
Permainan dare or dare masih berlangsung, semua pemain sudah kena gilirannya dan sekarang adalah putaran terakhir, tepat di putaran kali ini terhenti di depan Edo.
Edo pun mendapat kan giliran, namun hukumannya hanya di suruh menggendong Nanda selama beberapa putaran berlangsung dan sekarang putaran terakhir ini kembali berhenti di depan Edo.
“Kasih tau perasaan Lo ke Meilla!” ujar Alina cepat, dalam hati Alina berharap ini lah malam bersejarah buat mereka.
Semua yang ada di sana mengangguk, kecuali Elsa karena di sini yang tidak tahu apa-apa tentang Meilla dan Edo hanya Elsa.
“Yang, bukannya Meilla mantannya Nanda ya? Kok jadi Edo yang jelasin perasaannya ke Meilla?” tanya Elsa pada Lio.
Lio yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap kekasihnya, sejak kapan Nanda dan meilla berpacaran?
Lio mengangkat tangan nya, menginstruksi agar berhenti sebentar, “Tunggu Lin, gue mau nanya sesuatu dulu sama Meilla atau nanda.”
Meilla dan Nanda menatap Lio dengan dalam, menanti apa uang akan dia tanyakan. Sedangkan Alina sudah tahu kemana arah pertanyaan itu, pasti Elsa yang bilang ke Lio masalah ini dan Elsa tidak tahu kebenaran nya.
“Tentang yang katanya Meilla mantannya Nanda?” ujar Alina sebelum Lio bertanya.
Nanda, Edo dan juga Haidar bingung dengan itu semua, maksudnya apa? Edo langsung menatap Nanda tajam, seakan langsung tersulut emosi karena mendengar itu semua. Edo pikir Nanda memang telah main belakang dengan Meilla saat ini.
Lio mengangguk, “Iya, sejak kapan kalian pacaran? Gue sama yang lain gak tahu?” tanya Lio sambil menatap Meilla dan Nanda bergantian.
“Pacaran?” ucap Nanda yang memang tidak mengetahui hal itu.
“Gak usah pura-pura sok kaget lo! Sejak kapan lo ambil Meilla dari gue men? Lo tau, selama ini gue udah berusaha biar Meilla suka lagi sama gue, tapi ternyata-” emosi Edo.
“Cukup Edo, biar gue jelasin!” ujar Meilla, tetapi Edo salah paham dengan ucapan Meilla itu, Edo pikir Meilla malah membela Nanda.
“Lo malah ngebela dia, illa? Kurang apa lagi perjuangan gue selama ini sama lo La. Gue udah cukup sabar selama ini.” seru Edo.
Alina menggeleng. “Cukup! Biar gue yang jelasin, karena ini semua ada sangkut pautnya sama masalah gue dengan Haidar!” teriak Alina mengambil alih situasi ini.
Alina menarik napasnya sebelum menjelaskan, “Meilka bilang itu ke gue sama Elsa, karena untuk menghindar tuduhan gue yang mengira dia mantannya haidar!”
__ADS_1
“Meilla bilang mantan Nanda, karena ia pikir itu satu-satunya cara agar gue stop nyalahin dua dan nanya apapun tentang Haidar padahal Meilla gak mau ceritain apapun tentang Haidar. Karena dia pikir itu bukan hak atau porsinya dia buat cerita.” jelas Alina membuat Edo meredakan emosinya.
“Jadi sekarang, mumpung ada waktu yang tepat, Lo bisa ungkapin perasaan Lo Sam Meilla!” seru Alina dan di anggukin oleh Edo.
Edo melangkah maju untuk menghampiri Meilla, tanpa di duga Edo mengambil alih tangan Meilla lalu di genggamnya. Lutut Edo yang satu menyentuh tanah, lalu kepalanya mendongak ke atas agar tetap bisa memandang wajah cantik Meilla.
“Illa, gue tahu dulu gue salah, salah karena gak pernah ngelihat lo selalu tulus sama gue. Dulu gue ngerasa, lo masih punya perasaan buat Haidar, makanya gue selalu abaikan lo!”
“Tapi ternyata gue salah, kejadian lo sama Haidar itu udah sangat lama dan mungkin itu hanya cinta sesaat lo, Maaf karena dulu gue sempet ragu sama lo La, sampai akhirnya gue lebih milih orang lain dari pada lo.”
“Sekarang gue sadar, kalau rasa cinta gue ke lo itu masih ada. Gue yakin lo juga masih ngerasain hal yang sama kan kaya gue?”
“Illa, bisa gak kita bangun lagi rasa ini sama-sama. Gue janji akan selalu ada buat lo ke depannya, gue janji akan gantiin Haidar buat jagain lo mulai sekarang karena Haidar harus fokus jagain alina.”
