Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
makan malam


__ADS_3

Siapa yang iri dengan kebahagiaan yang Alina dapat dari orang terdekat nya? Jangankan kalian, aku pun iri melihat nya. Hidup Alina mungkin sudah sempurna, dari memiliki wajah cantik, cerdas, keluarga yang cukup harmonis, pasangan yang sayang juga dalam dia, sahabat yang selalu support dan sekarang keluarga Haidar pun menyayanginya.


Kurang sempurna apa lagi coba kalau seperti itu?


...****************...


Setelah menghabiskan waktu hampir 3 jam lebih di perjalanan, akhirnya rombongan itu telah sampai di villa milik Roy ini. Villa mewah dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata, meskipun tak jauh dari ibu kota tetap saja di kawasan ini udara masih sangat segar.


Semua segera membereskan barang-barang nya ke dalam kamar masing-masing. Kalian sudah tahu kan pembagian kamarnya, gak perlu aku jelasin ya. Yang penting mereka tidak sekamar dengan pasangan nya, kali seperti itu kasihan Nanda yang jomblo sendiri an nanti!


“Nanti malam kita Adain barbeque ya!” seru Indira memeberitahu anak-anak nya.


Sorak gembira terdengar dari mereka semua, termasuk Haidar. Bukan hanya Alina yang sangat bahagia di sini, Haidar pun sama.


“Setelah beres-beres barang, kumpul lagi di sini kita pergi makan ke restoran ternama di sini, Papah sudah pesan!” seru Roy dan lagi-lagi membuat mereka bersorak senang.


Liburan mewah, gratis pula siapa yang tidak senang!


Mereka segera masuk ke kamar untuk membereskan barang. Rencananya mereka akan menginap di sini 2 malam. Tak apalah bolos kuliah 3hari untuk refreshing pikirnya.


“Kenala mami sama papi kamu gak ikut La?” seru Indira yang tiba-tiba ada di belakang Meilla yang kebetulan sedang berada di dapur.


“Ehem, lagi sibuk Dar. Jadi mereka gak bisa ikut!” bohong Meilla, yaps Meilla tidak memberitahu Fandi dan Riani tentang liburan ini bersama dengan orang tua Haidar, ia hanya bilang pergi bersama dengan keluarga Alina saja.


Indira mengangguk, “Kamu pacaran sama Edo?” tanya Indira.


Meilla mengangguk, “Iya tante.” jawab Meilla sambil tersenyum.


Indira mengelus Surai rambut Meilla yang kebetulan sedang di gerai bebas, “Tante sayang sama kamu nak, Tante kira Haidar akan bersama kamu nanti ternyata Haidar sudah punya dambaan hati dia, dan Tante gak bisa melarangnya.”


Meilla hanya diam menunggu apalagi yang akan di katakan oleh Indira padanya.


“Tak ada alasan untuk Tante melarang Haidar dekat dengan Alina, karena Alina adalah gadis yang baik, gadis yang bisa membuat hidup Haidar berubah. Jadi, Tante doakan semoga kamu sama Edo bahagia selalu ya sayang!” seru Indira.


Meilla mengangguk dan mengambil tangan Indira untuk di genggamnya, “Iya Tante, Alina gadis yang cocok untuk Haidar bukan aku. Lagu pula aku sudah merasa beruntung di miliki oleh Edo. Tante jaga kesehatan ya, mungkin kedengarannya aku akan jarang main ke rumah Tante karena aku mau menjaga hatinya Alina. Tante mengerti kan maksud Alina?” seru Meilla sambil menggenggam tangan Indira dengan erat seakan tidak ingin melepaskan nya.


Riani itu wanita yang cukup sibuk, sama seperti Indira tetapi bedanya Indira selalu menyempatkan waktu di rumah untuk bertemu dengan anak-anaknya begitu pula dengan Meilla. Maka sejak dulu, Meilla pun menganggap Indira sebagai ibu.


Dari Indira, Meilla bisa merasakan bagaimana tangan ajaib milik ibu untuk menyuapinya saat makan. Meilla bisa merasakan pelukan hangat dari seorang ibu saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Bukan karna Riani tidak pernah melakukan itu, hanya saja sangat jarang. Itu lah bedanya!


“Mah?” panggil Haidar yang melihat Meilla dan Indira sedang berpegang tangan.

__ADS_1


Haidar berjalan menghampiri kedua wanita itu dan menatap keduanya secara bergantian.


“Ada apa?” tanya Haidar.


Keduanya menggeleng lalu tersenyum, “Tante, Meilla balik ke kamar dulu ya. Dar, gue duluan!” pamit Meilla.


Meilla segera pergi dari sana sebelum ada siapapun lagi yang melihat. Meilla takut nanti malah salah paham dan liburan ini menjadi kacau karenanya. Tak mau!


Setelah kepergian Meilla, Indira mengelus lengan Haidar dengan lembut, “Nqk, bahagia selalu sama pilihan kamu ya. Tapi ingat kamu jangan pernah lupa dengan kebaikan keluarga Meilla selama ini sama kita. Mamah cuma mau kamu Sam Meilla tetap berteman baik.” ujar Indira pelan.


Haidar mengangguk, “Sampai kapan pun Meilla memang tetap jadi sahabat Haidar mah.” seru Haidar.


Tanpa di sangka Alina mendengar jelas percakapan antara ibu dan anak itu. Hatinya merasa terkutuk dan merasa bersalah dengan meilla. Biar bagaimanapun Meilla lah yang mengenal Haidar dan keluarga nya lebih dulu, baru Alina.


