Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Kegiatan Baru


__ADS_3

Pagi yang mungkin membuat Alina sedikit gugup, karena pagi ini ia akan ke kampus, ternyata Haidar dengan Alina tidak kuliah di kampus yang sama.


Di karenakan Haidar yang sempat tidak lolos di salah satu ujian waktu itu, dan menyebabkan ia harus kembali memilih kampus yang lain. Alina sedih pas dengar pengumuman waktu itu, artinya ia akan sendirian di kampus ini.


Kampusnya dengan Haidar memang tidak terlalu jauh, tapi rasanya pasti aneh karena dulu hampir setiap hari bisa melihat haidar. Kalau sekarang entah lah bagaimana nanti ke depannya.


Kuliah di dunia nyata tidak seperti kuliah di FTV yang hanya sekedar membawa buku dan berjalan-jalan di kampus. Pati tugas kuliah lebih banyak dari pada sekolah waktu itu.


Alina berharap semoga hubungannya tetap baik-baik saja, meskipun nantinya jarang ketemu. Karena kunci dari berhasilnya hubungan adalah komunikasi dan saling percaya.


...****************...


Pagi ini Alina berangkat sendiri menggunakan mobil, padahal tadi Haidar berniat mengantarkan lebih dulu tetapi Alina tolak karena takut malah buat Haidar menjadi telat.


“Pah, mah, Alina berangkat dulu ya ke kampus.” seru Alina saat selesai sarapan bersama kedua orang tuanya.


Alina mencium punggung tangan Reymond dan Mira.


“Gayanya kampus sekarang mah!” seru Reymond menggoda putrinya.


Mira terkekeh begitu pula dengan Alina, “Yoi dong, udah gede nih!” sahut Alina membuat mereka semakin terkekeh.


“Mau papah anter gak?” tanya Reymond.


Alina langsung menggeleng, “Bukan anak kecil papah, ih!” seru Alina.


“Haidar memang gak anter, dek?” tanya Mira.


Alina menggeleng lagi, “Dia juga harus ke kampus mah, aku gak mau dia telat karena antar aku dulu.”


Mira hanya mengangguk lalu mengecup kening Alina begitu pula dengan Reymond ke putrinya itu. Setelah itu Alina keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya menuju ke kampus barunya.


Sepanjang perjalanan, Alina bernyanyi mengikuti lagu yang terputar di radio mobilnya. Sampai akhirnya ia sampai di kampus barunya itu, dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang sudah di sediakan.


Kampus sudah cukup ramai, Alina langsung ikut nimbrung di tengah lapangan itu. Alina bingung dimana jurusannya, tidak ada yang ia kenal di sini.


Sampai akhirnya ada pengumuman ini dan itu, lalu memberitahu di mana saja fakultas di universitas sini. Setelah itu Alina langsung menuju fakultasnya, berjalan sendiri tanpa adanya teman.


Saat di perjalanan, seseorang tidak sengaja menabrak Alina, hingga mundur beberapa langkah ke belakang.


“Aduh sorry ya, gue buru-buru banget soalnya.” seru orang yang menabrak alina.


Hayo tebak cewek apa cowok?


Alina mengangguk lalu tersenyum, “Iya gak papa kok.” jawab Alina.


Saat akan melangkah kembali, tiba-tiba orang tadi bertanya pada Alina dan membuat Alina tidak jadi melangkah.


“Lo tau fakultas Ekonomi di gudang mana gak ya? Soalnya tadi gue gak denger.” seru orang itu sambil terkekeh.


“Lo anak Ekonomi?” tanya Alina dan di anggukin oleh dia.


“Gye juga anak Ekonomi, gimana kalau kita bareng aja?” tawar Alina.


“Oh anak Ekonomi juga, yuk jala .” seru orang tersebut.


Keduanya berjalan menuju gedung fakultas ekonomi sambil berkenalan satu sama lain. Kalian tahu namanya siapa? Namanya Hellena.


Cewek guys, tenang!


Setelah keduanya sampai, mereka ikut nimbrung lagi dengan yang lain. Mendengarkan apa saja yang di sampaikan oleh para senior di depannya.


Alina terus bersama dengan Hellena, entah kemana saja dan apa saja yang di suruh para senior di sini. Memang sih tidak ada ospek yang kau biasa biasanya itu, tetap saja menurut Ali a hari ini melelahkan karena seperti di kerjain oleh para senior.


