
Berkuliah di kampus yang sama adalah keinginan Alina dan Haidar agar mereka selalu bersama. Awalnya memang tidak terwujud tetapi keesokan harinya mereka menjadi satu kampus.
Itu semua berkat Fandi, papahnya Meilla yang membuat Haidar untuk pindah ke kampus tersebut. Haidar bercerita dengan Fandi dan Fandi langsung membantunya karena kebetulan Fandi kenal dengan salah satu petinggi di sana.
Bayangkan, seberapa banyak jasa keluarga Meilla selam ini untuk keluarga Haidar? Seharusnya kalian tidak perlu membenci Meilla, karena mereka membantu Haidar tulus.
Pagi ini Haidar kembali menjemput Alina di rumah untuk pergi ke kampus bersama. Mungkin ini adalah rutinitas wajib Haidar setiap pagi sampai mereka lulus kuliah nanti. Tapi pagi ini berbeda, Alina sudah menunggu Haidar di depan gerbang agar Haidar tidak perlu masuk ke dalam.
Saat Haidar sampai di depan rumah Alina, ia kaget karena melihat Alina yang sudah berdiri di sana sambil melihat ke kanan ke kiri. Haidar turun dari mobilnya lalu menghampiri kekasih hatinya.
“Ehem, permisi mna yang pesan taksi online?” gurau Haidar membuat Alina terkekeh.
“Eh iya mas, lama banget datangnya sih!” Serua Lina ikut menimpali candaan Haidar.
Haidar mengangguk, “iya maaf ya mba, soalnya di jalan nya macet!” jawab Haidar membuat Alina terkekeh.
“Udah ah berangkat yuk, aku 1jam lagi ada kelas soalnya.” Serua Alina yang memang sekarang sudah mulai belajar.
“Tunggu, aku belum pamit sama orang tua kamu!” ujar Haidar ingin masuk ke dalam.
Alina menggeleng, “Papah, mamah udah berangkat ke kantor dari pagi. Makanya aku nungguin kamu di depan.”
Haidar mengangguk lalu menarik tangan Alina pelan untuk di genggam menuju mobil. Saat sampai di samping pintu mobil, Haidar membukakan pintu untuk Alina. Alina terkesima dengan perilaku Haidar yang menurutnya sangat romantis.
“Makasih, Haidar!” seru Alina saat sudah duduk manis di samping kursi pengemudi.
“Panggiknya sayang!” ujar Haidar berpura-pura merajuk.
Alina terkekeh, “Ita sayang!” jawab Alina dengan nada lembut membuat jantung Haidar berdebar.
Haidar menutup pintu mobil, lalu berjalan ke arah kursi pengemudi. Setelah duduk dengan nyaman Haidar langsung melanjukan mobilnya menuju kampus. Sepanjang perjalanan keduanya terlibat obrolan dari hal penting hingga tak penting.
Setelah ikut bermacetan ria bersama dengan pengendara lainnya, akhirnya mereka telah sampai di kampus. Keduanya langsung turun dari sana dan membuat semua mata kembali fokus pada mereka.
“Cowoknya ganteng, ceweknya cantik. Bayangin nanti anaknya secakep apa woy!” seru mahasiswi.
“Kelihatan dari wajah mereka, lalu ceweknya yang lebih cinta deh!”
“Cowoknya gak ada obat!”
“Ceweknya gak banget sih kalau menurut gue, gak cocok dan tuh cowok. Lebih cocok cowoknya sama gue!”
Begitu kira-kira ujaran dari para mahasiswi yang melihat mereka. Maklum namanya hidup ada pro dan kontra. Alina sudah biasa dengan ini begitu pula dengan Haidar. Meskipun di jadiin bahan pembicaraan senyum Alina tetap merekah, tapi tidak dengan Haidar yang memasang wajah dingin tak tersentuh nya.
“Aku langsung ke kelas ya?” pamit Alina.
Hadar mengangguk lalu melepaskan genggaman tangannya pada Alina, dan membawa Alina masuk ke dalam pelukannya.
