
Kalian tau kan bagaimana perjuangan seorang Alina selama ini untuk mendapatkan hati dari seorang Haidar?
Yang seharusnya, Haidar lah yang berjuang dan ini malah kebalikannya, membuat Alina di cap menjadi cewek tidak tahu malu atau apalah.
Tetapi kalian pernah dengar kan, kalau usaha tidak pernah mengkhianati hasil, entah hasil apa yang akan di dapat nantinya yang terpenting sudah usaha bukan?
Dan ternyata, hasil perjuangan Alina selama ini adalah manis alias ia telah sampai di tujuannya dengan mendapatkan hati Haidar. Meskipun banyak cobaan dan drama yang telah mereka lewati selama ini. Alina menganggap itu semua adalah ujian untuk lebih baik lagi kedepannya.
...****************...
Hidup Alina semakin sempurna sepertinya, memiliki otak yang cerdas, memiliki keluarga yang harmonis dan sekarang di miliki oleh orang yang selama ini ia sayang dan cintai. Bukan kah itu salah satu bentuk kesempurnaan hidup?
Siapa yang iri dengan Alina?
Sore ini, Alina sudah janjian dengan Haidar untuk jalan, sebelum besok mulai di sibukkan oleh kegiatan kampus. Iyaps, besok mereka sudah mulai masuk ke kampus, tahun ini tidak ada masa ospek.
Meskipun besok hanya sekedar pengenalan kampus dan jurusan, tapi pasti akan sibuk. Belum lagi mencari teman baru, atau mungkin nanti ada hal-hal lainnya. Ah pasti akan beda deh nantinya.
Hadar sudah sampai di rumah Alina, dan sekarang sedang menunggu Alina selesai rapi-rapi. Haidar menunggu Alina, di ruang tamu rumah itu.
Tak lama Alina turun dari kamarnya dan langsung menghampiri Haidar yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
“Sorry, lama ya? Abis kamu bilang jemput jam 4 sekarang baru setengah 4.” seru Alina.
“Udah kangen!” sahut Haidar membuat Alina salah tingkah.
Tanpa menunggu lama lagi, Haidar menggandeng tangan Alina untuk mengajaknya segera pergi. Tetapi langkah mereka terhenti di depan pintu utama karena melihat kedatangan orang tua Alina yang baru saja turun dari mobil.
“Eh ada nak Haidar, ayo masuk dulu.” seru Mira.
Haidar langsung melepas genggaman nya pada Alina, dan mengambil tangan Mira untuk di kecupannya, begitu pula ke Reymond.
“Ehem, kita mau jalan keluar mah ” sahut Alina memberitahu tujuan Haidar kesini.
Mira mengangguk, “Oh gitu, mau kemana?” tanya Mira.
“kepo deh si mamah.” sahut Reymond membuat Alina terkekeh sedangkan Haidar hanya tersenyum kecil.
“Tahu, kakak aja gak pernah di tanyain kalau pergi Wook!” seru Alina.
“Yaudah sana pergi, jangan pulang terlalu malam ya.” seru Mira.
Alina dan Haidar mengangguk, “Izin bawa Alina keluar dulu ya om, tante.” seru Haidar.
Reymond dan Mira mengangguk, “Iya Haidar, titip Alina ya, jagain takut hilang soalnya dia gak bisa diem anaknya!” seru Reymond membuat Alina menepuk bahu ayahnya pelan sedangkan Mira dan Reymond tertawa.
Haidar tersenyum berusaha menahan tawa, lalu kembali menyakini tangan kedua orang tua kekasihnya itu, begitu pula dengan Alina. Setelah itu keduanya langsung masuk ke dalam mobil Haidar, dan mulai melakukannya menuju lokasi di mana pertama kali mereka jalan.
__ADS_1
Kalian ingat dimana?
Tap benar, pasar malam yang tak jauh dari rumah Hadar. Tempat pertama kali jalan bareng dan pertama kali pula Alina mampir ke rumah Haidar. Setelah itu terjadilah kesalahpahaman atau kebodohan yang Haidar lakukan pada waktu itu.
“Kita mau kemana?” tanya Alina yang memang tidak tahu kemana tujuan Haidar sat ini.
“kebtempat dimana pertama kali jalan bareng, kamu inget?” seru Haidar.
Alina mengangguk cepat, “Inget banget dan gak pernah lupa, haidar.” seru Alina antusias.
Hadar tersenyum lalu mengelus kepala Alina dengan penuh kelembutan membuat Alina lagi-lagi di buat salah tingkah oleh kekasihnya.
Setelah menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di tujuan. Karena waktunya masih sore, jadi tidak seramai dan seindah waktu malam.
“Haidad, kenapa kamu ajak aku sini?” tanya Alina yang sedang berjalan di samping Haidar sambil bergandengan tangan.
Haidar menoleh ke arah Alina dan tersenyum tipis, “karena tempat ini menurut aku bersejarah untuk kita. Bukannya di tempat ini, pertama kalinya kamu tau tentang masa lalu aku?” seru Haidar dan di anggukin Alina.
“Kau dulu suka ajak Diana juga kesini?” tanya Alina sedikit ragu, ia takutkan jawaban Haidar menyakitkan hatinya.
Bukan cewe yah namanya kalau gak nyari penyakit hati. Kaya udah jadi kebiasaan bener gak sih?
“Cuma dua kali, aku lebih sering ajak Olivia, dia sama kaya kau suka makan ic cream dan naik wahana itu.” ujar Haidar sambil menunjuk satu wahana yang waktu itu pernah ia naikin bersama Alina.
Masih ada yang ingat wahana apa?
