Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
sakit hati


__ADS_3

Kericuhan dan keributan yang terjadi di jalan sepi ini tidak bisa di hindarkan, padahal Dimas sudah mencoba untuk mencegah semuanya. Dimas tidak mau almarhum Aldo, sang ketua di SMA Nuansa sedih karena melihat peperangan ini lagi.


Saat ingin menghentikan semuanya, tiba-tiba ada suara perempuan yang mampu menghentikan semua yang sedang berduel tadi. Siapa lagi kalo bukan Alina di sana bersama dengan kedua sahabatnya.


Haidar kaget karena melihat Alina datang ke sini, begitu pula anak nuansa yang lainnya. Untuk apa Alina kesini dan dari mana dia tau kalo mereka sedang berkelahi di tempat ini? Mungkin itulah yang ada dipikiran mereka, terutama Haidar.


"STOP!" Teriak Alina sekencang yang ia bisa.


Semua mata langsung tertuju padanya, dengan tatapan yang berbeda-beda, ada tatapan yang memuja ada juga tatapan benci saat melihat Alina.


"Lo ngapain ke sini Alina? Bahaya!" Ujar Edo sambil menghampiri Alina yang tengah berdiri di atas trotoar.


"Haidar mana?" Pertanyaan itulah yang muncul tanpa Alina menjawab pertanyaan dari Edo tadi.


Meilla hanya menggeleng, sudah nyerah dia memberitahu sahabatnya kepala batu itu. Edo melirik ke arah ma, seakan meminta penjelasan tetapi Meilla hanya mengangkat bahunya.


Haidar yang namanya di panggil langsung menghampiri Alina, dengan luka sobek di bibirnya.


"Ya Allah Haidar, Lo terluka! Kita ke rumah sakit sekarang!" Ujar Alina panik.


"Ngapain?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Haidar.


"Kok malah nanya ngapain? Ya, biar lo di obati. Lah, lagian ngapain sih pake segala berantem kaya gini, gue tuh gak usah di bela. Kan gue bilang Lo jangan sakit, kalo Lo sakit siapa yang bakal nyakitin gue Haidar!" Cerocos alina, bukannya membuat Haidar senang malah membuat nya emosi.


Karena apa? Yang pertama karena Alina mengacaukan semuanya, yang ke dua omongan Alina tadi seakan menjatuhkan harga dirinya sebagai lelaki karna di kejar oleh seorang perempuan dan lebih parahnya lagi Alina bilang dia yang menyakiti Alina. Tapi kan emang itu semua benaar, kenapa harus marah?


"Lo ngapain kesini tolol!" Bentak Haidar emosi.


Alina yang di bentak begitu langsung menciut apalagi ada kata kasar di belakang nya, baru pertama kali Alina mendengar itu dari Haidar, sahabat Alina dan sahabat Haidar serta anak garua pun kaget dengan ucapan Haidar.


Haidar yang merasa salah dengan ucapannya langsung menggeleng dan mengusap wajahnya kasar ia kelewatan batas hingga melukai hati wanita dengan kata-kata seperti itu.

__ADS_1


"Lo..lo bilang gue tolol Haidar?" Ujar Alina terbata karena menahan tangis.


Haidar berkali-kali menggeleng, seakan meminta maaf tetapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara apapun.


"Gue udah bilang, ngapain kita nyamperin dia! Sekarang k


Liat apa yang dia lakuin ke lo, bahkan dia bisa ngomong sekadar itu sama Lo!" Ujar meilla emosi. Elsa ada di samping Meilla untuk menangkapnya gadis itu, takut malah Meilla yang kelewatan batas nanti kalo ngamuk.


Alina menggeleng l, air mata nya terus mengalir di pipinya dan tidak bisa di bendung.


"Lo bilang gue tolol? Gue kesini, cuma buat mastiin Lo gak papa Haidar!" Teriak Alina tersulut emosi.


"Dan, nyatanya lo emang baik-baik aja sekarang! Jadi gue akan pergi, tapi satu yang harus lo tau. Gue sakit hati denger Lo bilang kaya gitu, tapi memang itu Lo! Yang selalu berhasil nyakitin gue!" Bentak Alina lalu berlalu pergi dari keramaian disana.


