
Meilla pulang menggunakan taksi, karena tadi ia berangkat bersama dengan Haidar. Di perjalanan Meilla sudah mengirim pesan kepada seseorang untuk di ajak bertemu. Ia harus bicara masalah ini dengan orang itu.
MEILLA
Kita harus ketemu
HAIDAR
Iya
MEILLA
Gue tunggu di rumah
HAIDAR
Otw
Setelah mengirim pesan tersebut, Meilla menghela nafasnya kasar. Ia pusing. Mengapa jadi serumit ini masalahnya? Di hatinya sangat merasa bersalah dengan Alina karena selama ini Alina selalu baik dengannya.
"Sorry Lin, gue akan suruh Haidar yang jelasin ini semua ke Lo." Batin Meilla.
Tak lama Meilla telah sampai di depan rumahnya dan juga sudah terlihat mobil Haidar terparkir di sana.
Meilla keluar dari taksinya dan langsung menghampiri Haidar yang tengah bersandar di samping mobilnya.
"Ngapain lo nungguin di sinu? Bukan langsung masuk!" Gerutu meilla.
"Lo pergi sama gue tadi." Ujar Haidar dan meilla mengerti ucapan Haidar.
"Nah Lo tau, kenapa gak lo lakuin itu juga sama Alina? Kenapa lo malah usir dia brengsek!"
"Meilla, gue gak suka lo ngomong kasar!" Tegur Haidar dan membuat Meilla menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam rumah dan Haidar hanya mengekor di belakang tubuh Meilla.
__ADS_1
"Pagu, mami papi." Sapa Meilla saat sudah berada di ruang tersebut.
"Pagi papi mami." Sapa Haidar juga.
Meilla yang mendengar itu langsung memutar bola matanya malas. Padahal itu sudah biasa, mungkin karena mood nya lagi berantakan dak kesal dengan haidar.
"Eh ada Haidar juga, pagi sayang." Sapa balik Riani (mami meilla?)
Meilla duduk di bangku yang kosong begitu pula Haidar. Meilla mengambil selembar roti tawar dan di olesi dengan selai kacang kesukaannya. Sedangkan Haidar mengambil nasi goreng di piring yang telah di sediakan di atas meja.
"Siapa yang nyuruh lo ikut sarapan?" Ketus Meilla melihat Haidar yang ikut duduk dan makan.
"Berisik." Ujar Haidar.
"Gimana teman kamu, udah ketemu?" Tanya Fandi yang sedang membaca koran.
Meilla dan Haidar mengangguk, "udah Pi, Alhamdulillah." Ujar meilla.
"Alhamdulillah kalau begitu." Sahut Fandi.
"Ceritain gue secara detail gimana bisa lo ngusir Alina semalam!" Ujar meilla langsung to the point.
Haidar yang sejak Meilla mengirim pesan padanya sudah bisa menebak apa yang akan Meilla bicarakan padanya.
Haidar mulai menceritakan setiap kejadian yang terjadi padanya dengan Alina sejak dari pasar malam hingga sampai membawa Alina kerumahnya. Sampai akhirnya Haidar memberitahu meilla alasan mengapa Haidar sampai mengusir Alina dari sana.
Meilla tidak habis pikir pada Haidar, "cuma karena itu, Lo sampe ngusir Alina?"
"Karena lo takut Alina bertanya sama lo atau lo takut Alina ngasih tau semua orang tentang apa yang dia lihat?" Tanya Meilla lagi.
Meilla menarik napasnya dalam-dalam, "Haidar, apa yang Lo lakuin ke Alina itu bahaya. Tengah malam lo usir dia, yang seharusnya lo tanggung jawab atas dua. Lo bisa bayangin gak kalau sampai kejadian waktu itu terjadi juga sama Alina?" Bentak meilla.
Haidar hanya bisa diam, biarkan Meilla berbicara lebih dulu karena membela diri pun percuma.
__ADS_1
"Gue tau itu rahasia lo, gue tau lo gak mau siapapun tau masalah nyokap lo. Tapi seharusnya lo gak bertindak gegabah kaya gini Dar, Alina itu cewek pinter dan juga bukan cewek ember. Dia gak akan mungkin ngasih tau hal itu ke siapa-siapa kalau sejak awal lo jelasin sama dia."
"Lo tau, Alina ngira gue mantan lo karena waktu itu gue keceplosan bilang kalo lo cuma terpaku sama satu cewe dan dua ngiranya cewe itu gue!"
"Lo tau rasanya jadi gue? Serba salah Dar! Lagian ya, gue pikir nyokap lo itu bukan aib Dar, mau sampai kapan lo begini terus? Haidar yang dulu gue kenal gak sampai tertutup dan sedingin ini."
"Stop nyalahin diri lo sendiri, belajar buat ikhlas dan buka hati coba Dar! Gue muak sebenarnya sama lo selama ini. Menurut gue gak ada alasan yang logis yang ngebuat lo jadi Haidar yang sekarang!"
"Lo bisa gila tau lama-lama kalo kata gini, coba belajar bisa menerima Alina. Gue yakin Alina cewek yang pas buat lo dan pastinya Alina akan Nerima lo dengan apa adanya."
Setelah Meilla bicara panjang lebar, barulah giliran Haidar berbicara.
Haidar meraih tangan Meilla dan di genggam nya erat.
"La, sorry karena ngebuat posisi lo jadi kayak gini."
"Gue juga bingun harus gimana La, gue udah coba buat buka hati tapi tetep gak bisa. Gue masih terus bersalah sama mereka."
Meilla menggeleng, air matanya mulai menetes karena kembali mengingat kejadian di masa lalu nya.
"Gue ngaku, gue salah kemarin sama Alina. kemarin gue terlalu takut karena pertama kalinya orang asing ngeliat kondisi nyokap gue La."
"Nyokap lo bukan aib Haidar!" Seru Meilla mengingatkan.
Haidar hanya diam memikirkan apa yang selanjutnya harus ia lakukan.
"Gue mau lo minta maaf langsung sama Alina, dan gue mau lo ceritain apa yang dia lihat kemarin di rumah lo, kali perlu ajak alina ketemu nyokap lo!" Ucap Meilla yang membuat Haidar tersadar dari lamunannya.
Haidar menggeleng cepat, "gak bisa Meilla."
"Bisa haidar?!" Tegas Meilla.
Haidar hanya menarik napasnya, ia sangat bingung apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus ikutin saran dari Meilla? Haidar saja merasa takut, takut nanti ibunya tak suka melihat Alina atau apapun itu.
__ADS_1
"Kita ke rumah lo sekarang, gue mau ketemu nyokap lo. Ternyata udah lama gue gak kesana." Ujar meilla lalu bangkit dari duduknya di susul Haidar dari belakang.