
Matahari yang cerah menyinari kamar milik gadis bernama alina. Gadis cantik yang memiliki rambut berwarna hitam lebat. Gadis cantik yang memiliki rambut berwarna hitam lebat. Gadis ceria yang mampu membuat siapapun yang melihat ikut ceria. Gadis yang murah senyum pada siapapun. Yang terpenting adalah gadis tulus dan sabar di dalam kondisi apapun.
Benar? Tentu!
Setelah sudah pukul 8 pagi, makanya matahari sudah mulai naik dan bersinar. Alina masih berada di kamarnya karena tengah bersiap-siap. Alina masih berada di kamar nya karena tengah bersiap-siap. Hari ini jam kuliah pertama nya pukul 10 sama seperti Haidar. Makanya ia masih ada di rumah.
Setelah siap dengan semuanya, Alina mulai turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan. Mira dan Reymond seperti biasa sudah berangkat ke kantor bersama dengan Adero.
“Mba, mau telur ceplok nya satu boleh gak?” seru Alina pada Eni.
Alina melihat ada nasi goreng di meja namun telur ceplok kesukaannya tidak ada.
“Oke neng, tunggu sebentar. Mba bikinin yang spesial buat neng alina.” gerutu Eni.
“Thank you mba Eni yang cantik.” puji Alina sambil terkekeh.
Sambil menunggu Eni membuatkan telur, Alina memainkan ponselnya untuk bertukar kabar dengan para sahabatnya dan jangan lupakan juga dengan Haidar.
Rencananya Haidar ini Alina akan pergi bersama dengan Elsa dan Meilla, ingin gila time ceritanya. Semoga saja Haidar mengizinkan nya untuk pergi tanpa dia ikut dengan Alina.
Eni sudah selesai menggoreng telurnya lalu di berikan kepada Alina. Setelah mengucapkan terima kasih Alina langsung mengambil nasi goreng nya lalu di taruh ke dalam piring dan mulai melahapnya.
Melahap makanan dengan nikmat membuat perut Alina kenyang. Loh bukannya kalau makan memang membuat kenyang ya? Alina..Alina..
“Mba, Alina berangkat kuliah dulu ya.” pamit Alina lalu mengecup punggung tangan asisten rumah tangganya itu.
Sejak dulu Alina memanglah seperti itu karena Alina sudah menganggap Eni sebagai kakak perempuan nya, karena kalau di anggap sebagai ibu kandungnya tak mungkin karena Eni masih muda.
Alina pernah bertanya pada Eni, mengapa memilih bekerja menjadi pembantu padahal banyak pekerjaan yang lain. Eni menjawab, hanya ini yang dia bisa lakukan dan biasa di lakukan di rumahnya dulu. Eni bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya.
Alina keluar dari ruang makan lalu berjalan menuju pintu utama, betapa kagetnya Alina saat melihat Haidar sudah duduk manis di ruang tamunya. Sejak kapan Haidar datang, dan mengapa Haidar bisa masuk ke dalam rumah padahal sejak tadi Eni ada di dalam bersamanya.
“Selamat pagi sayang.” sapa Haidar saat melihat Alina berjalan menghampirinya.
“Pa..pagu, kamu Haidar beneran? Bukan hantu kan?” tanya Alina ngawur.
Haidar bingung dengan pertanyaan Alina, “Kamu habis nonton film horor?”
Alina menggeleng, “Enggak, kamu setan ya?”
“Lah kok, ini aku beneran Haidar!” ketus Haidar.
“Kok kamu bisa masuk ke dalam rumah, padahal mba Eni ada di belakang sama aku.”
“Loh tadi aku di bukain pintunya sama mba eni.” jelas Haidar membuat Alina tak percaya.
“Gimana bisa, mba Eni di belakang sama aku dari tadi Haidar! Jangan-jangan!”
Haidar terkekeh melihat wajah panik bercampur takut Alina, “Lebih jelasnya kamu mendingan tanya sama mba Eni nya langsung! Dia masih hidup kan?” seru Haidar.
Alina menepuk bahu Haidar, “Huss, kamu ngomongnya kurang ajar!” tegur Alina.
Lalu Alina memanggil Eni di dapur, dengan cepat Eni menghampiri nona mudanya itu, “kenapa neng?” tanya Eni.
“Emang nya mba yabg bukain pintu buat Haidar tadi?” tanya Alina.
