
Setelah menerima restu dari kedua orang tua masing-masing. Keluarga pun langsung membicarakan tentang pernikahan yang akan di gelar nantinya. Semua sepakat hanya menggelar acara sederhana saja, dan hanya mengundang orang terdekat saja.
Tetapi tetap pernikahan itu di gelar di hotel bintang lima dengan fasilitas yang bisa di bilang cukup mewah. Lalu darimana kah hal sederhana itu?
Setelah berdiskusi cukup lama dan panjang, akhirnya mereka mendapatkan hasil, yaitu acara pernikahan akan di gelar lusa.
...****************...
Tepat hari ini lah acara pernikahan Meilla dan Edo akan di selenggarakan, di ballroom hotel. Meilla terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih, begitu pun Edo yang terlihat tampan dengan jas warna senada dengan Meilla.
Keduanya telah melangsungkan ijab qobul dan semua berjalan lancar sesuai rencana awal. Dengan mahar berupa satu unit rumah dan uang tunai sebesar 25juta rupiah. Mewah bukan?
Rumah tersebut memang punya Edo sendiri, dia membelinya dengan uang tabungannya sendiri selama ini, dan sekarang Edo berikan untuk Meilla tinggal bersamanya setelah ini.
Sekarang giliran para sahabatnya yang menghampiri dua mempelai yang tengah bahagia ini. Sejak tadi, Meilla sangat berusaha untuk tidak terlihat kalau dirinya tengah hamil muda.
Permen asam di mulutnya tidak berhenti untuk mengurangi rasa mual yang terus terjadi sejak tadi. Meilla tidak mau membuat keluarga nya dan Edo malu karena ini, makannya sebisa mungkin Meilla menjaga itu semua.
Alina yang lebih dulu mengucapkan selamat pada Meilla, terjadi lagi moment haru seperti waktu Elsa nikah kemarin. “Gue gak nyangka kalau akhirnya Lo dulu yang lebih dulu nyusul Elsa, selamat buat pernikahan lo, semoga bahagia selalu. Dan ingat jaga dia baik-baik sampai waktunya tiba, gue yakin dia bakalan bikin hidup lo lebih berwarna. Aunty tunggu di dunia ya sayang.” seru Alina sambil mengelus perut datar Meilla pelan.
Meilla mengangguk, “Makasih banyak atas apa yang udah lakuin buat gue sama Edo selama ini Lin, gue bahagia banget sekarang. Hidup gue sudah lengkap karena ada kalian yang selalu nemenin gue, dan di tambah dia yang ada di perut gue. Semoga lo juga cepat nyusul ya, jangan pernah ngelakuin hal bodoh kaya gue gini.” seru Meilla.
Alina beralih ke Edo dan mengucapkan hal yang sama pada Edo, untuk selalu menjaga meilla dan calon anak mereka agar terus bahagia.
Sekarang giliran Haidar, yang memberi ucapan pada Meilla. Tanpa di duga, Haidar menarik Meilla masuk ke dalam pelukannya, Meilla menangis di dalam dekapan itu, Meilla sedih karena ia merasa bersalah pada Haidar.
“Maaf karena akhirnya malah kaya gini Dar, padahal lo selama ini selalu jagain gue. Maaf kalau buat lo kecewa, gue berdoa lo bisa di segerakan juga menikah dengan Alina, wanita yang lo cintai selama ini.” seru Meilla lebih dulu.
Haidar melepas pelukan itu dan mengelus bahu Meilla dengan pelan, “Gak perlu di pikirin lagi, semua sudah terjadi. Sekarang tinggal lo bahagia bersama Edo dan calon anak lo. Tugas gue sudah selesai, gue harap lo selalu bahagia dengan kehidupan baru lo. Gue akan tetap jadi sahabat lo, dan menunggu kedatangan keponakan gue ini di dunia.” seru Haidar membuat Meilla mengangguk lalu tersenyum.
Haidar beralih ke Edo lalu mendorong Edo cukup kencang mundur ke belakang. “Gye masih gak nyangka sebenarnya, tapi gimana lagi ini lah kenyataan nya. Jagain Meilla sepenuh hati, jangan bikin dia nangis Do, bahagiain dia sama calon anak lo. Gue orang pertama yang akan hancurin lo kalau lo hancurin Meilla!” seru Haidar membuat Edo menelan ludahnya sendiri.
“Pasti Dar, gue akan selalu berusaha agar Meilla selalu bahagia dengan gue. Gue berdoa juga semoga jalan lo mulus menuju pelaminan nanti bersama Alina. Makasih karena bantuan lo,semua bisa seperti ini. Gue gak akan ngelupain jasa lo ini Dar!” seru Edo dan di anggukin oleh Haidar.
__ADS_1
Setelah itu Elsa, “Gila emang gila, takdir gak ada yang tahu ya. Semua berjalan begitu cepat sampai gue pun masih gak percaya ini semua terjadi sama lo. Tapi yang pasti lo harus bersyukur karena akhirnya lo di persatukan dengan Edo.”
“Jagain dia baik-baik ya, jangan terlalu banyak nangis, happy terus biar dia pun sehat di dalam. Doain gue supaya cepat nyusul lo juga.” sambung Elsa.
Meilla mengangguk lalu mengelus perut Elsa, “Semoga lo cepat hamil, biar anak kita seumuran nanti. Lo juga bahagia selalu ya sama Lio, makasih karena lo masih mau nemenin gue sampai saat ini, padahal gue udah bikin kalian kecewa.” seru Meilla.
Berlanjut terus ke Lio dan Nanda, doa yang mereka sampaikan hampir semua salam. Yaitu selalu bahagia dengan pasangan nya, dan menjaga sang buah hati dengan cinta agar bisa lahir dengan sehat ke dunia nanti.