“Meilka, lo mau gak jadi pacar gue?” seru Edo pada akhirnya.
Alina yang melihat keberanian Edo takjub, selama ini Alina sudah yakin kalau Edo memang menyukai Meilla tetapi selalu di tolak oleh Meilla eh ternyata memang cinta lama belum kelar.
Meilla belum menjawab, matanya terpejam seakan sedang berpikir, jawaban seperti apa yang akan ia berikan pada Edo. Setelah hampir 2 menit tidak ada suara apapun hanya ada suara angin, akhirnya suara Meilla mendengar.
Alina pun yang mendengar tanggapan Meilla, langsung menggeleng tak percaya, ia kira Meilla akan menerima Edo malam ini. Bukankah, ini moment yang pas?
Edo mengangguk lalu tersenyum lirih, ia tidak bisa memaksa Meilla karena memang inilah salah dirinya di masa lalu.
“Gak papa La, gue terima apapun keputusan lo.” ujar Edo sedih.
Edo melepaskan genggaman tangannya lalu kembali berdiri, terlihat jelas kalau ia sangat kecewa malam ini tetapi balik lagi ini lah salahnya.
Edo berbalik badan, melangkah ke arah tempatnya tadi, tetapi tidak di sangka Meilla memeluknya dari belakang membuat langkah nya terhenti sambil menunggu apakah ada sesuatu yang akan Meilla katakan padanya.
“Gue mau jadi pacar lo sekarang, Di.” seru Meilla membuat senyum di bibir Edo terbit begitu saja, begitu juga di bibir para sahabatnya termasuk Haidar.
Edo membalikkan badannya agar bisa berhadapan langsung dengan Meilla. Edo menatap mata Meilla dalam seakan mencari sesuatu di sana.
__ADS_1
“Serius La?” tanya Edo memastikan.
Meilla mengangguk lalu tersenyum, Edo langsung memeluk Meilla lagi dengan posisi yang berbeda seperti sebelumnya. Terdengar sorakan heboh dari para sahabatnya.
“Asik, besok pagi kita sarapan di restoran mewah daerah sini ya, yang bayar Edo!” seru Lio dan disetujui oleh yang lain.
“Sialan emang lo! Senengnya bikin bangkrut orang!” cibir Edo dan di hadiahi ketawa dari yang lain.
Haidar mendekat kan diri pada Alina, lalu membisikkan sesuatu di telinga Alina sampai membuat jantung Alina kembali berdetak cepat.
“Lo gak mau kaya mereka juga?” ujar Haidar membuat Alina salah tingkah.
Baru akan menjawab, suara Nanda sangat dramatis membuat mereka tertawa melihat tingkah Nanda.
“Kalian semua punya pasangan, gue sendirian yang jomblo! Lo pada gak kasian sama gue!” seru Nanda bukannya di beri belas kasih malah jadi bahan tertawa mereka.
Lio menghampiri Nanda lalu merangkulnya, “Tenang, nanti gue cariin lo pasangan, lo kan tahu handphone gue asrama cewek!” ujar Lio tanpa sadar membuat Elsa melangkah mendekati Lio lalu menarik telinga kekasihnya itu.
“Oh gitu ternyata, Meilla baru jadian sama Edo di sini, apa kita putus juga di sini?” ujar Elsa garang membuat yang lain menahan tawanya.
Lio mengaduh kesakitan, setelah tarikan itu terlepas Lio mengusap telinganya yang terlihat merah saat ini.
“Engga sayang, aku tadi cuma bercanda buat ngehibur Nanda doang. Jagan putus ya, belum juga seminggu udah putus!” ujar Lio.
“Maksud lo, hubungan lo sama Elsa cuma mau seminggu doang?” sahut Edo mengompori situasi.
“Lo apaan sih Di, udah deh gak usah kompor kenapa sih! Sayang percaya sama aku, aku tuh sayang banget sama kamu tahu!” ujar Lio meyakinkan Elsa.
“Sa, mendingan lo sama gue aja, gue setia kok orangnya!” seru Nanda menawarkan diri.
“Bangke, punya temen sendiri masih aja di embat!” kesal Lio lalu membawa Elsa pergi dari sana.
Yang lain hanya tertawa melihat gaya pacaran Lio dan Elsa yang selalu saja adu mulut, selalu saja selisih paham tetapi mereka yakin kalau keduanya memang saling sayang.
__ADS_1
“Lin, kita sekolah gak ada sebulan lagi, gue pastiin sebelum benar-benar kita lulus lo udah jadi milik gue.” ujar Haidar pelan.
Alina hanya diam sambil mengangguk kecil di dalam hatinya pun berharap demikian. Sebenarnya Alina sudah bisa menerima Haidar, tetapi ia masih ingin Haidar membujuknya sekali lagi.