“Semoga aja Olivia, mampir ke mimpi kamu ga, biar kamu tahu gimana olivia.” seru Alina seakan memberi solusi agar Alina bisa bertemu dengan Olivia.
Alina mengangguk, “Pasti juga Olivia cantik banget ya, lihat aja Tante Indira aja cantik begitu.”
“Lihat dulu dong siapa abangnya.” seru Haidar membuat Alina terkekeh.
“Kamu sekarang kepedean deh ih!” seru Alina sambil berjalan meninggalkan Haidar.
Haidar segera menyusul Alina, “Kan kamu yang bilang sendiri, di Indonesia kalau gak pede gak akan punya temen!” seru Haidar menirukan ucapan Alina waktu itu.
Alina terkekeh, lalu mencubit perut Haidar pelan, “Kamu mah copy paste ucapan aku!” gerutu Alina.
Haidar terkekeh, “Kita kesana yuk.” sambil menunjuk salah satu kedai makan.
“Makan?” Haidar mengangguk.
Alina mengikuti langkah Haidar ke arah warung tersebut, sebenarnya Alina belum mau makan, tetapi ah sudahlah demi kenyamanan selama jalan!
Haidar memesan nasi dengan pecel ayam sedangkan Alina hanya memesan ikan bawl bakar tanpa nasi. Untung saja Haidar tidak mempermasalahkan itu.
“Kau tau gak kalau Meilla katanya kuliah di bandung.” seru Haidar.
__ADS_1
Alina kaget mendengar berita itu, karena Alina tidak memberitahu nya tentang ini, dan malah Haidar duluan yang lebih tau. Alina langsung berpikir positif, kalau Haidar tahu dari mamahnya, mungkin! Tapi tetap saja ia overthinking, maklum ya cewek!
Alina menggeleng, “Gak tahu sama sekali tentang ini, kok kamu tau?”
Haidar mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Alina untuk melihat sendiri pesan singkat dari Meilla yang mengabarkan hal itu.
“Dia chat kamu langsung?” pertanyaan itu yang keluar dari mulut Alina dan di anggukin oleh Haidar.
Alina sempat terdiam beberapa lama, pikirannya kemana-mana. Merasa ada yang aneh di hatinya, entah apa itu Alina pun bingung. Kalau di bilang cemburu, ya jelas! Kalau kalian jadi Alina pun pasti cemburu kan?
“Alina?” panggil Haidar saat melihat Alina melamun.
Beberapa kali memanggil tapi tidak ada respon apapun dari Alina, sesampai Haidar menggengam tangan Alina baru lah sadar.
“Eh iya kenapa?” seru Alina gagap.
“Kamu mikir yang macam-macam tentang Meilla, ya?” tanya Haidar seakan tahu apa yang sedang Alina pikirkan.
Alina menarik napasnya, “Haidar, kalau aku cemburu sama Meilla itu hal yang wajar gak sih?” tanya Alina sedikit takut.
Haidar semakin mengeratkan genggamannya lalu mengangguk, “Wajar kok, tandanya kamu sayang sama aku. Tapi kamu tahu gimana hubungan aku sama Meilla?”
Alina mengangguk lalu tersenyum, tetapi terlihat jelas kalau senyumannya itu menyembunyikan sesuatu.
“Iya tahu kok, tapi kalau aku minta sama kamu untuk jaga jarak sama Meilla, bisa gak ya?”
Kali ini Haidar yang menghela napas, “Sayang, gak perlu khawatir tentang itu. Emang kamu gak percaya sama aku, atau sama Meilla? Kita gak akan ada hubungan apapun sampai kapanpun. Percaya sama aku, Alina!”
Alina akhirnya pasrah dan hanya mengangguk, tidak mau acara jalannya sore ini hancur karena kecemburuan nya pada sahabatnya sendiri yang mungkin apa yang di bilang Haidar tadi benar. Tidak akan pernah terjadi apapun antara Meilla dan Haidar!
Tak lama pesanan mereka datang, dan keduanya makan sambil mengobrol ringan. Setelah makan keduanya langsung kembali berbaur di pasar malam itu. Menaiki wahan satu persatu, Alina terlihat sangat bahagia begitu pula Haidar yang melihat Alina.
Tanpa sadar, langit sudah gelap tandanya malam sudah tiba. Keduanya memutuskan untuk menaiki wahana bianglala.
Bianglala masih berputar, mungkin menambah kesan romantis untuk keduanya yang sedang berbunga-bunga hatinya.
“kalau pun di dunia ini ada dua lelaki. Yang satu orang lain dan yang satu lagi aku, apakah kamu akan memilih aku?” seru Haidar.
Alina menatap Haidar lekat, lalu tersenyum teduh, “Tentu akan tetap memilih kamu, karena menurut aku, kamu lah kebahagiaan aku.” ujar Alina tulus.
Tanpa di duga, Haidar langsung memeluk Alina dengan erat, “janga pernah tinggalin aku demi lelaki lain ya!” seru Haidar di tengah pelukan mereka.
Alina mengelus punggung Haidar p kan, “Gak akan pernah Haidar, kamu juga jangan mencari perempuan lain ya!”
“Ita aku janji. Aku gak mungkin nyari yang lain, jangan khawatir tentang Meilla ya!” seru Haidar dan Alina mengangguk.
Tanpa di duga lagi, Haidar mengecup bibir tipis milih Alina dengan kelembutan. Alina yang di serang seperti itu, bingung harus merespon bagaimana, dan dia pun hanya menikmatinya.
__ADS_1
...Astaga, dosa deh gue ngetik kaya gini!...