
Setelah di antarkan pulang oleh Haidar, Alina pun segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi bersama Alvaro.
Alina jujur pada haidar, kalau ia tidak bisa menolak ajakan Alvaro.
Alina sudah siap dengan pakaiannya, Alina hanya memakai dress selutut berwarna pink muda di padukan dengan heels berwarna senada . Sambil menunggu Alvaro datang, Alina pun mengeluarkan tugas sekolahnya untuk di kerjakan sambil menunggu.
Tak lama terdengar suara deringan ponsel dan Alina pun melihat ada sebuah pesan dari Alvaro memberitahu kalau dia sudah ada di depan gerbang. Alina pun dengan cepat keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui Alvaro.
Ternyata di meja makan ada kalanya, Adero sedang makan malam sambil memainkan ponselnya.
"Kak, gue izin keluar ya." Ujar Alina menghampiri Adero.
Adero melihat tampilan Alina, "Mau kemana pakai baju rapi?"
"Makan malam sama teman."
"Suruh temen lo masuk dulu, izin sama gue." Perintah Adero lalu di anggukin oleh Alina.
Alina segera mengirim pesan pada Alvaro supaya masuk ke rumah lebih dulu untuk meminta izin langsung pada kakaknya. Tak lama terdengar pintu terbuka dari ruang depan dengan cepat Alina melangkah ke sumber suara untuk menemui Alvaro dan mengajaknya ke hadapan Adero.
"Lo di suruh minta izin langsung sama kakak gue." Beritahu Alina dan di anggukin oleh Alvaro.
Alvaro melangkah bersama Alina menuju ruang makan yang di mana ada Adero disana.
"Loh kak Adero?" Ujar Alvaro saat melihat wajah Adero.
Ini pertama kalinya Alvaro masuk ke dalam rumah Alina dan batu pertama kali juga bertemu dengan kakaknya. Dan betapa kagetnya Alvaro bertemu dengan Adero di sini sebagai kakaknya Alina.
"Loh Alvaro?" Ujar Adero pun kaget.
Alina yang melihat keduanya seperti sudah saling kenal pun bingung, sejak kapan dan dimana mereka bisa saling kenal.
"Kakak kenal sama Alvaro? Lo juga kenal sama kakak gue?" Pertanyaan itu muncul dari Alina untuk keduanya.
Keduanya mengangguk secara bersamaan.
"Kak Adero itu, temennya temen gue di tongkrongan." Beritahu alvaro.
Adero mengangguk, "iya gue kenal Alvaro dari sana."
Memang keduanya kenal karena sebuah balapan liar, Adero dan Alvaro pernah menjadi lawan tetapi entah mengapa keduanya malah terlihat dekat, dan sekarang malah berteman akrab kalau sedang nongkrong.
Waktu pas Alina ikut ke arena balapan, Adero memang sedang tidak ikut ke sama karena acara dengan teman kuliahnya makannya mereka tidak bertemu.
"Kakak ikut balapan juga?" Tanya Alina.
Adero mengangguk, "Cuma iseng." Jawaban santai.
Alina menggeleng, "jangan lagi kak, bahaya."
Adero hanya mengangguk.
Adero melakukan itu bukan dari hati, itu ia lakukan agar Alina tidak khawatir.
"Ya udah kalau gitu, gue izin ajak adik lo keluar sebentar kak." Izin Alvaro.
Adero mengangguk, "Iya, asal jangan di bawa ke arena balapan ya."
Alvaro mengacungkan jempolnya.
"Sama jangan pulang malam-malam Var." Peringat Adero dan Alvaro hanya mengacungkan jempolnya.
Akhirnya keduanya berjalan keluar rumah, saat sampai di depan gerbang. Alina melihat mobil yang tidak asing terparkir yang tidak jauh dari sana.
"Haidar?" Ujar Alina pelan, karena Alina yakin itu memang mobil milik Haidar.
Alvaro membukakan pintu mobil untuk Alina, sebelum masuk ke dalam mobil. Alina tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Alvaro dan di bales dengan senyuman Alvaro. Setelah Alina masuk, Alvaro langsung masuk juga ke bangku pengemudi.
"Thank udah mau gue ajak dinner malam ini."
Alina mengangguk, "iya sama-sama." Jawab Alina sambil matanya terus melihat ke kaca spion untuk memastikan mobil yang tadi Alina lihat karna mobil yang tadi tidak mengikutinya.
Ternyata salah, mobil itu pun berjalan mengikuti mobil Alvaro. Alina mengeluarkan ponselnya ingin mengirim pesan pada haidar menanyakan maksud nya apa. Tetapi ia lupa, ponselnya tertinggal di atas meja makan tadi.
"Ngapain sih?" Gerutu Alina tanpa sadar membuat Alvaro menoleh ke arah nya.
__ADS_1
"Kenapa Lin?" Tanya Alvaro saat mendengar gerutu tadi.
