
Hari yang di tunggu Meilla dan Edo telah tiba, dimana orang tua Edo sudah setuju atas pertemuan ini. Pertemuan ini di adakan malam ini, di restoran bintang lima yang sengaja di pesan khusus oleh Fandi, ayah Meilla.
Fandi membuat ini semua agar kesan pertama mereka bertemu, memuaskan. Biar bagaimanapun Fandi sudah merestui Meilla dan Edo, yang artinya 2 atau 3 tahun ke depan keduanya akan menikah. Maka dari itu, agar hubungan kedua orang tua pun baik dari awal.
Fandi dan Riani sudah siap dengan setelan formal dan menuju ke lokasi. Meilla dan Edo sudah datang lebih dulu kesana untuk memastikan kalau mereka sesuai dengan rencana dan lancar.
Tak lama Fandi dan Riani telah tiba, dan langsung masuk ke dalam privat room yang telah di pesan itu. Di sana ada Meilla dan Edo yang nampak sedang berselfie berdua, tanpa mereka sadari kalau kedua orang tua Meilla sudah tiba.
“Asik banget kayak nya, sampai gak ngeh kalau papi sama mami dateng!” seru Riani sambil tersenyum melihat tingkah dua anak muda di depannya itu.
Meilla dan Edo yang mendengar seruan dari Riani langsung menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke sumber suara. Edo segera bangkit dari duduknya dan mencium punggung tangan milik Fandi dan Riani secara bergantian, begitu pun dengan Meilla yang melakukan hal yang sama.
“Gimana, orang tua kamu sudah jalan kah?” tanya Fandi setelah memesan beberapa makanan.
Edo mengangguk, “Sudah lagi di jalan om, mungkin sebentar lagi akan sampai!” jawab Edo.
Fandi mengangguk, kalau bergelut dengan ponselnya sambil menunggu tamunya datang. Meilla terus menggenggam tangan Edo erat, perasaannya campur aduk, antara senang, sedih dan takut yang saat ini ia rasakan. Entah mengapa seperti itu. Meilla pun tak tahu.
Edo yang menyadari kalau kekasihnya itu lagi mode panik, langsung mengelus punggung tangan Meilla dengan lembut, seakan memberikan kesan untuk tenang.
“Do, aku takut!” bisik Meilla pelan.
Mungkin Meilla takut, karena ini kali pertama Meilla bertemu dengan kedua orang tua Edo yang super sibuk itu.
Sekedar info, Edo memiliki kakak perempuan yang sudah menikah dan sekarang tinggal di luar negeri bersama dengan suaminya.
“Santai, tarik napas! Orang tua aku gak seburuk itu kok!” kekeh Edo sambil berbisik juga.
Meilla mengikuti apa yang di perintahkan Edo tadi, terapi tetap saja rasanya masih khawatir entah mengapa.
“Do, kalau orang tua gak setuju bagaimana?”
Edo mengangguk, “Jangan berpikir yang belum tentu terjadi, itu yang bikin kamu semakin takut saat ini!”
Meilla terdiam, membenarkan apa yang Edo bilang tadi. Seharusnya Meilla berpikir positif tentang pertemuan ini, dan menjadikan pertemuan indah saat pertama kali bertemu dengan orang tua Edo.
Tak lama, seorang pelayan masuk memberitahu kalau ada dua orang paruh baya menanyakan room mereka. Dengan cepat Fandi menyuruh pelayan itu membawa mereka untuk segera masuk ke dalam.
Selang beberapa menit, masuklah kedua orang tersebut, yaitu orang tua dari Edo telah tiba. Betapa terkejutnya Fandi saat melihat siapa yang saat ini ada di depannya.
__ADS_1
“Yanuar?” seru Fandi.
“Fandi?” seru Yanuar yang juga kaget saat melihat ada Fandi di sini.
Dari wajah keduanya nampak seperti menyimpan dendam satu sama lain. Meilla dan Edo melihat itu dengan jelas. Genggaman tangan Meilla semakin erat, karena ia semakin khawatir dengan ini semua.
“Edo, jangan bilang ini orang tua dari perempuan yang ingin kamu ajak tunangan?” seru Yanuar sambil menunjuk wajah Fandi dengan jari telunjuknya.
Edo mengangguk.
Fandi menepis tangan Yanuar yang tadi di pakai menunjuk wajahnya, “Kalau tahu li orang tua Edo, dari awal gue gak akan restuin mereka!” sengit Fandi.
Meilla dan Edo kaget mendengar itu semua. Sebenarnya ada apa di antara kedua orang laki-laki dewasa itu?
Riani mengelus punggung suaminya, begitu pun dengan Retno ibu dari Edo. Kedua wanita paruh baya itu pun tahu, apa masalah mereka berdua sampai sebenci ini.
Kalian tahu? Hanya sebatas pesaing bisnis. Iyups, keduanya bermusuhan karena bisnis. Sejak dulu memang keduanya terlibat cekcok jika bertemu. Tapi sebelum itu, keduanya adalah sahabat baik, karena mereka berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama.
