Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rasa syukur..


__ADS_3

Setelah hari dimana akhirnya Indira mulai sadar dan mulai mengikhlaskan apa yang pernah terjadi, setelah itu pula kisah cinta antara Alina dan Haidar semakin bersinar.


Keduanya kerap menghabiskan waktu bersama, sebelum nantinya akan sibuk. Yap, akhirnya Alina memilih untuk kuliah di Indonesia. Memilih kampus dan jurusan yang sama dengan Haidar.


Sebucin itu kah? Oh tidak, memang sejak dulu Alina ingin menjadi guru, entah guru apa saja. Karena ibunya dulu juga seorang guru, oleh karena itu ia ingin mengikuti jejak sang ibu menjadi guru muda yang cantik.


Tetapi ternyata, Haidar pun punya cita-cita yang sama, ingin Menjadi guru. Haidar bilang sih ingin menjadi guru olahraga tetapi lihat saja nanti kedepannya, semoga saja terwujud.


Hari ini, Indira mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya, dan yang datang hanya orang tua Meilla, sahabat-sahabat Haidar dan satu lagi yaitu orang tua Diana.


Ini kali pertama Indira beremu dengan keluarga Diana setelah pemakaman ini waktu itu. Keluarga Diana pun sayang kepada Haidar seperti Indira menyayangi Diana. Tetapi takdir berkata lain, ah sudahlah sekarang kan kisahnya Alina dan Haidar bukan Haidar dan Diana.


Ada pak ustadz yang memimpin doa di acara syukuran ini, setelah berdoa atas rasa syukur karena di beri kesempatan kedua untuk sadar oleh tuhan, Indira juga meminta semua agar ikut mendoakan Olivia dan Diana agar tenang di sana.


Setelah acara doa telah selesai, semua di persilahkan makan sepuasnya. Di atas meja sudah tersedia sangat banyak makanan yang sengaja di pesan oleh Indira.


“dir, saya bersyukur banget kamu bisa kembali sehat seperti dulu kaya gini.” seru Riani ibunya Meilla.


Indira mengangguk, “Alhamdulillah Ri, ini semua berkat alina. Kata Haidar dia yang punya ide ajak saya ke makam Olivia.”


“Alina memang gadis yang baik Dir, saya lumayan kenal sama dia. Selalu bawa hal yang positif untuk Meilla selama mereka berteman.” puji Riani untuk Alina.


“Makanya saya bahagia banget waktu Haidar ngenalin ke saya kalau Alina adalah kekasih nya saat ini.”


“Tapi Dir, Alina itu suka kesepian karena orang tuanya jauh dari dia. Makanya kadang dia suka nginep di rumah aku kalau engga Meilla yang nginep di rumah dia.”


“Pantes waktu aku undang orang tuanya wajah dia kaya sedih gitu, tapi aku salut sih,meskipun dia jauh dari orang tuanya tapi pergaulan di terbatas dan prestasi dia itu loh konsisten.” Riani mengangguk-angguk.


Tak lama datang Nadia, ibunda dari mendiang Diana ikut bergabung dengan Riani dan Indira.


“Kayaknya seru banget nih ibu-ibu, gosipin apa sih?” seru Nadia sambil terkekeh.


Indira langsung menyuruh didik Nadia di sofa, “Ini bias ngomongin anak-anak.” sahut Indira.


Wajah Nadia langsung berubah menjadi sedih, dan menoleh ke arah sahabat-sabatnya Haidar yang sedang bersenda gurau.


“Kalau saja Diana masih ada, pasti dia ada di tengah-tengah mereka ya bu.” seru Nadia lirih.


Indira langsung mengelus punggung Nadia pelan, “Iya bu, tapi ini semua sudah takdir, saya merasa bersalah seperti kemarin, jelas-jelas itu membuat Olivia dan Diana menjadi tidak tenang dan sedih saat melihat saya seperti kehilangan arah.”


Nadia mengangguk lalu tersenyum, “Iya Bu saya sudah ikhlas, cuma terkadang masih teringat aja.”