Di usap nya rambut Alina dengan lembut, “Kalau sudah keluar kelas, kasih tahu aku ya. Jangan dekat sama cowok dan belajar yang benar!” pesan Haidar lalu di akhiri dengan kecupan manja di kening Alina.
Alina mengangguk, laku tiba-tiba otak jahilnya muncul. Alina menghapus bekas kecupan Haidar di keningnya, ia ingin melihat bagaimana respon Haidar.
Haidar pun melihat dengan jelas apa yang Alina lakukan, hatinya seperti tertusuk jarum yang tak kasat mata. Perih!
“Kok di hapus? Kenapa?” suara Haidar terdengar kecewa.
Alina menggeleng, “Gak papa, pengen hapus aja!” sahut Alina.
Tanpa di duga, Haidar malah mengecup lagi kening Alina dengan beberapa kecupan membuat Alina terbahak dengan tingkah lucu Haidar. Mana nih es batu yang dulu, apakah benar-benar sudah meleleh?
“Jangan di hapus, Alina!” peringat Haidar.
“Panggilnya sayang!” seru Alina meniru kata-kata Haidar tadi.
Haidar mengacak rambut Alina, “Iya sayang!”
Alina tersenyum, “Yaudah aku masuk ya, kamu juga nanti kabarin aku. Bye, i love you.” seru Alina.
__ADS_1
Haidar mengangguk, “I love you too, Alina.” jawab Haidar membuat semangat belajar Alina meningkat drastis.
Alina berjalan ke arah kelasnya karena sebenar lagi dosen pengajar akan masuk. Saat sampai di dalam kelas ternyata sudah lumayan ramai dan bangku kosong sisa paling depan. Sudah menjadi kebiasaan jarang ada yang mau duduk paling depan apalagi berhadapan dengan guru.
Alina duduk di bangku kosong dekat dinding paling depan, tanpa ia sadari ternyata ada Hellena di bangku belakang nya.
“Alina.” tegur Hellena saat melihat Alina duduk di depannya.
Alina menoleh ke belakang dan melihat temanya itu, “Eh Hellena, gue gak lihat lo duduk di situ tadi.”
“Ragun mata Lo berarti!” gerutu Hellena.
Alina terkekeh, tidak sakit hati saat Hellena bicara seperti itu.
“Lin, hubungan lo sama Haidar udah lama?” tanya Hellena penasaran.
Alina menggeleng, “Baru sebulan deh kayaknya, kenapa?”
Hellena yang menggeleng, “Gak papa, cuma nanya aja. Tapi kalian cocok tahu!” seru Hellena.
Alina tersenyum, “Thank you, Hell.”
“Kaya dulu Haidar sama Diana, cocok!” seru Hellena lagi.
Alina yang mendengar itu langsung terdiam, apakah se cocok itu Haidar dengan Diana dulu?
Hellena yang melihat perubahan wajah Alina langsung tidak enak hati, “Alina, sorry gue gak berkat bahan itu.” Hellena meminta maaf karena salah berbicara.
Alina menggeleng lalu tersenyum, “It’s okay Hellena, biar bagaimanapun mereka kan masa lalu. Meskipun seharus nya di lupakan tapi pasti salah satu kenangan mereka akan terap teringat!” seru Alina.
Hellena mengangguk, “Lin, lo tau sahabatnya Haidar?”
Alina mengangguk, “Tahu semuanya, Lo juga kenal mereka?”
“Mereka? Bukan. Sahabat dekatnya Haidar, Meilla?”
Hellena berkata oh tanpa bersuara, “Lo tau gak kalo mereka itu Deket banget? Kalau kata Diana dulu, kedekatan mereka itu gak wajar.”
“Gak wajar, maksudnya?” tanya Alina bingung.
“Iya kaya bukan sahabatan gitu, dari dulu Diana cemburu dengan Meilla. Tapi Haidar selalu bilang kalau Meilla cuma sahabat kecilnya.”
