Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rencana pernikahan


__ADS_3

Setelah kepergian Adero dan Gadis dari ruangan, mereka kembali membicarakan rencana pernikahan Alina dan Haidar. Sambil menikmati makanan lezat yang telah di sediakan oleh pihak restoran atas pesanan Reymond tadi.


Alina dan Haidar tak sabar ingin mendengar kapan rencananya Reymond akan melangsungkan pernikahan itu. Begitu pula dengan Indira dan Roy. Mereka sangat tak sabar untuk menimang cucu segera.


“Setelah diskusi dengan istri, saya berencana ingin menikahi mereka pas liburan semester, gimana bro?” seru Reymond di tengah acara makannya.


Roy mengangguk angguk, “Boleh juga tuh bro, jadi gak mengganggu kuliah mereka juga.” jawab Roy.


Reymond mengangguk kalau menatap pasangan muda di sana, “Kalau kalian gimana?” tanya Mira pada Alina dan Haidar.


Keduanya mengangguk bersamaan, “Kalau Alina sih setuju aja bagaimana baiknya pah, mah.” sahut Alina.


Reymond mengangguk, “Oke kalau begitu berarti masih ada waktu 3 bukan dari sekarang. Papah harap kalian bisa terus menjaga kepercayaan ini sampai nanti!” seru Reymond.


Haidar mengangguk dengan cepat, “Pasti om, Haidar janji akan selalu menjaga Alina dan tidak akan melakukan di luar batas!” janji Haidar.


“Semua deal ya? Untuk kelanjutan, nanti kita adakan lagu pertemuan 1 bulan sebelum acara tiba. Nanti biar mamah bantu siapkan ini semua.” seru Mira.


Alina mengangkat tangan kanan nya ke atas, “Mah, boleh gak kalau Alina yang pilih WO nya sendiri?”


Mira nampak menimbang sebentar kalau akhirnya mengangguk, “Boleh sayang, cari yang bagus ya, masalah harga berapa pun gak papa, yang penting berkesan!” sahut Mira.


Alina tersenyum kalau mengangguk, ia akan membuat acara pernikahan nya sesuai dengan impiannya dulu. Alina ingin acaranya di out door menyatu dengan alam yang indah.


Setelah acara makan malam selesai, mereka memutuskan untuk pulang karena sudah pukul 10 malam. Memang besok libur, tetapi Reymond dan Mira butuh istirahat karena telah melakukan perjalanan jauh tadi.


“Terima kasih banyak bro atas jamuan yang sangat mewah ini, next time kami yang akan buat ini semua ya!” seru Roy sambil berjabat tangan dengan Reymond.


Reymond terkekeh, “Sama-sama bro, makasih juga karena bersedia hadir di acara dadakan ini.”


“Gak masalah bro, kalau berujung bahagia seperti ini. Jujur saya menunggu moment ini dari kemarin, maklum ingin menimang cucu!” seru Roy sambil membisikkan kalimat terakhirnya.


Reymond terkekeh lalu kembali berbisik di telinga Roy, “Saya pun ingin bro!”


Kedua laki laki paruh baya itu tertawa bersama sambil memukul pindah satu sama lain. Sedangkan yang lain hanya bisa menggelengkan kepal melihat tingkah dari papah mereka.


“Qlina, mamah pulang dulu ya. Kamu sehat-sehat, kalau ada waktu main ke rumah ya sayang!” seru Indira sambil memeluk kalau mencium kedua pipi Alina.


Mira yang mendengar Indira berkata dengan sebutan ‘mah’ kaget, “Pqnggilannya udah mamah, jeng?” tanya Mira dan di anggukin oleh Indira.

__ADS_1


“Biad melatih Alina agar terbiasa nantinya, gak papa kan jeng?” seru Indira dengan nada tak enak hati.


Mira mengangguk, “Gak masalah kok jeng, malah bagus. Kalau begitu saya akan menyuruh Haidar melakukan hal yang sama ya?” Indira pun mengangguk.


Semuanya telah berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Jangan ditanya tentang perasaan Alina saat ini. Mungkin kalau ada kata lebih dari bahagia, itulah yang akan Alina gunakan. Karena menurut Alina, kata bahagia Saha tidak cukup untuk moment seperti ini.


Alina tidak menyangka kalau ini semua terjadi. Jujur, Alina pun itu dengan Elsa dan Meilla yang akhirnya bisa bersama dengan orang yang mereka cintai, bahkan bisa tinggal seatap dengan mereka.


Tetapi Alina pun memiliki janji bersama Reymond, dan Alina tahu bagaimana Reymond kalau sudah berjanji harus di tepati. Waktu Haidar terus membicarakan soal menikah, Alina suka merasa bersalah pada cowok itu.


Setelah Reymond memberikan izin untuk menikah dengan Haidar saat liburan semester nanti, Alina sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap fokus pada kuliahnya. Alina tetap ingin membanggakan Reymond dan Mira, serta Indira dan Roy.


Biar bagaimanapun, balik lagi, pendidikan itu nomer satu untuk seorang Alina. Semoga saja janji pada dirinya benar-benar terpenuhi dan terlaksana.


Alina yang sedang melamun dan memikirkan bagaimana acara pernikahan nya nanti, akhirnya di kagetkan dengan suara Mira yang menanyakan soal Adero.


“Sayang, mamah mau tanya soal kakak, boleh?” tanya Mira membuat Alina memajukan wajahnya agar lebih dengar apa yang Mira katakan.


“Boleh, ada apa mah!” seru Alina.


