan aku sendiri!” Alina tetap kekeuh dengan keputusan nya.

__ADS_1


“Alina, apa yang Haidar bilang benar. Semua bisa di bicarakan, jangan kaya gini please. Gue jadi semakin merasa bersalah sama lo!” ujar meilla ikut membantu Haidar agar Alina merubah keputusannya.


Alina menggeleng, “Gak bisa La, gue ngelakuin ini pun demi kebaikan hubungan gue sama Haidar ke depannya. Gue mau kita saling terbuka nantinya.”


“Alina, tapi ini bukan yang terbaik untuk aku. Aku mau kita sama-sama seperti kemarin-kemarin, tidak ada jarak lagu di antara kita. Aku mau seperti itu Alina, aku mohon jangan pergi!” mohon Haidar dengan suara nada lirih.


Alina mengelus pipi Haidar dengan pelan, “Aku gak akan pergi kalau bukan kamu yang nyuruh aku pergi, Haidar. Aku cuma mau izin sebentar buat nenangin pikiran, aku janji gak akan lama dan akan balik lagi ke kamu. Aku sayang kamu, aku pergi dulu ya. Salam sama Tante Indira ya, La gue cabut dulu!” seru Alina lalu berdiri dan berlari keluar rumah Haidar.


Dengan posisi kaki Haidar yang belum pulih total dan masih menggunakan tongkat untuk berjalan, otomatis Haidar tidak bisa mengejar Alina dengan cepat.


“Alina, tunggu aku!” teriak Haidar sambil melangkah untuk menyusul Alina.


Sedangkan Meilla berada di samping Haidar, untuk menjaga cowok itu agar tidak jatuh saat melangkah cepat. “Gue rasa Alina benar deh, biarin dia sendiri dulu. Gue juga kalau jadi Alina akan ngelakuin hal yang sama.” seru Meilla saat berdiri di depan gerbang bersama dengan Haidar.


Sedangkan Alina sudah tidak terlihat lagi dari sana, mungkin Alina sudah menaiki taksi yang sedang melintas di ujung komplek rumah Haidar.


“Gue gak bisa jauh dari Alina!” seru Haidar.


...****************...


Tanpa berpamitan langsung dengan Indira, Alina langsung berlari ke ujung komplek untuk mencari taksi yang akan mengantarkan nya pulang ke rumah. Tetapi ia berpikir untuk mampir sebentar ke makam Diana. Entah mengapa Alina merasa lega saat bercerita dengan mantan kekasih Haidar itu, padahal Diana tidak menjawab apapun yang Alina bicarakan.


Setelah sampai di pemakaman, Alina segera turun dan berjalan ke arah makam Diana dan Olivia. Tanpa membawa apapun, karena kunjungan dadakan.


“Halo Diana, halo Olivia. Akhirnya kita ketemu lagi ya, udah lumayan lama gue gak kesini, karena sibuk sama urusan kuliah. Ehem kalau Lo masih ada pasti Lo juga udah kuliah bareng Haidar ya Ana, tapi maaf posisi lo lagi-lagi di ambil gue saat ini.” seru Alina sambil mengelus nisan Diana.


“Ana, Lo tau gak sih masalah besar Haidar dan meilla selama ini? Kalau lo tahu, lo bersikap kaya gini gak waktu itu? Apa seperti gue, atau Lo biasa aja dan kembali memaafkan mereka?”

__ADS_1


“Gue bingung sama perasaan gue sendiri sekarang. Gue sayang Haidar, tapi gue ngerasa dia belum terbuka sama gue, apa sama Lo dulu seperti ini juga kelakuan mereka?”


“Kalau iya, berarti lo hebat banget Ana, gak kaya gue yang seakan-akan ngerasa paling tersakiti gini. Ana apa keputusan yang gue ambil itu benar? Meskipun sebenarnya gue takut malah Haidar yang pergi nantinya.”


Saat sedang asik bercengkrama dengan batu nisan Diana. Tiba-tiba rintik hujan mulai turun satu persatu, bukan segera pergi malah membuat Alina semakin gencar bercerita ini dan itu pada Diana. Malah sekarang Alina sedang menangis di bawah hujan yang sudah turun ke bumi.


“Diana, makasih banget karena lo, gue ngerasa lega banget kaya gini. Padahal Lo gak nyembunyiin apapun dari tadi.” kekeh Alina.


“Gue pengen banget ketemu lo di mimpi untuk ngomongin Haidar. Siapa tahu gue bisa jadi lo, biar Haidar bisa lebih sayang sama gue.” kekeh Alina lagu padahal air matanya masih terus mengalir.


Alina sadar, kalau hujannya tidak lagi jatuh ke atasnya, padahal ia lihat di depannya hujan masih turun. Alina menoleh ke atas dan melihat sebuah payung yang sedang melindungi nya dari hujan. Alina juga melihat seseorang yang sedang melindungi nya dari hujan itu.


...****************...


Di sisi lain, Haidar masih berusaha untuk menghubungi kekasihnya itu. Tapi sejak kepergian Alina tadi, ponsel gadis itu tidak aktif sampai saat ini. Haidar semakin khawatir karena cuaca di luar sedang hujan deras.


Haidar tidak bisa diam saja dengan kekhawatiran yang membuncah di dirinya. Dengan segera ia meminta tolong Meilla untuk mengantarkan nya ke rumah Alina untuk bertemu.


“La, anter gue ke tempat Alina. Gue gak bisa gini terus, gue khawatir sama alina.” seru Haidar yang masih terus menatap ke arah jendela.


Meilla menatap Haidar, “Lo yakin minta anter gue? Gue gak mau malah semakin jadi masalah Haidar. Lo minta anter supir lo aja.”


Haidar terdiam, apa yang di bilang Meilla benar, “Oke, kalau mamah bangun bilangin kalau gue ke rumah Alina. Gue titip mamah ya, La. Sorry kalau tadi Alina, buat lo gak nyaman.” seru Haidar pelan.


Meilla mengangguk, “It's okay, ini bukan salah Alina kok. Biar bagaimanapun Alina emang harus tahu, apalagi lo ada pikiran buat ajak dia serius.”


“Soal papi, nanti gue akan bicarakan di rumah. Lo tenang aja, gue yakin pasti papi setuju sama apa keputusan gue.” lanjut Meilla.

__ADS_1


Haidar mengangguk lalu mengacak rambut Meilla, “Pasti lah, Lo kan anak tunggal dan papi sangat sayang sama lo. Apapun yang lo minta pasti akan papi lo kabulin. Gue harap ini juga, gue bahagia bersama Alina dan Lo pasti punya kebahagiaan Lo sendiri.” seru Haidar lalu melangkah meninggalkan Meilla.


Meilla tersenyum lirih, “Gue lagi berusaha nyiptain bahagia gue bersama Edo, Dar!” seru Meilla pelan entah Haidar dengar atau tidak.


__ADS_2