
"gue udah selesai sama dia!" Pernyataan yang keluar dari mulut Haidar.
Kaget karena ia mengira ini semua karenanya. Hatinya semakin dilanda rasa bersalah saat ini.
"Dia udah pergi ninggalin gue." Ujar Haidar lagi dan semakin membuat Alina terdiam dan hanya menunduk.
"Karena?" Ucap Alina.
Haidar menggeleng, "Gak bisa cerita."
"Karena gue?"
Haidar menggeleng, "Bukan."
Alina menghela napas lega, ternya Haidar dan kekasihnya bukan karena dirinya dan sekarang Haidar tidak memiliki kekasih alias jomblo.
"Tapi, Meilla pernah bilang lo cuma terpaku sama satu cewek. Apa cewek yang di maksud media itu k kasih lo dulu?" Tanya Alina penasaran.
Haidar hanya mengangguk.
"Tunggu, Lo sama Meilla saling kenal sebelumnya? Tapi kenpaa gue gap pernah liat lo komunikasi sama dia? Malah gue ngeliat nya media itu benci sama Lo?" Tanya Alina lagi.
Haidar hanya diam tidak menjawab apapun, sama seperti Meilla kemarin.
"Yaudah kalo lo gak mau jawab gak apa-apa. Maaf karena gue nanya sampai sejauh ini." Ujar nya sedikit kecewa.
Rasa curiga mulai muncul di hati Alina terhadap Meilla dan Haidar. Ada hubungan apakah keduanya? Apa jangan-jangan perempuan yang di maksud haidar itu adalah meia alias mantan kekasih Haidar itu adalah Meilla?
***
Tanpa di sadari Sekarang sudah pukul 10 malam. Desah berbagai wahana yang mereka kunjungi dan naikin bersama, setelah pembicaraan tadi, Alina langsung bersikap biasa aja seakan tidak terjadi percakapan di atas kincir angin tadi.
__ADS_1
"Udah malam, balik?" Tawar Haidar.
Alina mengangguk, "Boleh, tapi mampir ke tempat makan sebentar boleh?" Haidar hanya mengangguk.
"Makan disini gak papa?" Tanya Alina.
Haidar mengangguk dan keluar dari mobil, begitu pula dengan Alina. Keduanya memasuki kedai dan nampak cukup ramai. Setelah memesan makanan.
Haidar mengeluarkan ponselnya, begitu pula dengan Alina. Keduanya terlarut dalam ponsel masing-masing hingga makanan mereka tiba.
Saat sedang fokus, suara getaran tanpa dering terasa di saku celana Haidar dengan cepat Haidar mengangkat telepon tersebut.
"Iya?"
"...."
"Oke." Ujar Haidar lalu mematikan sambungan panggilannya.
"Gue harus balik." Ujar Haidar lalu berdiri begitu pula dengan Alina.
"Lah, gue juga balik lah kau Lo balik." Ujar Alina sambil membersihkan tangannya.
"Lo bisa naik taksi?" Tanya Haidar sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
Ternyata sudah cukup malam, ia tidak bisa membiarkan Alina pulang sendiri apalagi menggunakan taksi. Biar gimana pun ia harus tanggung jawab.
Belum sempat menjawab, suara Haidar lagi-lagi lebih dulu terdengar, "Lo ikut gue dulu ya." Ujarnya membuat Alina bingung.
"Kemana?" Belum mendapat jawaban, Haidar sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil dan otomatis Alina mengikuti nya dari pada di tinggal di pinggul jalan.
Haidar langsung menancapkan gas mobil dengan cepat, bahkan lebih cepat dari yang sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang terjadi pikir Alina.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu 10 menit saja, mobil Haidar sudah berada tepat di depan sebuah gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi. Rumah ini sama mewahnya dengan rumah Alina.
"Tunggu atau masuk?" Tanya Haidar hendak turun dari mobil.
"Ma..masuk." ujar Alina yang memang sangat penasaran.
Haidar melangkah lebih dulu masuk ke dalam sedangkan Alina hanya mengekor saja di belakang sambil matanya terus berkeliling melihat sisi dari rumah ini.
Sesampainya di ruang tamu, Alina di persilahkan duduk oleh seorang wanita paruh baya yang memakai seragam bisadi pastikan dia adalah asisten rumah tangga di rumah ini.
"Silahkan duduk non, sebentar bibi ambilin minum dulu ya." Ujarnya pelan dan Alina mengangguk.
Alina sampai tidak menyadari kemana perginya Haidar karena matanya terkagum dengan desain di dalam rumah ini dan benar ini rumah Haidar karena terlihat sebuah foto Haidar terpajang di sana begitu pula dengan foto keluarganya.
"Oh ternyata Haidar punya adik." Desisnya pelan.
Tak lama art tadi yang ternyata nama nya sari dengan sebuah nampan berisi minuman dan beberapa kue.
"Silahkan di minum non, sambil nunggu mas Haidar." Ujar sari
Alina mengangguk, "terimakasih banyak bi." Dan di anggukin oleh art tersebut.
Saat sari ingin kembali ke dapur.
"Memang ada apa sih bi? Kok tadi kayaknya Haidar panik banget?" Tanya Alina.
Sari bingung harus menjawab apa, "nanti non tanya sendi saja ke mas Haidar ya, bibi kembali ke dapur dulu."
"Lah bukannya ngasih tau malah pergi, apa gue samperin Haidar aja? Tapi tuh anak dimana?" Monolog Alina pada dirinya.
Akhirnya dengan tekad yang ia kumpulkan, Alina mulai melangkah untuk mencari keberadaan Haidar. Rumah ini sangat luas tetapi sangat sepi juga sama seperti rumahnya. Apa mungkin Haidar bernasib sama dengannya dan Haidar hanya tinggal dengan adiknya disini dan bersama pembantu yang lain?
__ADS_1
Alina sudah melewati ruang tamu dan sekarang berada di ruang keluarga. Ada sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka membuat Alina semakin penasaran. Dengan langkah pelan, Alina menghampiri ruangan tersebut dan terkejutnya saat Alina dapat melihat apa yang ada di ruangan tersebut.