Lihatlah, betapa kejamnya dunia bisnis ini sampai bisa membuat yang dulunya sahabat baik, harus bermusuhan Sampai seperti ini.
“Pah, jangan seperti itu!” tegur Retno pada Yanuar.
“Edo, kita pulang! Papah gak akan izinin kamu untuk bertunangan dengan anak biang kerok ini!” seru Yanuar membuat ganggaman tangan Meilla semakin erat.
“Siapa juga yang akan izinin anak lo tunangan sama anak gue! Papi batalin rencana tunangan kamu, Meilla! Sekarang kita pulang!” seru Fandi tak mau kalah.
Meilla dan Edo sama-sama menggeleng, dan saling genggam erat satu sama lain. Seakan tidak mau terpisahkan.
“Papah bilang pulang ya pulang Edo! Lepasin tangan perempuan itu!” teriak Yanuar karena Edo tidak sama sekali bergerak dari tempatnya.
Tanpa di duga, Fandi menarik paksa tangan Meilla agar terlepas dari genggaman Edo dan membawanya menjauh dari kekasih ank ya itu.
Meilla memberontak tida mau di perlakukan seperti itu, dan tidak mau di pisahkan dari Edo. Tangis Meilla pun pecah, saat Fandi terus menarik ya menjauh dai Edo.
Edo pun tidak tinggal diam, dan berusaha mengejar Meilla agar bisa di gapai lagi dengan tangannya.
“Edo kita pulang!” perintah Yanuar untuk yang kesekian kalinya.
Edo tetap tidak menghiraukan ucapan Yanuar, dan terus mengejar Meilla sampai di depan pintu keluar.
__ADS_1
“Edo, om minta tolong untuk tidak lagi menghubungi atau mengganggu Meilla! Om tidak merestui kalian berdua lagi!” seru Fandi membuat kaki Edo seakan lemas begitu saja.
Meilla masih terus menangis dan berusaha untuk melepaskan pegangan erat dari sang papah.
“Tapi kenapa om? Aku sama Meilla itu saling cinta. Gak bisa di pisahkan seperti ini, hanya karena om punya masalah dengan papah ku.” seru Edo memeberanikan diri.
Fandi memandang Yanuar dengan tajam, “Biar bagaimana pun kamu tetap anak dia! Dan om gak sudi untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan dia!” seru Fandi membuat Yanuar naik pitam.
Yanuar mendekat ke arah mereka, “Lo kira gue sudi jadi besan lo! Najis!” seru Yanuar tepat di depan wajah Fandi.
Riani dan Retno menggeleng, sudah bisa dengan perdebatan ini yang terus saja terjadi kalau mereka bertemu.
“Pah, sudah lah. Benar kata Edo, ini masalah kalian berdua. Seharusnya tidak berdampak sama hubungan anak kita!” seru Retno seakan memberikan pengertian pada Yanuar.
Riani mengangguk setuju dengan apa yang Retno bilang tadi, “Iya Pi, mereka juga berhak memilih untuk bahagia. Bukan kah kita sebagai orang tua harus mendukung mereka?” seru Riani.
Yanuar dan Fandi masih terus saling tatap dengan wajah yang memang penuh dengan kebencian satu sama lain.
“Saya bilang enggak ya enggak!” teriak Yanuar dan Fandi bersamaan.
Riani dan Retno hanya bisa menghela nafas, karena keduanya sudah tahu sifat dari suaminya. Aku seperti apa nabati kalau terus saja di bujuk, bukannya malah luluh malah semakin marah nanti.
“Kita pulang!” seru Fandi sambil menarik Meilla keluar dari Private room itu.
Edo terus mengejar keduanya, tangis Meilla pun semakin terdengar pilu. Apa yang ia takutkan tadi, akhirnya terjadi saat ini. Lalu bagaimana dengan hubungan nya setelah ini?
Riani yang melihat Edo yang terus mengejar Fandi dan Meilla, sedih. Riani yakin kalau Edo memang sangat mencintai putrinya, Meilla.
Fandi dan Meilla sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu, dan Edo terus mengetuk kaca mobil agar Fandi membukakan pintunya dan menarik Meilla kembali pada pelukannya.
Riani yang belum masuk ke dalam mobil, langsung menepuk bahu Edo membuat Edo langsung menoleh ke Riani.
“Biar Tante yang bicara sama om ya, kamu yang sabar, semoga om luluh kali ini!” seru Riani sambil mengusap punggung Edo.
Terdengar suara klakson mobil ternyata dari Fandi dan Yanuar yang menyuruh kedua orang yang masih di luar itu untuk segera masuk ke mobil.
“Kalian masih bisa bertemu di kampus, Tante masih merestui kalian kok. Kamu tenang saja ya, semoga om dan papah kamu berusaha pikiran tentang ini!” seru Riani lagi sebelum masuk ke dalam mobil.
Edo mengangguk, “Makasih banyak Tante, Edo mohon bantuin Edo ya.” seru Edo.
__ADS_1
Riani mengangguk lalu tersenyum dan tak lupa mengelus kepala Edo dengan lembut.