Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Pacaran?


__ADS_3

"kita pacaran sekarang!" Ujar Haidar pada akhirnya setelah apa yang tadi ia pikirkan.


Menurutnya dengan cara ini lah yang membuat Alina akhirnya menjauh dari Alvaro, toh bukankah hal ini pula yang sejak dulu Alina impikan?berpacaran dengannya?


Alina sedang menangis langsung terhenti karena mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Haidar. Alina bingung antara senang ataupun sedih.


"Gue bukan cewek murahan yang bisa Lo ajak pacaran Karana sebuah keterpaksaan!" Ujar Alina sedikit emosi.


Haidar bingung dengan respon Alina, ia kira Alina akan langsung menerima nya.


"Cukup buat semuanya, dan jangan pernah lo atur-atur hidup gue lagi!" Ujar Alina lagi dan ingin segera keluar dari mobilnya Haidar.


Untung saja mobilnya tidak di kunci jadi ia bisa kabur dari sana dan segera menghampiri Alvaro yang sudah berada di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya.


Haidar yang melihat Alina keluar dari mobilnya berusaha untuk mengejar, tetapi sayang saat berlari ia tidak sengaja menabrak Vanesa dan membuat keduanya jatuh dengan posisi Haidar di atas tubuh Vanesa


Hal itu membuat orang yang disana melihat langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret mereka dan akan di sebarkan di grup sekolah atau angkatan masing-masing.


"Itu kok Haidar sama siapa?"


"Kasihan banget ya Alina, dia yang ngejar Haidar malah anak baru yang di tindihin gitu."


"Mereka cocok ya."


Begitu lah kira-kira komentar dari siswa yang melihat mereka jatuh di tanah dengan kondisi yang tidak baik.


Dengan cepat Haidar bangkit dan membersihkan seragamnya yang sedikit kotor begitupula dengan Vanesa.


"Alina, pacar lo yang baru?" Tanya Vanesa sambil tangannya membersihkan roknya.


Bukan menjawab Haidar malah meninggalkan Vanesa begitu saja ke arah gerbang sekolah.


"Makannya, gak usah caper!" Ketus Meilla yang sengaja lewat di depan vanesa bersama dengan Elsa.


Vanesa lagi-lagi hanya mendengus sebal dan melangkah sambil menghentakkan kakinya menuju mobil.


...****************...


Sedangkan di sisi lain, Alina yang sudah bersama dengan Alvaro menceritakan apa yang barusan terjadi. Alvaro menggeleng tak percaya dengan kelakuan Haidar pada Alina tadi. Senakal-nakal nya Alvaro, ia tidak akan pernah menyakiti perempuan.


Keduanya berhenti sejenak di sebuah kedai es campur di pinggir jalan.


"Gue sebel banget deh ih!" Alina saja menggerutu.

__ADS_1


Alvaro mengelus kepala Alina pelan. "Udah ah, dia begitu karna cemburu kali."


Alina langsung menatap Alvaro, "iya kah itu artinya cemburu? Bukannya karena terpaksa?"


Alvaro mengangkat bahunya, "gak tau juga sih, yang tau jawabannya cuma Haidar sama tuhan aja itu mah."


"Tapi Var, sebenarnya lo sama dia punya masalah apasih?"


Alvaro terdiam sambil mengingat kejadian dulu yang membuat dirinya dan Haidar menjadi musuh sampai sekarang.


"Ada lah kejadian di masa lalu, dan gue males ceritanya." Jawabnya pelan.


"Karena week?"


Alvaro diam tidak menjawab, dan membuat Alina menghela napas nya lagi.


"Alvaro, Lo kenal sama Vanesa?" Tanya Alina


Alvaro langsung menatap Alina dengan tatapan penuh tanya, "Vanesa Andiana?"


Alina mengangguk, siapa tau Alvaro mengetahui tentang Vanesa dan siapa Vanesa sebenernya di hidup Haidar.


"Lo tau dari mana tentang Vanesa?" Tanya Alvaro.


Alvaro nampak kaget dengan informasi itu, "dia balik ke Indonesia?"


Alina mengangguk, "Lo kenal dia?"


Alvaro mengangguk, "iya dia temen sekolah gue dulu."


"Iya gue tau kalau itu, maksud gue lo kenal dia lebih jauh gak? Maksudnya Lo tau tentang dia gak? Tentang dia sama Haidar gitu?"


Alvaro kembali terdiam, buat apa Vanesa kembali ke Indonesia lagi setelah apa yang dulu pernah terjadi di sini pikir Alvaro.


"Alvaro ih." Seru Alina menepuk paha Alvaro untuk menyadarkan Alvaro dari lamunannya.


"Vanesa itu mantannya Haidar ya?" Tanya Alina lagi.


Alvaro langsung menggeleng, "bukan, dia sama kaya Lo."


"Maksudnya."


"Iya, dari dulu dia selalu ngejar Haidar, sana kaya lo yang sampai sekarang terus ngejar Haidar."

__ADS_1


Alina terdiam. Ternyata dugaannya salah. Jadi posisinya dengan Vanesa, sama-sama pengejar seorang Haidar.


"Lagu buat apa sih ngejar Haidar yang jelas-jelas dia gak akan ngeliat lo Lin. Di sini ada gue padahal, kenapa ga lo coba ke gue aja?" Ujar Alvaro pelan.


Alina menatap Alvaro seksama. Terlihat sekali ketulusan di mata Alvaro. Tetapi sayang hati Alina benar-benar belum bisa di berikan kepada orang lain. Alina tidak mau menyakiti Alvaro terus menerus kalau ia dengan terpaksa menerima ajak kan Alvaro untuk membangun sebuah hubungan.


"Kenapa Haidar masih terpaku di satu cewek ya Var?"


Alvaro mengangguk, "gue rasa kaya gitu,"


"Lo tau gak sih siapa cewek itu?"


Alvaro lagi-lagi terdiam tidak menjawab pertanyaan Alina.


"Apa cewek itu Meilla?"


"Meilla?"


Alina mengangguk, "gue ngerasa kalau Meilla sama Haidar itu sebenarnya punya hubungan. Apa cewek itu Meilla, Var?"


Alvaro menggeleng, "Bukan, Meilla itu sahabat Haidar dari kecil."


"Serius?" Tanya Alina kaget dengan hal ini, karena meilla hanya bilang teman SMP nya saja.


"Iya, Meilla gak pernah kasih tau lo?"


Alina menggeleng.


"Hem, mungkin karena dia mau ngejaga perasaan lo kali." Ujar Alvaro menenangkan agar Alina tidak menilai Meilla buruk.


"Tapi kenapa Meilla kalau gue tanya tentang Haidar dia gak pernah mau jawab?"


Alvaro mengangkat bahunya, "gue gak tau alasan dia apa begitu, tapi pesan gue lo jangan marah sama Meilla karena masalah ini ya."


"Kenapa?"


"Yah, menurut gue kalau Lo marah karena masalah ini lo kayak anak kecil Tah gak, memang sih lo secara tidak langsung Lo telah di bohongin sama Meilla tapi kan dia punya alasan sendiri kenapa gak ngasih tau lo. Gue yakin lo pasti ngerti maksud gue." Alina akhirnya mengangguk, bener apa yang Alvaro bilang.


"Terus siapa cewek itu?"


"Kenapa lo penasaran banget sama sosok cewek itu Lin?"


"Gue mau tau aja, setidaknya gue bisa introspeksi diri kenapa gue gak bisa ngambil hati Haidar."

__ADS_1


"Lo gak akan pernah bisa ketemu dia Lin." Ujar Alvaro pelan.


__ADS_2