Alina langsung menggeleng, "Eh engga kok, gak papa."
Alvaro hanya mengangguk mempercayai apa yang Alina katakan. Alina masih terus melihat mobil di belakangnya lewat kaca spion, Alina jadi tak habis pikir dengan Haidar yang bisa-bisanya menguntit seperti itu. Alvaro menghentikan mobilnya di sebuah cafe di pinggir kota. Sepertinya cafe tengah ramai, karena terlihat dari parkirannya yang penuh. Alvaro kembali membukakan pintu mobil untuk Alina dan Alina pun mengucapkan terima kasih.
Alvaro mengulurkan tangannya bermaksud agar keduanya masuk ke dalam sambil bergandengan tangan, tetapi sayang jawaban Alina hanya tersenyum dan Alvaro tahu maksud senyuman itu.
Keduanya melangkah masuk saling berdampingan, dengan mata Alina yang terus kesana kemari mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi mengikutinya.
"Alvaro." Panggil seseorang saat melihat Alvaro yang sudah masuk ke dalam cafe.
Alvaro menoleh saat namanya di panggil, lalu melambaikan tangannya ke orang tersebut.
"Udah lama?" Tanya Alvaro bertanya sama beberapa orang yang duduk di sana
"Sekitar 10 menit lah." Jawab Tasya, gadis yang waktu itu ketemu Alina di arena balapan.
"Lo Alina anak Garuda bukan sih?" Tanya salah seseorang cowok yang duduk di samping Tasya.
Alina mengangguk, "Iya gue Alina Garuda." Ujar Alina.
"Cewek lo Varo?" Tanya cowok itu lagi.
Alvaro menggeleng, "Lagi usaha gue."
Alvaro memang jadian dengan teman-teman nya itu, dan memang berniat ngajak Alina agar lebih kenal dengan mereka entah tujuan nya untuk apa.
"Varo, gue ke toilet sebentar ya." Izin Alina sambil berbisik pada Alvaro.
"Mau gue anter?" Tawar Alvaro dan Alina menggeleng.
Alina bangkit lalu melangkah ke toilet, entah mengapa perasaannya tak nyaman saat ini. Sejak awal tadi cowok yang melayangkan pertanyaan padanya seperti terus melihatnya.
Alina merapikan tataan rambutnya di kaca besar lalu keluar lagi dari toilet menuju meja tadi, tetapi saat keluar Alina di pertemukan dengan cowok tadi. Alina kaget, untuk apa cowok itu mengikutinya ke sini.
"Lo cantik banget Alina." Puji cowo sambil terus mengikis jarak dengan Alina.
Keadaan toilet saat ini memang sedang sepi hanya ada mereka berdua.
"Alvaro udah ajak lo stayction kemana aja?" Tanya cowok itu dan menurut Alina itu kurang ajar.
Alina berusaha pergi dari sana tetapi terus di halangi, "Mau kemana sih buru-buru? Lo gak mau cobain sama gue?" Ujar cowok itu dan membuat Alina risih.
Saat tangan cowok itu ingin menyentuh bahu Alina, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang yang datang di belakang.
"Bajingan!" Bentak Haidar lalu menghempaskan tangan cowok itu dengan kencang.
Alina melihat Haidar langsung berlari dan berlindung di belakang tubuh Haidar. Air matanya sudah mengalir, sedih dan takut itu yang Alina rasakan.
Haidar?" Ujar cowok tersebut kaget.
Haidar mengangkat alisnya lalu tersenyum miring. Tanpa aba-aba Haidar langsung melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah laki-laki tersebut hingga sudut bibirnya sobek.
"Sentuh dia sama dengan mati!" Ancam Haidar lalu menarik Alina menjauh dari sana.
Alina hanya menurut kemana langkah Haidar membawanya saat ini, ia masih shock karena kejadian tadi. Pertama kali ia merasa di lecehkan, rasa jijik dan takut walau cowok itu belum sempat memegangnya.
"Kita pulang!" Ujar Haidar lalu menarik Alina menuju parkiran.
Alina hanya diam tidak menjawab, ia masih terisak. Setelah masuk ke dalam mobil Haidar langsung melajukan mobilnya.
"Udah gak usah takut." Ujar Haidar sambil melirik Alina sekilas.
Alina tidak menjawab.
"Ada gue." Seru Haidar lagi.
Aliran tetap tidak menjawab.
"Gue udah bilang jangan pergi sama Alvaro."
Alina masih tidak menjawab dan membuat Haidar khawatir. Tanpa berpikir lagi, Haidar memberhentikan mobilnya di pinggir jalan untuk melihat kondisi Alina.
"Alina." Panggil Haidar lembut.
__ADS_1
"Lo gak usah malu, lo gak di apa-apain sama dia." Ujar Haidar tahu kalau sekarang Alina sedang malu.