Setelah memberikan ucapan ke pengantin, mereka mengada sesi foto bersama di atas pelaminan. Posisi mereka berpasang-pasangan hanya Nanda yang sendiri dan berjongkok di depan pengantin.
“Gini amat hidup sendiri, foto aja gak ada yang nemenin di sebelahnya!” seru Nanda dan di ketawain oleh yang lainnya.
Setelah acara sesi foto selesai, mereka turun dari sana dan memberikan kesempatan untuk yang lain naik ke pelaminan memberikan ucapan juga. Para sahabatnya kembali duduk di meja yang telah di sediakan khusus oleh panitia itu semua karena perintah dari Edo dan Meilla, ingin memprioritaskan sahabatnya.
“Habis ini kita liburan kemana lagi ya kira-kira?” seru Nanda sambil matanya menatap Meilla dan Edo di atas pelaminan.
Hatinya bergejolak, ingin juga merasakan ada di sana, yah minimal memiliki pasangan lebih dulu deh. Kadang Nanda berpikir, apakah ia kurang tampan makanya cewek tidak ada yang mau dengannya? Padahal kalau di lihat-lihat Nanda cukup tampan loh, wajah cowok badboy gitu. Kalian pikirin sendiri deh ya mau kaya gimana muka Nanda.
“Yah kan biasanya kalau di antara kita ada yang ngerayain sesuatu, pasti setelah itu kita bakal liburan Yo!” jelas Nanda da Lio pun membenarkan hal itu.
Elsa menggeleng, “Gue rasa kali ini gak ada acara liburan deh, kan Meilla lagi hamil muda mana boleh pergi jauh-jauh anjir!” sahur Elsa.
Alina mengangguk, “Bener tuh, kasihan juga. Lo lihat aja tuh, mukanya udah pucat begitu, pasti dia nahan mual!” timpal Alina.
Tiba-tiba Haidar mendekat kan mulutnya ke arah telinga Alina untuk membisikan sesuatu, “Ksmu mau ngerasain gitu juga gak?” bisik Haidar membuat Alina merinding mendengar pertanyaan itu dan langsung mendorong wajah Haidar menjauh.
Yang lain kaget dengan respon Alina lalu menatapnya bingung. “Lo kenapa?” tanya Elsa dan di jawab gelengan kepala oleh Alina.
Haidar bangkit dari duduknya dan menarik Alina, “Gue cabut dulu.” seru Haidar.
Nanda menatap Haidar, “Jangan lo bawa Alina nyewa kamar ya, awas aja!” perintah Nanda memebuat yang kan terkekeh.
Sedangkan Alina sendiri hanya menunduk karena malu, takut apa yang Haidar bisikan tadi benar menjadi nyata. Eh tunggu maksudnya merasakan itu juga, merasakan apa? Hamil atau cara buatnya? Alah Alina pasti salah paham.
__ADS_1
Haidar tidak menjawab apapun yang Nanda katakan lalu menarik Alina keluar dari kerumunan orang yang ada di dalam gedung. Haidar mengajak Alina berdiri di sebuah balkon dengan pemandangan sore hari di ibu kota.
“Haidar?” panggil Alina pelan.
Haidar langsung menatap Alina dengan dalem, “Iya sayang?” jawab Haidar.
“Ngapaib ngajak aku ke sini, kan acaranya belum selesai.”
Haidar menghela napasnya, “Gak papa, aku cuma ingin menikmati waktu berdua sama kamu. Karena masalah Meilla, waktu berdua kita jadi berkurang dan aku kangen itu!”
Alina tersenyum lalu menarik tangan Haidar untuk di genggamnya, “Sabar ya sayang, aku pun merasakan hal yang sama kok.”
Haidar berdehem, “Alina, kira-kira pernikahan kita nanti gimana ya?”
Alina mengerutkan dahinya bingung, “Maksudnya bagaimana?”
Haidar mengangguk, “Iya, akan lancar seperti Nanda atau ada drama seperti Edo.”
“Stop, aku gak mau melakukan hal itu di luar nikah, lagian apa lagi yang kamu takuti dengan pernikahan kita nanti. Orang tua kita sudah merestui, tinggal kita yang menjaganya sampai waktu itu tiba.” ujar Alina mengingatkan Haidar untuk tidak macam-macam.
“Iya aku tahu, tapi kalau aku bilang aku iri sama mereka, boleh gak? Aku mau kita juga bisa segera menikah, biar bisa pacaran halal.”
Alina tersenyum, “Boleh kok, tapi bagaimana semua sudah ada perjanjiannya. Aku harus selesai kuliah dulu, abru menikah karena itu janji aku sama papah!”
Haidar menghela napasnya berat, “Iya deh, aku sabar untuk menunggu waktu itu tiba, asal kamu gak akan pernah pergi dari samping aku.”
Alina mengelus wajah Haidar dengan pelan, “Itu tidak akan pernah terjadi sayang, aku sudah pernah bilang Saman kamu. Aku akan pergi kalau kamu sendiri yang menyuruhnya, jadi kamu jangan pernah melakukan itu juga ya?”
Haidar kembali mengelus wajah lalu ke bibir merah ranum milik Alina dengan lembut, “Gak akan pernah sayang!” seru Haidar sambil mendekat kan wajahnya ke wajah Alina, sedangkan Alina sendiri sudah menutup matanya.
Saat hampir saja kena, tiba-tiba keduanya di kagetkan dengan kedatangan seseorang dan membuat keduanya langsung menunduk malu.
“Eh yaampun!” teriak orang itu.
__ADS_1