Mira berdehem, “Tadu mamah lihat kamu kaya gak suka sama pacar kakak, kamu kenapa sama pacarnya?”


Ternyata sejak tadi Mira memperhatikan Alina yang memang tak suka dengan gadis. Alina bingung harus menjawab apa, takutnya nanti malah salah dan bikin runyam semuanya.


Mira memperhatikan wajah Alina, “Kamu gak lagi bohong kan nak?”


“Iya kamu gak bohong kan? Soalnya papah lihat pacar kakak kamu itu, seperti bukan perempuan baik-baik.” timpal Reymond yang masih fokus menyetir.


Alina mengangkat bahunya, “Alina pun baru ketemu pacar kakak tadi mah, pah. Alina gak tahu ceweknya seperti apa!” jawab Alina santai agar tidak terlihat sedang berbohong.


Mira yang bila menghela napas, entah mengapa kalau perasaan itu sama seperti Reymond. Selain karena merasa berjodoh, tetapi kira memang merasa curiga dengan pacar anak sulungnya itu. Maklum perasaan seorang ibu untuk anaknya, akan lebih kuat.


“Mah, lah Kalau kakak tetap gak terima Alina yang lebih dulu menikah bagaimana?” seru Alina mempertanyakan apa yang sedang dia khawatir ka ini.


“Biar itu jadi urusan papah, papah gak mau kakak menikah karena terburu-buru dan salah memilih pasangan. Menikah itu kan sekali seumur hidup, begitu pun untuk kamu. Papah akan cari tahu lebih dulu, bagaimana latar belakang pacar kakak!” sahut Reymond.


Alina mengangguk mengiyakan apa yang Reymond bilang tadi. Setidaknya perasaan khawatir nya sedikit berkurang karena kata-kata Reymond tadi.


...****************...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Alina tidak melihat Adero sama sekali, bahkan mobilnya pun belum ada di parkiran rumah. Pasti kakaknya itu belum pulang ke rumah, padahal sekarang sudah hampir pukul 11 malam.


Alina semakin tak suka dengan Gadis, apalagi mendengar penolakan Gadis tadi saat di ajak menikah oleh Adero. Sebenarnya mau nya Gadis itu apa sih?


Bukankah setiap perempuan ingin sebuah kepastian dari seorang laki-laki yang di cintai nya. Berarti kalau seperti itu, Gadis itu cinta dengan Nanda dengan tulus dong?


Ah ya bagaimana mau tulus, toh Adero aja di duakan dengan Nanda. Lalu bagaimana nasib Nanda? Kasihan sekali cowok itu, sekalinya dapat pacar malah pacar orang sekaligus cewek yang tidak benar seperti Gadis.


Coba tolong siapa di sini yang jomblo, yang mau jadi pacar Nanda silahkan daftar.


Alina memasuki kamarnya untuk bersih bersih dan berganti pakaian. Rencananya besok ia akan pergi bersama dengan Haidar. Ke sebuah kebun binatang. Karena sudah lama sekali Alina tidak mengunjungi kebun binatang, terakhir waktu ia masih sibuk di bangku sekolah dasar, itu pun di Amerika.


Setelah mandi dan memakai baju, Alina keluar kamarnya untuk mengecek apakah Adero sudah pulang atau belum. Kebetulan sekali saat itu Adero tengah berada di tangga untuk ke kamarnya.


“Dari mana dulu kak?” tanya Alina di ujung tangga sama seperti Adero waktu itu.


Adero menoleh ke sumber suara, “Emang kenapa? Bukan urusan lo kan?” ketus Adero.


Alina menghela napasnya, “Kak, percaya deh sama gue, Gadis itu gak baik buat lo. Lo ketemu dia di club' kan? Seharusnya lo tau cewek seperti ala ya v suka ke club kak!” seru Alina.


Adero menatap Alina tak suka, “Gak usah ikut campur urusan gue bisa gak? Jangan belagu karena akhirnya lo akan menikah sama pacar lo itu!” ketus Adero.


“Kak tap-”


Ucapan Alina terpotong, “Please gak usah cerewet bisa gak sih Lin, oh ya satu hal yang harus lo tau, gue gak akan rela di langkahin nikah sama lo! Selama gue belum menikah selama itu pula lo gak akan nikah!” seru Adero lalu berjalan ke kamar nya tanpa menatap Alina lagi.


Alina yang mendengar apa yang di katakan Adero hanya bisa menggeleng, bingung harus merespon bagaimana, karena memang kan seharusnya seorang kakak yang menikah lebih dulu. Siapa sih yang aku di langkahin sama adiknya? Iya kan?


“Gimana ya kalau ancam kak Adero bener? Gue harus nunggu dia dong?” seru Alina pada dirinya sendiri.


Alina menghela, berusaha menghilangkan pikiran itu, kan Reymond dan Mira sudah bilang kalau Adero akan menjadi urusan mereka.


Alina kesal karena Adero berubah semenjak pacaran dengan Gadis. Tak ada lagi kehangatan yang Adero berikan untuk Alina, yang ada ketus dan tidak aku terima pendapat Alina.


“Kayaknya gue harus berbuat sesuatu deh biar mereka pisah?” seru Alina sambil memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuhnya.


Seperti biasa, sebelum tidur ia pasti akan menghubungi Haidar untuk sleepcall. Alina senang mendengar suara teduh Haidar, apalagi ketika menyanyi sampai Alina tertidur pulas.


Bahagia selalu ya calon pengantin!

__ADS_1


Halo Halo...


Jangan lupa komen dan beri ulasan ya guys...


__ADS_2