
Kalian pernah gak sih di bohongin sama orang yang kita percaya selam ini sakitnya itu berpuluh-puluh kali lipat. Kecewa, marah itu sudah pasti di rasakan tetapi itu semua tidak boleh berlarut-larut ya. Biar bagaimanapun hidup itu akan terus berjalan bukan?
Belajar memaafkan dan mengikhlaskan apa yang terjadi pada kita.
...****************...
Hari ini Alina tidak di antar oleh Alvaro di karna kan dia ada urusan keluarga makanya ia tidak bisa menjemput Alina dan Alina pun dia Natar oleh supir.
Alina tidak masalah karena itu, yang jadi masalah adalah ia sangat malas bertemu dengan Haidar. Karena kemarin Haidar lah yang mengantarkan pulang dan kembali memaksa Alina menjadi pacarnya.
Kalian ingat saat kemarin Haidar berbicara panjang lebar pada Alina dengan kondisi Alina yang sedang pingsan? Di situ Alina sebenarnya sudah sadar dan sengaja berpura-pura masih pingsan agar mendengar semua perkataan Haidar. Dan betapa terkejutnya Alina saat mendengar itu semua.
...Flashback...
Setelah selesai makan di suapin oleh Lio dan minum di berikan oleh Haidar. Alina menerima ajakan Haidar untuk di antarkan pulang dengannya. Terlalu lemas untuk berdebat waktu itu, makanya ia mengalah saja.
Di tengah perjalanan, tidak henti-hentinya Haidar mencuri pandangan ke arah Alina yang tengah bersandar di pintu mobil sambil memejamkan matanya.
Hatinya sangat sesak melihat pemandangan itu, selemah itu kondisi Alina karenanya. Dan baru pertama kali pula Alina seperti selama sekolah.
"Alina." Panggil Haidar membuat Alina membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Alina singkat.
"maaf." Ujar Haidar sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat komplek perumahan alina.
"Stop bilang maaf Haidar." Ujarnya bosan dengan kata itu hari ini.
"Tapi cuma itu yang bisa gue bilang."
"Yaa kalau gitu lo gak perlu bilang apa-apa kalau cuma kata maaf yang bisa keluar dari mulut lo."
Haidar terdiam sebentar, "Alina."
"Kenapa lagi?"
"Lo beneran gak mau jadi pacar gue?" Ujar Haidar pelan.
Alina yang di hadiah ini pertanyaan seperti ini langsung terkekeh, "Lo ceritanya nembak atau maksa sih sebenernya?"
_Haudar menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia pun bingung dengan tingkah lakunya, mengapa bisa jadi berbalik seperti ini._
_"Dulu lo nembak Diana kaya gini? Maksud gue gak ada romantis-romantis gitu?"_
_Haidar yang mendengar nama Diana kembali di sebut membuatnya kembali merasa bersalah._
_"Alina, please jangan sebut nama itu."_
_Alina mengerti dan akhirnya mengangguk, "Sorry." ujar Alina pelan._
_Haidar pun ikut mengangguk, "Benar apa yang Lo bilang, seharusnya gue ikhlasin dia pergi."_
_"Biar dia lebih bahagia di atas sana. Gue yakin kalau gue masih begini terus ngeliat lo terpuruk sama kejadian itu." Sambung Alina dan di setujui oleh Haidar._
_"Kenapa lo gak dari dulu tentang ini Dar? Setidaknya lo beritahu gue kalo hati Lo sudah ada yang memiliki, tapi kenapa setelah hampir 3tahun gue berjuang dan gue baru masalah ini."_
__ADS_1
_"Sorry." Hanya itu yang keluar dari mulut Haidar._
_alina menggeleng, "Gue bukan butuh sorry Dar, Tapi gue butuh penjelasan."_
_"Bahkan Meilla pun gak pernah menjelaskan tentang ini semua, gue ngerasa gak di percaya sama kalian semua." Ujar Alina lirih._
_Haidar mengambil tangannya Alina untuk di genggam, "Maaf Alina, sekali lagi maaf. Semua orang pasti punya masa lalu bukan?"_
_Alina mengangguk, "Maka dari itu, dia kan cuma masa lalu li dan dia pun gak bisa balik lagi sama lo. Sorry kalau terdengar sedikit kasar tapi memang itu kenyataannya."_
_"Lo harus ikhlas, itu kunci pertamanya Dar." Ujar alina._
_Haidarcterdiam cukup lama, merenung apa yang Alina ucapkan._
_Mungkin Haidar bisa mengikhlaskan kepergian Diana perlahan mulai dari sekarang, tetapi Haidar tidak akan pernah bisa mengikhlaskan kepergian adiknya sampai kapan pun."_
_"Lin, bisa ajarin gue?" Ujar Haidar membuat Alina bingung._
_Haidar kan sama pintarnya dengan Alina, ngapain minta ajarin lagi._
_"Ajarin apa?"_
_"Ajarin gue ikhlas dan ajarin gue biar bisa sayang sama lo."_
_"Gak bisa Haidar, itu semua harus dari hati lo sendiri."_
_"Tapi Lin, gue butuh guru buat ngingetin gue."_
_"Lo punya Meilla, Haidar. Meilla lebih tahu lo dari pada gue " ujar Alina sedikit sedih karena ternyata posisi Meilla lebih berarti di hidup Haidar._
_"Oke, gue mau." Alina mengalah pada akhirnya_
_"Mau jadi pacar gue?"_
_Alian menggeleng dengan cepat_
_"Kenapa?"_
_"Semenjak gue tau masalah ini, gue jadi ragu sama lo. Maaf kalau terkesan nya gue egois, gue cuma gak mau rasa sayang lo masih terbagi meskipun sama orang yang sudah gak ada." Ujar Alina._
_Gue harus apa biar lo gak ragu lagi sama gue?"_
_"Entahlah gue juga gak tau."_
...Flasback off...