Riani pun mengangguk, “Hal yang wajar kok Bu, apalagi itu anak semata wayang pasti susah buat ngelupainnya. Tapi heboh baik lagi, kita benar-benar ikhlas buat mereka bahagia di atas sana.”


Nadia dan Indira tersenyum dan keduanya berpelukan seakan menguatkan satu sama lain. Setelah melepaskan pelukan itu, Nadia bertanya pada Indira.


“Bu, itu yang di sebelah Haidar, pacar barunya?” tanya Nadia dan langsung di anggukin oleh Indira dan Riani.


“Cantik ya? Sama seperti Diana.” celetuk Indira sambil terus tersenyum ke arah Alina.

__ADS_1


Nadia mengangguk, “syukur deh kalau Haidar bisa membuka hati lagu untuk orang lain.” seru Nadia.


Dalam hati Nadia sangat sedih sebenarnya, karena Haidar sudah bisa bahagia lagi tanpa kehadiran Diana. Tetapi balik lagi kan? Semua sudah takdir, membiarkan Haidar bahagia sama saja membuat Alina bahagia di atas sana bukan?


“Dia gadis yang membuat saya sadar setelah apa yang pernah terjadi kemarin bu.” puji Indira lagi untuk Alina.


Nadia mengangguk, “Kelihatan dari wajahnya gadis yang baik, semoga Haidar berjodoh dengan dia ya Bu, saya do’ain itu.” seru Nadia dan di Aminin oleh Indira dan Riani.


Riani sangat setuju jika nanti pelabuhan terakhir Haidar pada Alina, karena Haidar sudah ia anggap anaknya sendiri. Apapun yang buat Haidar bahagia, Alia akan selalu dukung dan sepertinya Alina memang sangat cocok untuk Haidar.


Kita doakan ya guys, agar mereka memang berjodoh! Amin.


Sedangkan di perkumpulan anak-anak muda ini tengah membicarakan kampus dan jurusan yang akan mereka masuki dan tekuni. Mereka semua ingin satu kampus yang sama, tetapi apa daya mereka sadar kalau ikut dengan Alina dan Haidar sudah pasti tidak akan masuk. Tahu sendiri lah apa penyebabnya!


Makanya mereka memilih kampus yang sama yang sesuai dengan kapasitas otak mereka. Meilla dan Elsa ingin memilih jurusan Ekonomis, sedangkan Edo ingin mengambil jurusan hukum, dan Lio serta Nanda seperti Haidar ingin menjadi guru olahraga.


Kita doakan juga semoga cita-cita mereka semua terwujud! Amin.


“Lo mau jadi guru olahraga karena pengen lihat anak murid lo pake kaos olahraga yang ketat- ketat kan?” tuduh Edo pada Nanda dan Lio.


“Oh ya jelas dong!” seru Nanda semangat dan langsung di hadiahi lemparan kacang dari masing-masing orang yang ada di sana.


“Kalau gue mah gak ada niatan begitu, punya pacar satu aja galak, mana sempet gue lirik yang lain, kalau langsung di ajak stayction sih gas!” seru Lio membuat Elsa murka dan menarik rambut Lio keras.


“mampus Lo!” teriak Nanda lalu terkekeh begitu pula yang lainnya.


“Lo pernah di ajak Lio, stayction juga Sa?” tanya Alina polos membuat yang lain semakin berbahak.


“Kok omongan lo jadi bahaya gitu sih Lin, di ajarin siapa get?” tanya Meilla karena kaget dengan pertanyaan Alina.


“Gue cuma nanya, siapa tahu kan pernah!” sarut Alina sambil terkekeh menggoda Elsa.


“Aliba, ****** ya lo sekarang!” teriak Elsa kesal karena jadi bahan godaan.


Ponsel Alina berdering, tanpa pamit Alina berdiri dan menjauh dari kerumunan untuk menerima panggilan uang masuk di ponselnya.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Alina mulai berbicara di sambungan telepon itu, senyumnya tidak pudar hingga panggilan selesai. Setelah itu Alina mulai kembali duduk bersama dengan sahabatnya yang lain.


“Suapa?” tanya Haidar saat Alina sudah duduk kembali di samping nya.


“Ada deh.” seru Alina cuek.


