Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Masih menunggu


__ADS_3

Setelah makan apa yang tadi dibelikan oleh Hellena. Haidar sekarang sudah memiliki banyak tenaganya kembali. Ia masih terus menunggu di depan ruangan Alina bersama Nanda, Adero dan Hellena.


Ah ya Haidar baru sadar kalau Hellena itu perempuan dan dia harus pulang karena sekarang sudah hampir pukul 11 malam. Kasihan juga kan dari siang tadi cewek itu ada di sini.


"Nan, mending lo balik deh anterin Hellena sekalian. Kasihan dia pasti capek!" seru Haidar memandang Hellena dan Nanda bergantian.


Helena menggeleng, "Enggak kok, gue di sini aja temenin lo sama Nanda!" sahut Hellena cepat.


Haidar menggeleng, "Gak, lo pulang aja istirahat. Pasti orang tua lo khawatir karena lo belum pulang, udah malam kayak gini!"


"Gue udah kasih tahu nyokap gue kok, kalau gue lagi jagain Alina di sini, dan dia ngizinin!" jawab Hellena memang sudah memberitahu maminya tadi saat dia pergi ke kantin.


Nanda menghela nafasnya, "Benar apa yang Haidar bilang, gue anterin balik ya? Besok ke sini lagi. Gue aja yang temenin Haidar di sini!"


Mau tak mau Hellena akhirnya mengangguk, ia tidak mau bikin keributan karena tidak mendengar perkataan Nanda dan Haidar yang menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu. Lagi sip sih yang tidak merasa lelah, setelah hampir beraktivitas.


Saat ingin pergi dari sana, tak lama Edo dan Lio tiba. Sesuai janjinya tadi, untuk menemani Haidar di rumah sakit, dan Elsa yang menginap di rumah Meilla untuk saling menjaga.


"Nah kebeneran lo berdua Dateng lagi, jagain Haidar tuh, gue mu balik dulu sama Hellena, nanti gue ke sini lagi!" Seru Nanda.


Lio dan Edo mengangguk lalu melangkah menuju Haidar. Nanda pun kembali melangkah bersama dengan Hellena menuju parkiran.


Di sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tidak ada satu pun yang membuka obrolan. Entah karena apa, atau karena sudah capek seharian makanya sudah malas berbicara. Hingga akhirnya keduanya telah sampai di rumah Hellena.


"Mau gue anterin sampai dalem, buat bilang ke orang tua Lo?" seru Nanda yang juga turun dari mobil.


Hellena langsung menggeleng, "Gak perlu deh kayaknya, lagian pasti nyokap gue juga udah tidur."


Nanda mengangguk lalu membakar rokok yang tadi telah ia ambil dari bungkusan nya di dalam saku.


"kalau gitu gue balik ke rumah sakit ya? Lo bersih-bersih dulu baru tidur ya!" Seru Nanda.


Hellena mengangguk, "Pasti, lo juga kabari ya kalau udah di rumah sakit dan apapun tentang kondisi Alina. Besok pagi gue langsung ke sana lagi!"


Nanda mengangkat jempolnya ke udara, "Siap besok gue jemput lo lagi ke sini." Hellena menggangguk lalu tersenyum.


Saat Nanda membalikan badannya, suara Hellena kembali terdengar membuat Nanda kembali menghadap ke Hellena.


"Lo benaran udah selesaiin masalah lo sama Gadis?" tanya Hellena ragu-ragu.


Entah mengapa Hellena sangat kepo dengan masalah ini.


Nanda pun yang ditanya seperti itu langsung mengangguk jujur, "Udah waktu pulang dari nganterl lo waktu itu, gue langsung temuin dia."


"Terus?'


"Yah biasa, awalnya nolak. Terus dia malah ngancem tentang itu, maka dari itu untuk sekarang gue gak mau lo terlalu diekspos dulu, takut lo juga kena sama cewek sialan itu!" Jawab Nanda.


Hellena mengangguk, setuju dengan ucapan itu. Baginya tidak masalah kok, selagi keselamatannya tetap aman.


"Tapi gue akan tetap berusaha buat lo jatuh hati sama gue kok." seru Nanda dengan senyuman tampannya.


Untuk menutupi kegugupannya, Hellena menepuk bahu Nanda dua kali, "Apaan sih lo, yang sekarang dibahas itu keselamatan Alina! Gue yakin, sasaran utama Gadis itu pasti Alina deh Nan!"


Nanda mengangguk, "Gue juga yakin sih, makanya kita gak boleh sampai lengah jaga Alina di rumah sakit."

__ADS_1


Hellena mengangguk, "Semoga aja Hellena cepat sadar dan sehat kembali ya. Gue sedih banget lihat dia kata sekarang, ngingetin gue sama Diana tahu!"


