
Mengingat bagaimana respon Reymond semalam saat di telepon, Alina menjadi sedih. Seakan Reymond tak peduli dengannya. Tetapi setelah mendengar penjelasan Adero yang ada benarnya, membuat Alina sadar kalau ia tidak boleh bersikap seperti itu.
Haidar terdiam cukup lama sambil mengamati wajah kekasihnya, “Alasannya tidak setuju apa dulu?”
“Ehem, kan kamu tahu aku mau menikah setelah selesai kuliah, begitu pun papah. Aku takut tidak akan setuju karena itu.”
Haidar masih terus menatap Alina, “Ehem, kita yakin papah kamu kalau kita gak akan nikah saat ini. Kita cuma tunangan, dan gak akan ganggu kuliah kamu.”
Alina terdiam, “Ehem semoga papah ngerti.” seru Alina.
Haidar mengelus lengan Alina dengan pelan sambil tersenyum, “Gak perlu khawatir sayang, bukan kah cinta butuh perjuangan? Biar kita berjuang berdua ya?”
Alina mengangguk pelan, “Iya sayang.” sahut Alina.
Alina melihat jam di pergelangan tangannya, sebenar lagi kelasnya akan di mulai. Ia harus segera ke kelas agar tidak telat.
“Haidar, ke kelas yuk.” ajak Alina lalu bangkit dari duduknya.
Haidar pun ikut bangkit dan melangkah bersama dengan Alina sambil bertentangan tangan. Sebenarnya, Haidar pun gelisah tentang ini, ia pun takut kali tujuannya tidak di setujui oleh orang tua Alina. Karena restu orang tua itu sangatlah penting.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Alian dan Haidar sudah selesai kuliah. Saat melihat grup di ponsel masing-masing yang berisi para sahabatnya, ternyata Lio mengajak berkumpul di cafe biasa.
Haidar mengajak Alina untuk ke sana, tetapi entak mengapa Alina sedang malas pergi kemana-mana, dan ingin segera pulang untuk melanjutkan tidurnya yang kurang semalam.
“Kamu aja deh ya, aku ngantuk.” seru Alina.
Haidar mengerutkan keningnya, bingung dengan respon Alina yang tidak seperti biasanya, “Kamu kenapa, sayang?” Tanaya Haidar khawatir.
Alina menggeleng, “I’m okay Haidar, aku cuma lagi malas aja ” sahut Alina.
“Yaudah aku temenin kamu di rumah aja, gimana?”
Alina menggeleng lagi, “Gak boleh sayang, di rumah gak ada kakak. Kayaknya mba Eni pun lagi pergi deh. Aku gak mau jadi fitnah nanti.”
Haidar menghela napasnya, “Kaku di dalam rumah, aku di depan sama pak satpam gak papa.”
Alina terkekeh mendengar ujaran itu, “Ngaco dasar, udah kamu pulang atau ke cafe aja. Beneran aku lagi malas banget deh, ngantuk juga.”
Haidar terdiam cukup lama, lalu pada akhirnya mengangguk lemah. Moodnya jadi turun saat melibat Alina yang nampak tak semangat.
“Yaudah ayo aku antar kalau pulang, Supir udah nunggu di depan.” seru Haidar.
Alina hanya mengangguk lalu melangkah bersama dengan Haidar.
__ADS_1
“Haidad, maaf ya. Jangan bete gutu dong, senyum.” seru Alina sambil menarik kedua pipi Haidar dengan gemas saat meras sudah masuk ke dalam mobil.
Haidar terpaksa tersenyum agar Alina tak sedih, “Nih senyum.” ketus Haidar.
Alina tau kalau Haidar nampak kecewa, tetapi mau bagaimana lagi ia pun sedang malas untuk pergi ingin jadi kaum rebahan dulu kaya yang baca cerita ini.
Mobil melaju ke arah rumah Alina, di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka tidak seperti biasanya. Hingga akhirnya mereka telah sampai di tujuan. Haidar turun lebih dulu lalu Alina menyusul.
“Kamu mau kemana setelah ini?” tanya Alina.
Haidar mengangkat bahunya, “Entah lah.” seru Haidar.
Alina mengangguk, mengerti bagaimana perasaan Haidar, “Kemana pun kamu, aku tetap di hati kamu kan?”
Haidar mengangguk.
“Kabarin aku ya kemana kamu pergi setelah ini, aku pun akan ngabarin kamu, kalau aku gak tidur.” kekeh Alina untuk mencairkan suasana.
Haidar mengangguk, “Iya, yaudah selamat istirahat sayang, aku pergi dulu ya.” seru Haidar.
Alina mengangguk lalu merentangkan tangannya, Ingin memeluk Haidar. Tanpa menunggu lama, Haidar masuk ke dalam pelukan Alina dan mengecup kepala Alina beberapa kali.
