Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Makan malam


__ADS_3

Seperti ajakan Alina waktu itu, tepat malam ini Haidar pertama kalinya bertemu dengan kedua orang tua Alina setelah beberapa tahun mengenal gadis ceria itu.


Tidak bis Adi pungkiri kalau hatinya gelisah, takut dan juga bingung. Haidar takut kalau nanti orang tua Alina tak suka dengannya dan bingung harus bersikap bagaimana di depan mereka.


Ah sudah lama sekali, ia tak pernah merasakan kegelisahan ini, dulu waktu pertama kali ketemu dengan orang tua Diana tidak semenakutkan ini. Apa ia pernah merasa salah pada Alina yang membiarkan terus mengemis cintanya waktu itu.


Masuk akal sih, makanya ia pun merasa bersalah pada kedua orang tua Alina. Karenanya Alina di cap cewek tidak punya harga diri di sekolah. Lalu apakah selama ini Alina menceritakan itu semua pada kedua orang tuanya? Kalau iya, Haidar harus beralasan apa dong?


...****************...


Haidar sudah sampai di rumah Alina, tepat waktu seperti apa yang Alina minta di pesan pendek tadi pagi. Haidar menggunakan kameja lengan pendek di padukan dengan jeans warna hitam dan sepatu putih.


Haidar melangkah masuk saat di persilahkan oleh Eni, pembantu rumah Alina. Eni bilang kalau Alina masih di kamarnya. Haidar duduk di ruang tamu rumah Alina dengan perasaan yang gelisah dan jantung yang berdegup kencang tak karuan.


Tak lama terdengar suara deheman dari ruangan sebelah, dan otomatis membuat nya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat jelas di sana, seseorang bertumbuh Tegap dan berkulit putih berjalan ke arah Haidar.


“Pasti itu bokap nya Alina.” seru Haidar dalam hati.


Tanpa sadar, ternyata keringat Haidar mulai bercucuran hal itu membuat Reymond heran karena sepertinya di ruang tamu begitu sejuk tidak panas. Mengapa teman gadisnya berkeringat.


“Selamat malam om.” sapa Haidar.


“selamat malam.” sahut Reymond menanggapi sapaan dari Haidar.


Reymond menyuruh Haidar untuk duduk kembali, sambil menunggu Alina keluar dari kamarnya, Reymond berkesempatan untuk mengobrol dengan Haidar.


“Kamu namanya Haidar?” tanya Reymond basa basi.


Haidar mengangguk, “Iya om.” jawab Haidar sedikit gugup.


Reymond mengamati setiap gerak gerik Haidar, yang terlihat jelas sedang gugup. Reymond terkekeh pelan, ia jadi ingat masa lalu saat pertama kali berkunjung ke rumah Mira mamah Alina waktu itu.


“Jangan gugup gitu, kita santai aja.” seru Reymond membuat Haidar menjadi kaku karena ketahuan kalau ia sedang gugup.


Haidar hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.


“Haidar dan Alina, nama kalian cocok. Kapan?” celetuk Reymond tiba-tiba membuat Haidar semakin gelisah.


“Hah?” hanya itu yang keluar dari mulut Haidar.


Reymond terkekeh melihat ekspresi wajah Haidar, “Santai aja bro.” seru Reymond lagu.


Haidar lagi-lagi hanya mengangguk lalu tersenyum, bingung harus merespon apa.


“Kalian pacaran?” tanya Reymond.


Dengan cepat Haidar mengangguk, “Iya boleh kan om? Izin Haidar lagi-lagi membuat Reymond terkekeh.


“Kenapa tingkah laku kita sama ya, seperti dulu om pertama ketemu sama kakeknya alina.” ujar Reymond.

__ADS_1


“Begini juga om?” tanya Haidar yang sudah sedikit lebih tenang.


Reymond mengangguk, “Iya, om tau kok di posisi kamu saat ini. Makanya om bilang santai aja.” Haidar mengangguk.


“Sudah lama pacarannya?” Haidar menggeleng.


“Barubpas malam perpisahan kemarin om.” jawab Haidar jujur.


“Om minta tolong sama kamu, buat jagain Alina karena dia gak mau kuliah di Amerika mungkin ini salah satu penyebabnya. Bertahan di sini karena ada orang yang dia sayangin.” seru Reymond.


“Pasti km, saya akan jagain alina.” sahut Haidar cepat agar Reymond yakin padanya.


“Kalian juga pacaran harus tahu batasan, jangan sampai kejadian hal yang tidak di inginkan, pacaran yang sehat. Om akan selalu dukung apapun yang Alina mau selagi itu positif.”


“Iya om, terima kasih banyak sudah mengingatkan hal itu.”


Reymond mengangguk, “Jangan pernah buat Alina nangis, karena sejak dulu saya tidak pernah membuat dia menangis. Kalau kamu gak percaya bisa tanya sama orangnya nanti.”


Hati Haidar tersentuh, ia jadi ingat mengingat ayahnya. Sudah lama ia tidak berbincang , sudah lama juga ia tidak merasakan hangatan pelukan seorang ayah. Alina beruntung memiliki keluarga yang harmonis seperti ini.