Saat Alina dan kedua sahabatnya sudah pergi dari sana, terdengar suara tertawa dari seorang yang tak hauh dari Haidar berdiri.


"Bener kan omongan gue, kalo Lo itu emang gak suka cewek!" Cibir Alvaro sambil tertawa dan di ikuti oleh beberapa anak dari SMA Nuansa.


"Cari, cukup! Mending sekarang kita cabut, urusan kita udah selesai kan? Dan gue harap ini gak akan terulang kembali!" Ujar Dimas.


Alvaro menggeleng dan tawanya terdengar mengejek Haidar yang sudah kembali tersulut emosi dengan kata-kata Alvaro tadi.


"Alina yang se-perfect itu aja Lo tolak, gue gak habis pikir sama lo dar! Memangnya Lo suka cewek yang kaya gimana? Kaya.." cibir Alvaro lalu tertawa lagi.


Haidar langsung menghantam wajahnya membuat keduanya kembali berantem, dengan Alvaro yang terus meledek Haidar dengan kenangan mereka dulu sewaktu masih berteman baik.


"Berhenti bicara atau Lo mati sekarang di sini!" Ujar Haidar tajam.


Edo yang mendengar ujaran Haidar pun langsung menarik Haidar agar berhenti memukuli Alvaro yang sudah tidak berdaya itu. Di bantu dengan Nanda akhirnya Haidar berhasil di amankan untuk tidak memukuli Alvaro lagi.


"Lo gila, dia bakalan beneran mati kalo Lo masih terus gebukin dia!" Bentak Edo menyadarkan Haidar.

__ADS_1


Haidar yang masih tersulut emosi berusaha untuk meraih Alvaro kembali. Sedangkan Alvaro sudah di bantu dengan teman-teman nya untuk di bawa ke rumah sakit.


"Bangsat!" Teriak Haidar entah pada siapa.


Mereka hanya diam tidak ada yang berani bersuara begitu juga Edo dan Nanda yang hanya bisa diam.


"Cabut!" Perintah Haidar pada semua yang ada di sana.


"Gila emang sih Haidar, kalau udah nyangkut tuh cewek gak bisa tahan emosi!" Desis Edo pelan pada Nanda.


Nanda mengangguk, "just, udah gak usah di omongin lagi tar dia denger, kita yang di amuk!" Jawab Nanda pelan dan di anggukin oleh Edo.


Sedangkan di sisi lain, Alina yang sudah sampai lagi di kamarnya tengah menangis tersedu-sedu entah apa yang membuatnya sangat sedih.


Elsa yang sejak tadi berusaha menenangkan Alina, sedangkan Meilla hanya memandang mereka berdua. Semakin lama Meilla semakin jengah melihat situasi ini, sejak pulang dari lokasi tawuran tadi Alina tidak berhenti menangis dan meilla tidak suka melihat itu.


"Gue udah bilang Alina, stop nyakitin diri Lo sendiri?" Ujar meilla tiba-tiba membuat Alina menghentikan nangisnya sebentar lalu melirik Meilla


Elsa menggeleng memberi isyarat pada Meilla agar tidak membicarakan hal itu lagi saat ini. Tetapi memang dasar Meilla yang sama kaya Alina keras kepala tetap saja membahas itu.


"Gue bukan gak suka Lo deketin Haidar, tapi ini udah terlalu lama dan Lo gak bawa hasil apapun Alina!" Ujar meilla lagi.


"Mau sampai kapan begini terus?"


Alina melirik Meilla lalu menghela, belum sempet Alina berbicara suara Meilla terdengar lagi.


"Gue akan berhenti kalau gue udah cape Meilla dan sekarang gue belum cape!" Ujar meilla meniru suara dan kata kata Alina.


"Please Alina, buka mata lo. Haidar itu gak akan pernah Nerima lo, karena hati dia juga udah terpaku sama seseorang seperti lo terpaku sama dua!" Teriak Meilla pada akhirnya.


Alina yang mendengar itu langsung menatap Meilla seakan minta penjelasan, begitu pula dengan Elsa.

__ADS_1


Dari mana Meilla tau tentang Haidar, padahal selama ini tidak pernah terlihat Meilla dan Haidar berkomunikasi ataupun saling sapa!


__ADS_2