“I love you haidar.” seru Alina.
“I love you too, Alina.” balas Haidar.
Alina masuk ke dalam rumah, ia sudah menyusun acara hari ini di rumah. Bersih-bersih, setelah itu menonton film sampai tertidur. Nikmat mana yang engkau dustakan coba!
...****************...
Sekarang pukul 7 malam, tak di sangka Alina akan tidur selama itu. Selama itu pula banyak pesan dari Haidar yang tidak Alina baca. Dengan cepat Alina memberitahu Haidar kalau dirinya baru saja bangun dari tidur dan meminta maaf karena terlalu lama.
“Secapek itu kah gue?” seru Alina sambil melangkah memasuki kamar mandi.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam kamar mandi. Alina terkejut saat melihat Elsa dan Meilla yang sudah duduk manis di atas karpet bulu dekat kasurnya. Sejak kapan mereka datang?
“Anjir lo berdua kaya hantu, tiba-tiba Dateng tak di undang!” seru Alina sambil menggosokkan handuk ke rambutnya.
“Lo tidur kaya kebo anjir! Tahu gak gue sama Meilla udah di sini dari jam 5 anjir!” gerutu Elsa.
Alina duduk di kursi meja riasnya, dan mulai ritual seperti cewek-cewek pada umumnya, yaitu memakai skincare.
“Yang nyuruh lo pada ke sini siapa?” ketus Alina tak terima di salahkan.
“Cowok lo tuh, repot banget karena chat dia gak lo bales! Kaya orang kebakaran jenggot tahu gak sih.” gerutu Elsa.
__ADS_1
Alina menggeleng, “Padahal gue udah bilang sama dia, kalau gue gak bales berarti gue tidur.”
“Iya tapi tidur lo kaya orang mati, makanya dia nyuruh kita kesini!” sahut Meilla.
Alina terkekeh, “Capek, jadi begitu.”
Elsa melempar ke arah Alina dan tepat sasaran mengenai kepala belakang Alina, membuat Alina menggerutu.
“Buruan, di tungguin tuh di bawah!” ketus Elsa.
Alina mengerutkan dahinya, “Di tungguin siapa?” tanya Alina.
“Yah Haidar lah, siapa lagi anjir! Pake nanya segala, ah lo!” kesel Elsa.
Alina kaget, “Haidad ada di sini juga?”
“Bukan cuma Haidar, tapi sama yang lainnya juga.” seru Meilla lalu bangkit dan keluar dari kamar Alina lebih dulu, di susul oleh Elsa baru lah Alina.
Benar, di ruang tamu rumahnya ada kekasih dan para sahabatnya. Entah apa tujuan mereka kesini, tapi pasti yang jelas semua karena ulah Haidar. Ah Haidar so sweet atau protective sih?
“Loh, Haidar? Kamu ngapain?” tanya Alina yang langsung duduk di bangku kosong dan kebetulan ada di sebelah Haidar.
Itu bukan kebetulan kali, memang di sediakan khusus untuk Alina!
“Nungguin kamu bangun tidur.” jawab Haidar santai.
Alina melongo mendengar jawaban dari Haidar, “Iya ngapain sampai di susul ke rumah? Kan aku bilang kalau aku gak bales chat berarti aku tidur.”
“Iya tau, tapi aku tiba-tiba kangen sama kamu. Makanya aku ngajak mereka ke sini, biar ramai.” jawab Haidar.
Alina menggeleng, tak habis pikir dengan Haidar yang sekarang. Apakah ini yang di namakan dengan bucin?
“Ah sudah lah gak usah berantem, mending makan malam. Laper banget anjir nungguin Alina bangun doang!” gerutu Lio.
Elsa dan Lio cocok ya, itu lah jodoh cerminan diri kita sendiri.
“Nah betul tuh, laper udah waktunya makan malam juga!” timpal Nanda.
Alian bangkit dari duduknya untuk melihat ke meja makan apakah Eni masak makan malam, ah ya Alina lupa kalau Eni sedang pergi malam ini dengan Agus satpam komplek itu loh!
“Pembantu gue gak ada, ini semua makanan dari mana?” seru Alina saat melihat beberapa cemilan berada di atas meja.
“Beli lah, Haidar udah bilang kalau di rumah Lo gak ada orang makanya sebelum ke sini kita beli dulu!” sahut Nanda.
Haidar bangkit dari duduknya sambil menggenggam tangan Alina, “Kita makan malam di luar, gue yang teaktir!” seru Haidar dan menarik tangan Alina keluar rumah.
__ADS_1
Sedangkan yang lain berteriak senang, kata-kata itu lah yang mereka tunggu sejak tadi dan akhirnya kesampaian juga. Haidar emang sahabat yang paling pengertian!