Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Orang yang tak terduga


__ADS_3

Memang benar, saat kita memiliki masalah lalu di curahkan hati akan terasa lega meskipun masalah itu belum juga selesai. Seperti hal nya Alina saat ini, ia memilih bercerita dengan batu nisan di banding dengan seseorang.


Alina bercerita panjang lebar pada Diana, tanpa sadar kalau hujan sudah mulai turun. Saat hujan turun bukannya pergi, Alina masih tetap di sana. Masih mencurahkan isi hatinya, kali ini di temanin dengan tangisannya.


Kata orang menangis di bawah hujan itu menyenangkan, karena tidak ada yang tahu kalau kita sedang sedih. Iya gak sih?


Saat sedang asik bercengkrama dengan batu nisan yang tidak menjawab apapun sejak tadi. Alina sadar kalau dirinya sudah tidak lagi kehujanan. Padahal saat ia melihat ke depan, hujan masih turun sangat deras mengapa dirinya seperti tidak terkena hujan lagi.


Alina mengangkat kepalanya melihat ke atas, ternyata ada payung yang sedang melindungi nya. Alina bingung siapa yang sedang melindungi nya itu, apakah Haidar?


Alina menggeleng, lalu akhirnya menoleh ke belakang dan melihat seseorang berdiri tepat di belakang nya sambil memegang payung untuk melindungi tubuh Alina.


“Lo ngapain di sini, Alina?” tanya Edo yang ternyata dua lah yang memayungi Alina.


Alina kaget dengan kedatangan Edo, lalu memilih bangkit untuk melihat jelas kali ini beneran Edo. Padahal dalam hati Alina mengharapkan Haidar berada di sini, tapi kenyataan Edo lah yang ada di depannya saat ini.


“Edo? Lo ngapain di sini?” bukannya menjawab , Alina malah bertanya balik pada kekasih sahabat nya itu.


Edo menggeleng, “Gue yang tanya lebih dulu Alina, lo ngapain di sini? Sampe hujan-hujanan gini! Lo bisa sakit nanti!” seru Edo.


Alina menyengir, “Kebetulan aja gue lewat sini, terus keasikan curhat sama Diana gak nyadar kalau hujan.” seru Alina berbohong.


Edo menggeleng lagi, “Gue tahu lo dari rumah Haidar, gue ngelihat lo di depan komplek terus naik taksi dan ke sini.”


Alina melirik ke sekitar makam yang masih hujan deras, “Kalu udah tau ngapain pake nanya!” kesal Alina.


“Gue antar pulang ya?” ajak Edo.


Alina langsung menggeleng-geleng cepat, “Gak usah, gue naik taksi aja. Gue gak mau Meilla nanti salah paham masalah ini.”


“Gue yang bakal jelasin semuanya sama dia, sedangkan gue anter lo pulang. Lo bisa sakit Alina kalau hujan-hujanan terlalu lama!” ujar Edo lalu melangkah keluar makam menuju mobilnya.


Alina mengikuti langkah Edo sampai di samping mobilnya, “Nanti mobil lo jadi basah, gak papa?” tanya Alina tak enak hati.


“Gak masalah, cepatan naik. Di jok belakang ada jaket gue, Lo pake aja dulu biar gak terlalu dingin.” suruh Edo.

__ADS_1


Alina menuruti apa yang Edo bilang, bohong kalau Alina ia gak papa. Jujur, ia sangat kedinginan, dan kepalanya terasa pusing. Sudah cukup lama ia tidak mandi hujan seperti ini.


“Lo lagu ada masalah sama Haidar?” tanya Edo saat sudah melakukan mobilnya menuju rumah Alina.


Alina mengangguk, “Iya, gue milih buat break dulu sama dia. Gue mau benerin diri dulu.” beritahu Edo.


“Lo gak salah ngambil keputusan kaya gitu? Lo inget gak dulu gimana, waktu lo ngejar dia?”


Alina mengangguk, “Ingat dan gak bakal gue lupain Do, cuma ini keputusan gue. Gue mau hubungan gue sama Haidar sehat, jadi hubungan yang saling terbuka satu sama lain.”


“Entah gue nya yang egois atau Haidar nya yang belum percaya sepenuhnya sama gue. Gue egois pengennya semua sesuai apa yang gue mau, sedangkan Haidar gak bisa jujur apa yang ia rasa Aya apa yang ia simpan dari gue. Apa itu di sebut suatu hubungan yang bahagia? Gue rasa enggak!” lanjut Alina.


“Masalahnya besar banget, Lin? Sampai Lo milih buat masing-masing dulu kaya gini? Jujur gue gak setuju sama keputusan lo ini.”


Alina mengangguk, “Yang lain juga pasti gak setuju Di, Haidar sendiri pun gak setuju. Tapi mau gimana lagi, semua udah gue pikirin matang-matang kok. Gue gak pergi ninggalin Haidar, gue cuma istirahat hati aja.”


Edo mengangguk lalu diam, tidak lagi menanyakan apapun pada Alina. Yang Edo lihat memanglah kesedihan yang terpancar di mata gadis itu. Selama mengenal Alina, tidak pernah Edo melihat Alina sehancur itu, meskipun sering di tolak Haidar dulu. Lalu mengapa sekarang, di saat sudah saling memiliki malah Alina terlalu hancur. Apa benar kata Alina, hubungannya tidak bahagia!


