Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Cukup lama


__ADS_3

Menghayati sebuah lagu memanglah salah satu mengungkap rasa yang sedang di rasakan saat ini. Seperti Alina, entah mengapa Alina sedang suka lagu dari penyanyi laki- laki bernama Reza Pahlevi yang judulnya pergi sulit bertahan sakit.


Apa karena isi lagunya hampir sama dengan kisahnya? Ada kata-kata yang pernah Alina dengar, yaitu ‘Kirain lagu, ternyata kisahku’ apakah lagu ini juga seperti itu.?


Bertahan terluka, pergi pun terluka. Lalu harus apa kalau kondisinya seperti ini? Haidar luka sekaligus obat untuk Alina.


...****************...


Sedang asik mengikuti alunan dan menghayati lagu yang sedang di bawakan oleh vokalis di live music kali ini. Alina tiba-tiba di kagetkan oleh seseorang yang duduk di depannya tanpa permisi.


Awalnya Alina memang tidak sadar kalau ada seseorang yang duduk, hingga akhirnya Alina sadar karena mendengar suara dari orang tersebut.


“Menghayati banget bu, kisahnya ya?” seru Alvaro sambil terkekeh.


Alina yang terkejut dengan kedatangan Alvaro melotot, “Alvaro?” seru Alina senang.


Sudah lumayan lama mereka tidak bertemu dan komunikasi lagi, setelah pertemuan waktu di restoran itu.


“Apa Java, Bu bos!” cibir Alvaro.


“Apa sih Lo, baik kok baik. Lo sendiri gimana? Udah dapet cewek baru belum di kampus?” tanya Alina.


Alvaro menggeleng, “Boro-boro, gue gak kuliah anjir, sekarang gue ngantor di kantor bokap!” seru Alvaro memberitahu Alina tentang kondisinya saat ini.


Alina terkejut, “Oh ya? Anjay udah jadi direktur utama dong lo! Cocoknya lo yang di panggil bos berarti!” seru Alina sambil terkekeh.


Alvaro pun ikut terkekeh, “Bisa aja lo, btw tumben Lo sendirian, Haidar sama yang lain mana?”


“Kuliah, gue lagi nunggu Elsa mau ketemuan di sini tapi tuh anak belum datang.”


Alvaro mengangguk, “Lin, Lo bahagia?” tanya Alvaro tiba-tiba membuat Alina terkejut dengan pertanyaan itu.


Alvaro pun bingung dengan mulutnya yang bisa menanyakan hal itu. Yang Alvaro lihat saat ini di mata Alina seperti terpancar kesedihan.


“Maksud Lo?” tanya Alina pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Alvaro.


Padahal Alina tahu. Alvaro hanya ingin memastikan kondisinya ini baik-baik saja.


“Lo bahagia sama Haidar?” Alvaro mengulang pertanyaannya.


Alina mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, “Bahagiabbanget Var, perjuangan gue gak sia-sia selama ini.” seru Alina.


Alvaro bisa mendengar getaran suara dari Alina, “Lin, kalau udah gak kuat lo bisa perlahan mundur. Jangan bikin lo sakit terlalu dalam, gue gak suka lihatnya.”


“Varo, gue bahagia sama Haidar!” seru Alina lagi meyakinkan Alvaro.

__ADS_1


Alvaro mengangguk, “Iya tahu, siapa yang gak bahagia kalau kita akhirnya bersama dengan orang yang kita sayang. Tapi inget Lin, kalau udah gak kuat, Lo bisa mundur.”


“Bukan karena gue nyuruh lo buat berhenti di sini, tapi gue cuma gak mau lihat lo sakit terlalu dalam. Gue nge ikhlasin lo pilih Haidar, karena gue mau lihat lo bahagia bukan malah sebaliknya.” lanjut Alvaro membuat Alina menunduk.


Kata-kata Alvaro seakan menyentil hati Alina untuk mengingat semua hal yang belakangan ini terjadi pada hubungan nya. Alina tahu maksud Alvaro baik, menginginkan Alina bahagia dengan pilihannya.


Tanpa di sangka Alina malah terisak membuat Alvaro berdiri dari duduknya kalau menghampiri sahabat perempuan nya itu, yang sampai kini masih tersimpan di hatinya.


Alvaro mengelus punggung Alina pelan, “Sorryvkalau kata-kata gue terlalu kasar, gue gak bermaksud apapun Lin. Cuma gue gak suka lihat lo pura-pura kaya gini, Alina yang gue kenal selalu jadi dirinya sendiri bukan orang lain.”


Alina bangkit dari duduknya, tanpa di sangka langsung memeluk Alvaro dengan erat. Tangisannya semakin terdengar pilu, Alvaro pun mendengar nya tidak tega.


“Kenapa? Ada masalah serius sama hubungan lo?” tanya Alvaro.


Alina menggeleng.


“Kenapa Lo sampai sesedih ini Alina? Gue gak suka lihat Lo kaya gini.”


Alina melepaskan pelukannya, “Gue kangen Lo, Alvaro!” hanya itu yang Alina katakan pada Alvaro.


Di dekat Alvaro, Alina merasa sangat nyaman. Ia bisa berekspresi apa aja tanpa Alvaro menghakimi nya. Alvaro yang selalu jadi pendengar yang baik selama ini.


“Gye juga kangen lo, kangen ketawa lepas lo.” seru Alvaro sambil mengelus kepala Alina.


Tak lama Elsa Dateng dan ia terkejut melihat pemandangan itu. Tak menyangka, Alina bisa sedekat itu dengan Alvaro padahal Alina saat ini sudah berpacaran dengan Haidar.


Elsa menggeleng, begitupula dengan Alina. Alvaro segera menyingkir di sana, agar Alina bisa melintas untuk mendekati Elsa.


