
Saat keduanya terbawa suasana di balkon hotel dengan angin tertiup kencang. Membuat Haidar ingin mencuri ciuman di bibir Alina.
Wajah Haidar sudah mendekat ke arah wajah Alina, dan Alina pun menutup matanya seakan menunggu apa yang akan Haidar lakukan padanya.
Tanpa di sangka saat sedikit lagi wajah mereka hampir bersentuhan, saat itu pula ada seseorang Yanga datang dan mengangetkan keduanya.
“Eg ya ampun!” seru Alvaro yang tidak sengaja melihat pemandangan itu.
Yaps Alvaro yang memang di undang oleh orang tua Meilla karena mereka sekarang partner bisnis. Bukan karena melihat Alina di balkon dengan Haidar, melainkan karena Alvaro ingin merokok di tempat ini.
“Alvaro?” respon Alina sedangkan Haidar menatap Alvaro dengan tatapan tak suka sama sekali.
Alvaro menggaruk tengkuknya yang padahal tidak gatal, “Sorry, gue beneran gak sengaja.” seru Alvaro.
Wajah Alina terlihat merah karena malu, sedangkan wajah Haidar terlihat merah karena menahan emosi. Haidar jadi mengingat masa lalu, kejadian yang hampir sama dengan Diana waktu itu dan di pergokin pula oleh Alvaro.
“Sialan nih anak!” seru Haidar dalam hati.
Mata Haidar masih terus menatap Alvaro, tetapi yang di tatap malah menatap Alina dengan dalam. Alvaro merasa rindu mendengar suara gadis itu, rindu dengan wangi tubuh Alina.
“Apa kabar Lin?” seru Alvaro.
Alina mengangkat wajahnya, “Baik, lo gimana?” tanya balik Alina.
Haidar tak suka mendengar itu semua, tak suka Alvaro berkomunikasi dengan Alina. Haidar takut Alvaro masih berusaha mengambil hati Alina darinya, Alvaro adalah musuh terbesar nya sampai saat ini.
“Kita masuk!” seru Haidar sambil menggenggam tangan Alina.
Alvaro menahan satu tangan Alina yang tidak di genggam oleh Haidar. “Kasih gue waktu buat ngobrol sebentar sama Alina. Ada yang mau gue omongin sampa dua!” pinta Alvaro.
Haidar langsung menepis tangan Alvaro agar tidak menyentuh kekasihnya, “Jangan pernah bermimpi untuk itu!” seru Haidar lalu menarik Alina menjauh dari sana.
Alina merasa bersalah pada Alvaro, kelakuan Haidar tadi menurut nya sangat kasar, toh Alvaro hanya ingin berbicara dengannya kan? Alina memberi kode pada Alvaro, untuk menghubungi nya nanti. Alvaro hanya bisa tersenyum dari kejauhan melihat Alina semakin jauh.
“Semakin gak ada celah buat gue dapetin lo Lin, gue harus ikhlas kalau lo bahagia sama Haidar!” seru Alvaro pada dirinya sendiri, sambil tangannya menyalahkan penarik untuk membakar nikotin tersebut.
...****************...
__ADS_1
Setelah semua masalah selesai, kehidupan kembali berjalan seperti semula. Kali ini tidak ada liburan kemanapun, di karena kondisi Meilla yang masih sangat rentan. Bahkan Meilla akhirnya mengambil cuti kuliah, karena memang ia mengalami mual yang sangat hebat.
Fandi pun mengizinkan nya, bahkan menyuruh untuk Meilla tidak melanjutkan kuliahnya dan faktor pada calon cucu nya. Tetapi Meilla masih harus berpikir lebih dulu, akali kondisi tubuhnya bisa di ajak kerjasama, ia memilih untuk terus melanjutkan kuliahnya.
Alina dan Haidar pun kembali kuliah, seperti biasa mereka selalu berangkat bersama dan pulang bersama karena jadwal mereka tidak bentrok.
Seperti biasa pula, di kampus ada yang suka dan ada yang tidak suka saat melihat mereka bersama. Kebanyakan yang tak suka adalah mahasiswi karena mereka itu dengan Alina yang bisa berada di samping Haidar.
Cowok dengan pahatan sempurna di wajahnya, membuat kaum hawa merasa terhipnotis dengan wajah Haidar itu.
Tetapi tidak sedikit pula, mahasiswa yang suka dengan Alina karena memang Alina termasuk cewek cantik di jagat ini. Mereka itu pasangan yang sempurna, sama-sama cakep dan pinter. Bayangkan kalau mereka punya anak, akan seperti apa anak mereka?
Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?
Saat ini Alina dan Haidar sedang berada di kantin karena mereka baru saja keluar dari kelas nya. Keduanya makan siomay yang terkenal enak di kampus ini
Tanpa di duga, seseorang duduk di samping Ali a tanpa permisi sama sekali. Alina dan Haidar kaget dengan kedatangan orang tersebut dan melihat siapakah dia?
