Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Makan malam terindah..


__ADS_3

Waktu perjalanan pulang dari kampus, Haidar mengatakan akan mengajak Alina untuk makan malam di luar hari ini. Haidar sudah menyiapkan semuanya, termasuk gaun yang harus di pakai Alina nanti.


Maka dari itu, setelah Samapi di rumah, Alina menunggu paket yang di krim oleh Haidar berisi gaun yang Haidar bilang tadi.


Tok tok


“Neng alina.” panggil Eni dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Alina.


Alina yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membukakan pintu, “Iya mba?” seru Alina.


Eni memberikan dua buah paper bag dengan logo merk brand ternama di sana, “Ini ada paket, katanya untuk neng.” beritahu Eni.


Alina mengambil paperbag itu lalu tersenyum, pasti ini dari Haidar pikirnya.


“Makasih mba.” seru Alina.


Eni mengangguk, “Pasti dari mas Haidar ya, sweet banget sih. Eni juga mau punya pacar kata mas haidar.” goda Eni.


Alina terkekeh, “Emang mas Agus gak so sweet mba?” goda Alina.


Agus adalah satpam kompleks di daerah rumahnya, yang katanya lagi berusaha mendekati Eni.


Wajah Eni berubah menjadi merah karena malu, “Ih neng Alina, Kenapa bawa-bawa nama dia. Yaudah kali gitu Eni ke bawah lagi ya.”


Alina mengangguk, “Oh iya mba, jangan masak makan malam ya, hari ini aku mau makan malam di luar soalnya.”


Eni menoleh lagi ke arah Alina, “Oke sip!” seru Eni segera turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda.


Alina langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk membuka Hadian dari Haidar. Jantung nya berdebar, entah mengapa perasaannya seperti tak enak. Seperti akan ada suatu yang akan terjadi.


Alina terkagum saat melihat gaun yang di kirimkan padanya plus dengan sepatu high heels warna senada dengan si gaun tersebut. Gaun berwarna merah maroon menyala, dengan aksen mutiara hampir seluruh bajunya. Dengan model sabrina yang akan menampilkan leher putih milik Alina nantinya.


“Pilihan yang sangat sempurna!” seru Alina lalu memakainya gaun tersebut.


Alina mula bersikap dengan memoles tips wajah cantiknya dengan make-up. Rambutnya ia Cepol ke atas dan memakai jepitan warna maroon juga. Alina ingin menyulap dirinya jadi lebih cantik dari biasanya.


Tak terasa waktu terus berjalan, sampai akhirnya waktu yang ditentukan Haidar sudah tiba. Di karenakan kondisi Haidar yang belum bisa menyetir mobilnya sendiri, Haidar bilang nanti akan ada supir yang akan menjemputnya dirumah.


Dan benar saja, supir tersebut telah tiba tepat waktu di rumah nya. Sebuah mobil mewah yang menjemput Alina di sini. Alina terkagum dengan segala kesiapan yang Haidar lakukan hanya untuk makan malam hari ini.


“Silahkan masuk nona.” seru sang supir sambil membukakan pintu belakang untuk Alina.

__ADS_1


Alina mengangguk lalu tersenyum, “Terima kasih banyak pak.” seru Alina yang tidak lupa mengucapkan biru.


Sang supir segera melajukan mobilnya ke arah restoran yang sudah di booking Haidar malam ini. Restoran bintang 5 yang di pakai oleh Haidar, dan benar-benar hanya ada Haidar dan pegawai di dalam sana. Artinya Haidar memang menyewa hotel tersebut.


Alina turun dari mobil dengan hati-hati, lalu segera masuk ke dalam restoran untuk mencari keberadaan kekasihnya. Baru memasuki pintu, Alina langsung di hampiri oleh pegawai restoran.


“Nona Alina sudah di tunggu oleh kekasihnya di meja nomer 18.” seru pegawai tersebut.


Alina mengangguk, “Baik, terima kasih.” seru Alina lalu melangkah mencari meja nomer yang di sebutkan tadi.


Ternyata meja tersebut ada di tengah-tengah, laku di mana Haidar? Tadi pegawainya bilang Haidar sudah menunggunya, tetapi di meja 18 tak ada siapapun.


Alina menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan Haidar. Hingga akhirnya ada seseorang yang memeluk nya dari belakang membuat Alian langsung tersenyum karena tahu siapa orang itu. Alina hafal dengan wangi parfum Haidar, yang selalu membuatnya nyaman kalau di dekat cowok satu ini.


“Ngapain pake ngumpet-ngumpet sih?” Alina pura-pura kesal dengan Haidar. Padahal aslinya mah, jantungnya tidak aman saat ini.


Haidar membalikkan tubuh Alina agar berhadapan dengannya. Terpesona, satu kata itu lah yang menggambarkan Haidar saat ini setelah melihat Alina dari dekat. Sangat cantik, meskipun biasanya juga cantik.