Sekarang sudah pukul 2 siang, sejak datang tadi mereka hanya di beri waktu istirahat selama 20 menit saja setelah itu kembali mengikuti rangkaian acara.


“Astaga lelah banget ya!” seru Hellena yang sedang duduk di bangku bersama dengan Alina.


Alina mengangguk, “Kantin tuk, beli minum.” ajak alina dan di setujui oleh Hellena.

__ADS_1


Keduanya langsung melangkah menuju kantin. Untuk membeli minum, saat sampai di kantin ternyata penuh sampai tidak ada bangku yang kosong lagi di sana.


Akhirnya keduanya hanya membeli minuman saja lalu keluar lagi dari kantin dan lebih memilih duduk di bangku bawah pohon agar tidak terlalu panas.


“Lo dari SMA mana, btw?” tanya Hellena.


Alina yang selesai menengok minumannya menutup kembali, “MA Garuda, kalau Lo?”


“Oh, gue dulu sekolah di Yogyakarta, abis itu pindah ke Jakarta gue homeschooling.”


Alina kaget dengan apa yang Hellena bicarakan, menurutnya aneh saja jaman sekarang masih ada yang mau homeschooling. Padahal kalau di lihat-lihat Hellena anak yang supel dan sehat.


“Ehem, kalau boleh tahu kenapa lo akhirnya homeschooling?” tanya Alina penasaran.


Helena tersenyum, “Orang tua gak percaya sama kehidupan di Jakarta. Mereka takut gue ikut pergaulan yang salah.”


“Terus kenapa sekarang akhirnya li di bolehin kuliah normal?”


Hellena terkekeh, “Ternyata lo orangnya kepo ya sama kaya gue.”


Alina ikut terkekeh, “Sorry, kalau gak mau jawab juga gak papa kok Hell.”


“banyak banget drama yang gue lakuin waktu itu Lin, sampai akhirnya ortu gue percaya sama gue dan nge bolehin gue kuliah di sini.” jelas Hellena membuat Alina mengerti.


Setelah itu mereka mengobrol-ngobrol santai sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebelum itu pula mereka bertukar kontak agar mudah menghubungi satu sama lain, dan mereka berharap semoga nanti sekelas juga.


“Gye balik duluan ya, supir gue udah di depan.” seru Hellena.


Alina mengangguk, “Okay, Lo hati-hati ya. Besok kalau udah sampai kampus, chat gue.”


“Okay siap!” seru Hellena lalu melangkah meninggalkan Alina menuju luar gedung.


Alina pun ikut bangkit dari duduknya dan berniat untuk pulang juga, Alina berjalan menuju parkiran di mana mobilnya di parkir. Tiba-tiba ponsel nya berdering, ada nama KEKASIHKU di sana, alias Haidar, dengan cepat ia menerima panggilan itu.


“Iya, Haidar?”


“....”


“....”


“Oh yaudah, aku tunggu di kampus ya.”


“....”


“see u, sayang.”


Bip


Sambil menunggu Haidar tiba, Alina memilih jalan-jalan di area kampus untuk melihat fasilitas yang ada di sini, meskipun ia sudah tahu dari internet.


Saat asik berjalan, seseorang menghampiri nya, “Mau di temenin kelilingnya?” tanya orang tersebut.


Alina menoleh ke arah suara itu, “Ehem gak usah deh kayaknya.” jawab Alina menolak ajakan itu.


“Gue tahu semua lo jalan di kampung ini, gak mau di temani aja?” paksa orang tersebut.


Alina menggeleng lagi lalu mengamati orang yang ada di depannya, “Kakak senior yang tadi bukan, sih?”


Orang tersebut mengangguk lalu tersenyum, “Gue Adriel sambil mengulurkan tangannya.


Alina menyambut dengan sopan, “Alina, kak.”


Adriel tersenyum manis, bohong kalau Alina tak suka melihat senyum itu. Eh hanya senyum loh, jangan pada marah ya!!


“Jadi mau gue temenin atau enggak nih?” tanya Adriel lagi.


Saat ingin menjawab, ponsel Alina kembali berdering dan menampilkan nama yang tadi, yaitu Haidar. Dengan cepat Alina menerima panggilan itu.


Haidar sudah ada di depan kampusnya dengan segera ia harus menghampiri kekasihnya itu lebih dulu baru mengambil mobilnya di parkiran.

__ADS_1


“Mungkin lain kali kak, gue harus cabut sekarang. Thanks ya buat tawarannya.” seru Alina tanpa menunggu jawaban dari Adriel, ia langsung melangkah meninggalkan nya.