“Do, lo sayang gak sama Meilla?” tanya Alina.


Alina mengangkat bahunya, “Hatu seseorang gak ada yang tahu kan, kalau cuma dari ekspresi atau tingkah laku orang pasti bisa berbohong.”


Edo mengangguk, “Tapi entah kenapa setelah perdebatan antara Elsa dan Meilla waktu di rumah sakit itu, gue jadi sering overthinking sama dia dan Haidar. Lo juga gak?”


“Kalau gue bilang, hubungan gue kaya gini karena meilla. Lo marah gak?”


“Marah kenapa?”


Alina menghela napasnya, ia tidak akan menceritakan masalah itu pada Edo. Benar, itu aib dan ia gak berhak memberitahu hal itu toh kejadian itu gak pernah terjadi.


“Marah karena gue nyalahin dia gitu.”


Edo mengangkat bahunya, “Entah Lin, gue bingung. Gue ngerasa apa yang Elsa bilang waktu itu benar, kalau Meilla terima gue karena terpaksa. Tapi kadang gue juga gak mikirin hal itu, yang penting Meilla jadi milik gue sekarang.”


Alina mengangguk lalu tersenyum kecil, “Cinta itu buta ya memang, udah tahu kita sakit kalau bersama dia. Tapi tetap aja memilih bersama tanpa mau melepaskan!” kekeh Alina.

__ADS_1


“Kaya lagu yang lagi viral tuh, _sendiri ku tak bisa, bersama ku tersiksa, ini kenyataan nya, kita tak baik saja!”_ Edo bernyanyi sambil menghayati lagunya membuat Alina terkekeh.


“Cowok bisa galau juga ternyata!” seru Alina.


“Cowok juga manusia, Alina!” jawab Edo kesal.


Tak terasa ternyata mereka telah sampai di rumah Alina, hujan pun sudah berhenti. Alina keluar dari mobil Edo begitu pula dengan sang pemilik mobil. Betapa terkejutnya alina, saat melihat Haidar tengah berdiri di depan gerbang nya.


Hadar menatap Alina dan Edo bergantian, bingung mengapa mereka bisa berdua seperti ini, sakit melihat pandangan ini, jujur.


“Kok bisa bareng Edo?” tanya Haidar saat Alina dan Edo sudah berdiri tak jauh darinya.


Baru Alina ingin menjawab tapi suara Edo lebih dulu terdengar, “Tadi gue mau ke rumah lo, di depan komplek gak sengaja lihat Alina naik taksi. Makanya gak ikutin, dan lo tahu? Alina mampir ke makam Diana sampai hujan-hujanan!” jelas Edo.


Haidar menatap Alina, wajah gadis itu sudah terlihat pucat, “Alina, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan? Aku gak mau kamu kaya gini, kamu baik sakit alina.” seru Haidar.


Alina membuka jaket yang di pinjamkan Edo tadi, laku memberikannya ke sang pemilik, “Do, thank you jaketnya. Makasih juga tumpangannya, maaf kalau mobil lo jadi basah. Gue masuk du ya” bukanya menjawab ucapan Haidar, Alina memilih untuk segera masuk ke dalam.


Haidar langsung mencekal tangan Alina agar tidak masuk dulu ke dalam, “Alina, please batalin keputusan kamu. Aku gak bisa kaya gitu, alina. Aku janji, setelah ini aku akan selaku terbuka sama kamu.”


“Haidar, aku gak pergi. Aku cuma butuh istirahat dari dunia kamu, please kamu juga harus ngerti posisi aku. Kamu tahu gak, kalau Edo itu cinta sama Meilla tulus, aku mau kamu kaya dia.” seru Alina membawa-bawa nama Edo membuat Edo bingung harus merespon bagaimana.


“Alina, semua orang punya cara masing-masing untuk bahagia, aku gak bisa kaya Edo dan begitu sebaliknya.”


“Iya tahu, tapi aku minta tolong sama kamu, untuk kasih tau Meilla kalau dia beruntung memiliki Edo, jangan di sia-siain!” seru Alinabdengan nada menyindir entah pada siapa.


“Urusan Meilla, bukan urusan aku Alina! Dia udah dewasa, dia tahu mana yang terbaik buat dia! Dan aku rasa dia pun bahagia bersama Edo selama ini!”


Alina terkekeh pelan, “Hati orang gak ada yang tau Haidar, semua kaya aku gak tahu hati kamu sebenarnya gimana.”


“Aku capek, aku mau ganti baju, dingin. Kamu pulang aja bareng Edo. Oh iya Do, kalau lo udah nyerah, bilang gue ya kita nyerah bareng nanti!” seru Alina entah maksudnya apa dan semakin membuat Edo bingung.


Alina langsung menghempaskan tangan Haidar begitu saja, lalu masuk ke dalam gerbang dan segera menguncinya. Tangisannya kembali turun, entah mengapa sekarang Alina juga sering cengeng begini.


“Gue anter lo balik ya!” seru Edo dan Haidar hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2