“Kamu cantik banget!” puji Haidar.


Alina tersenyum kecil, “Setiap hari pun cantik!” sahut Alina.


Haidar terkekeh lalu mencuri ciuman di kening Alian. Setiap itu Alina mengajak Alina untuk duduk di meja yang di bilang pegawai tadi.


Alina terdiam sebentar, “Ah ya, karena itu tanggal jadian kita.” jawab Alina.


Haidar tersenyum lebar, “Betul, lalu kenapa aku ngajak makan malam kamu?”


Alina mengangkat bahunya tidak tahu.


“Karena sekarang tanggal 18, kamu gak lihat tanggal memangnya?” seru Alina agak sedikit kesal.


Alina terlalu pintar kalau ga, makanya agak oon!


Alina langsung melihat tanggal di layar ponselnya, ternyata benar ini adalah tanggal 18 dan tepat hari ini adalah hari jadian mereka ke 3 bulan. Eh tunggu maksudnya, Haidar mengajaknya makan malam, untuk merayakan hari jadian? Bukannya hari jadian di rayakan satu tahun sekali ya?


“Happy anniversary, haidar.” seru Alina tiba-tiba membuat Haidar langsung merubah wajahnya menjadi berbinar.


“Haidar, tapi kamu kenapa sampai seniat ini bikin acara makan malam kita?” tanya Alina yang masih mengganjal di pikirannya.


Belum sempat Haidar menjawab, pelayan restoran masuk dan menata makanan di atas meja mereka berdua.

__ADS_1


“Selamat menikmati.” seru pelayan lalu pergi.


Haidar masih terus menatap Alina tak berkedip, karena menurutnya sayang melewatkan moment indah ini. Alina sangat amat cantik, cocok dengan gaun yang ia belikan tadi. Meskipun itu pilihan Meilla sih!


“Kita makan dulu ya.” ajak Haidar dan Alina hanya mengangguk.


Keduanya makan bersama, walau kadang-kadang ada saja Yanga Lina tanyakan tentang acara makan malam ini.


Setelah selesai makan, pelayan tadi segera masuk kembali dan membereskan meja mereka. Lalu tak lama, datang lagi makanan penutup yang di hidangkan di atas meja.


“Haidar, ini kita makan lagi?” Haidar hanya mengangguk lalu kembali memakan apa yang sudah di siapkan di atas meja, begitu pula dengan Alina.


Habis semua tidak tersisa makanan apapun di atas meja tersebut, dan lagi-lagi pelayan langsung masuk untuk membereskan bekas makanan mereka tadi.


Tak lama musik romantis terdengar mengalun indah di dalam restoran mewah ini. Musik yang biasa di gunakan untuk berdansa.


“Jangan bilang kamu mau ajak aku berdansa?” seru Alina lebih dulu sebelum Haidar mengajaknya.


Tanpa menjawab, Haidar bangkit dari duduknya lalu berlutu di depan Alina dan mengulurkan tangannya.


Alina terkekeh lalu menyambut uluran tangan itu, dan keduanya berjalan ke arah tengah untuk berdansa romantis di sana. Keduanya mengikuti irama musik yang mengalun indah. Jarak mereka sangat dekat, bahkan napas satu sama lain pun terasa di wajah masing-masing.


“Haidar, aku gak nyangka kamu bisa bikin acara romantis kaya gini.” seru Alina di tengah dansa mereka.


Haidar tersenyum, “Karena selama ini aku belum pernah ngasih kamu sesuatu yang indah, Alina.”


Alina menggeleng, “Semua sudah indah, sejak kamu jadi milik aku, Haidar.” Alina menambah perkataan Haidar tadi.


“Setidaknya aku harus bikin satu moment yang gak akan pernah kamu lupain sampai kapanpun.”


“Moment apapun asal sama kamu, gak akan pernah aku lupain.” lagi-lagi Alina membantah.


Bukannya marah, Haidar malah gemas dengan kekasihnya ini, ingin sekali mencium nya, “Ngejawab Mulu ya ini anak!” seru Haidar sambil menggelitik perut Alina membuat sang pemilik memberontak.


Alina tertawa karena geli, “Haidar lepas ih. Aku pake heels nanti jatuh.” pinta Alina sambil terus tertawa.


Haidar langsung memberhentikan gelitiki nya itu, dan di gantikan dengan pelukan hangat pada Alina.


“Alina, terima kasih karena sudah mau berjuang sampai di titik ini. Maafin aku kalau aku belum bisa jadi yang terbaik untuk kamu.” seru Haidar dengan pelan di sela pelukan mereka.


Alina mengelus punggung Haidar, “Terima kasih juga karena akhirnya kamu memilih membuka hati untuk aku.” seru Alina.

__ADS_1


Indah kan kalau gini.


__ADS_2