
Setelah berpamitan pergi dari hadapan Vanesa, Meilla mengajak Elsa untuk ke perpustakaan lebih dulu. Meilla ingin kasih tau hal ini sebelum nantinya Elsa malah bertanya dengan emosi.
"Pasti lo mau nanya kan kenapa Vanesa bisa ngomong kaya gitu?" Ujar meilla to the point saat mereka baru saja duduk di bangku kosong yang ada di perpustakaan.
Elsa mengangguk, "iya, Lo tau. Jelasin sama gue sekarang sebelum kita debat lagi."
"Makanya kalo jadi orang jangan kepo." Sindir Meilla
Elsa berdehem membuat Meilla menyengir.
"Vanesa itu temen SMP gue juga." Ujar meilla.
"Jadi yang gue curigai di kantin tadi juga bener dong? Kalau mereka lagi ngomongin Vanesa? Kan mereka temen SMP lo otomatis mereka juga kenal sama Vanesa."
Meilla hanya mengangguk, ia mendengar jelas apa yang mereka bicarakan karena posisinya lebih dekat dibanding dengan Elsa tadi.
"Tapi kenapa tadi Lio bilang enggak ya? Apa Vanesa itu ada masalah sama dia?"
Meilla terdiam, apakah ia harus memberitahu Elsa semuanya?
Meila berdehem pelan sebelum melanjutkan pembicaraan nya. "Iya, Vanesa itu ada masalah sama mereka, terutama sama Haidar." Jelas Meilla membuat Elsa kaget.
"Masalah apa?"
Belum sempat menjawab, suara bel masuk pun terdengar babarengan dengan suara deringan ponsel elsa yang ternyata itu Alina.
"Alina nelepon nih," beritahu Elsa ke Meilla.
"Angkat aja, bilang sebentar lagi kita balik." Seru Meilla dan di anggukin oleh Elsa.
Setelah selesai berbicara di telepon dengan Alina, Elsa memasukkan ponsel nya ke saku rok. Sebelum keluar dari perpustakaan Meilla sempat berbicara.
"Lo jangan kasih tau Alina dulu ya masalah ini, biarin Haidar aja yang jelasin ini."
Elsa bingung dengan jalan pikiran meilla sebenarnya, kenapa tidak Meilla saja yang memberi tahu ini pada Alina kan sahabatnya Alina adalah Meilla bukan Haidar.
"Sa gue harap lo ngerti maksud gue, di sini gue gak ada hak buat cerita sama Alina. Gue gak mau salah bicara nantinya dan malah bikin Alina sakit."
"Setelah pulang sekolah, gue akan ceritain semuanya sama Lo. Gue janji, tapi lo juga harus janji kalau masalah ini jangan bocor dulu ke Alina." Elsa hanya mengangguk menyetujui apa yang dibilang Meilla.
Keduanya keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju kelasnya sebelum guru pengajar masuk kelasnya. Saat memasuki kelas hal ini yang pertama kali mereka lihat adalah Alina sedang berbicara dengan Vanesa dan seperti nya sangat seru sampai mereka tertawa bersama.
Meilla melangkah menuju bangkunya yang sedang di duduki Vanesa dan Elsa mengikuti Meilla dari belakang.
"Minggir!" Ketus Meilla mengusir Vanesa.
Alina yang berada disana kaget dengan sikap Meilla yang tiba-tiba ketus dan galak pada Vanesa yang sepertinya tidak memiliki masalah apapun pada Meilla.
"Eh sorry." Ujar Vanesa lalu berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum licik pada Meilla.
Meilla yang melihat senyuman itu langsung menatap Vanesa sebelum perempuan itu berlalu dari hadapannya.
"Cewek murahan!" Desis Meilla.
__ADS_1
Vanesa yang di bisikin seperti itu menampilkan senyuman., Ini sudah sering terjadi jika bertemu dengan Meilla dan Vanesa tidak berani melawan Meilla dengan kekuatan karena bisa di pastikan ia akan kalah.
"La, kok Lo ketus gitu sih sama Vanes? Yanya Alina saat Vanes sudah pergi dari sana.
"Lo gak usah deket-deket sam dia lagi bisa?" Bukannya menjawab, Meilla malah melayangkan pertanyaan balik.
Alina bingung kenapa ia tidak boleh berteman dengan Vanes padahal menurutnya Vanesa gadis yang baik.
"Gak usah tanya kenapa, yang jelas gue ngerasa kalau dia itu gak baik buat Lo." Ujar meilla sebelum Alina bertanya.
Alina semakin bingung, "La, Lo gak boleh judge orang sembarangan. Apalagi orang yang lo gak kenal." Ujar Alina mengingatkan Meilla.
Meilla hanya diam tidak mau membalas omongan Alina karena pasti akan jadi panjang.
...****************...
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa bersorak gembira karena kegiatan belajar hari ini sudah selesai. Begitu pula dengan kelas 12 IPS 2 kelasnya Alina, semuanya bersorak gembira.
Alina merapikan peralatan belajarnya begitu pula dengan Elsa dan meilla.