“Iya memang, terus?”
“Tapi setiap ada sesuatu yang terjadi pada Meilla, Haidar terlalu panik banget beda kalau Diana yang mengalami. Lo pasti ngerti kan maksud gue?”
Alina mengangguk, karena memang dia mengerti maksud omongan Hellena tadi. Memang kalau di lihat-lihat Haidar selalu memperlakukan Meilla dengan sangat baik. Alina pernah berpikir hal yang sangat waktu itu, tapi pikiran itu di tepis oleh kata-kata Haidar.
“Aku Sam Meilla gak akan pernah bersama!” seru Haidar pada waktu itu.
Makanya saat ini Alina berpikir kalau Haidar menganggap Meilla sebagai adik perempuan nya. Tidak lebih! Tapi setelah omongan Hellen tadi, jadi membuat Alina berpikir keras. Apakah ia salah kalau akhirnya mencurigai Meilla?
Alina menggeleng, “Gak! Meilla sahabat lo dan lo harus percaya sama dia begitu juga percaya sama Haidar! Toh sampai detik ini hubungan lo sama Haidar baik-baik aja begitu pula dengan hubungan Meilla dengan Edo! Kita udah bahagia masing-masing jadi gak perlu khawatir!” batin Alina bergejolak menolak pikiran negatif nya tentang Meilla.
“Gue cuma pesan Sam lo, hati-hati sama Meilla. Jangan kasih celaj dia buat dekat dengan Haidar lagi. Sejak dulu Diana selaku cerita masalah Meilla sama gue, karena kalau dia cerita ke Haidar malah mereka jadi bertengkar karena Haidar tak suka Meilla di salahkan dalam hubungannya!” jelas Hellena.
Sama apa yang Alina rasakan kemarin! Haidar tak suka kalua alina membahas Meilla dan mengatakan kalau ia cemburu dengan wanita itu.
Alina hanya mengangguk, “Thanks sarannya, Hell.”
“Lo udah tau kenapa Diana bisa meninggal, Lin?” tanya Hellena lagi.
Alina mengangguk, “Karena kecelakaan kan?”
Hellena menggeleng, “Bukan, dia di tabrak Sam seseorang.”
Alina kaget dengar ujaran itu, selam ini Haidar bilang Diana dan Olivia meninggal karena kecelakaan. Tetapi kenapa Hellena bilang Diana di tabrak? Lalu yang benar yang mana?
__ADS_1
“Di tabrak?” ucap Alina tak percaya.
Hellena mengangguk, “Iya di tabrak sama seseorang yang tak bisa tanggung jawab atas kesalahannya sampai saat ini.”
“Itu semua pun karena bantuan dari papahnya Haidar.” lanjut Hellena.
“Maksudnya?”
“Vanesa, Lo tau dia? Dia lah yang nabrak Diana hingga tewas bersama dengan adik kandung Haidar. Tapi Vanesa tidak di penjara atau di beri hukuman apapun karena papahnya Haidar jaminannya.”
“Lo pasti udah tau kan tentang keluarga Haidar? Makanya sampai saat ini gue dendam banget sama tuh cewek yang asik berkeliaran kesan kesini sedangkan sepupu gue meninggal karena dia!” marah Hellena.
Alina menggeleng, “memndam sebuah dandan itu gak baik Hellena. Biarkan Vanesa dapat hukuman yang setimpal nanti di beri oleh tuhan.” peringat Alina.
Hellena menggeleng, “Gak bisa aliran, biar bagaimanapun dia salah. Cuma karena cintanya di tolak Haidar dia sampai tega membunuh dua nyawa sekaligus. Udah gila tuh dia!”
Alina mengelus lengan Hellena pelan menenangkan gadis itu, ia tahu bagaimana rasanya jadi Hellena yang kehilangan sepupu kesayangannya itu.
Saat ingi. Membalas perkataan Hellena, dosen pengajar sudah memasuki kelas dan otomatis obrolan mereka terhenti dan segera fokus ke pelajaran hari ini.