Tanpa di duga, Nanda menarik tubuh Hellena untuk masuk ke dalam bekapannya dan Nanda mengelus rambut Hellena dengan lembut.


"Lo tenang aja, Alina itu orang baik dan pasti banyak juga yang do'ain dia. Gue yakin Alina akan segera membaik kok, lo jangan sedih ya gue akan selalu di samping lo kok!" Ujar Nanda dengan nada suara tulus.


Hellena mengangguk lalu melepaskan pelukannya, "Enak aja lo main peluk-peluk!" Gerutu sambil tertawa.


Setelah itu Nanda benar-benar pamit untuk kembali ke rumah sakit. Nanda harus memberitahu juga masalah ini pada Lio dan Edo agar mereka juga bisa lebih waspada pada istri masing-masing.


...****************...


Di rumah sakit yang semakin sepi, membuat mereka sedikit mengantuk di tambah udara rumah sakit yang terbilang cukup dingin menambah keinginan untuk tidur.


Tetapi Haidar tetap pada pendiriannya, untuk menunggu Alina sampai sadar. Setidaknya saat pertama kali Alina sadar Haidar lah yang pertama kali di lihat.


Nanda telah sampai kembali di rumah sakit, dan sudah membicarakan masalah Gadis pada Lio dan Edo. Serta masalah detail yang terjadi antara Adero dan Alina waktu itu.


Sedangkan Adero sendiri sudah pulang ke rumah, karena Reymond memintanya untuk pulang. Adero pulang menggunakan taksi, di karenakan menolak tawaran dari Lio untuk mengantar nya.


"Alina belum ada perkembangan apapun, Dar?" Tanya Lio membuka pembicaraan untuk mengurangi rasa kantuk.


Haidar menggeleng pelan.


"Lo gak mau balik Dul apa Dar, muka lo pucet banget asli dah kaya mayat tahu!" Seru Nanda yang tidak tega melihat Haidar.


Benar-benar seperti mayat, pucat sekali. Mungkin karena kecapekan plus efek khawatir yang berlebihan.


"Alina aja belum sadar masa gue balik, Lo ngaco anjir!" Kesal Haidar yang sejak tadi di suruh pulang terus oleh mereka bertiga.


Haidar menggeleng, "Gue gak kenapa-napa sialan. Ini dingin doang!" Sahut Haidar.


Ketiganya hanya bisa menghela napas, membiarkan Haidar dengan pendiriannya. Semakin dilarang ya semakin marah, itu lah Haidar!


...****************...


Suasna sejuk dan alam yang sangat indah. Banyak bunga yang bermekaran di sana, benar-benar indah dan tak pernah gadis itu melihat pemandangan yang sangat indah ini.


Gadis itu berjalan terus menelusuri jalan yang ada di depan nya dengan senyum yang merekah. Berjalan entah tahu tujuan nya kemana, dan hanya mengikuti keindahan yang terpampang jelas saat ini.


"Ya ampun, bunga lili!" Seru sang gadis saat melihat bunga kesukaannya juga ada di sana.


Gadis itu mememtik satu tangkai bunga lili lalu di selipkan di telinga, menambah kesan cantik pada wajah gadis itu.


Menarik napas lalu di hembuskan nya, dan di lakukan ya beberapa kali guna menghirup udara segar yangada di alam ini. Hingga matanya melihat sebuah ayunan di depan sana, dan langsung melangkah menuju ayunan tersebut.


Dia menaiki ayunan tersebut sambil bernyanyi dengan suara merdunya. Suara yang selalu membuat orang candu. Tak lama matanya menangkap dua sosok gadis yang berjalan menghampirinya sambil berpegangan tangan. Dua gadis cantik dengan usia yang berbeda.


"Halo." Sapa Alina pada dua gadis yang sudah sampai di hadapannya saat ini.


Gadis yang terlihat lebih kecil dari Alina dan yang satunya itu melambaikan tanga lalu tersenyum. Alina seperti pernah melihat senyuman itu, tetapi ia lupamilik siapa kah itu.


"Hallo kak Alina!" Sapa gadis kecil itu.


Alina yang gemas dengan gadis itu langsung menghampiri dan berlutut, "Hei, dari mana kamu tahu nama aku cantik?" Seru Alina dengan gemas dan mengelus kepala gadis itu.

__ADS_1


"Ini aku Olivia kak, dan ini kak Diana!" Seru gadis kecil itu memperkenalkan namanya dan gadis di sebelahnya yang seperti seumuran dengan Alina.


Alina seperti sedang mengingat siapakah mereka, "Em, maaf aku lupa siapa kalian!" Seru Alina dengan nada sedih.