Eni mengangguk.
“Kapan? Bukannya mba sama aku dari tadi di belakang?”
“Tadi waktu neng sibuk sama ponselnya.” jelas Eni.
__ADS_1
Haidar menatap Alina penuh dengan pertanyaan, sibuk dengan ponselnya, sibuk ngapain apakah ada sesuatu yang lain di dalam ponselnya itu pikir Haidar.
“Gak ada hantu pagi hari, mendingan kita berangkat ke kampus.” seru Haidar.
Setelah berpamitan pada Eni, keduanya langsung berjalan menuju pintu keluar. Meskipun hati Haidar lagi cemburu, ia tetap membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
“Makasih, sayang?!” seru Alina.
Haidar tidak menjawab ucapan Alina itu, dan langsung menutup pintu mobilnya. Setelah itu ia berjalan menuju kursi pengemudi dan melanjutkan mobilnya menuju kampus.
Di perjalanan Haidar hanya diam, tidak seperti biasanya. Alina yang menyadari perubahan dari Haidar itu langsung menoleh ke arah kekasihnya.
“Sayang, kenapa? Kok bete gitu?” tanya Alina.
Haidar menoleh sekilas ke arah Alina lalu kembali fokus pada jalanan lagi.
“Haidar, apa ada sesuatu yang buat kamu bete pagi ini?” tanya Alina lagi dengan sabar.
“Nanti tukeran handphone!” Haidar to the point.
Alina mendengar itu pun bingung, “Tukarean Handphone? Maksudnya?” tanya Alina.
Haidar diam tidak menjawab, akhirnya Alina tahu penyebab Haidar tiba-tiba minta tukeran ponsel padanya.
“Sayang, kamu ngerasa aku lagi sembunyiin sesuatu karena omongan mba Eni tadi?” tanya Alina.
Haidar mengangguk pelan.
Alina terkekeh, “Jadi ceritanya kamu lagi cemburu?”
Haidar mengangguk lagi.
Alina semakin tertawa kencang, lucu melihat wajah Haidar yang sedang cemburu, “Sayang, dengerin aku ya, aku tadi lagi balesin chat dari Meilla dan elsa. Kita lagi janjian buat pergi setelah pulang kuliah nanti. Boleh kan?”
Alina menggeleng, “Gak bisa Haidar, kita mau pergi bertiga aja, flashback masa SMA dulu yang sering jalan bareng. Boleh ya?”
Haidar menggeleng, “Kalau gak ada aku, kalau kamu kenapa-napa gimana?”
Alina menghela napasnya, “Please Haidar gak perlu khawatir, kamu lupa kalau Meilla punya pengalaman karate yang hebat? Jadi pasti semua aman!”
Haidar akhirnya menghela napasnya, “Oke..oke tapi kabarin aku setiap 10 menit sekali, terus pulangnya jangan malam-malam dan yang paling terpenting jangan macam-macam.”
Alina langsung memberi hormat pada Haidar, “Siap komandan laksanakan, lagian mana berani macam-macam kalah pawangnya aja nyeremin begini!” seru Alina sambil terkekeh.
Sedangkan Haidar langsung mendengus kesal.
“Terus, tukeran hp nya jadi?” cibir Alina.
Haidar menggeleng, “Gak jadi, tapi nanti aku mau lihat hp kamu ya, boleh kan?”
Dengan senang hati Alina langsung memberikan ponselnya pada Haidar. Menurut Alina itu adalah salah satu cara Alina menunjukkan kasih sayangnya. Meskipun kebanyakan orang tak suka jika ponselnya di lihat oleh orang, karena ponsel adalah hal privacy.
Kalau begitu jadinya posesif atau protektif?
...****************...
Keduanya telah sampai di kampus, baru turun dari mobil keduanya langsung menjadi pusat perhatian. Ada tatapan berbeda-beda yang mereka berikan untuk keduanya. Memang hal ini sudah biasa untuk Alina dan Haidar tapi kali ini ada yang berbeda karena omongan dari mereka yang membuat Haidar menjadi emosi.
“Itu yang mukulin Adriel sampai babak belur?”
“Cuma karena rebutin cewek yang di sampingnya itu?”
__ADS_1
“Iya, padahal juga cantikan gue dari pada tuh cewek!”
Begitulah kira-kira cuitan para mahasiswi yang melihat keduanya. Alina mencoba bersabar dan mencoba menenangkan Haidar dengan menggenggam tangan kekasihnya itu. Alina menarik tangan Haidar agar segera pergi dari sana.
“Gak usah di dengerin, nanti juga mereka bakalan cape sendiri!” seru Alina. “Tapi mereka ngejelekin kamu juga, Alina!” seru Haidar dengan emosi.
Haidar menggeleng, “Aku gak masalah Haidar, di cibirin kaya gitu sudah biasa buat aku!” Haidar menghela napasnya.
Setelah itu keduanya kembali berjalan, terapi di tengah perjalanan mereka berte6 dengan Hellena.
“Alina!” panggil Hellena sambil melambaikan tangannya.
Alina langsung menoleh ke arah sumber itu, “Hai Hellena!” jawab Alina sambil melambaikan tangan juga.
Hellena berjalan ke arah Alina dan Haidar, “Tumben lo udah datang, biasanya datengnya mepet!” cibir Alina saat Hellena sudah berada di hadapannya.
“Lagi semangat, eh Lin. Btw nanti temenin gue ke toko buku bisa gak? Gue mau nyari buku buat tugasnya pak Joni, kalau Lo pasti udah selesai kan?”
“Ehem, gimana ya Hell. Hari ini gue ada janji sama sahabat gue atau gak lo ikut aja sama kita, gimana?” jawab Alina.
“Sama Meilla?” tanya Hellena.
Alina mengangguk, “Iya sama Meilla dan Elsa, sahabat gue sejak SMA.”
Hellena menggeleng, “Gak deh Lin, gue males ketemu Meilla si cewek munafik itu!” seru Hellena.
Haidar yang dari tadi diam, langsung menatap Hellena karena mendengar perkataan itu, tanpa di sangka Hellena pun menatap Haidar.
“Ups sorry gue lupa ada sahabat dekatnya di sini!” seru Hellena seakan-akan tidak sengaja mengatakan itu padahal memang sengaja!
“Meilla bukan cewek munafik!” tegas Haidar.
Alina pun mendengar Haidar mengatakan itu kaget dan langsung menoleh ke arah kekasihnya.
“Oh atau lo yang munafik?” kekeh Hellena.
“Sekali gue denger lo jelekin Meilla, lihat apa yang akan gue lakuin sama lo!” ancam Haidar.
Perkataan Hadar serius dan membuat Alina menjadi ikut takut.
“Gue cabut duluan ya Lin, sampai ketemu nanti di kelas!” Hellena tidak menggubris ancaman Haidar tadi dan langsung pergi dari sana.
Setelah Hellena pergi dari hadapan mereka berdua, keduanya kembali berjalan entah kemana karena mereka masih memiliki waktu sebelum masuk kelas.
“Jangan deket-deket lagi sama dia!” seru Haidar tiba-tiba.
Alina langsung menoleh ke arah Haidar dan berhenti melangkah, “Kenapa? Hellena orangnya baik kok!” seru Alina.
“Kalau aku bilang jangan, ya jangan Alina!” bentak Haidar.
Alina kaget dengan bentakkan itu, “Ya kasih aku alasan kenapa aku gak boleh berteman sama Hellena?” seru Alina dengan nada tak kalah tegas.
Haidar diam tidak menjawab.
“haidar, kamu gak bisa ngelarang aku sampai sejauh itu. Hellena orangnya baik, gak ada alasan aku gak bisa berteman sama dia. Kalau alasan kami karena dia menjelaskan Meilla, menurut aku tidak berlebihan!” seru Alina lalu pergi meninggalkan Haidar begitu saja.
Haidar yang melihat Alina pergi langsung segera menyusul nya, “Alina, tunggu. Dengerin dulu penjelasan aku!” panggil Haidar.
“Cukup Haidar, aku mau ke kelas kamu juga langsung ke kelas aja, nanti selesai kuliah aku langsung di jemput Meilla jadi kita gak bisa pulang bareng ya. Bye Haidar, nanti aku pasti kabarin kamu kok, I love you!” ujar Alina lalu berjalan dengan setengah berlari menghindari Haidar.
Haidar hanya menghela napasnya, lagi dan lagi mereka salah paham.
__ADS_1
Menurut kalian Hellena itu siapa sih? Kok sampai Haidar melarang Alina dekat Hellena sama seperti dulu Haidar melarang Alina dekat dengan Vanesa! Apa jangan-jangan...