
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Mungkin itu lah hal yang Alina rasakan saat ini. Bagaimana tidak, ia sangat kaget dengan fakta yang baru ia dengar, meskipun sebagai hatinya ada rasa tak percaya tapi sebagian lagi rasa percaya itu muncul.
Setelah pertemuan dengan Vanesa tadi, Alina memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Hatinya sakit, hatinya hancur tapi entah mengapa air matanya tidak bisa turun. Apa karena aliran sudah terlalu sering mengalami ini hingga mati rasa?
Sesampainya di rumah, Alina langsung masuk ke kamarnya. Tidak ada yang bisa ia ajak bicara saat ini di rumah, karena mamah papah nya sudah kembali ke Amerika sejak kemarin, sedangkan makanya pasti sedang di kantor.
Alina merasa kesepian, ia kesal dengan posisi nya saat ibu. Mengapa setelah akhirnya mendapatkan Haidar, malah banyak masalah yang di alaminya. Mengapa semakin rumit hubungannya dengan Haidar. Apa mungkin memang sebenarnya mereka tidak di takdirkan bersama, Namaun Alina selalu memaksa hal itu, jadilah seperti ini?
“Kenapa harus begini ya tuhan?” seru Alina pada cermin di depannya.
Hingga akhirnya air mata itu turun bebas di kedua pipi chubby miliknya, tangisan Alina sangat terdengar pilu. Alina menangis tanpa meraung-raung, ia menangkis dengan senyap. Bukankan menangis seperti itu malah semakin membuat sakit?
“Gue harus apa? Harus percaya siapa?” seru alin pada dirinya sendiri.
Alina mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang yang mungkin bisa ia ajak bicara saat ini.
“Bisa ke rumah gue?”
“....”
“Iya, sekarang.”
Bip
Alina mematikan sambungan itu sepihak tanpa menunggu jawaban dari orang di ujung panggilan sana. Rasa kecewa pada dirinya sendiri yang ia rasa saat ini. Merasa kalau dirinya lah yang menjadi sumber masalah untuk ini semua.
Alina menangis sambil terus menyalahkan dirinya sendiri. Bingung harus berbuat apa setelah ini. Apakah memang hubungan dengan Haidar tidak perlu di lanjutkan? Atau Alina harus memaafkan Haidar lagi?
Tapi ini masalah serius, menyangkut masa depan sahabatnya juga, Meilla. Bagaimana mungkin Alina tega mengambil Haidar dengan posisi Alina yang pernah ternodai dengan kekasih nya itu. Lalu bagaimana dengan Edo kalau tahu tentang ini? Apakah dia akan tetap memaafkan Meilla?
Posisi Alina saat ini serba salah. Biar bagaimanapun aliran harus memikirkan nasib Meilla lebih dulu, baru dirinya. Munafik memang!
Tak lama seseorang yang ia hubungi datang, datang dan langsung masuk di dalam kamarnya. Elsa, itu lah orang yang tadi aliran hubungin untuk membantunya di sini. Membantu menenangkan pikirannya.
“Lo kenapa, Aliran?” seru Elsa saat melihat wajah Alina di penuhi air mata.
__ADS_1
Alina langsung memeluk Elsa dengan erat dan langsung menangis dengan kencang. Elsa semakin khawatir dengan sahabatnya itu.
“Kenapa Alina, kenapa? Cerita dulu baru nangis ih!” seru Elsa.
Ternyata ada Lio di depan pintu kamar Alina, memang tadi Elsa sedangkan bersama dengan Lio. Tapi saat mendengar suara Alina yang nampak sedang menangis makanya Lio memutuskan untuk ikut ke rumah Alina.
Lio masuk ke kamar Alina, saat mendengar teriakan dari Alina. Khawatir, itu pun yang di rasakan oleh Lio saat ini. Biar bagaimanapun Alina adalah sahabat nya.
“Alina, Lo kenapa?” tanya Lio tiba-tiba membuat Alina langsung melepaskan pelukannya pada Elsa.
Alina mengenali suara itu, tanpa minta izin pada Elsa, aliran beralih memeluk Lio dengan erat dan kembali menangis. Lio yang takut Elsa marah hanya diam tidak membalas pelukan itu. Tetapi saat melihat wajah Elsa sambil mengangguk barulah Lio membalas pelukan itu dengan mengusap punggung Alina.
“Ada apa Lin?” tanya Lio pelan.
Setelah merasa puas menangis di pelukan kedua sahabatnya, Alina duduk di atas kasur, ingin memulai sesi cerita pada keduanya.
“Lio lo tau gak sih hubungan yang sebenarnya Meilla sama Haidar itu apa?” tanya Alina.
“Sahabat masa kecil, itu yang gue tahu.” jawab Lio dengan cepat yang memang hanya itu yang ia tahu.