“Sa, gak seperti apa yang lo pikirin kok!” seru Alinaalina karena tahu pasti Elsa akan mikir yang aneh-aneh tentangnya dan Alvaro.


“Gue gak nyangka anjir, kok bisa lo sedekat itu sama cowok lain? Lo inget gak, Lo punya Haidar?” seru Elsa tak suka Alina seakan mengganti Haidar.


“Sa, gue gak sengaja ketemu Alvaro di sini. Udah lama juga gue gak ketemu dia, gue cuma lagi cerita sama dia, gak lebih.”


“Cuma lagi cerita sambil dia elus kepala lo, dan lo diem aja Lin?”


Alvaro yang melihat perkembangan antara sahabat itu, langsung berinisiatif memisahkan atau menyudahi perdebatan karena salah paham.


“Mending duduk dulu deh, biar gue yang jelasin!” seru Alvaro menarik tangan aliran dan Elsa bersamaan.


Ketiganya duduk di meja tadi, Elsa yang sudah malas hanya memutar bola matanya tak suka melihat Alina dan Alvaro untuk saat ini.


“Ini semua salah paham, Alina cuma cerita sama gue tentang apa yang terjadi sama dia dan Lo tahu gak, dia nangis sampai sesegukan, bukankah kalau seperti itua artinya Alina lagi gak baik-baik aja?


Apa Lo tahu?” Alvaro langsung mengecam Elsa agar segera menghilangkan pikiran anehnya itu.

__ADS_1


Elsa langsung menatap Alina dengan seksama, benar ada bekas air mata di pipinya itu. “Alina?” hanya itu yang keluar dari mulut Elsa.


Alina menggeleng, “I’m fine!” seru Alina menutupi kondisi sebenarnya.


“Alina kenapa lo gak bisa jadi diri Lo sendiri di depan sahabat lo? Gue rasa mereka perlu tau kondisi lo yang sebenarnya, jangan nutupin rasa sakit Alina.” seru Alvaro karena tak suka melihat respon Alina tadi.


“Gue gak papa Alvaro, gue bahagia selama ini.” seru Alina.


Elsa mendengar getaran suara dari Alina, tanpa di duga Elsa langsung memeluk Alina yang duduk di sampingnya itu.


“Sorry kalau selama ini gue gak peka sama perasaan lo, lo pasti sakit banget ya? Meskipun gue gak tahu penyebab utamanya apa?” seru Elsa di pelukan Alina.


Alina yang di tanya seperti itu langsung kembali menangis, entah mengapa rasanya sedih sekali mendengar itu semua. Apa memang dirinya tak bahagia bersama Haidar selama ini?


“Gue gak papa, Sa!” seru Alina sambil terkekeh.


Tanpa sadar Elsa pun ikut menangis, “Gue emang gak ngerasain apa yang Lo rasa Lin, tapi setidaknya lo bisa cerita sama gue atau Lio. Gue tahu lo sebenarnya nyaman cerita sama Lio tapi Lo gak enak sama gue, makanya lo gak pernah lagi cerita sama Lio, iya kan?”


Alina mengangguk, “Gue gak mau bikin hubungan lo hancur, cuma karena gue sering hubungi Lio buat cerita tentang kisah gue.”


Elsa menggeleng, “Maafin gue karena waktu itu sempat marah karena lo sering telepon Lio waktu malam.”


Alina melepaskan pelukan Elsa, lalu mengangguk bersamaan dengan kekehan kecil, “Maaf juga karena ganggu waktu lo sleep call sama Lio.” seru Alina sambil terkekeh.


Setelah itu keduanya menghapus air matanya, Alvaro yang melihat itu tersenyum karena melihat Alina yang mulai tersenyum walau terlihat masih ada kesedihan.


“Lin, lain kali lo cerita apa yang lo rasain. Jangan terus nyimpen hal gak enak itu sendiri, lo bisa gila nanti!” seru Alvaro.


“Gue gak bisa selalu ada di samping Lo, karena Haidar. Gue gak mau hubungan lo sama Haidar hancur karena gue. Gue mau lihat lo bahagia sama pilihan lo sendiri.” lanjut Alvaro.


“Tapi kalau suatu saat nanti lo akhirnya memilih mundur, gue siap untuk jadi obat Lo nanti kalau lo sakit pada akhirnya.” seru Alvaro lagu membuat Elsa terkesima dengan ucapan Alvaro.


Elsa tidak menyangka kalau Alvaro sangat dewasa seperti itu. Mengikhlaskan orang yang kita sayang demi buat orang itu bahagia susah lo. Butuh damai dengan diri sendiri juga. Tapi Elsa melihat Alvaro seperti enjoy aja, mungkin Alvaro pikir jodoh tidak akan kemana gitu kali ya.


“Gue cabut dulu ya klien gue nunggu buat meeting, soalnya gue salah cafe aturan di cafe sebelah.” pamit Alvaro lalu bangkit dari duduknya.


Sebelum Alvaro pergi, Alina tersenyum manis. Senyuman yang membuat Alvaro jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu.


“Semangat kerja nya, pasti yang jadi istri lo nanti beruntung banget karena punya lo yang pekerja keras kaya gini.” seru Alina.


Alvaro mengusap kepala Alina pelan, “semoga aja itu lo!” harap Alvaro lalu pergi dari sana karena ponsel nya terus berdering.


Elsa yang mendengar itu langsung menelan ludahnya, sedangkan Alina hanya diam tidak bereaksi apapun.


“Kayaknya lo lebih cocok sama Alvaro deh, dari pada sama Haidar!” seru Elsa tiba-tiba membuat Alina reflek memukul paha sahabatnya itu.

__ADS_1


Nah kan, mending Haidar sama Alina? Atau Alina sama Alvaro?


__ADS_2