
Setelah berkumpul di cafe tadi, mereka semua bergegas untuk ke rumah Meilla, sebelum Meilla pergi ke Bandung sore ini. Alina sudah mencoba menghubungi Meilla setelah Haidar memberitahu pesannya waktu itu, tetapi ponsel Meilla tidak aktif.
Apa Alina di block oleh meilla? Ah rasanya tidak mungkin seperti itu. Lalu ada apa?
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit mereka langsung masuk ke dalam rumah Meilla. Untung saja Meilla masih ada di rumah dan belum berangkat.
“Saya panggilan mba Meilla dulu ya, mas.” seru pembantu di rumah Meilla.
Semuanya menunggu di ruang tamu, hingga Meilla turun dari kamarnya untuk menemui sahabat-sahabatnya. Meilla kaget, karena semuanya ada alias lengkap.
“Meilla!” teriak Alina lalu memeluk Meilla.
Meilla pun membalas pelukan itu sambil mengelus punggung Alina, “Alina!” seru Meilla sambil melepaskan pelukan itu.
Setelah pelukan terlepas, Alina mengambil napasnya dalam-dalam. “Lo kenapa harus pindah ke Bandung sih? Terus kenapa juga ponsel Lo gak aktif? Kenapa juga harus ngabarin Haidar lebih dulu dari pada gue?” pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Alina.
Meilla mengulas senyum, “Yang bilang gue mau pindah ke Bandung siapa?” tanya Meilla.
Alina mengerutkan keningnya, bingung, “Maksudnta? Bukannya lo chat Haidar waktu itu, ngasih kabar kalau lo harus kuliah di bandung?”
Meilla terkekeh, “Alina, ini semua skenario dari Haidar, gue di suruh dia chat kaya gitu tanpa chat lo juga.”
Alina semakin tidak mengerti, makannya tidak ada ucapan apapun tang keluar dari mulutnya.
“Gue di suruh Haidar, buat tau gimana respon lo waktu itu. Lo tau gak kalau kebetulan juga gue sama Edo ada di sana waktu Lo kasih tau respon lo terhadap chat itu.” jelas Meilla.
“Gue sedot kaget sih sama respon lo, tapi balik lagi kalau itu emang wajar, lo khawatir sama hubungan lo dan tandanya juga lo beneran sayang sama Haidar, sahabat terbaik gue.” lanjut Meilla.
Alina menatap Haidar yang sedang menatapnya juga, seulas senyum terbit dari Haidar tetapi tidak dengan Alina. Entah mengapa Alina merasa tidak percaya, kecewa dengan semua yang di lakukan oleh Haidar dan juga Meilla atau bahkan sama yang lainnya juga.
“Lo juga semua tau tentang ini?” tanya Alina sambil melihat ke arah mereka satu persatu dan mereka mengangguk.
“Kenap, seakan gue gak di percaya ya?” seru Alina membuat yang lain kaget karena respon itu.
“Terulang lagi seperti kemarin, gue doang yang gak tahu masalah ini, bener-bener gue kata di jadiin badut sama lo semua! Kalian ngerasain gue, karena cuma gue yang seperti orang sedih di tinggal sahabat gue!”
Alina mengatur napasnya, “Inu namanya pertemanan toxic gak sih?”
Haidar langsung menghampiri Alina untuk menenangkan gadis itu, “Alina, bukan bermaksud kaya gitu!” jelas Haidar.
Alina mundur beberapa langkah agar Haidar tidak mendekatinya, tetapi Haidar tetap berusaha mendekati Alina.
“Haidad, stop! Jangan deketin aku, aku ngerasa kecewa sama kamu. Seakan kamu gak percaya sama aku buat kamu, padahal selama ini yang berjuang aku. Harusnya yang di rest seperti ini kamu, bukan aku!” seru Alina.
“Gue balik!” ujar Alina langsung pergi dari sana, untung saja ia membawa mobil sendiri.
Menurut kalian respon Alina berlebihan gak sih?
Hadar berusaha mengejar Alina, dengan menggunakan mobilnya juga. Ia harus menjelaskan semuanya, maksud dan tujuannya.meskipun apa yang aku a bilang tadi memang benar seharusnya dia lah yang di rest seperti itu.
__ADS_1
Haidar menyesal, mengapa harus ada pikiran seperti itu. Mengapa harus meragukan lagi rasa sayang yang Alina miliki untuknya, terus kalau sudah seperti ini bagaimana?
