Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Teman baru


__ADS_3

Alina hari ini di antar sekolah oleh Alvaro, sejak kejadian itu Alina lebih sering bertukar pesan dengan Alvaro.


"Thanks varo udah nganterin gue." Ujar alina setelah turun dari motor Alvaro.


Alvaro mengangguk, "santai kali, pulangnya mau di jemput juga?" Tawar Alvaro.


Alina nampak berpikir lalu mengangguk, "Boleh kalau gak ngerepotin." Ujarnya dan membuat Alvaro gemas dengan tingkah Alina.


Alvaro mengacak pucuk kepala Alina, "demi calon pacar, apasih yang enggak." Ujarnya


"Kalau gitu gue masuk ya, lo juga langsung ke sekolah jangan bolos." Pamit Alina.


Alvaro mengangkat tangannya lalu hormat pada Alina, "siap calon pacar."


"No pict \= hoax." Ujar Alina.


"Siap, nanti gue pap pas gue lagi belajar. Lo juga pap ya biar gue juga semakin semangat belajarnya." Alina mengangguk dan tersenyum.


Setelah Alvaro pergi dari sana, Alina melangkah masuk ke dalam sekolah dengan senyum cantik yang selalu ia tebarkan pada semua orang. Alina tidak menyadari kalau tadi dia menjadi perhatian siswa yang lalu lalang di dekat gerbang.


Banyak yang bingung setelah melihat Alina bersama Alvaro. Pasalnya yang mereka tah Alina sangat terobsesi dengan Haidar dan pagi ini Alina datang bersama dengan laki-laki dan berlaku sweet.


"Lin, pacar baru?" Tanya Siska teman satu kelasnya Bobi.


Alina menggeleng, "bukan kok, cuma temen."


Tanpa Alina sadari juga ternyata sejak ia turun dari motor alvaro, ada sepasang mata yang terus melihat ke arahnya dari kejauhan. Dan orang itu adalah Haidar.


Haidar melihat semua adegan yang Alina dan Alvaro sajikan tadi di pagi ini. Haidar tak suka melihat itu semua, Haidar tak suka melihat Alina bersama Alvaro.


Saat Alina mulai berjalan menuju kelas, saat itu juga Haidar ikut berjalan. Dengan sengaja Haidar menampakkan dirinya di depan alina.


"Permisi." Ujar Alina cuek saat jalannya di halangi oleh Haidar.


Haidar yang mendengar nada suara yang tidak seperti biasanya langsung bingung. Apa Alina masih marah dengan kejadian kemarin batin Haidar.


"Permisi, Lo denger gak?" Ketus Alina lagi saat Haidar tidak menyingkir dari hadapan Alina.


Haidar menatap Alina sedangkan yang di tatap terus mengalihkan pandangannya ke sana kemari.


"Alina." Panggil Haidar pelan.


Alina hanya diam tidak menjawab panggilan itu.


"Alina." Panggil Haidar lagi, tetap sama tidak ada jawaban apapun dari Alina.


"Bisa bicara?" Ujar Haidar lagi.


"Gak! Minggir!" Ketus Alina lalu mendorong Haidar dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Tapi sayangnya tidak berpengaruh apapun pada Haidar, bahkan Haidar tidak tergeser dari tempatnya.


"Jangan dekat sama Alvaro." Ujar Haidar membuat Alina menatap tajam.


"Berisik!" Ujar Alina seakan meniru apa yang selama ini Haidar katakan."


"Alvaro itu brengsek."


"Lo lebih brengsek." Ujar Alina lalu berbalik badan meninggalkan Haidar.


Kenapa tidak dari tadi saja balik badan Alina! Hmm.


Haidar yang melihat Alina pergi hanya bisa diam.


...****************...


Di dalam kelas, Meilla dan Elsa masih terlihat perang dingin. Kerena sejak tadi masuk kelas, mereka tidak sama sekali tegur sapa. Meilla yang masih kesal karena Elsa menuduh nya sedangkan Elsa yang merasa benar karna feeling-nya.


"Pagi guys." Alina datang lalu menyapa orang yang ada di kelasnya.


Saat ingin duduk di bangkunya, Alina nampak memperhatikan kedua sahabatnya. Wajah keduanya nampak kusut sekali dan mereka tengah sibuk masing-masing tidak seperti biasanya.


"Lo berdua masih gak mau naikkan?" Ujar Alina.


