Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Kondisi terkini 2


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Diana dan Olivia, Alina memutuskan untuk segera kembali ke dunia di dunia yang penuh dengan drama, alias panggung sandiwara. iya kan?


Tetapi entah mengapa Alina semakin tersesat di jalan itu dia tidak menemukan jalan lagi benar-benar dingin harus bagaimana kita sampai akhirnya namanya dipanggil oleh banyak orang. Tetapi ia tidak tahu dari mana asal suara itu.


Alina melangkah mengikuti asal suara itu, sampai akhirnya cerah itu tertinggal dengan sangat jelas. Alina menemukan dua pintu saling berdampingan di sana. Alina tidak tahu pintu mana yang memanggil namanya.


Alina membuka salah satu pintu tersebut dan terlihatlah cahaya yang begitu bersinar di sana. tanpa alinea sadari ia telah masuk ke dalam cahaya tersebut hingga akhirnya tidak dapat melihat apapun lagi.


...****************...


Suster penjaga di dalam ruangan 5 ada 3 orang, dan mereka kaget saat monitor perekam detak jantung tiba-tiba bergerak lurus. maka dari itu perawat menekan tombol yang langsung terhubung ke ruang dokter jaga malam ini


Dengan tergesa-gesa dokter langsung melangkah menuju surga tanpa pikir panjang dokter langsung membantu alinea dengan tindakan jantung agar tetap jantungnya kembali.


Sudah hampir menghabiskan waktu 3 menit, belum ada perubahan lagi titik dokter pun melakukan hal itu lagi selama beberapa kali tetapi hasilnya tetap sama tidak ada kemajuan apapun.


Hingga akhirnya Oma dokter menyalakan kalau pasien telah meninggal dunia kepada para suster di sana. tanpa disangka tiba-tiba Alina terbaru dan monitor kembali menyala dengan detak jantung normal seperti orang sehat pada umumnya.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itupun terkaget dengan kejadian ini. memang kejadian seperti yang ini memang sering terjadi, pada pasien memang sangat disayang oleh orang di sekitar. kabupaten dokter Budi, ini namanya kekuatan cinta.


Alina sudah membuka matanya dengan sempurna bahkan semuanya akan langsung terbit busana dikit walaupun wajahnya masih terlihat pucat, dan tubuhnya masih lemas.


"Saya ingin periksa kamu dulu ya!" seru dokter yang tadi sempat melamun karena kejadian sebelumnya.


Alina mengangguk pelan, membiarkan sang dokter memeriksa semuanya. Dokter memeriksa semua dengan detail, dan menyatakan kalau Alina telah membaik, bahkan sangat baik seperti sedia kala.


"kondisi kamu sudah sangat baik, sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya dokter.


Alina menggeleng pelan, "Hanya lemas, dok!" jawabnya pelan.


Dokter mengangguk, "baik setelah ini, biar suster memberikan kamu obat agar kondisi kamu semakin membaik. Sus, boleh bereskan semua alat karena pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat!"


"Baik dok!" Jawa salah satu suster.


Saat dokter ingin melangkah keluar, tiba-tiba Alina memanggilnya kembali membuat sang dokter kembali menatap Alina.


"Dok, boleh bantu saya?" seru Alina.


Dokter mengangkat alisnya, "Bantu apa?"


"Tolong bilang ke keluarga saya, kalau saya tidak bisa melewati ini semua. saya hanya ingin tahu respon mereka, dok!"


Dokter benar-benar tidak mengerti dengan pasien nya yang satu ini. Karena ia mendengar kabar, kalau pasien nya ini banyak yang sayang. Terlihat dari awal pasien di bawa ke rumah sakit ini hingga saat ini masih ada beberapa orang yang menjaganya. Biasanya setiap pasien hanya di tunggu oleh satu atau dua orang saja.


Dokter menggeleng, "Maaf saya tidak bisa, itu melanggar SOP di rumah sakit!" tolak dokter.


Alina menghela napasnya, "Saya hanya ingin tahu apakah mereka benar-benar sayang sama saya dok. Saya begini karena masalah dengan salah satu anggota keluarga. jadi saya mohon dok!"


Setelah berpikir, akhirnya dokter menyetujui permintaan Alina. Makanya ia memberitahukan keadaan Alina pada Haidar dan yang lain dengan cepat lalu pergi sebelum mereka bertanya lagi.


Saat Haidar dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan itu. Alina tahu, bahkan Alina bisa mendengar semua percakapan mereka dengan para suster. Alina teriris melihat Haidar yang memang terdengar sangat sedih.


Benar apa yang di bilang Diana, kalau Haidar sangat terpukul dengan kondisi Alina saat ini. Tunggu, Diana? Alina tersenyum saat keajaiban waktu ia bertemu dengan Diana dan Olivia entah di mana.


Alina senang akhirnya bisa melihat wajah Diana yang memang sangat cantik. Begitu pula dengan Olivia yang memang sangat lucu. Kedua gadis itu nampak sangat bahagia di sana, dan Alina pun ingin ikut mereka namun di larang oleh Diana. Karena tugas Alina di dunia nyata ini belum selesai.


