Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Tak di sangka..


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 2 siang, sejak tadi pagi Alina belum bertemu lagi dengan Haidar. Alina sibuk dengan tugas yang di berikan dosennya pada jam kuliah pertama tadi, dan harus di kumpul kan lusa.


Karena Alina takut nanti malah tidak bisa mengerjakan, Alina putuskan untuk mengerjakan tugas itu di perpustakaan bareng dengan Hellena sebelum jam mata pelajaran keduanya di mulai.


Kebetulan juga jam kuliah Haidar bentrok dengan Alina tadi, makanya Haidar pun tidak bisa menemuinya di perpustakaan.


Dan sekarang jam kuliah sudah selesai, begitu pula dengan Alina. Keduanya bertemu di dekat gerbang sambil menunggu Meilla menjemput Alina.


“Kamu masih marah sama aku?” tanya Haidar pelan.


Alina menggeleng lalu tersenyum ke arah Haidar, “Aku gak marah, Haidar. Tadi pagi aku sedikit emosi aja.” seru Alina.


“Maaf!” kata itu lagi yang Alina dengar. Bosan!


“Udah ya gak usah minta maaf, karena gak ada yang salah. Cuma saran aku, kamu kurangin aja perhatian kamu sama Meilla.” Serua Alina membuat hati Haidar bagai tertusuk jarum. Sakit!


Haidar mengangguk, tidak mau membantah lagi. Alina benar, sekarang Haidar sudah milik Alina dan begitu pun Meilla sudah milik Edo tidak seharusnya Haidar terlalu berlebihan pada Meilla yang notabennya cuma sahabat!


Tak lama mobil Meilla datang, sang pemilik bersama dengan Elsa turun dari mobilnya untuk menghampiri Alina yang tengah berdiri bersama dengan Haidar.


“Alina! Gue kangen banget tahu sekelas sama lo!” seru Elsa langsung memeluk Alina.


“Kangen karena gak ada yang bisa di contekin!” timpal Meilla membuat Alina terkekeh begitu pula dengan Elsa.


“Haidar, aku sama yang lain pergi dulu ya. Nanti aku kabarin!” pamit Alina pada haidar.


Haidar mengangguk lalu mengelus rambut Alina dengan pelan, “Iya, hati-hati. La, Sa gue tutup Alina ya.” seru Haidar meminta Meilla dan Elsa menjaga Alina.


“Beres, semua pasti aman!” sahut Elsa.


“Iya lo tenang aja, kita cuma mau kumpul biasa doang gak macem-macem!” timpal Meilla lagi.


Saat Alina ingin melangkah ke mobil Meilla, tandanya di cekal oleh Haidar membuat Alina berbalik badan lagi.


“Kenapa?” tanya Alina.


Haidar menarik Alina untuk di peluknya, Alina menerima pelukan itu sambil mengelus punggung Haidar. “Cuma sebetar, yang aja gak akan macem-macem!” kalimat menenangkan itu yang di berikan Alina untuk Haidar.


Haidar mengangguk pelan meskipun posisi mereka masih berpelukan, “I love you, Alina.” seru Haidar.


“I love you more, Haidar!” jawab Alina dan Haidar mulai melepaskan pelukan itu.


“Buruan Alina, Jangan bucin muly Napa!” gerutu Elsa yang tengah bersandar di pintu mobil.


Alina segera menghampiri Elsa lalu melambaikan tangannya pada Haidar. Setelah Alina pergi dengan Meilla, Haidar masuk lagi ke dalam kampus untuk mengambil mobilnya di parkiran.


Haidar mengabaikan tatapan dan omongan yang ada di sekitarnya, jalannya tetap lurus ke arah parkiran sekolah tanpa menghiraukan apapun. Saking fokusnya, ia sampai tidak melihat seseorang yang sedang berlari di depannya hingga akhirnya mereka bertabrakan.


“Aduh!” gerutu orang yang menabrak Haidar.


Haidar hanya diam dan melajukan langkahnya menuju parkiran. Hal itu membuat orang yang menabrak Haidar kesal dan langsung menyusul langkah Haidar.


“Woi, minta maaf kek, apa kek malah di tinggal gitu aja!” seru orang itu.


Hadar hanya diam tidak menjawab apalagi menoleh ke orang itu. Orang tersebut pun semakin kesal dengan tingkah Haidar. Dengan langkah cepat, ia bisa berada tepat di hadapan Haidar saat ini.


Haidar menaikan alisnya saat melihat siapa yang berada di depannya itu, “Minggir!” seru Haidar ketus.


“Lo bukannya minta maaf!” gerutu Hellena.


“Jalan pakai mata makanya!” sahut Haidar.


Hellena geram karena tingkah haidar, “Dasar cowok munafik! Cowok pembawa sial!” marah Hellena.

__ADS_1


Haidar ikut tersulut emosi, tanpa di sangka Haidar langsung mendorong Hellena dari pandangan nya hingga Hellena terhuyung ke samping karena dorongan Haidar cukup keras.