Memang penyesalan itu selalu datang di akhir ya, karena kalau di awal itu namanya pendaftaran. Betul apa betul?
Sedangkan di sisi lain, di rumah Meilla mereka masih berkumpul memikirkan bagaimana caranya agar Ali a mau memaafkan Haidar. Mereka Apun kaget dengan respon Alina tadi, mereka pikir Alina tidak akan berpikir sejauh itu tapi ternyata...
“Kita harus bantuin Haidar, jangan sampai hubungan mereka hancur karena hal ini.” seru Lio dan di setujui oleh yang lain.
“Lagian si Haidar ada ada aja anjir, ngapain coba ngelakuin kaya gitu, gue juga kalau jadi Alina bakalan marah sih.” ujar Elsa.
“iya gue gak habis pikir sama Haidar, bisa-bisanya masih gak percaya sama rasa yang Alina kasih buat dia, kalau begitu mending Alina buat gue deh!” sahut Nanda.
“Gue jadi ngerasa bersalah sama Alina, gimana kalau kita dudukin mereka aja sekarang? Bantu Haidar buat jelasin semuanya?” ajak Meilla dan di anggukin oleh semuanya.
Akhirnya semuanya menyusul Alina dan Haidar yang entah sudah di mana, mungkin Alina pulang ke rumah makanya mereka menuju rumah Alina saja.
Di sepanjang perjalanan, Alina menangis.ia tidak menyangka akan di kerjain lagu oleh sahabatnya, meskipun dengan tujuan baik tapi entah lah Alina merasa ini tidak adil menurutnya.
Terserah kalau kalian mau bilang Alina lebay!
“Apa dulu lo ngetest Diana kaya gini juga, Dar?” Alina bermonolog dengan dirinya sendiri seakan sedang bertanya pada Haidar.
“Kalau iya mungkin wajah karena dulu Diana dekat dengan Alvaro, kalau gue kan cuma fokus sama lo. Tapi li masih gak percaya sama rasa yang gue punya buat Lo!”
“Lo sakit Dar! Apa Lo ngejalanin ini karena terpaksa? Kalau terpaksa, gue rela lepasin li Dar!” seru Alina lalu menambahkan teriakan di tangisnya.
Oh Alina, dia udah nyakitin lo tapi lo masih mikirin image dia!
Alina menuju ke makam, tempat peristirahatan terakhir Olivia dan Diana. Entah mengapa Alina jadi suka datang ke sini kalau suasana hatinya sedang seperti ini. Bercerita pada batu nisan milik Diana, membuatnya sedikit lega. Padahal tidak ada jawaban apapun dari sana, kalau terdengar jawaban Alina pun pasti langsung lari kabur, karena takut cuy!
Haidar bingung, mengapa mobil Alina marah mengarah ke makam. Tetapi tetap saja Haidar mengikuti Alina kemanapun gadis itu pergi.pokoknya masalah ini harus selesai hari ini!
Alina telah sampai di parkiran TPU, begitu pula dengan Haidar. Alina melangkahkan menuju malam Diana dan Olivia, sedangkan Haidar berjalan di belakang gadis itu. Membiarkan apa saja yang akan di lakukan Alina di sini.
“Hai Ana, gue datang lagi ke sini. Sorry kalau gue jadi sering Dateng kesini, apalagi datengnya dengan kondisi gue yang lagi kaya gini.” ujar Alina pada batu nisan.
“Entah mengapa gue ngerasa nyaman aja cerita sama Lo, meskipun lo gak pernah jawab apapun sih hehe. Pasti dulu lo orang yang sangat menyenangkan ya, bukti ya gue yang belum pernah ketemu lo aja bisa ngerasa nyaman.”
“Ana, apa dulu Haidar memperlakukan lo sama kaya dia memperlakukan gue? Ah pasti beda ya, karena lo pasti spesial banget di hati dia. Lo sama gue kan beda ya, Lo yang di kejar dia sedangkan gue yang ngejar dia!”
“Ana, gue kecewa deh sama Haidar, Lo bisa bantuin gue buat omelin dia gak sih? Kasih tau dia, gak perlu raguin lagi rasa yang gue punya buat dia, gue beneran sayang sama dia tulus kok.”
“Lo sedih gak sih denger gue curhatin pacar lo? Pasti sedih dan cemburu ya? Maafin ya Ana, tapi gue bingung mau cerita kesiapa lagi, gue ngerasa sahabat gue yang lain pun gak percaya sama gue.”