Saat Haidar di tarik paksa keluar oleh sahabatnya, Alina menangis dalam diam melihat orang-orang ternyata sayang kepadanya sampai seperti itu.

__ADS_1


"Maafin aku Haidar!" hanya itu yang keluar dari mulut Alina saat itu.


...****************...


Entah mengapa Haidar merasa kalau suster di dalam itu lama sekali membereskan alat-alat bekas Alina tadi. Sekarang sudah pukul 6 pagi, artinya sudah hampir 4 jam mereka tidak di beri kepastian tentang kondisi Alina yang sebenarnya.


Saat Haidar mencoba ingin masuk lagi ke dalam ruangan, saat itu pula ruangan tersebut terkunci dari dalam. Hal itu membuat Haidar semakin emosi, merasa di permainkan oleh rumah sakit ini.


"Gak bisa kaya gini terus, gue harus telepon bokapnya Alina untuk mindahin Alina ke rumah sakit lain!" kesal Haidar yang akhirnya mendial nomer telepon Raymond.


Yang lain tidak protes karena memang apa yang di bilang Haidar sekarang benar. Tidak di beri kepastian apapun dari rumah sakit tentang bagaimana kondisi sahabatnya. Kalau pun di nyatakan meninggal kenapa tidak boleh ada yang melihat jenazahnya?


Tak lama panggilan Haidar di jawab oleh Raymond. Dengqahan berat hati, Haidar memberikan kabar tentang kondisi Alina saat ini, yang katanya Tuhan berkehendak lain, yang sampai sekarang Haidar tidak mengerti maksud nya apa.


...****************...


Kabar yang di berikan oleh Haidar, mampu membuat Raymond terjatuh hingga ponselnya terpental ke bawah. Mira yang kebetulan berdiri di samping Raymond, langsung sigap menahan tubuh suaminya itu.


"Pah, ada apa?" tanya Mira yang menuntun Raymond untuk duduk di tepi ranjang dan kembali mengambil ponsel Raymond masih tersambung oleh Haidar.


"Halo, Haidar, ada apa nak? Ini papah sampai shock, apa ada sesuatu yang terjadi pada Alina?" tanya Mira pelan dengan perasaan yang gemuruh, karena takut.


Haidar kembali menjelaskan, tentang kejadian tadi malam sampai dengan di pagi ini. Haidar bilang kalau mereka tidak di perbolehkan masuk untuk melihat Alina, untuk memastikan bagaimana kondisi yang sebenarnya dan meminta Mira untuk memindahkan Alina ke rumah sakit lain.


Mira yang mendengar itu pun sama, terkulai lemas begitu saja sebelum akhirnya panggilan itu berakhir. Mira menangis di pelukan Raymond, begitu pula sebaliknya. Tangisan yang amat sangat pedih.


Raymond tak menunggu lama, Raymond langsung mengambil kunci mobil untuk di gunakan ke rumah sakit. kali ini ia membutuhkan Adero untuk menyetir mobil ke rumah sakit, Karen kondisi nya yang lemas tidak memungkinkan.


"Adero!" teriak Reymond dengan sisa tenaga yang ia punya.


Untung saja Adero langsung mendengarnya, dan turun ke bawah menemui kedua orang tuanya sednang menangis.


pasti ada sesuatu yang terjadi lagi pada adiknya itu.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Reymond sambil memberi kunci mobil pada Adero.


Tanpa bertanya lagi, Adero ikut melangkah bersama orang tuanya menuju mobil yang akan ia kendarai menuju rumah sakit. perasaannya campur aduk, sudah tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata.


Setelah ikut bermacet-macetan ria bersama dengan penggunaan jalan lainnya, akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit. Adero menurunkan Reymond dan Mira di lobby. sedangkan ia memarkirkan mobilnya lebih dulu ke parkiran.


Kedatangan Raymond, membuat Haidar langsung lari dan memeluk calon mertuanya itu. Menangis di dalam dekapan Raymond, begitu pun Raymond. Tangisan mereka saling menyahut satu sama lain.


"Pah, cepat pindahin Alina ke rumah sakit lain!" Seru Haidar menggebu-gebu.


Raymond mengangguk lalu berjalan ke ruangan yang di dalamnya ada Alina, dan ternyata ruangan tersebut masih terkunci rapat. Hal itu pun membuat emosi Raymond timbul.


"Papah akan laporin ini semua ke polisi!" Seru Raymond cukup keras sampai suster yang berada di dalam pun mendengar nya.


Suster pun menjadi takut, dan memberitahu masalah di depan kepada Alina yang tengah berbaring.


"Mba, maaf kayaknya kita sudahi saja ini semua. Seperti nya orang tua mba akan melaporkan rumah sakit ini kepolisian, kami tidak mau hal itu terjadi mba, itu bisa membuat nama rumah sakit kami jelek!" Beritahu suster yang memang sejak tadi menguping di balik pintu.