Wajah Haidar berubah, “Siapa, Alina?” tanya Haidar sekali lagi.


Alina terkekeh melihat wajah Haidar yang sudah merah, “Guys, lihat Haidar kenapa nih mukanya merah begini.” seru Alina malah memberitahu yang lain.


Yang lain langsung menoleh ke arah Haidar, dan memang benar apa yang di katakan Alina tadi, “Itu tandanya di lagi bahan biker!” seru Lio dan di ketawain oleh yang lain.


“Bukan anjir, di lagi nahan kentut karena depan Alina jadi jain.” sahut Nanda dan di ketawain lagi.

__ADS_1


“Salah l, dia lagi cemburu guys, gak gue kasih tau siapa yang nelepon gue tadi.” seru Alina memberitahu wajah Haidar berubah.


“Suapa Alina!” seru hlHaidar dengan tegas.


Tanpa basa basi lagi, Alina langsung g mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Haidar supaya dia melihat sendiri siapa yang tadi menghubungi nya.


“Puas?” seru Alina.


Haidar langsung mengembalikan ponsel Alina dan memeluk Alina dengan gemas, “pinter bikin aku cemburu ya sekarang!” seru Haidar lalu menggelitiki perut Alina.


Alina meronta-ronta karena merasa geli, sedangkan yang lain hanya menggeleng-geleng kepala melihat pasangan bucin di depan mereka.


“Berawal dari telepon rahasia lalu cemburu dan berakhir dengan bermesraan. Nasib jomblo, tiap hari ngeliat beginian!” cibir Nanda sambil mengelus dadanya.


“Makanya nanti di kampus nyari cewek biar lo gak jadi nymauk mulu.” seru Edo.


“Tenang, itu udah jadi penglihatan pertama gue saat mulai kuliah nanti.” ujar Nanda sambil terkekeh dan merapikan rambutnya sendiri.


“Najis, sama lo kaya Lio, otaknya cuma cewek Sam ************!” cibir Elsa yang masih kesal sama Lio.


Semua kembali asik membicarakan kuliah dan jurusan nanti, sedangkan Alina dan Haidar kembali berbicara berdua.


“Besok malam, kamu datang ya ke rumah aku.” seru Alina dan di anggukin oleh Haidar.


“Tanpa di suruh, aku pasti datang.” sahut Haidar.


“Tapi ini beda, aku mau ngenalin kamu sama orang tua aku. Besok mereka sampai ke Indonesia dan pasti malamnya mereka ngajakin aku makan malam, makanya aku mau ikut sama kamu.”


Haidar mengangguk, “Papah kamu galak gak, Lin?” tanya Haidar membuat Alina terkekeh.


“Kamu takut sama papah aku?”


“Gak sih, cuma grogi aja.”


Alina terkekeh mendengar jawaban dari Haidar menurutnya lucu, “Ehm l, dulu waktu pertama kali ke rumah Diana, ketemu papahnya kamu gimana?”


“Aliba!” seru Haidar dengan nada tak suka.


Haidar sudah sering bilang pada Alina, kalau jangan pernah bilang Diana lagi. Selain ia tidak ingin melihat Alina sedih, Haidar juga tidak mau mengingat kembali masa lalu nya bersama Diana, biarin ia kubur rapat-rapat kenangan itu.


“Aku cuma mau tau aja Haidar, seperti itu aja yang nanti kamu lakukan saat ketemu papahku juga.” ujar Alina menyuruh Haidar bersikap dan berperilaku yang sana saat pertama kali ketemu orang tua Diana dulu.


“ku ajak mamah gak?” tanya Haidar.


Alina menggeleng, “Kayaknya gak usah dulu deh, Kita nbkan bukan mau lamaran cum mau kenalan dulu. Buru-buru amat sih pak!” kekeh Alina.


Haidar langsung memeluk Alina lagi dan mengecup kening Alina beberapa kali, “Takut kamu di ambil yang lain. Entah tuhan atau manusia!” seru Haidar membuat jantung Alina berdetak sangat cepat.


Gimana part ini? Maaf ya kalau ceritanya ngebosenin.

__ADS_1


__ADS_2