"Pulang bareng." Ujar Haidar tanpa basa basi.
Vanesa yang masih ada di kelas melihat Haidar langsung berjalan menghampirinya. Hal itu pun di lihat oleh meilla, dengan cepat Meilla menarik tangan Alina agar keluar dari sana, tapi sayang hal itu tidak berhasil karena Haidar pun ikut menarik tangan Alina.
"Ih lepasin, sakit tau!" Keluh Alina karena kedua tangannya di tarik berlawanan arah.
"Haidar, Meilla ih kenapa sih!" Keluh Alina lagi.
Akhirnya teriakan itu terlepas saat suara Vanesa terdengar di antara mereka. "Haidar." Ujar vanesa lembut membuat Meilla ingin Muntah mendengar nya.
"Kalian berdua saling kenal?" Tanya Alina polos.
Vanesa mengangguk sedangkan Haidar menggeleng. Alina kembali di buat bingung sama situasi yang ada.
"Jadi saling kenal atau engga?" Tanya Alina lagi.
Lagi-lagi jawaban yang tadi yang keduanya berikan, tetapi bedanya ada suara vanesa yang membuat Alina kaget.
"Saling kenal, Kuta satu sekolah dulu." Ujar vanesa santai.
Sekarang Alina menatap Haidar dan meilla secara bergantian. Meilla mengangguk sedangkan Haidar menggeleng.
"Jadi lo temenan sama Meilla juga?" Tanya Alina lagi.
Vanesa mengangguk, "iya, kita sahabat baik dulu."
"Najis!" Ujar meilla dengan penuh emosi.
Alina yang melihat respon Meilla seperti langsung berpikir kalau ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka berdua nya mungkin. Makannya Meilla tidak mengizinkan Alina berteman dengan vanesa?
"Pulang!" Ajak Haidar pada Alina.
Vanesa yang mendengar itu tersenyum licik, ternyata Alina yang berhasil dekat Haidar.
__ADS_1
"Kalian pacaran?" Tanya vanesa.
Aliran langsung menggeleng, "enggak kok."
Vanesa mengangguk, "Haidar, gue ikut pulang ke rumah lo ya?" Ujar Vanesa membuat Alina bingung.
"Apa yang di maksud meilla, adalah Vanesa?" Batin Alina.
Belum sempat ada yang berbicara, suara deringan ponsel yang berasal dari saku rok Alina terdengar dan terlihat jelas di layar ada nama Alvaro, dengan cepat Alina menerima panggilan tersebut.
"Iya Var?"
"...."
"Oke, gue lagi turun kok. Tunggu ya."
"...."
"Bye."
Bipp
Semua yang ada disana pun mendengar percakapan Alina dengan Alvaro di telepon tadi dan itu sangat ber efek pada Haidar.
Emosi Haidar tiba-tiba timbul begitu saja dan dengan cepat menarik tangan Alina agar mengikutinya.
"Eh Haidar Lo mau bawa Alina kemana!" Teriak Elsa saat melihat Alina ditarik oleh Haidar.
"Haidar stop!" Teriak Meilla tapi sayangnya tidak si dengarkan oleh Haidar.
Alina yang di tarik paksa sepeti itupun terus berontak, "Haidar lepasin sakit tangan gue!" Keluh nya tetapi tak ada jawaban dari Haidar.
"Haidar, Lo kasar banget sih jadi cowok!" Teriak Alina sambil meringis karena pergelangan nya terasa perih.
Haidar membuka pintu mobilnya dan mendorong Alina agar masuk ke dalam, dengan susah payah akhirnya Alina bisa masuk juga ke dalam mob dan dengan cepat Haidar pun ikut masuk ke dalam.
"Lo selain brengsek ternyata lo kasar juga ya." Ujar Alina pelan.
Haidar mendengar suara Alina pelan langsung menoleh dan melihat Alina sedang memegang pergelangan tangannya yang tadi ia tarik dengan kasar. Dengan cepat Haidar mengambil alih tangan itu.
"Maaf." Ujar Haidar sambil meniup luka yang ada di pergelangan tangan Alina.
Tangis Alina tidak bisa lagi di tahan, akhirnya Alina tersedu-sedu karena baru kali ini ia di perlakukan kasar oleh seseorang apa lagi sampai melukai fisik.
"Lo..lo ke..kena..kenapa ja..jahat... Banget sama gue Haidar!" Ujar Alina terbata karena sambil menangis.
Haidar hanya mendengar tangisan itu langsung merasa sangat bersalah pada alina, tak pernah melihat Alina sesedih ini di depannya.
"Maaf Alina."
Alina menggeleng, "maaf lo gak pernah tulus Haidar."
Haidar menggeleng tak terima dengan perkataan itu, "gue cuma gak mau lo pergi sama Alvaro."
__ADS_1
Alina menatap Haidar penuh dengan pertanyaan, "kenapa emang? Lo bukan siapa-siapa gue Haidar! Lo gak bisa ngatur gue kayak gini!"
"Sekarang kita pacaran!"