"Aku adiknya kak Haidar, kakak kan suka main kerumah baru aku!" Sahut Olivia.


Alina baru tersadar kalau senyuman Olivia itu mengingatkan dengan sosok Haidar, kekasihnya di dunia nyata.


"Hei, akhirnya kita ketemu ya sayang." Seru Ali a sambil mengelus Surai rambut Olivia dengan lembut.


Mata Alina beralih menatap Diana yang sedang menatapnya juga dengan senyum cantik. Senyum yang katanya mirip dengan Alina juga.


"Halo, Diana!" Sapa Alina sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa di duga, Diana malah memeluk Alina dengan erat bahkan sangat erat sampai Alina sedikit sesak. Tak lama pelukan itu kembali terlepas, Alina melihat wajah Diana sudah basah dengan air mata.


"Alina, makasih banyak karena akhirnya Haidar bisa ketemu sama kamu! Kamu orang yang sudah bisa bikin dia berubah seperti sekarang!" Seru Diana.


Alina menggeleng, "Bukan karena aku Diana. Aku cuma ngelanjutin apa yang udah kamu lakuin sebelumnya."


Diana pun menggeleng, "Sebelum kenal sama kamu, Haidar itu hidup di bawah rasa bersalah Lin. Dan akhirnya kamu bisa menyadarkan dia!"


"Diana, apa kamu gak marah kalau sekarang cinta Haidar untuk kamu hilang dan terganti dengan cinta dia untuk aku?" Tanya Alina.


Dia a tersenyum tipis lalu menggeleng, "Gak mungkin aku marah Alina. Kamu adalah gadis yang cocok untuk Haidar. Aku berterima kasih sama kamu karena akhirnya Haidar bisa ngelupain aku."


"Aku sedih ngelihat dia terpuruk terus karena kepergian aku. Sekarang kamu tahu gak, kalau dia pun sedih melihat kondisi kamu!" Lanjut Diana.


Alina menghela napasnya, "Tapi aku suka berada di sini Diana, di sini tenang dan indah. Aku mau terus berada di sini aja, aku gak suka balik ke sana, karena kakak aku udah gak sayang sama aku!"


Diana menggeleng, "Gak bisa Alina, ini bukan tempat kamu. Kamu harus kembali kepada mereka semua yang sayang sama kamu. Kamu harus kembali kepada mereka semua yang saya sama kamu. Kamu gak kasihan sama orang tua kamu yang sedih?"


"Haidar pun hancur Alina, lihat kondisi kamu seperti sekarang. Kamu juga gak kangen sama sahabat-sahabat kamu?" Sambung Diana.


Alina menggeleng, "Tapi aku suka seperti ini, tidak ada beban lagi di hidup aku. Tidak ada masalah lagi yang aku hadapin!"


Diana menghapus air mata Alina, "Alina, aku yakin kamu bisa ngelewatin ini semua. Banyak orang yang sayang kamu, kamu gak boleh sia-siain mereka!"


Alina terdiam cukup lama, hingga akhirnya mengangguk lalu memeluk Diana kembali. Tangis keduanya menjadi satu, sampai akhirnya mereka melepaskan pelukan itu.


Alina berjalan menghampiri Olivia yang sedang bermain ayunan yang tadi Alina mainkan. Alina berlutut lalu mengelus wajah cantik milik Olivia.


"Olivia, kamu bahagia ya berada di sini?" Tanya Alina.


Olivia mengangguk polos lalu tersenyum, "Aku senang di sini banyak mainan, ada kak Diana juga. Coba aja di sini ada kak Haidar juga, pasti akan lebih bahagia kak!" Serunya.


Hati alina sedikit teriris, seakan Olivia menginginkan Haidar berada di si i bersama dengan Diana juga. Tapi Alina langsung menggeleng, tak boleh berpikir seperti itu.


"Olivia bahagia selalu ya di sini sama kak Diana. Kak Alina kembali dulu ke sana, ada sesuatu yang mau Olivia sampaikan untuk kak Haidar?"


Olivia nampak sedang berpikir, lalu akhirnya, "Sampaikan kalau Olivia dan kak Diana kangen sama kak Haidar ya kak, bilangin juga kalau Olivia dan kak Diana sayang banget sama kak Haidar!"


Alina pun mengangguk sambil menahan air matanya, lalu mencium pipi Olivia dengan lembut. Sebelum akhirnya melangkah menjauh dari dua gadis itu sambil melambaikan tangan.


"Semoga kamu selalu bahagia bersama Haidar ya, Alina!" Teriak Diana membuat hati Alina menghangat lalu tersenyum.

__ADS_1


Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat cerita nya!


__ADS_2