
sekarang sudah hampir pukul 02.00 malam. Cuaca di luar rumah sakit pun sedang gerimis, semakin membuat suhu menjadi lebih dingin. 4 cowok yang sedang duduk di depan ruangan sambil bermain game pun merasa kedinginan.
mereka bermain game untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerang, sebenarnya bisa saja mereka tidur bergantian tapi entah mereka tidak melakukannya.
tak lama dokter yang sedang bertugas malam hari datang terburu-buru dan langsung masuk ke dalam ruangan Alina. Mereka semua pun langsung berdiri saling bertanya ada apa di dalam.
"ada apa ya?" tanya Haidar penuh dengan kekhawatiran.
"mungkin hanya cek kondisi Alina!" jawab Lio.
tak lama seorang suster keluar dari ruangan dengan wajah panik, dan celangak celinguk mencari orang tua Alina.
"mohon maaf mas, apa ada orang tua pasien?" tanya suster kepada 4 cowok di sana
Haidar langsung menggeleng cepat. "mereka sudah pulang sus untuk istirahat, Saya calon suaminya yang akan bertanggung jawab selama orang tua pasien nggak ada!"
suster menggangguk, "Saya mau kasih informasi, kondisi pasien kembali memburuk detak jantungnya melemah bahkan sempat tidak berdetak lagi. kami ingin mengambil tindakan lagi apakah boleh saya meminta tanda tangan di sini?"
bagaikan tersambar petir di siang bolong kaki Haidar mendadak lemas. bagaimana mungkin ia kuat menopang dirinya sendiri saat tahu kekasihnya di dalam benar-benar mempertaruhkan hidupnya. untung ketiga sahabatnya dengan sigap membantu Haidar untuk segera berdiri kembali.
"Dar, tanda tangan dulu biar Alina langsung dikasih tindakan!" teriak Nanda menyadarkan Haidar dari lamunannya.
Haidar dengan cepat menandatangan berkas itu dengan tangan gemetar titik menurut Haidar cukup uang waktu kalau apapun harus meminta tanda tangan lebih dulu titik seharusnya rumah Sakit bisa langsung mengerjakan hal yang menurutnya baik untuk pasien gerutu Haidar dalam hati.
mereka masih berdiri di depan pintu ruang itu untuk menunggu kabar selanjutnya dari suster atau dokter yang saat ini tengah menangani Alina.
"gue harus bawa Alina, pindah rumah sakit kayaknya!" seru Haidar emosi.
Edo mengelus punggung Haidar, "lo sabar jangan pakai emosi, kita tunggu Gimana kabar selanjutnya!"
"gak bisa anjing, gue khawatir sama cewek gue!" teriak Haidar yang memang rasa khawatirnya itu sangat memuncak.
"mending lo duduk deh, jangan teriak di depan ruangan, ganggu mereka yang lagi perjuangan Alina tahu gak!" Lio pun tersulut emosi juga.
Haidar menatap Lio dengan tajam, "lo yang balik sono, sialan!"
Lio hanya menghela nafasnya, memaklukan Haidar yang bersikap seperti itu. tak lama terdengar suara sesegukan dari Haidar, yang ternyata Haidar kembali menumpahkan kekhawatirannya dengan tangisan.
"Alina, please bangun. aku di luar sini, nungguin kamu!" teriak Haidar sambil memegang pintu.
"Alina jangan tinggalin aku Alina! aku gak suka di posisi kayak gini, please bangun Alina!" seru Haidar lagi.
mereka bertiga membantu Haidar untuk berdiri lebih jauh dari sana, karena pasti mengganggu ketenangan para dokter dan suster yang sedang bertugas di dalam.
__ADS_1
Haidar terus memberontak, tak mau jauh dari pintu ruangan Alina. tetapi mereka tetap menahannya dengan sekuat tenaga. hingga akhirnya seorang dokter yang tadi masuk ke dalam ruangan itu keluar, Mereka pun langsung mendekat ke arah dokter.
"mohon maaf mas, kami sudah melakukannya semaksimal mungkin, tetapi tuhan berkata lain. mas yang sabar ya, kalau begitu saya permisi!" hanya itu yang dokter sampaikan kepada mereka berempat.
mereka yang tak siap menjatuhkan tubuhnya ke bawah secara bersamaan. kaki mereka mendadak lemas mendengar perkataan dokter tadi. bagaimana mungkin langsung berefek seperti itu, padahal mereka belum jelas apa yang disampaikan tadi.
maksudnya Tuhan berkata lain tuh apa hei? sarung mereka di dalam hati masing-masing.
"Al..Al..Alina ninggalin kita?" tanya Lio berbata-bata.
tanpa disangka mereka sudah berusaha menahan air matanya, tetapi tetap saja runtuh. menangis Tanpa suara adalah tangisan paling menyakitkan.
Nanda menggeleng, "itu gak mungkin, Alina cewek kuat, dia pasti bisa ngelewatin ini yo!" sanggah Nanda yang tak mau percaya dengan kondisi itu.
Edo menggangguk, "benar tuh, gue jadi ngerasa rumah sakit ini gak cocok untuk Alina deh!" sahutnya yang masih mengelak apa yang dikatakan dokter tadi.
Haidar hanya diam mendengarkan celot tahan para sahabatnya itu. ia hanya memandang pintu sambil menumpahkan air matanya yang mengingat wajah Alina di depannya titik bagaikan kaset kusut yang sekarang berputar di otaknya tentang dirinya selama bersama dengan Alina.
indah satu kata itu yang keluar dari mulut Haidar.
Haidar menggeleng akhirnya tersadar dari lamunannya, dan bangkit untuk masuk ke dalam ruangan itu. Haidar ingin melihat sendiri apa yang disampaikan oleh dokter itu seperti apa.