“Sialan! Lo lihat apa yang akan gue lakuin sama lo atau sama Alina atau mungkin sama Meilla!” ancam Hellen membuat Haidar membalikkan badannya menatap Hellena dengan tajam.


“Sampai berani lo sentuh Alina sama Meilla. Lo yang bakalan gue habisin duluan!” seru Haidar tajam membuat buluk kuduk Hellena berdiri.


Untuk menyembunyikan ketakutan nya itu, Hellena terkekeh, “Gue gak takut sama ancaman sampah macam itu!” seru Hellena.


Haidar langsung membalikkan badannya kembali tanpa memperdulikan omongan Hellena tadi. Biarkan saja, nanti juga capek sendiri batin harida seakan mengingat perkataan Alina.


Haidar dengan cepat masuk ke dalam mobil lalu melajukan nya keluar dari kampus. Kebetulan hari ini ia di suruh mampir oleh Roy ke kantor nya. Roy berniat akan mengajarkan Haidar bisnis, agar bayi perusahaan nya bisa di pegang oleh Haidar. Tapi Haidar menolak, cita-cita nya sama seperti Alina yaitu menjadi guru.


Tapi kalau hanya untuk belajar dulu, menurut Haidar tak masalah. Toh hanya melanjutkan yang ada bukan bangun dari awal lagi. Pasti ia bisa meng-handle juga kalaupun ia tetap menjadi guru pikir Haidar.


Tapi gak papa, rajin bekerja biar kaya dan bisa nafkahin Alina ya!


Saat di perjalanan, Haidar merasa ada yang mengikuti nya dari belakang, dan benar saja ada du mobil di belakangnya yang terus saja berusaha merapat kan mobilnya pas mobil Haidar.


Tanpa pikir panjang. Haidar segera menancap kan gas dengan kecepatan lebih tinggi lagi. Tapu mobil di belakang pun tidak mau kalah dan tetap berusaha menyalip mobil Haidar.


Tanpa di duga, ada seorang pedagang sedang mendorong gerobak menyebrang jalan. Hide yang kaget langsung membanting setir ke kanan hingga mobilnya menabrak pembatas jalan. Sedangkan mobil yang di belakang langsung mengerem setelah melihat mobil Haidar kecelakaan.


Mobil Haidar mengeluarkan asap, sang pemilik mobil pun langsung tak sadarkan diri. Ada darah keluar dari kepalanya dan juga hidungnya. Tanpa menunggu lama, warga si sekitar langsung membantu mengevakuasi.


Kebetulan sekali, ponsel Haidar berdering dengan cepat salah satu warga di sana menerima panggilan tersebut untuk mengabarkan kondisi Haidar saat ini. Setelah memberitahu pada orang di telepon tadi, Haidar segera di bawa ke rumah sakit menggunakan mobil yang sedang melintas di sana.


...****************...


Dikantor, tiba-tiba saja perasaan Roy tidak enak. Dengan cepat ia menghubungi Indira untuk memastikan kondisinya ternyata semua baik-baik saja. Lalu Roy menghubungi Haidar, dan tanpa di duga teleponnya itu di angkat oleh orang lain.


“Halo, Haidar.”


“....”


“....”


“Baik saya akan segera ke sana, terima kasih pak!”


Bip


Betapa terkejutnya Roy saat mendengar kabar bahwa Haidar kecelakaan. Tanpa berpikir lagi Roy langsung keluar dari kantor menuju rumah sakit yang beritahu tadi. Di perjalanan ia pun menghubungi Indira dan Flandi tentang kabar ini. Pasti mereka pun sama langsung pergi menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Roy berdoa agar Haidar baik-baik saja, kondisinya tidak terlalu parah dan bisa sehat kembali seperti sedia kala. Karena Roy ingin membuktikan kalau hatinya tulus untuk kembali hidup dengan Indira dan Haidar.


...****************...


Sedangkan di sisi lain alina, Meilla dan Elsa saat ini sedang berada di salon langganan mereka di sebuah mall ternama. Ketiga nampak bahagia karena sudah lumayan lama tidak jalan bersama seperti ini.


Maklum setelah punya pasangan masing-masing mereka jadi sibuk jalan bersama pasangan Nya.


Ponsel Meilla berdering beberapa kali, karena sedang di cuci rambut nya Meilla tidak bisa mengangkat panggilan itu. Tetapi deringan itu tidak berhenti dan terus berbunyi nanya Meilla meminta tolong kepada pelayan untuk berhenti sebentar karena ia akan mengangkat panggilan tersebut.


“Iya mami?”


“.....”


”Ke..ce..la..ka..an?”


“....”


“Iya, aku langsung ke sana!”


Bip

__ADS_1


Meilla mematikan sambungan telepon itu, dan langsung bangkit dari tempat cuci rambutnya. Pelayan yang melihat itu langsung memanggil Meilla agar kembali duduk karena rambutnya masih ada busanya.


