Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Gak nyangka


__ADS_3

Berusaha kuat di depan orang yang kita sayang itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi orang tersebut terus menceritakan sosok orang lain yang di sayangin. Bisa di bayangin aja ya gimana sakit nya?


Berbicara panjang lebar dengan Alvaro membuat Alina lega.


Sejak awal Alina memang sempat berpikir kalau perempuan mantan Haidar itu ialah Meilla, tetapi ternyata dia salah.


...****************...


"Lo gak akan bisa ketemu sama dia Lin." Ujarnya pelan.


Aliran mendengarnya itu langsung menatap alvaro dengan tatapan bingung.


"Maksud lo?"


"Dia udah meninggal Lin." Ujar alvaro, ada nada sedih di sana dan itu sangat terdengar jelas oleh Alina.


Alina yang mendengar fakta itu langsung kaget, bahkan napasnya sempat berhenti beberapa detik. Tatapan Alina kepada Alvaro berubah, yang awalnya bingung menjadi merasa bersalah. Alvaro terlihat sangat sedih dan itu terlihat dari matanya.


"Var sorry, gue gak tau." Ujar Alina pelan.


Alvaro mengangguk, "it's okay Lin."


"Tapi gue nanya lagi boleh? Atau lo keberatan buat ngejawab pertanyaan gue?" Ujar Alina ingin mengetahui lagi tentang mantan Haidar.


"Lo mau nanya apa? Kalo gue tau pasti gue jawab."


"Pertama cewek itu namanya siapa?"


"Nama dia, Diana. Gadi ceria sama kaya Lo, semua tingkah laku dan sifatnya sama persis kaya lo Lin."


Fakta yang sangat mengejutkan bukan? Kalau sifat dan tingkah laku Diana sama dengan Alina mengapa Haidar tidak menerima Alina?


"Tapi bedanya, yang ngejar itu Haidar." Ujar Alvaro lagi memberitahu apa yang membuat Diana berbeda dengan Alina.


Alina menghela nafasnya, "Mungkin itu yang membuat Haidar gak bisa buka hatinya buat gue, Diana gadis yang di kejar Haidar sedangkan ia disini gue yang ngejar dia tanpa tau malu."

__ADS_1


Alvaro mengelus pucuk kepala Alina, "jangan sedih, kan lo sendiri yang mau tau tentang Diana."


Alina mengangguk lalu tersenyum lirih, "kalau boleh tau, dia meninggal karena apa?"


Alvaro terdiam cukup lama, seakan sedang mengingat apa yang membuat Diana meninggal waktu itu.


"Kecelakaan." Jawabnya singkat.


"Diana pasti cewek yang sangat sempurna ya, sampai lo aja ngerasa sedih banget begini."


Alvaro mengangguk, "sangat, ini adalah salah satu penyebab gue sama Haidar bertengkar sampai sekarang!"


"Kalian rebutan Diana?


Alvaro mengangguk, "gue yang lebih dulu dekat sama Diana, tapi entah mengapa Haidar pun kekeuh mendekati Diana. Berbagai cara Haidar lakuin buat dapetin Diana, sampai akhirnya mereka pacaran dan gue kalah."


Alina mengelus punggung Alvaro pelan, "apa karena ini lo ngedeketin gue? Maksud li mau bales dendam sama Haidar?" Tanya Alina hati-hati takut membuat Haidar tersinggung.


Alvaro dengan cepat menggeleng, "gue beneran suka lo tulus Lin, waktu awal iya gue berpikir begitu tapi percaya sama gue Lin, sekarang gue beneran suka sama lo Lin." Ujar Alvaro jujur.


"Diana pasti beruntung banget ya bisa di sayangin sama dua cowok tulus sekaligus, gak kaya gue yang malang ini."


Alvaro mengambil alih tangan Alina dan di genggamnya erat, "Lin Lo lebih beruntung karena lo masih di kasih sehat sama tuhan sampai sekarang."