Alina yang mendengar berita itu pun menjadi tidak tega pada para suster yang sejak tadi membantu nya. Alina akhirnya mengangguk lalu tersenyum.


"Sus, saya boleh turun dari tempat tidur gak?" Tanya Alina pelan yang memang kondisinya masih lemas.


"Apa mba, ada merasakan sakit?" Tanya suster 1.

__ADS_1


Alina menggeleng, "Saya gak merasakan sakit apapun kok sus, hanya ingin bertemu para keluarga saya di depan menggunakan kursi roda!"


Suster celengak celenguk mencari kursi roda di ruangan itu, nyatanya tidak ada di sana.


"Maaf mba, di sini gak ada kursi roda. Mau saya ambilkan dulu ke depan?"


Alina menggeleng, "Gak perlu sus, apa saya mau di bawa ke ruang rawat sekarang?"


Suster menggangguk, "Iya mba, apa kami sudah boleh membuka pintunya sebelum Keluarga mba melapor kan masalah ini kepolisi?"


Alina mengangguk, "Iya sus, apa boleh tempat tidur saya lebih tinggi hingga posisi sedikit duduk?"


Suster mengangguk lalu menaikkan posisi kasur Alina hingga akhirnya Alina terduduk di ranjang yang hampir 2 hari ia tiduri itu.


Salah satu sister membuka pintu ruangan hingga terbuka lebar, membuat siapapun yang ada di sana langsung mendekati ke arah pintu. Raymond yang sedang memegang ponsel nya, langsung di simpan dan ikut mendekat.


"Sus, mana anak saya!" Seru Raymond saat melihat sister yang membuka pintu keluar dari ruangan.


Sebelum suster menjawab, dua suster lain pun keluar sambil mendorong tempat tidur dengan seorang pasien di sana. Pasien yang seharusnya berbaring karena di nyatakan meninggal, tetapi pasien ini duduk dengan wajah nya di tutupi oleh selimut rumah sakit.


Semua yang melihat itu pun kebingungan, siapa pasien di balik selimut itu. Apakah Alina atau bukan?


Saat ingin melintasi mereka semua, Haidar yang masih gak percaya pun langsung menarik selimut tersebut itu tanpa aba-aba hingga terbuka lah selimut itu dan menampilkan wajah pucat Alina sambil tersenyum ke arah mereka semua.


"Alina!" Panggil Haidar saat melihat Alina di depan matanya dengan tersenyum khas milik gadis itu.


Siapapun yang melihat itu langsung tercengang tidak percaya. Sungguh ini benar-benar tidak dapat di terima oleh logika. Bagaimana mungkin pasien yang tadi telah di nyatakan meninggal oleh sang dokter, sekarang sedang terduduk di atas tempat tidur dengan senyuman hangat.


Haidar melangkah mendekat untuk memastikan kalau itu memang benar Alina, bukan khayalan nya saja?


Tanpa di duga, tangan Alina lah yang lebih dulu menarik tangan Haidar dan di genggamnya erat.


"Haidar, aku kangen!" Seru ya pelan membuat siapapun sekarang percaya kalau itu memang Alina.


Alina langsung memeluk kekasihnya itu dengan erat, bahkan erat sampai Alina merasakan sesak saat ini. Tanpa di sangka juga, Haidar kembali menangis di pelukan Alina.


Alina pun melepaskan pelukan itu di ganti dengan usapan pada pipi kekasih nya yang nampak lebih cengeng dari biasanya.


"Mana Haidar yang tegas? Kenapa kamu lemah banget sayang!" Goda Alina sambil mengusap bekas air mata Haidar.


Haidar tidak bisa berkata apapun, dia hanya terus menggenggam tangan gadis nya seakan Alina tidak boleh pergi kemanapun lagi. Mata Alina sekarang beralih ke arah orang tuanya.


"Mah, pah!" Panggil Alina sambil merentangkan sebelah tangannya.


Tanpa menunggu lagi, keduanya langsung memeluk anak gadisnya yang kemarin sempat di nyatakan koma oleh pihak rumah sakit.


"Sayang!" Seru Mira saat sudah melepaskan pelukannya itu.


"Kamu sudah sadar nak?" Tanya Raymond. Pertanyaan konyol macam apa kah ini.


Alina mengangguk, "Iya pah, ini Alina lah mau di pindahkan ke ruang rawat. Kita sambung di sana ya!" Seru Alina.


Semua Yanga da di sana mengangguk, dan suster kembali melajukan brankarnya menuju ruang rawat Alina yang memang sudah di siapkan sejak tadi. Semuanya pun mengikuti arah langkah suster tersebut.


...Alhamdulillah Alina masih hidup guys, sudah ya sedihnya nanti mata kalian bengkak!...


...Maaf ya jarang update. Jadi mohon pengertiannya yaa......

__ADS_1


...Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya!...


__ADS_2