Haidar masuk tanpa meminta izin sama siapapun. saat sudah masuk ke dalam ruangan, betapa terkejutnya Haidar saat melihat beberapa suster sedang melepaskan alat bantu atau selang yang tadinya berada di tubuh Alina.
Haidar menggeleng tak percaya, bahkan monitor yang biasa memantau detak jantung Alina pun sudah mati. tidak suara apapun lagi di sana dan hanya menampilkan garis lurus.
"ini beneran gak sih?" tanya Nanda pelan yang tidak yakin kalau ini beneran.
Edo dan Lio hanya mengangkat bahunya sambil matanya terus memandang ke depan titik wajah Alina tidak terlihat sama sekali karena posisi tempat tidur yang lurus.
Haidar memberanikan diri untuk mendekat ke arah ranjang Alina dengan kaki gontai. suster yang baru sadar kedatangan orang di ruangan ini pun menggeleng.
"mohon maaf untuk tidak masuk ke dalam ruangan ini sembarangan ini ruangan steril!" tegur sang suster.
Haidar tidak menghiraukan ucapan sang suster dan terus melangkah maju titik saat sudah ingin dekat dengan kasur Elina tiba-tiba suster lain menghalanginya.
"mohon maaf mas Oma bisa keluar dari ruangan ini? kami masih harus merapikan alat di sini, mohon untuk tidak mengganggu!" seru suster
Haidar langsung menatap sang suster dengan sangat tajam bahkan tangannya sudah melayang ke udara, entah ingin berbuat apa yang pasti Nanda lebih cepat menahan tangan itu.
"dia calon istri gue, dan gue berhak tahu apa yang terjadi sama dia!" seru Haidar dengan emosinya.
Suster mengganggu, "Saya mengerti mas, tetapi bukankah dokter sudah menyampaikan bagaimana kondisi pasien saat ini?"
__ADS_1
Haidar berdecih, "saya gak percaya sama perkataan dokter itu, sekarang saya mau lihat sendiri bagaimana kondisi calon istri saya!"
"mohon maaf mas tidak bisa Mama kami sedang membereskan semuanya dulu, baru nanti pasien akan diserahkan ke keluarga!"
Haidar memberontak sambil terus berteriak nama Alina
"Alina, kamu nggak ninggalin aku kan?" seru Haidar.
"Alina bangun Alina Oma ini aku Haidar! kita kan akan hidup bersama, kamu nggak boleh ninggalin aku kayak gini!"
"Alina, aku hancur lihat kamu seperti ini, please bilang sama aku kalau apa yang dokter bilang itu gak benar, kamu pasti baik-baik aja kan?"
"please Alina buka matanya, Aku kangen kamu Angga Oma kangen senyum dan suara kamu. jangan tinggalin aku Alina!" teriak Haidar terus-menerus membuat ketiga sahabatnya pun menarik paksa untuk Haidar segera keluar dari ruangan.
sedangkan suster meneruskan aktivitasnya membereskan alat-alat yang telah dipakai oleh pasien sebelum pasien diserahkan kepada pihak keluarganya.
di luar ruangan, tangisan mereka kembali terdengar tidak menyangka kau semua benar-benar terjadi di depan matanya.
"Alina gak mungkin ninggalin kita anjir!" teriak liyo sambil meninjuk tembok rumah sakit untuk menghilangkan sedikit rasa sedihnya.
"iya gak mungkin, ini semua pasti salah! gue yakin kalau Alina itu akan sembuh anjir bukan malah kayak gini!" sahut Nanda yang sedang duduk di bawah dengan lutut ditekuk.
"Alina, logam mau lihat ponakan lo lahir nanti hei?" seru Edo sambil menangis mengingat hanya Alina yang paling mengerti di kondisinya waktu itu.
sedangkan Haidar hanya menangis dalam diamnya sambil memeluk lututnya sendiri titik bingung harus merespon dan bersikap seperti apa saat ini. kesedihannya sudah diatas rata-rata tidak menyangka kalau ia harus kembali ditinggal oleh orang yang dia sayang.
"kita hubungin yang lain sekarang?" tanya Edo sambil sesegukan.
belum mendapatkan jawaban dari siapapun, suara Haidar kembali terdengar dan bahkan saat ini cowok itu sudah berdiri tegap di depan ruangan Alina.
"bangs*t, ini semua gak mungkin terjadi, cewek gue pasti bisa bertahan! ini semua pasti kelalaian dari rumah sakit! anjing gue nggak terima sama semua ini!" teriak Haidar sambil menunjuk dinding samping pintu.
"Dar tahan emosi loh!" saru Edo.
tiba-tiba tangis Haidar kembali terdengar, sekarang lebih kencang daripada sebelumnya.
"do, bilang sama gue kalau Alina itu baik-baik aja kan? yo Iya kan? ini semua cuman mimpi buruk kita kan Nan? hei tolong bilang kalau semua ini dia benar!" seru Haidar sambil menatap sahabatnya satu persatu.
"Alina gak mungkin ninggalin gue kan? dia sayang banget sama gue kan? Iya gak sih? secara Gue ganteng dia gak boleh ninggalin gue pokoknya!" seru Haidar diselingi suara ketawa keras lalu kembali menangis.
sahabatnya yang melihat Haidar seperti itu pun tidak tega. Haidar menangis dan tak tawa dalam satu waktu yang bersamaan titik hati ketiganya terasa nyeri melihat itu semua.
"Alinaaaaaaaaa!" teriak Haidar sekencang yang ia bisa lalu akhirnya menjatuhkan diri di depan pintu.
__ADS_1
percaya nggak sih kalau aku ngetiknya pun sambil menangis? Siapa di sini yang juga ikut nangis pas baca?
guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya!