
Hidup selalu penuh teka teko kan dan kita sebagai yang menjalani nya harus bisa memecahkan teka-teki tersebut.
Hidup itu pilihan, kalau suka ya ambil kalau gak suka ya tinggalin. Teori itu simple tapi kenyataannya susah untuk dilakuin. Bener gak?
...****************...
Vanesa, anak baru di sekolah Garuda yang menempati kelas 12 IPS 2 kelas yang sama dengan Alina.
Respon Alina dan Meilla ternyata berbeda. Meilla nampak kaget melihat siapa yang ada di belakang tubuh Alina di depan sana. Begitu pula dengan vanesa yang sama kagetnya dengan Meilla.
"Vanesa." Ujar meilla pelan.
"Meilla." Ujar vanesa pelan.
Keduanya saling tatap entah apa ekspresi yang mereka tampilkan satu sama lain. Yang jelas keduanya masih kaget.
Tak lama dari itu, wali kelas mereka datang dan membuat Alina langsung duduk di tempatnya tetapi tidak dengan vanesa.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Agis wali kelas 12 IPS a.
"Pagi Bu." Jawab siswa serempak.
"Pagi ini kita kedatangan murid baru, silahkan nak perkenalkan diri kamu." Ujar Agis.
"Baik Bu."
"Halo semuanya, kenalin nama saya Vanesa Andriana. Semoga kita bisa berteman baik ya."
Suasana mulai ricuh saat mereka sudah mengetahui nama dari teman barunya itu. Apalagi yang laki-laki langsung memanggil Vanesa sambil bersiul dan menggoda nya.
"Vanesa, nanti pulang sekolah gue anterin ya." Teriak Hilmi.
"Woooo." Sorak semua murid.
"Sudah, sudah. Vanesa seilahkan kamu duduk di bangku yang kosong." Ujar Agis sambil menunjukkan bangku yang kosong.
"Gue pangku aja sini Vanesa." Teriak Adit yang memang Playboy di sekolah ini.
__ADS_1
"Woooo." Sorak semuanya lagi.
"Adit Jaga ucapan kamu!" Tegur Agis.
Saat Agis ingin pamit keluar kelas dan akan di gantikan oleh guru pengajar. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk kelas.
"Assalamualaikum." Ujar Lio yang baru masuk kelas.
"Waalaikumsalam, ya ampun kamu dari mana saja? Kamu gak dengar sudah bel?" Tegur Agis.
"Denger Bu, tapi nanggung sebentar lagi pengen keluar masa saya masukin lagi kan gak mungkin" ujarnya santai.
Agis yang mendengar perkataan Lio pun langsung menarik telinga sang ketua kelas itu. "Kamu tuh ya, kamu itu ketua kelas di sini seharusnya nyontohin. Yang baik bukan nya malah kaya gini."
"Iya Bu maaf."
"Ya udah sana duduk, lain kali kalau begini lagi ibu kasih hukuman."
Saat ingin duduk tidak sengaja Lio melihat ekspresi dari Meilla yang memang sejak tadi melihat ke arahnya dan meilla mengedipkan matanya lalu melirik ke arah Vanesa duduk. Lio yang tidak mengerti itu langsung bertanya.
"Kenapa sih illa?" Tanya Lio membuat murid yang di sana menoleh ke arahnya.
Sedangkan Lio yang tidak dapat jawaban dari Meilla langsung menghampirinya. Belum sempat menghampirinya, guru pengajar telah masuk kelas dan otomatis membuat Lio kembali duduk di tempatnya.
Berbeda dengan Vanesa yang tengah duduk di ujung sana. Ia pun kaget dengan kedatangan Lio tadi. Vanesa menggerutu dalam kelas, mengapa ia harus masuk ke kelas ini.
Lio masih belum menyadari adanya Vanesa, hingga sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuat Lio berkeliling mencari sosok yang dimaksud Meilla di dalam pesan.
Deg
Benar apa yang di bilang Meilla, ternyata ada sosok Vanesa di dalam kelasnya. Tanpa di duga juga ternyata sejak tadi pula Vanesa terus memperhatikan Lio.
LIO
Kasih tau Haidar atau jangan?
MEILLA
__ADS_1
Gak usah, biarin Haidar yang lihat sendiri aja.
Lio hanya mengangguk melihat jawaban pesan dari Meilla. Sedangkan Vanesa masih terus menggerutu dan tak nyaman berada di kelas ini apalagi tatapan Meilla dan Lio yang masih terus memperhatikan nya.
...****************...
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa semua siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin.
Peperangan yang terjadi antara Meilla dan Elsa sudah selesai dan keduanya kembali bertegur sapa. Makannya ketiganya memutuskan untuk ke kantin.
Sebelum pergi ke kantin, Alina melihat ke arah tempat duduk Vanesa dan ternyata penghuninya masih duduk di bangkunya sambil bermain ponsel.
"Vanesa, mau ikut ke kantin bareng?" Ajak alina.
Sebelum menjawab, Vanesa menoleh ke arah pintu kelas dan terlihat Meilla bersama Elsa di sana. Vanesa yakin kalo menerima ajakan Alina berarti ia akan pergi bersama dengan Meilla juga dan itu membuat ia tak nyaman.
"Gak dulu deh Lin, gue masih kenyang."
" Ya udah kalau gitu, gue ke kantin dulu ya." Pamit Alina dan di anggukin oleh Vanesa.
Meilla yang melihat itu semua langsung menatap Vanesa tajam, tak suka melihat Alina berdekatan dengan Vanesa.
Rak sangka ternyata saat Vanesa keluar kelas, ia berpas-pasan juga dengan Haidar dan kawan-kawan nya. Siapa lagi kalo bukan, Edo, Nanda dan Lio.
Haidar belum menyadari adanya Vanesa sedangkan ketiga temannya sudah lebih dulu menyadari dan mereka langsung saling pukul dengan satu tujuan yang sama.
Vanesa yang melihat mereka pun tersenyum tipis, sudah lama ia tidak pernah bertemu dengan mereka semua. Ada rasa kangen di dadanya.
Saat Haidar Cs berada di depan Alina, barulah Haidar menyadari keberadaan Vanesa di sana. Haidar di sambut senyum hangat dari Vanesa. Terapi respon Haidar berbeda, Haidar menempelkan wajah dinginnya.
"Hai, guys." Sapa Vanesa dan Haidar Cs.
Ternyata hal itu membuat mereka jadi pusat perhatian, siswa yang lain bingung mengapa anak baru bisa mengenal sekelompok cogan di sekolahnya.
Haidar tidak menjawab sapaan dari Vanesa dan langsung menjauh dari sana begitu pula dengan yang lainnya mengikuti langkah Haidar menjauh dari Vanesa.
Vanesa yang di tinggal begitu saja tidak terima lalu mengejar ke empat cowo itu. Edo membalikkan badan nya membuat Vanesa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ngapain?" Tanya Edo ketus.