Entah mengapa Alina takut untuk bertemu Haidar pagi ini. Sejak semalam ia terus memikirkan ucapannya di mobil Haidar.
Di tengah perjalanan menuju kelas, hal yang tadi ia pikirkan terwujud. Iya, Alina bertemu dengan Haidar di koridor sekolah.
"Alina." Panggil Haidar pelan.
Alina yang mendengar itu pun langsung menoleh, "iya, Haidar?" Jawab Alina.
"Lo cantik." Puji Haidar membuat Alina ingin berteriak.
__ADS_1
"Makasih, dari dulu kali gue cantik." Ujar Alina setenang mungkin.
Haidar mengukir senyuman tampan di bibirnya dan tidak semakin membuat jantung Alina tidak karuan.
"Udah siap?"
"Siap apa?"
"Siap jadi guru gue."
Seharusnya Alina tidak menerima tawaran ini, karena secara tidak langsung mereka akan sering bertemu.
"Ke kelas bareng?" Ajak Haidar.
Setelah berjalan ada seseorang memanggil Alina dari belakang.
"Alina." Panggil Bobi.
Alibaba dan Haidar menunggu Bibi hingga sampai di hadapan mereka berdua.
"Alina, datang ya ke acara ulang tahun gue besok malam." Ujar Alex sambil memberikan undangan pada Alina.
"Wih, Bibi dah 17tahub ey. Pasti gue Dateng Bob, btw Haidar gak di undang?
"Gue ngundang seangkatan kok, undangan Haidar udah gue tutup sana Nanda tadi. Datang ya bro." Ujar Bobi menepuk bahu Haidar pelan.
Jawaban Haidar hanya berdehem tanpa mengeluarkan suara apapun dan itu membuat Alina menggeleng.
"Ya udah kalau gitu gue balik ke kelas dulu ya." Pamit Bobi.
Alina mengangguk sedangkan hanya diam saja.
"Dandan yang cantik ya Alina." Ujar Bobi sambil mengacak rambut milik Alina dengan pelan.
Haidar hanya melihat tingkah Bobi seperti itu hanya meremas tangannya sendiri. Tak suka itulah yang dirasakan Haidar saat ini.
"Dateng bareng?" Ajak Haidar.
Alina lagi-lagi menggeleng alias menolaknya ajakan haidar.
"Kayaknya gue bakal ngajak Alvaro deh." Pancing Alina ingin melihat bagaiman reaksi Haidar.
Haidar yang mendengar nama Alvaro langsung terlihat emosi, "Terserah!" Ujar Haidar lalu pergi begitu saja membuat Alina melongo tak percaya.
Alina kira Haidar akan marah-marah, akan melarangnya atau apalah yang membuat Alina merubah kata-kata nya. Eh tetapi malah ditinggal pergi begitu saja, dasar menyebalkan!
"Oh ya udah bener ya, jangan marah tapi." Teriak Alina supaya Haidar mendengarnya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Haidar malahan Haidar sudah masuk ke dalam kelasnya.
"Dasar cowok aneh!" Gerutu Alina memaki Haidar.
Tak di sangka ternyata Meilla mendengar gerutuan itu, "Lo juga aneh Lin, dia udah berusaha ngedeketin lo malah buat dia marah gitu." Ujar meilla.
"Berisik." Ketus Alina lalu meninggalkan Meilla.
__ADS_1