
Malam perpisahan sudah berlalu, begitu pula dengan perjuangan seorang Alina sudah berlalu. Pada akhirnya ia bisa memetik hasil manis karena Haidar telah menjadi miliknya sekarang.
Dari Alina kita belajar, bahwa kalau ingin sesuatu butuh perjuangan dan pengorbanan tidak semua bisa instan. Lihat saja mie instan, harus di masak dulu kan baru bisa di makan? Bener gak sih!
Setelah kepulangan mereka dari Bandung, mereka kembali mengambil liburan ke puncak bersama dengan yang lain alias tujuh sekawan itu.
Mereka semua di wajibkan untuk ke sekolah. Melihat pengumuman Kelulusan. Alina datang bersama dengan haidar, sejak dari parkiran Haidar selalu menggenggam tangan Alina.
“Aku ke toilet dulu ya?” izin Alina.
Haidar mengangguk, “Aku antar.” seru Haidar yang tak ingin meninggalkan Alina.
Alina menggeleng lalu melepaskan genggaman Haidar. “Cuma sebentar, kami duluan aja.”
Haidar menggeleng, “Aku takut kamu di culik.”
Alina terkekeh, “Ini sekolah gak mungkin ada penculikan Haidar, udah sana duluan aku cuma sebentar kok.” akhirnya Haidar mengangguk tidak mau membuat Alina marah.
Haidar melangkah lebih dulu menuju Mading, yang dimana tertempel kertas pengumuman di sana. Sedangkan Alina masuk ke dalam toilet.
Tak lama saat Alina sudah selesai, ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan Alina mengenalinya. Alina tersenyum sekilas lalu kembali menata rambut nya lewat cermin besar di depannya.
“Lin, selamat ya akhirnya lo bisa jadian juga sama haidar.” ucap Vanesa memberi selamat pada Alina.
Alina langsung menatap Vanesa dan tersenyum, “Thanks Van.” sahut Alina cuek.
“Soal yang waktu itu gimana, Lin? Lo bisa ketemu sama bokap gue?” tanya Vanesa.
“Bokap Haidar, Van.” ketus Alina, entah mengapa ia jadi tak suka dengan Vanesa setelah Haidar memberitahu semuanya tentang Vanesa. Tapi Alina tidak memberitahu pada Haidar soal ini.
Vanesa terkekeh pelan, “Tapi pada kenyataannya sekarang dia bokap gue Lin, bukan haidar.”
Alina menatap Vanesa tajam, “Gue rasa Lo harus ke psikolog deh Van sebelum penyakit lo makin parah.”
Tangan Vanesa melayang ke udara, ingin menampar pipi Alina tetapi sayang Alina sudah sigap lebih dulu menangkap tangan Vanesa.
“Gue baru pertama kali ketemu cewek jahat macam lo Van, lo gak bisa menghalalkan segala cara buat kepentingan diri Lo sendiri.” seru Alina.
Dan lagi-lagi Vanesa terkekeh, “Lo gak usah sok paling bener Lin, lo tuh cewek yang gak punya malu, gue ingetin kalo lo lupa!” marah Vanesa.
Kali ini Alina yang terkekeh, “Setidaknya gue gak mencelakai atau merugikan orang! Gak kaya lo dan nyokap lo, perbuat nyawa dan kebahagiaan orang. Bukannya Lo yang lebih rendah dari gue kalau kaya gitu?”
Vanesa emosi mendengar itu semua, tanpa di duga menonjok wajah Alina dengan keras hingga Alina terhuyung ke belakang dengan darah yang mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
Vanesa bisa melakukan itu, karena pernah belajar dengan Meilla pada waktu itu.
“Lo lihat pembalasan gue Alina, bakal lebih dari ini!” ancam Vanesa lalu keluar dari toilet.
Alina langsung membersihkan darah dari hidung nya, agar tidak ada yang melihat kejadian ini. Tetapi sayang, Haidar telah masuk ke dalam toilet dan melihat jelas darah yang masih mengucur dari hidung milik Alina.
“Alina!” teriak Haidar saat melihat kondisi Alina.
Alina menggeleng, seakan menenangkan Haidar kalau ia tidak apa-apa, “It's okay Haidar, cuma kecapean!” ujar Alina sebelum Haidar bertanya.
“Kita ke rumah sakit ya!” ajak haidar seakan percaya kalau itu memang hanya kecapean bukan karena hal lain.
Alina menggeleng, “Gak usah Dar, anterin aku ke Mading yuk!” seru Alina sambil tangannya mencari tisu di dalam tas.
Setelah itu, Alina langsung membersihkan darahnya dengan tisu dan mulai melangkah keluar toilet, ia tidak mau berlama-lama di dalam apalagi hanya bersama dengan Haidar. Bisa berabe nantinya..