...****************...
Setelah selesai kuliah keduanya kembali bertemu lagi, jam kuliah mereka bentrok makanya waktu Alina keluar kelas, Haidar masuk sedangkan Haidar keluar Alina masuk. Jadi lah malah hanya mereka bertemu saat selesai kuliah dan waktunya pulang, itu pun Haidar yang lebih dulu selesai dan harus menunggu Alina.
Sejak menunggu Alina tadi, Haidar di buat risih oleh para mahasiswi yang kebetulan lewat di depannya. Mereka selalu menggoda nya sampai ada yang meminta nomor ponselnya.haidar tidak merespon apapun ia hanya fokus pada game di ponselnya saja.
Hingga ada satu orang yang membuat fokusnya jadi teralihkan, sampai ia rela menutup gamenya. Seseorang itu menghampiri Haidar dengan senyuman miringnya seperti mengejek.
“Lo cowoknya, Alina?” tanya Adriel yang kemarin seakan mengibarkan bendera perang untuk Haidar.
Haidar tidak menjawab dan hanya memperhatikan wajah Adriel dengan seksama. Seakan sedang memilih ia akan melemparkan pukulan nya di wajah bagian mana.
“Gimana kalau kita tanding basket, kalau lo menang gue gak akan gangguin hubungan lo sama Alina lagi, tapi kalau gue yang menang li harus putusin Alina dan biarin gue deketin dia!” seru Adriel membuat Haidar tersulut emosi.
Maksudnya apa membuat Alina menjadi bahan taruhan, memangnya Alina barang pikir Haidar.
“Gak minat!” sahut Haidar lalu pergi dari sana sebelum kesabarannya habis.
Tapa di sangka, tas Haidar di tarik begitu saja oleh Adriel. Emosi Haidar sudah tidak bisa di tahan, karena menurut Adriel sudah lancang.
“Brengsek!” seru Haidar lalu menghantam wajah Adriel keras.
Adriel yang tidak siap dengan pukulan itu langsung terhuyung ke belakang. Suasana menjadi ramai karena banyak orang yang melihat ke arah mereka, sampai membuat sebuah lingkaran.
“Berani juga ya lo sama gue!” seru Adriel saat sudah bangkit kembali. Sudut bibirnya berdarah karena pukulan tadi.
Haidar hanya diam tidak menjawab, lalu membalikan badannya untuk pergi dari sana. Tapi lagi-lagi Adriel mengusiknya dengan melempar sebuah batu pada kepala Haidar. Tanpa aba-aba Haidar langsung menghantam Adriel dengan membabi buta tanpa memikirkan resiko kepadanya.
Alina yang baru saja keluar kelas langsung berlari menghampiri kerumunan itu, ia pun sama seperti yang lain Ingi n tahu ada apa. Betapa terkejutnya Alina saat melihat Haidar sedang memukuli seseorang yang wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
Alina langsung menghampiri Haidar dan menarik lengan Haidar agar berhenti memukul, namun sayang tangan Haidar lebih besar dan malah membuat Alina terjatuh.
“Haudar stop!” teriak Alina tapi tidak di hiraukan oleh Haidar.
Dengan keberanian alian langsung berjongkok tepat di depan Haidar atau di atas kepala Adriel, Haidar yang melihat wajah khawatir Alina langsung berhenti memukul dan menarik Alina membawanya pergi dari sana.
Haidar membawa Alina langsung ke mobil dan langsung menancapkan gasnya keluar kampus, membiarkan Adriel di tolong oleh orang lain.
“Berhenti!” seru Alina saat mereka sedang berada di jalan.
Haidar kasih emosi dan membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Alina takut. Makanya Alina mengatakan untuk berhenti.
Hadar memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, setelah itu ia mengusap wajahnya. Perasaannya campur aduk.
“Maaf!” hanya itu yang keluar dari mulut Haidar membuat Alina menghela napas.
Kecewa!
__ADS_1
Satu kata itu lah yang menggambarkan Alina saat ini!