“Apa aku pantas untuk kamu, Alina?” seru Haidar dalam hati.


Saat ingin menjawah omongan Reymond tadi, Alina sudah tiba di sana berdiri di samping sang papahnya sambil merangkul baju Reymond.


“Hayo, ngomongin Alina ya?” seru Alina.


Reymond langsung mengelus kepala anak gadisnya , “Dari dulu pede nya gak pernah hilang ya ternyata.”


“Emang iya begitu, Haidar?” tanya Reymond tiba-tiba pada Haidar.


Haidar yang masih asik dengan Tontonan di depannya yang melihat ke akrab an Alina dengan Reymond langsung kaget.


“Eh apa om?” sahut Alina yang tak mendengan ujaran kedua orang itu.


“Ah Haidar gak seru, dia hanya bisa fokus sama kamu doang!” rujuk Reymond membuat Alina terkekeh.


“Hayoloh Haidar, papah aku ngambek!” seru Alina membuat Haidar ikut terkekeh.


“Maaf ya om, abis Alina terlalu cantik.” saru Haidar


Saat akan menjawab ujaran Haidar, tiba-tiba Mira datang menghampiri mereka bertiga di ruang tamu.


“Cantikkan mana sama ini?” seru Reymond sambil menarik tangan Mira dan melupakan Alina yang berada di sampingnya.


“Begitu tuh Dae, papah udah tua aja masih bucin terus.” gerutu Alina.


Mira terkekeh, sudah biasa melihat perdebatan kecil antara suami dan anak gadisnya.


“Udah,,udah ayo kita makan, semua sudah siap!” ajak Mira lalu menggandeng tangan Reymond menuju ruang makan.

__ADS_1


Haidar bangkit dari tempat duduknya dan melangkah bersama dengan Alina di sampingnya, “Kamu lama, aku kangen tau!” seru Haidar pelan.


Alina menghadiri cubitan di perut Haidar, “Kamu belajar modus dari mana sih!” seru Alina sambil terkekeh begitu juga dengan Haidar.


Semua sudah duduk di kursi masing-masing, hari ini Adero tidak bisa ikut makan malam bersama karena sedang keluar kota, ada tugas kampus katanya entahlah benar atau bohong nama nya juga anak muda.


“Makan yang banyak nak Haidar, ini semua Tante yang masak loh.” seru Mira.


Haidar mengangguk, “Iya tante.” sahut Haidar.


Mereka semua makan dengan tenang, meskipun sekali-kali ada pembicaraan eh bukan deh perdebatan antara Reymond dengan Alina lagi.


Setelah selesai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga. Haidar merasa hangat di tengah keluarga ini. Sangat sangat keluarga idaman menurutnya.


“Nak Haidar, kamu lanjut kulihat di mana?” tanya Mira.


“sama kaya Alina tante.” jawab Haidar.


“Oh pantesan nih anak ngebet banget masuk kampus itu.” cibir Reymond.


“Namanya juga cinta pan, harus di Pepet terus biar gak hilang!” sahut Alina.


Mira hanya menggeleng, “Kalian berdua kebiasaan, gak pernah di ajak bicara serius!” gerutu Mira.


Mereka berbicara panjang lebar kali lebar, membicarakan tentang pendidikan yang akan mereka tempuh nanti. Banyak pesan dari Reymond dan juga Hanun untuk Alina dan Haidar yang memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi guru.


Waktu semakin malam, dan Haidar ingin berpamitan pulang. Dalam hati Haidar , ingin sekali rasanya tetap di sini di tengah keluarga yang hangat ini.


“Om, Tante, saya ingin izin pamit pulang.” pamit Haidar.


Reymond mengangguk, “Next kita dinner di luar ya, sekalian ajak mamah papah kamu.” seru Reymond.


Ajakan itu membuat Haidar terdiam, begitu pula Alina yang langsung menatap Haidar khawatir.


“Iya, om. Nanti saya sampaikan pada mereka.” jawab Haidar dengan nada pelan.


Haidar bangkit dari duduknya lalu mencium punggung tangan Mira dan Reymond. Alina pun ikut berdiri dari sana, “Aku anterin Haidar ke depan dulu ya, pah, mah ” dan di anggukin oleh kedua orang tuanya.


Haidar berjalan bersama dengan Alina menuju pintu k luar, perasaan Alina tak enak karena Haidar langsung terdiam, setelah sampai di depan mobil Haidar, Alina baru berani berbicara.


“Maafin papah ya, kalah karena itu kamu jadi inget papah kamu.” seru Alina meminta maaf.


Haidar mengangguk lalu mengusap rambut Alina pelan, “Gak papa, papah kamu kan gak tau gimana keluarga aku.”


Alina tersenyum lalu mengelus pipi Haidar, “makasih ya karena sudah mau datang ke sini.”


“Sama-sama sayang. Makasih juga ya, udah buat aku ngerasa dihargai.


Alina mengangguk lalu memeluk haidar sebentar, “Hati-hatu di jalan ya sayang, kalau sudah sampai langsung kabari. Aku.” pinta Alina.

__ADS_1


“Pasti sayang ” kecup singkat Haidar di kening Alina.


__ADS_2