Haidar terus merangkul Alina hingga sampai di depan Mading, dan Alina sedang mencari namanya di dalam daftar kelulusan itu. Akhirnya ketemu, ia dinyatakan lulus! Dan sekedar informasi kalau ternyata tahun ini semua dinyatakan lulus!
“Kita lulus Dar!” seru Alina sambil tangannya terus memegang hidung.
Haidar mengangguk, “Iya, yaudah kita ke rumah sakit ya.” ajak Haidar lagi.
Alina menggeleng, “Gak perlu Haidar, ini sudah berhenti kok.” dan memang benar darah sudah berhenti mengalir.
Tak lama datang lah para sahabat mereka, “Anjir lo kenapa Alina?” teriak Nanda saat melihat tisu yang Alina pegang banyak darah.
Alina mengangguk, “Cuma kecapean guys, tenang gue gak punya penyakit yang serius!” sahut Alina.
“Mending ke rumah sakit Lin, lo udah beberapa kali mimisan kaya gini.” seru Elsa yang ia ingat Alina pernah beberapa kali mengalami mimisan.
“Udah Sa, gak perlu di suruh pun gue bakal lakuin, tapi nyatanya emang gak ada masalah serius.” jawab Alina sedikit kesal karena temannya tak percaya dengannya.
Akhirnya semua mengangguk, “Selamat ya buat kalian berdua yang namanya atas bawah juara paralel.” seru Edo.
“Iya anjir, lo berdua pasangan sempurna, sama-sama punya otak cerdas dan punya wajah cantik dan ganteng lagi. Gue gak bisa bayangin. Kalau kalian nikah dan punya anak. Anak nya secakep dan sepintar apa anjir!” seru Lio membuat yang lain menyetujui nya.
“Itu lah namanya cerminan jodoh Lio, kayaknya Elsa lebih cocoknya sama gue deh, secara di cakep gue ganteng, kalau sama Lo kaya lagi jalan sama kang kebun tau!” seru Nanda membuat yang lain tertawa.
Itu hanya bercanda ya guys, Lio juga ganteng kok tapi memang yang paling akhir di antara mereka.
“Enak aja lo Nanda, gini-gini dia pacar gue dan gue terima dia apa adanya meskipun mukanya gak setampan lo tapi gue sayang sama dia!” seru Elsa seakan membela kekasihnya.
“Setidaknya lo ngakuin kalau gue lebih tampan di banding dia.” kekeh Nanda merasa menang.
__ADS_1
Lio hanya bisa diam sambil mempererat genggamnya di tangan Elsa. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat ekspresi Lio, tetapi mereka yakin kok Nanda hanya bercanda dengan ucapannya.
“illa, nyokap lo ada di rumah gak?” ujar Alina mengingat janjinya pada Haidar.
Meilla menggeleng, “lagi keluar kota dari kemarin Lin, kenapa emang?”
“Oh, kalau tanpa nyokap Lo bisa kali ya, lo mau bantuin gue kan tentang itu?” seru Alina.
Meilla langsung mengangguk paham, “Oh, gue rasa sih bisa. Mau kapan?”
“Hari ini bisa?” tanya Alina.
“Kamh harus istirahat hari ini, besok lusa aja gimana?” seru Haidar yang sudah tahu maksud dari pembicaraan Alina dan Meilla.
Alina mengangguk, “Oke besok lusa, La.”
Meilla mengangguk setuju.
“Kita boleh ikut gak Lin?” seru Edo, Nanda, Lio dan Elsa pun mengangguk.
Alina menatap Haidar, seakan meminta izin pada pemilik rahasia itu, meskipun mereka sudah tahu tapi kan balik lagi ke Haidar boleh atau tidak.
Haidar mengangguk, “Tapi kalian langsung ke makam aja.” seru haidar.
Alina mengangguk, “Benar,biar Tante Indri nyaman juga.”
Semuanya mengangguk setuju.
“Nongkrong di cafe yuk?” seru Edo.
“Gas!” sahut Lio begitupun yang lainnya.
“Gue harus nganter Alina pulang.” sahut Haidar.
Alina menggeleng, “Kita ikut mereka ya sebentar aja.”
“Kamubharus istirahat Alina.”
“Aku gak papa Haidar! Please ikut sama mereka ya?”
Haidar menghela napasnya lalu mengangguk membuat Alina langsung memeluk haidar. “Makasih sayang ” seru Alina membuat darah haidar mendesir.
Sudah lama ia tidak mendengar kata itu, kata “Sayang” dari siapapun, dan sekarang Alina mengatakan padanya membuat dunia Haidar berhenti beberapa detik.
__ADS_1
Akhirnya semua berangkat menuju cafe yang biasa mereka kunjungi akhir-akhir ini. Semua bahagia karena telah lulus dan akan melangkah ke jenjang selanjutnya.
Kira kira pertemanan ini akan tetap terjaga gak ya?