“Mba, duduk dulu itu masih banyak busanya biar saya bersihkan dulu.” seru pelayan.


Meilla menggeleng, “Saya harus segera ke rumah sakit.” ujar meilla langsung menghampiri Alina yang rambutnya sedang di blow begitu pula dengan Elsa.


“Alina, kita harus segera ke rumah sakit sekarang!” seru Meilla dengan udah tergesa-gesa.


Alina bingung begitu pun dengan Elsa, “Ke rumah sakit? Ngapain?” tanya Alina.


“Haidar kecelakaan!” beritahu Meilla.


Saat itu juga dunia Alina seakan runtuh, bahunya merosot ke bawah dan tatapan nya langsung kosong begitu saja. Bagaikan tersambar petir di siang bolong!


Karena posisinya yang masih shock Alina tak bisa bereaksi apapun, ia hanya diam sambil menatap cermin yang ada di depannya. Hingga suara Elsa membuyarkan pikirannya.


“Ayo Alina, tunggu apa lagi!” Elsa menarik tangan Alina agar segera bangkit.


Alina melihat ke arah kepala Meilla yang masih ada busanya, “


Lo mending bersihin dulu La, itu masih banyak busa sambil nunggu gue bayar juga.” meskipun hari nya panik tapi Alina tetapi ingin meilla tampil yang tidak bikin malu karena keluar salon masih dengan rambut berbusa.


Meilla mengangguk kalau kembali ke tempat cuci rambut dan meminta pelayan agar melakukan nya dengan cepat. Setelah masalah di salon selesai mereka segera jalan ke arah parkiran dan langsung menuju rumah sakit.


“La, sini biar gue yang nyetir pasti lo berdua terpukul banget dengan kabar ini.” seru Elsa meminta kunci mobilnya pada Meilla.


Dengan cepat Meilla memberikan kuncinya itu, memang benar Meilla pun khawatir banget dengan kondisi Haidar saat ini. Pikirannya kacau, bingung harus diungkapkan bagaimana karena ia pun harus menjaga perasaan Alina.


Sepanjang perjalanan, Alina sudah mulai memutuskan air mata meskipun tidak terdengar suara isakan darinya. Sedangkan Meilla hanya bisa melamun tanpa bersuara sedikit pun.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka bertiga langsung berlari ke arah resepsionis untuk menanyakan di mana letak ruangan Haidar, ternyata Haidar masih berada di IGD. Tanpa menunggu lagi mereka langsung ke tempat yang di tuju tersebut.


Si sana sudah ada Indira, Roy, Fandi dan juga Riani. Pantas saja Meilla dulu yang lebih tahu tentang ini karena orang tua Meilla dan Haidar yang sudah berada di sini pikir Alina.


“Bukan waktu yang tepat untuk curiga Alina!” batin Alina.


Meilla langsung berhambur memeluk Riani dengan tangisan yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.


“Gimana bisa Haidar kecelakaan kaya gini, mi?” tanya Meilla pada Riani.


Riani menggeleng, ia pun menangis sama seperti Indira, “Belum tahu pasti sayang, yang jelas mobil Haidar nabrak pembatas jalan!”


“Ya Allah, kenapa bisa li begini Haidar!” teriak Meilla dan langsung di tenangkan oleh Riani.


Terlihat sekali kalau Meilla sangat terpukul dengan berita ini, Alina pun jadi bingung harus bersikap apa. Elsa yang berada di samping Alina langsung memeluk gadis itu dengan erat. Elsa sadar kalau Alina pun terluka di tambah lagi melihat respon Meilla yang seperti itu.


“Lo yang sabar, gue yakin Haidar baik-baik aja di dalam.” seru Elsa.


“Gue takut, Sa!” seru Alina.


Elsa menggeleng, “Gak ada yang perlu di takutkan Lin, Haidar cowok yang kuat buktinya dia bisa bertahan sampai saat ini setelah apa yang pernah terjadi pada keluarganya.”


Alina mulai terisak di pelukan Elsa, “haidarvbakalan baik-baik aja kan?” tanya Alina seakan menenangkan dirinya sendiri.


Elsa mengangguk dengan cepat, ia pun jadi ikut terisak seakan merasakan apa yang di rasakan oleh Alina.


“Kita tungguin Haidar di sini ya, gue mau kabarin Lio sama yang lain dulu.” seru Elsa dan membuat Alina mengangguk.


Tangan Alina masih terus menggenggam tangan Elsa, seakan tidak mau di lepaskan oleh Elsa karena saat ini yang ada di samping Alina hanya Elsa sedangkan Meilla sedang bersama ke dua orang tuanya dan juga orang tua Haidar tanpa melihat ke arah Alina dan Elsa.


Mungkin mereka pun panik dengan kondisi Haidar. Makanya tidak menghiraukan sekitar pikir Alina yang masih berusaha positif thinking tentang la yang ada di hadapannya saat ini.


Jangan lupa share cerita ini ke temen-temen yang lainnya ya..

__ADS_1


__ADS_2