“Kalian gak sembunyiin apapun lagi dari gue kan? Kaya dulu dulu?” tuduh Alina sambil menatap Elsa dan Lio bergantian.
“Lio, Lo pernah denger gak, cerita kalau Haidar udah ngelecehin Meilla?” tanya Meilla.
Lio dan Elsa kaget dengan pernyataan itu.
“Ngelecehin? Maksudnya?” tanya Elsa.
Alina menghela napasnya, terlalu malas sebenarnya membahas hal yang menyakitkan ini. “Iya ngelakuin hubungan seperti itu!” sahut Alina membuat mata Elsa dan Lio melotot hampir saja keluar tuh bola mata.
“Lo tahu dari mana berita kaya gitu Alina? Gak usah macem-macem deh!” seru Elsa.
“Ehem gue tadi ketemu Vanesa, dan dia cerita tentang itu semua ke gue!” jujur Alina.
Lio terkekeh, “Lo percaya dengan omongan tuh cewek? Alina Lo ingat kan apa yang pernah gue kasih tahu tentang dia? Record kehidupan dia itu gak benar, bisa-bisanya Lo percaya!” seru Lio.
__ADS_1
“Nah bener tuh, lo nangis kaya tadi karena sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Apalagi lo tahu dari orang yang kaya gitu, Alina li tuh pinter kenapa bisa lo jadi bodoh di depan Vanesa!” sambung Elsa.
“Tapi dia bilang, semua itu dia tahu dari om Roy papahnya Haidar sendiri. Maka dari itu, Meilla dan Haidar gak akan bisa pisah karena Haidar memiliki perjanjian rahasia sama keluarga Meilla.”
“Lo beneran percaya sam semua omongan Vanesa?” tanya Lio lagi.
Alina menyenderkan kepalanya di dinding lalu menatap ke arah lampu di atas, “Gue gak mau percaya, tetapi entah kenapa gue rasa ngerasa harus percaya.”
Elsa menggenggam tangan Alina, “Mending lo tanya langsung sama Haidar dan Meilla tentang ini. Jangan buat keputusan apapun sebelum lo tahu yang sebenarnya.”
“Nah benar tuh kata ayang gue.” timpal Lio.
Alina menggeleng, “Gye gak yakin Sam kejujuran mereka, Lo berdua tahu kan selam ini gimana!”
Keduanya mengangguk bersamaan, “Tapi apa salahnya lo coba dulu, Lin. Kalau mereka gak jujur baru Lo bisa ambil keputusan.” seru Lio.
Elsa mengangguk, “Nah benar tuh, kalau sampai mereka gak jujur, udah tinggalin aja Haidar dan Lo sama Alvaro aja, gue dukung deh!” seru Elsa membuat Lio menoleh ke arah kekasihnya.
“Alvaro?” seru Lio.
“iya Alvaro, teman sekolah ko dulu juga pura-pura lupa. Ternyata Alvaro itu cowok yang dewasa tahu. Cocok sama Alina kalau menurut Alina.” seru Elsa.
_Fyi Elsa dan Lio memang panggilan nya lo-gue tapi kadang-kadang kalau lagi bener manggilnya aku-kamu kok atau malah sayang-sayang.
Lio langsung menggeleng cepat, “Gue gak setuju kalau soal itu, biar bagaimanapun Haidar itu sahabat gue. Menurut gue selama ini Haidar udah beneran sayang sama Alina.”
“Taoi Haidar gak pernah jujur sama Alina, selalu buat Alina kecewa. Gak kaya Alvaro yang seakan ngerti gimana perasaan Alina!” sahut Elsa.
“Gak bisa, ini semua bisa di bicarakan baik-baik, Sa. Gak semua harus berujung perpisahan, kan?” timpal Lio masih tetap mendukung Haidar.
“Yah kita lihat aja nanti, tapi kalau saran gue sih gitu Lin, kalau gak jujur ya tinggalin aja. Makan hati terus nanti yang ada, Lio aja selalu jujur tapi tetap aja bikin gue makan hati terus tiap hari.” gerutu Elsa.
Lio langsung mendekat ke arah kekasihnya itu dan mengelus kepala kekasihnya pelan, “Ah sayang jangan gitu dong, gini-gini kan kamu tetap sayang dan setia sama aku!” seru Lio lalu berakhir menoyor kepala Elsa lumayan cukup keras.
“Lio, sialan emang Lo! Baik di awal busuk di akhir anjir!” gerutu Elsa sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
Alina tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya ini. Tidak terlihat sama sekali kalau mereka sebenarnya pacaran. Tapi Alina suka dengan keadaan seperti itu. Elsa tetap menjadi dirinya sendiri begitu pula Lio.
Tidak ada beban yang mereka rasa sepertinya di dalam hubungannya. Memilih berjalan saja seperti air, tanpa menoleh ke kanan kiri lagi. Bukan kah, hubungan seperti itu yang banyak di cari oleh orang?