Alina mulai membuka tangannya dan memperlihatkan wajahnya dan tanpa Haidar duga, Alina langsung menubruk tubuh nya pada Haidar dan lalu menangis dengan keras.
Haidar yang menerima serangan itu pun langsung memberi respon yang baik, yaitu mengelus punggung g Alina pelan dan memberikan Alina menangis hingga puas.
Setelah 5 menit di posisi tersebut, Alina mulai meredakan tangisannya dan melepaskan pelukannya.
"Haidar." Ujar Alina pelan.
"Iya?" Jawab Haidar lembut.
"Haus." Celetuk Alina membuat Haidar ingin sekali tertawa.
Haidar langsung mengambil air mineral yang ada di samping tangannya, "Adanya bekas gue, mau?" Alina mengangguk lalu menegak habis air itu.
"Masih haus?" Tanya Haidar.
Alina mengangguk, "Sama laper juga." Seru Alina sambil tersenyum kecil.
Haidar tidak bisa menahan tawanya, ia terkekeh pelan lalu mengacak pucuk kepala Alina dengan pelan.
"Itu kayaknya ada warung makan, makan di sana gak papa?" Alina mengangguk lalu tersenyum.
Akhirnya Haidar melajukan mobilnya tak jauh dari tempatnya ada warung pecel lele, keduanya memutuskan untuk makan di sini.
Sedangkan di cafe, Alvaro sedang mencari keberadaan Alina yang tak balik-balik dari toilet. Di bantu dengan Tasya yang masuk ke dalam toilet wanita, tetapi sayang Alina tidak ada di sana.
Alvaro terus menghubungi nomer Alina tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Alvaro panik dan khawatir pada Alina, ia bingung mengapa Alina pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Tidak seperti biasanya, Alina itu terlalu ramah pada siapapun. Kalau ini terjadi, pasti ada sesuatu yang menimpa Alina pikirnya.
Tanpa pikir panjang Alvaro pergi dari cafe untuk mencari Alina, di tengah jalan Alvaro mencoba menghubungi nomer Adero untuk menanyakan apakah Alina sudah di rumah tetapi sayang jawaban Adero semakin membuatnya khawatir.
"Alina, lo di mana sih?" Ujar Alvaro pada dirinya.
Matanya masih terus mencari di sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Alvaro menemukan seseorang yang ia cari dan sedang berada bersama laki-laki lain.
Dengan cepat Alvaro turun dari mobilnya, lalu menghampiri Alina yang tengah makan bersama Haidar di warung pecel lele pinggir jalan ini.
"Alina?" Panggil Alvaro membuat Alina yang tengah makan berhenti setelah mendengar namanya di panggil.
"Alvaro?" Ujar Alina bingung dari mana Alvaro tau keberadaan nya.
"Lo ninggalin gue?" Tanya Alvaro.
Alina langsung menggeleng, belum sempat bersuara, suara Haidar lah yang lebih dulu terdengar.
"Temen lo bajingan!" Ujar Haidar emosi.
Alvaro yang mendengar ucapan Haidar yang merendahkan temannya pun tidak terima. Ingin rasanya Alvaro pukul wajah Haidar saat ini juga.
"Lo yang bajingan!" Sahut Alvaro tidak terima.
Haidar bangkit dari duduknya lalu berdiri tepat di hadapannya Alvaro, "Lo tau, Alina hampir di lecehin sama temen lo sendiri!" Ujar Haidar pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
Kasihan Alina kalau ada yang mendengarnya, takut jadi bahan perbincangan dan membuat Alina menangis dan tidak nyaman.
Alvaro yang mendengar itu pun kaget, pantas saja tadi Riki juga tidak kembali lagi setelah izin ke toilet.
"Alina, maafin gue gak bisa jaga Li." Ujar Alvaro yang meminta maaf pada Alina.
Alina mengangguk, "Bukan salah lo ko Var."
Haidar yang mendengar itu tidak terima, menurutnya itu salah Alvaro juga yang tidak peka kalau Alina sedang terancam waktu itu.
"Pulang sama gue?" Ajak Alvaro.
Alina menggeleng, biar bagaimanapun Haidar yang telah menyelamatkan nya, ia tidak bisa meninggalkan Haidar begitu saja.
"Gue pulang sama Haidar aja ya, lo gak papa kan?" Ujar Alina pelan.
Alvaro menghela napasnya, "yaudah, gue balik duluan kalau gitu, Lo hati-hati ya kalau sudah sampai rumah kabarin gue." Ujar Alvaro lalu pergi dari sana.
Alvaro sengaja mengalah kali ini karena pasti Alina masih shock dan takut dengan kejadian tadi dan Alvaro melihat Alina nyaman dekat dengan Haidar tadi. Makanya Alvaro membiarkan Alina bersama dengan Haidar.
__ADS_1
"Gue ikhlas kalau lo pilih haidar, Lin." Ujar Alvaro dalam hati.