"Gak kayak Diana yang harus pergi lebih dulu sebelum cita-cita dia terwujud." Ujar Alvaro lirih sambil mengingat moments di saat Alvaro dekat dengan Diana dulu.


Alina mengangguk setuju dengan ucapan Alvaro tadi, seharusnya ia lebih banyak bersyukur akan hal itu bukan malah membandingkan nya.


"Alvaro boleh gue tanya satu hal lagi?"


Alvaro mengangguk lalu tersenyum.


"Diana kecelakaan karena apa?"


Tak di sangka air mata Alvaro turun begitu saja setelah mendengar pertanyaan itu, kepergian Diana waktu itu membuatnya mengurung diri sampai seminggu karena ia tidak menyangka.

__ADS_1


Alina yang melihat Alvaro menangis langsung mengusap air matanya dengan sebelah tangannya yang tidak di genggam.


"Alvaro, sorry. Lalu lo gak kuat barat jawab, gak perlu di jawab kok. Gue paham gimana rasanya." Ujar Alina merasa bersalah.


"Lo bisa tanya Haidar tentang ini Lin, karena dia yang lebih tau tentang kecelakaan itu." Ujar Alvaro jujur, karena memang yang ia tau hanya Diana kecelakaan dan membuat meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit.


Alina hanya mengangguk sebagian respon, ia tidak bisa memaksa Alvaro karena itu akan membuat Alvaro semakin sakit mengingat peristiwa waktu itu.


"Lin, sekarang li udah tau kan gimana sosok Diana? Lalu apa yang akan lo lakuin setelah ini?" Tanya Alvaro.


"Var, kalau misalnya gue bakalan tetep memperjuangkan Haidar nanti lo akan bagaimana? Apa Lo akan dendam lagi sama Haidar?"


Alvaro kembali menatap Alina dengan intens dan semakin mempererat genggaman di tangannya.


"Hidup itu pilihan Lin, dan lo berhak atas itu. Kalau gue mau maksa lo, itu akan gue lakuin sekarang sebelum lo kembali memperjuangkan Haidar."


"Tapi gue gak bisa maksa lo, karena sesuatu yang di paksa bukannya gak baik?" Ujar Alvaro dengan pikiran dewasanya.


Alina tersenyum, "Tapi lo gak akan dendam lagi sama Haidar kan?"


Alvaro menggeleng, "Kita udah dewasa Lin, Lin gue gak mau permusuhan ini terus berlarut. Tapi inget satu hal Lin, kalo li udah menyerah lo bisa balik ke gue lagi, gue aja. Selalu nunggu lo Lin." Ujar Haidar penuh ketulusan.


Alina menggeleng, "gak bisa gitu Var, lo harus jalanin hidup lo. Lo gak bisa terpaku sama gue yang entah kapan waktu itu akan datang, gue gak bisa janji sama lo. Lo juga berhak memilih var, gue gak mau jadi beban karena lo selalu nunggu gue kaya gini."


"Terpaku sama orang yang gak bisa ngebales perasaan lo itu menyakitkan Tah Var, dan gue gak mau lo ngerasain. Lo cowok baik, lo dewasa pasti banyak yang mau sama lo."


Alvaro mengangguk mengerti maksud dari perkataan Alina, "iya paham Alina cantik, gue akan cari pacar setelah ini." Ujar Alvaro sambil terkekeh pelan.


Tangan Alina yang bebas terulur merapikan rambut Alvaro sambil tersenyum.


"Tapi inget, setelah punya pacar jangan pernah sombong ke gue ya."


Sekarang gantian Alvaro yang mengusap pucuk kepala Alina, "Lo akan tetap menjadi prioritas gue, tenang aja. Kapan pun lo butuh gue, pasti gue akan dateng."


Akhirnya keduanya tertawa bersama, entah apa yang lucu. Setelah itu mereka pergi dari kedai itu setelah membayar es yang tadi mereka pesan. Ternyata mereka sudah berada di kedai cukup lama, untung saja tidak di usir sama pemiliknya hehe.

__ADS_1


__ADS_2