“Andai lo masih ada di sini Ana, eh tapi kalau lo masih ada, gue gak mungkin curhat ke lo begini sih, kan lo pasti jadi kekasih Haidar bukan gue.”
“Ana, kapan-kapan Dateng ya ke mimpi gue, gue mau cerita banyak sama lo. Bahagia juga di sana ya, gue pamit dulu soalnya pacar lo ada di belakang tuh mungkin mau nemuin lo juga.”
Seru Alina lalu bangkit dan kembali berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
Rasanya sedikit lega mencurahkan isi hatinya, meskipun masih ada rasa kecewa sedikit sih. Haidar terus mengikuti Alina dari belakang , hingga di parkiran Haidar menarik tangan Alina.
“Alina dengerin penjelasan aku dulu!” seru Haidar sedangkan Alina sedang berusaha melepaskan cengkraman tangan haidar.
“Gak perlu jelasin apa-apa, semua udah jelas. Kamu masih belum percaya samA aku, buat apa lagi?” tolak Alina.
“Bukan begitu maksud aku, Alina please maafin aku. Aku tau aku salah, seharunya gak ngelakuin itu.”
Alina tersenyum simpul, “Gak perlu minta maaf, karena apapun yang di lakukan seseorang itu pasti punya alasan masing-masing kan?” seru Alina semakin menambah rasa bersalah Haidar.
“Alina pl ase, Jagan pernah tinggalin aku.” mohon Haidar.
Alina menggeleng, “Gak ada yang bilang aku akan ninggalin kamu Haidar, aku butuh waktu sendiri sebentar aja, kamu ngerti kan perasaan aku?”
Haidar mengangguk, “Nanti malam aku jemput untuk makan makan di rumah ya?” ajak Haidar dan Alina menggeleng.
“Maaf Haidar, mamah papah ngajak aku makan malam di luar untuk ketemu sama teman lama mamah katanya.” beritahu Alina yang memang benar adanya begitu.
Haidar menghela napasnya, “Kabarin aku ya?” Alina mengangguk lalu segera masuk k dalam mobil karena cengkraman Haidar sudah terlepas.
Tanpa pamit lagi Alina langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Karena sekarang sudah hampir magrib dan ia harus langsung bersiap-siap untuk ikut makan malam bersama dengan teman mamahnya.
Menghabiskan waktu di jalanan, dengan jalanan yang cukup macet membuat Alina sedikit lelah. belum lagi saat sampai di rumah, Mira menyuruh agar cepat bersiap-siap tanpa di beri waktu untuk beristirahat sebentar.
Mira dan Reymond menunggu anak gadisnya di ruang keluarga, setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam akhirnya Alina sudah siap untuk ikut makan malam bersama dengan orang tuanya.
“Lagian kamu kemana dulu sih, tadi teman-teman kamu ke sini. M reka bilang kamu sudah pulang bersama Haidar, tapi gak sampai-sampai.” seru Reymond di dalam mobil karena mereka sudah berjalan menuju lokasi makan malam.
“Pacaran!” sahut Alina.
“Alina, kamu sudah kuliah. Mamah gak larang kamu berhubungan sama Haidar, tapi kamu harus tahu waktu juga, gak setiap saat kalian harus bersama bukan?” ujar Mira.
Alina mengangguk, “Iya mah, maaf.” sahut Alina pelan.
Tak memakan waktu lama karena jalanan tidak terlalu macet, mereka sudah sampai di restoran yang sudah di lesan oleh teman Mira, baru mereka yang sudah sampai.
“Mah kenapa harus ajak alina sih, ini kan acara orang tua!” tanya Alina yang heran mengapa ia di suruh ikut.
Alina memicingkan matanya pada kedua orang tuanya, “Jangan bilang, kalian mau ngadain perjodohan Alina sama anaknya teman mamah ya?” tuduh Alina membuat Reymond dan Mira terkekeh.
“Kebantakan nonton drama nih anak!” seru Reymond.
“Tahu aneh deh kamu! Mamah sama papah kan tau, kamu sudah punya Haidar buat apa juga nyariin jodoh buat kamu lagi, yang ada buat kakak kamu tuh!” seru Mira.
Alina terkekeh. “Yah abisnya kebanyakan novel yang Alina baca begitu sih, ujung-ujungnya di jodohin sama anaknya temen orang tuanya!” Reymond dan Mira hanya menggeleng.
“Tapi kenapa, Alina di ajak?” tanya Alina lagi
...Menurut kalian Alina itu gimana sih....
__ADS_1