Ternyata Alister, dengan wajah tidak berdosa nya dia di samping Alina kalau merangkul bahu Alina dengan gampangnya.
Haidar yang melihat itu pun langsung tersulut emosi, karena sama saja Alister itu telah mengibarkan bendera perang dengannya.
Tetapi hal itu tidak di dengarkan oleh Alister dan cowok itu hanya tertawa kecil sambil melirik Haidar dan Alina secara bergantian. Tanpa Alister duga, Alina langsung menurunkan tangan Alister dengan keras hingga tangannya terbentur meja.
“Aws sakit sayang!” seru Alister sambil meringis.
Haidar semakin muak dengan tingkah lakunya Alister yang menurutnya sangat kurang ajar. Mana mungkin tunangan diam saja saat mendengar ceweknya di panggil sayang oleh laki-laki lain.
Haidar bangkit dari duduknya, lalu menarik kerah baju yang sedang di gunakan oleh Alister. Belum sempat memukul wajah cowok itu, Tangannya di tahan oleh Hellena yang entah kapan datangnya.
Haidar melihat wajah Hellena tak suka begitu pun Hellena yang melihat wajah Haidar dengan tatapan benci.
“Dari dulu lo gak pernah berubah, selalu pakai otot kalau ada masalah pantes Diana suka takut sama lo, di!” seru Hellena sambil menatap Haidar dengan tajam.
Haidar menunjuk wajah Hellena dengan jari telunjuknya, “Lo diem, hak usah ikut campur!” tegas Haidar.
Hellena mendorong bahu Haidar dengan keras tetapi sayang, hal itu tidak berpengaruh apapun pada Haidar, “Alister teman gue, dan gue harus bantu dia. Coba Lin, ajarin cowok lo gimna caranya menahan emosi!”
__ADS_1
Haidar tak suka mendengar itu dan ingin mendorong Hellena balik, tetapi Alina sudah lebih dulu memeluk Hadar dari belakang. “Sudah ya, Hellena kan perempuan emang kamu gak malu lawan perempuan. Kita pergi aja ya?” bisik Alina pelan tetapi bisa di dengar jelas oleh Haidar.
“Untung ada Alina, kalau gak ada lo berdua habis sama gue, terutama lo, yang kurang ajar sama perempuan!” seru Haidar sambil menunjuk Alister lalu pergi bersama Alina.
Tanpa di sangka, ternyata mereka sudah menjadi bahan tontonan tadi di kantin. Hellena menatap Alister dengan khawatir.
“Lo gak papa?” tanya Hellena.
Alister hanya mengangguk lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Hellena. Melihat hal itu Hellena hanya bisa menghela napasnya.
“Semangay Hellena, bukannya Hellena butuh perjuangan?” seru Hellena pada dirinya sendiri.
...****************...
Haidar mengajak Alina untuk duduk di bangku taman. Napas Haidar terlihat masih kembang kempis karena emosinya tadi. Alina berusaha menenangkan Haidar agar emosinya cepat rendam.
“Sabar sayang, benar kata Hellena gak semua masalah harus di selesaikan dengan otot kan?” seru Alina.
“Tapi dia udah kurang ajar Lin, aku gak suka kamu di sentuh sama siapa pun selain aku. Kamu cuma milik aku!” jawab Haidar.
Alina mengelus lutut Haidar, “Iya tahu sayang, tapi kita bisa bicara baik-baik dulu. Apa tujuan dia melakukan itu, gak bisa kita pukul dua sembarangan. Kamu mau kena kasus karena hal sepele kaya tadi?”
“Itu bukan hal sepele Alina, itu hal serius!”
Alina menghela napasnya, ia pasti kalah kalau berdebat dengan Haidar yang posisinya sedang emosi dan cemburu seperti ini.
“Haidar kita udah lama ga jengukin Diana dan Olivia. Gimana kalau pulang kuliah nanti kita mampir ke makam?” usul Alina yang memang terusik tadi saat Hellena menyebutkan nama Diana.
Haidar menggeleng, “Untuk apa Alina?”
“Yah aku cuma mau kesana dan mendoakan mereka agar selalu bahagia di atas sana. Mau ya?” seru Alina.
Haidar menghela napasnya lalu mengangguk, “Iya nanti aku anterin ke sana ya. Tapi kamu ingat, aku gak suka kamu di sentuh sama laki-laki lain selain aku. Kalau dia ngelakuin hal itu lagi, aku gak segan-segan bikin tangan dia patah saat itu juga!” pesan Haidar membuat Alina merinding.
Alina menepuk bahu Haidar pelan, “Serem tahu gak sih!”
Haidar terkekeh melihat wajah takut Alina, laku di kecup kening Alina sekilas. “I love you, Alina!” seru Haidar.
__ADS_1
Tunggu bab selanjutnya ya akan seperti apa?