Tanpa menjawab keduanya hanya kompak menggelengkan kepalanya.


"Ada untungnya emang kalau diem-dieman gini?"


"Udah tau gak ada untungnya kenapa masih ngelakuin?"


Meilla menegakkan duduknya begitu pula dengan Elsa.


"Gue mau Meilla jujur dulu sama kita tantang apa yang dia tau, baru gue mau naikkan!" Ujar Elsa membuat Meilla emosi.


"Gue udah jujur semuanya, lo masih gak percaya sama gue? Gak usah naikkan kalau gitu, gampang." Sahut Meilla.


Alina yang mendengar Meilla dan Elsa kembali adu mulut langsung menggeleng, "Gue nyuruh kalian buat naikkan, buka. Malah bertengkar lagi!"


"Gue masih gak ngerti sama jalan pikiran Elsa, Lin. Gue udah jelasin dengan jujur apa yang gue tau, tapi tetep aja di paksa gue buat jujur." Keluh Meilla.


"Karena gue ngerasa lo bohong, ada yang lo tutupin." Sahut Elsa.


Sekum sempat Alina berbicara, Haidar dan teman-temannya masuk ke kelas dan membuat suasana jadi hening.


"Lin, bisa bicara?" Ujar Haidar.


"Gak!" Jawab Alina singkat dan membuat orang yang ada di sana kaget dengan respon Alina.


Alina langsung pergi keluar kelas, tidak mau terlalu lama berdekatan dengan Haidar.

__ADS_1


"Si Alina so jual mahal."


"Giliran di samperin, dia malah sok-sokan pergi."


"Iya, dulu aja di Pepet terus eh sekarang udah di notice malah sok nolak!"


"Begitulah kalau orang yang udah gak punya urat malu."


Begitulah kira-kira yang mereka katakan tentang Alina. Alina jadi tidak mengerti dengan mereka semua.


Alina berjalan menuju perpustakaan dan tidak sengaja ia menabrak seseorang yang tengah berjalan berlawanan.


"Aduh, sorry gue gak sengaja." Ujar Alina meminta maaf.


Alina menatap orang asing di depannya.


"Eh iya gak papa, gue juga salah karna gak liat jalan." Ujar cewek itu sambil minta maaf juga.


"Lo anak baru?" Tanya Alina to the point.


Cewek itu mengangguk, "iya, ini hari pertama gue masuk sekolah ini. Makannya gue lagi nyari kelas yang di maksud kepala sekolah."


"Lo masuk kelas berapa emang? Biar gue anterin?"


"12 IPS 2."


"Lah itu mah kelas gue juga, mau ke kelas?"


Di tengah perjalanan menuju kelas, Alina menanyakan nama cewe itu dan alasan mengapa dia pindah sekolah di kelas 12 semester 2 apalagi Minggu depan sudah mulai ujian praktek.


"Nama lo siapa? Nama gue Alina." Ujar Alina memperkenalkan dirinya.


"Nama gue Vanesa, gue pindah dari Amerika."


"Oh ya? Orang tua juga di sana."


"Serius? Terus kenapa lo ada di Indonesia gak ikut ortu Lo disana?"


"Gue nyaman di sini, btw kenapa lo pindah di semester 2? Udah kelas 12 lagi.


"Ita, ortu gue harus balik ke Indonesia lagi dan gue gak bisa hidup sendirian di negara orang makanya gue pindah deh."


Alina hanya mengangguk dan tak lama pun bel masuk terdengar dan kebetulan keduanya sudah sampai di depan kelas. Alina masuk lebih dulu lalu di susuknya oleh vanesa.


"Eh guys, kita kedatangan murid baru." Teriak Alina.


Tidak di pungkiri Vanesa cantik, rambutnya yang di cat dengan warna cokelat dan tubuhnya yang tidak kurus dan juga tidak gemuk. Memiliki kulit warna putih dan hidungnya sedikit mancung. Tetapi Alina lebih unggul sepertinya.


"Vanesa, ini kelas baru lo. Semoga lo betah ya." Ujar Alina.

__ADS_1


Alina mengangguk lalu matanya kesana kemari untuk melihat wajah-wajah di kelas barunya sambil tersenyum tetapi matanya langsung melotot ketika melihat seseorang yang duduk di pojok.


Dan seseorang itu pun sama kaget nya seperti vanesa, tidak menyangka kalau kalau keduanya bakalan bertemu lagi setelah beberapa tahun silam.


__ADS_2