Egois kah gue kalau gue minta Haidar untuk jaga jarak sama Meilla? Batin Alina.


“Haidar?” panggil Alina pelan.


Indira dan Haidar langsung menoleh ke arah Alina, keduanya tersenyum hangat dan Alina pun ikut tersenyum. Alina menutupi apa yang ia dengar tadi, cukup diam. Toh gak ada hal macam-macam juga yang perlu di khawatir kan, cuma pesan dari seorang ibu kepada anaknya agar tidak lupa dengan jasa kebaikan orang lain.


“Iya sayang?” jawab Haidar.


“Lagi ngomong Alina ya?” seru Alian dengan percaya dirinya.


Alina ikut terkekeh, “Tante lebih cantik!” sahut Alina.


Sama seperti kepada meilla tadi, Indira mengelus Surai rambut Alian dengan lembut, “Alina, kamu Tante minta satu permintaan kira-kira kamu bisa kebulin gak ya? Tanya Indira.


Jantung Alina berdebar, Alina takut Indira memintanya untuk membiarkan Meilla tetap dekat dengan Haidar meskipun hanya menjadi sahabat. Alina bisa saja mengiyakan itu, tetapi hatinya belum tentu kan? Ah apa Alina egois atau memang benar langkah Alina?


“Ehem, apa Tante?” tanya Alina sambil menutupi kegugupannya.


“Panggil Tante sekarang kamu, bisa? Karena kan cepat atau lambat Alina akan menjadi anak mamah nanti!” seru Alina membuat jantung Alina mencelos bagitu saja.


Alina bernapas lega, hatinya sangat bahagia karena Indira ternyata sudah menganggap nya seperti anaknya sendiri.


Alina mengangguk pelan, “Bisa Tante eh mah!” kikuk Alina.


Haidar tersenyum bahagia mendengar itu semua, berarti sudah menyayangi Alina juga. Haidar berharap ini semua terus terjadi sampai nanti waktunya tiba.


“Kalau Alina kesepian di rumah, Alina bisa datang kapanpun ke rumah mamah ya nak!” seru Indira karena tahu bagaimana kehidupan Alina selama ini dari Haidar.

__ADS_1


Indira sendiri pun bangga dengan Alina, meskipun kurang perhatian dari orang tuanya, Alina tetap menjadi anak yang bisa di banggakan oleh siapapun termasuk Indira. Benar kata Meilla , Alina sangat cocok dengan Haidar.


Indira berdoa semoga hubungan Alina dan Haidar di beri kelancaran sampai nanti, bahagia hingga ia memiliki cucu dari anak satu-satunya itu.


Alina mengangguk, “Okay siap mah!” seru Indira semangat membuat Haidar menggeleng kan kepalanya, gemas melihat tingkah Alina.


Tanpa di sadari mereka bertiga ternyata ada seseorang yang juga mendengar semua percakapan itu. Hati nya sedikit teriris karena posisinya sekarang sudah di gantikan oleh Alina sepenuhnya.


“Gue gak boleh sedih, Alina memang cocok berada di posisi itu!” seru Meilla.


...****************...


Setelah mereka membereskan barang-barang, semuanya kembali berkumpul di halaman depan untuk segera pergi ke restoran ternama di dekat villa. Roy sudah mengurus semuanya, jadi tinggal langsung jalan ke lokasi.


Restoran tersebut tidak jauh dari villa, dan hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja. Setelah itu semuanya turun dan langsung masuk ke dalam restoran. Tempat sudah di booking oleh Roy, meja sudah tersusun rapi. Tidak ada pemisahan antara orang tua dengan anak-anak, semua satu meja yang sama.


Setelah mengambil posisi duduk masing-masing, mereka memesan makanan yang di sajikan di restoran ini.


“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Haidar.


Alina masih melihat-lihat menu, “Yang enak di sini apa?”


“Semua enak kok Lin!” seru Meilla yang kebetulan duduk di samping Alina.


Alina menatap Meilla sebetar kalau kembali beralih ke menu, “Lu pesan apaan La?” tanya Meilla.


“Gue pesan pasta, itu paling enak si menurut gue!” seru Meilla memberitahu pesannya.


Alina mengangguk, “Ntar gue cobain ya!” seru Alina.


“Okay!” sahut Meilla.


Alina menatap Haidar, “Aku pesan ini aja deh sayang!” seru Alina sambil menunjuk steak.


Haidar mengangguk, “Baru aja aku mau pesan itu, yaudah aku ganti deh biar kamu bisa nyobain menu yang lain juga!” seru Haidar membuat Alina terkekeh.


Alina masih terus menatap wajah Haidar dari samping, pahatan Tuhan yang sangat sempurna sayang kalau di lewatkan pemandangan indah seperti ini.


Haidar yang merasa sedang di lihatin hanya bisa menahan tawanya, “Ngeliatinya jangan kaya gitu, nanti naksir! Eh kan emang dah naksir ya.” goda Haidar yang masih fokus dengan bahu menu.


Alina yang di bilang seperti itu langsung memukul bahu Haidar pelan, “Kepedean banget sih kamu ih!” gerutu Alina karena malu sudah tertangkap basah.

__ADS_1


Haidar hanya bisa terkekeh. Tingkah Alina yang selalu bisa membuatnya tertawa tanpa memikirkan masalah apapun. Haidar sangat amat beruntung memiliki Alina.


Coba aja masih ada Olivia saat ini, pasti Olivia juga akan sayang banget dengan Alina. Eh tunggu kalau masih ada Olivia, berarti masih ada Olivia dong? Dan Alina belum tentu menjadi tunangan Haidar saat ini?


__ADS_2