Saat sudah di depan gerbang, Alina mencari di mana letak mobil Haidar dan akhirnya ketemu, Alina langsung berjalan ke arah mobil Haidar tersebut dan masuk ke dalam.


“Kaku ngapain?” tanya Alina.


“Jemput kamu.” sahut Haidar.


Alina terkekeh, “Aku bilang kan bawa mobil, sayang.”


“Tapi aku kangen!” seru Haidar membuat Alina gemas dengan tingkah Haidar akhir-akhir ini.


Alina merapikan rambut Haidar dengan lembut, “Ini ketemu, gimana kalau kita mampir ke cafe biasa?”


“Okay.” setuju Haidar lalu menyalakan mesin mobilnya, belum sempat melakukan suara Alina terdengar.


“Aku ambil mobil di parkiran, kita jalan iring-iringan ya?” Haidar menghela napasnya lalu mengangguk.


Ia inginnya pergi bersama dengan Alina, bukan beda mobil! Ih Alina gak peka banget sih.


Setelah itu keduanya beriringan menuju cafe biasa mereka kumpul bersama dengan sahabatnya yang lain. Saat sampai keduanya langsung masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang kosong.


Pelayan di sana langsung menghambat mereka dan memberikan buku menu untuk mereka memilih pesanan. Selesai memesan makan, sambil menunggu pesanan itu datang, mereka kembali mengobrol.


“Gimana?” tanya Haidar membuat Alina gemas, masih saja suka singkat kalau bicara.


“Kebiasaan deh, yang jelas coba nanyanya!” gerutu Alina.


Haidar menarik napasnya, “Gimna tadi di kampus?”


Alina menceritakan semuanya yang terjadi di kampus tadi, Samapi akhirnya ia bertemu dengan Hellena dan meras cocok berteman dengan sosok cewek itu.


“Jangan langsung percaya sama orang ya.” Haidar seakan mengingatkan Alina, karena Alina tipe orang yang mudah bergaul, Haidar takut nantinya Alina tersakiti.


Alina mengangguk, “Iya sayang.”


Lalu sekarang Haidar yang bercerita bagaimana tadi di kampus nya, semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Haidar berkata banyak yang menggoda nya, entah teman seangkatan atau seniornya.


“Tuh kan sebal deh ih, terus respon kamu gimana?” tanya Alina.


Alina hanya diam sambil memasang wajah dinginnya seperti dulu. Alina kesal karena Haidar tidak menjawab pertanyaan.


“Ih Haidar, jawab!” teriak Alina.


“Yah kaya gitu respon aku.” sahut Haidar membuat Alina bingung.


“Maksudnya?”


“Iya kaya tadi, diem dan dingin!” jelas Haidar membuat Alina berkata oh tanpa suara.


“Awas aja ya kalau sampai kamu tergoda sama salah satu dari mereka! Aku gak segan-segan tarik rambut cewek itu!” ancam Alina.


Haidar terkekeh, “Emangnya bisa? Kayaknya Alina yang aku kenal gak segarang itu deh.” goda Haidar membuat Alina memanyunkan bibirnya.


Haidar mengacak rambut Alina gemas, lalu menyubit pipinya. “Gemas banget pacar aku.” seru Haidar.


Tak lama pesanan mereka datang, berbarengan dengan datangnya Elsa, Lio, Nanda dan Edo tanpa adanya Meilla.


“Ternyata disini juga lo berdua!” sapa Nanda saat melihat Alina dan Haidar.


Lio meminta pelayan untuk menambahkan bangku serta meja untuk mereka seperti biasa. Setelah selesai mereka duduk berbarengan di sana.


“Gimana kampus kalian? Pasti seru ya kan kalian rame-rame!” seru Alina.


Keempat nya mengangguk, “Yah setidaknya kita gak sepi-sepi amat sih, dari pada lo berdua yang akhirnya sendiri-sendiri.” goda Lio terkekeh.


“Sialan lo!” seru Haidar dan di ketawain oleh semuanya.


“Meilla, kapan berangkat Do?” tanya Alina pada Edo, karena ponsel Meilla tidak aktif dari kemarin.

__ADS_1


“Dia bilang sore ini, mau ke rumah dia gak sebelum dia berangkat?” seru Edo.


Semua mengangguk, “Yaudah abis ini kita langsung ke sana ya.” seru Edo dan di anggukin lagi oleh semuanya.


__ADS_2