Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Makan bersama camer


__ADS_3

Kalian bisa bayangkan berapa bahagianya Alina saat ini? Yap, karena Alina di terima dengan baik di keluarga Haidar bahkan sangat di sayang oleh kedua orang tua Haidar. Alina pernah berpikir, apakah dulu Diana pun di sayang seperti ini?


Jawabannya pasti iya, karena kalian tahu Diana meninggal bersama dengan Olivia pada saat mereka bersama. Itu artinya Indira percaya Diana bisa menjaga Olivia dengan baik, tetapi sayang takdir membuat keduanya harus meninggalkan orang yang sangat mencintai mereka.


Setelah selesai masak untuk makan malam mereka, Alina dan Indira kembali sibuk untuk menata makanan di atas meja makan. Semua telah tersusun rapi, tinggal menunggu Roy pulang kantor. Seharusnya jam segini Roy sudah pulang, namun tadi mengabari Indira akan pulang telat sedikit karena ada pekerjaan.


Sekarang Indira sangat percaya dengan Roy. Indira yakin Roy tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti dulu. Indira pun merasa bersalah, karena dulu mungkin terlalu mengekang Roy hingga akhirnya Roy berontak dan melakukan perselingkuhan dengan Giselle ibunda Vanesa waktu itu.


Tak lama saat mereka tengah bersantai di ruang keluarga, Roy datang dengan jas di pundaknya dan tas di tangan kirinya. Wajahnya nampak terlihat sangat lelah.


“Assalamu'alaikum!” seru Roy yang langsung duduk di bangku kosong sambil meletakkan barang-barang nya di atas meja.


Indira bangkit menghampiri Roy untuk Salim, begitu pun dengan Alina dan Haidar. Barang-barang Roy tadi langsung di angkat oleh Indira dan di bawa ke kamar untuk di bereskan.


“Maaf ya Alina, om pulangnya kelamaan!” seru Roy meminta maaf pada Alina.


Alina menggeleng, “Enggak papa kok om.” jawab Alina.


Indira kembali dari kamarnya, “Pah mandi dulu ya, mamah udah nyalain air panas di dalam!” beritahu Indira.


Roy mengangguk, “Papah tinggal dulu ya.” dan di anggukin oleh semua yang ada di sana.


Haidar terus menggenggam satu tangan Alina sambil satu tangan lagi memainkan ponselnya. Sedangkan Alina sejak tadi menonton televisi bersama dengan Indira.


Tiba-tiba Haidar dapat kabar tentang Nanda dan memintanya untuk segera bertemu di cafe bersama dengan yang lainnya. Pasti Alina pun dapat kabar itu, hanya saja saat ini Alina sedang tidak membuka ponselnya.


Haidar berbisik pada Alina memberitahu hal ini, Alina kaget dan menanyakan ada apa tetapi hanya angkatan bahu jawaban dari Haidar karena dia sendiri pun ada apa sebenarnya.


“Nanti setelah makan, kita langsung ke sana ya?” seru Haidar dan di anggukin oleh Alina.


Indira yang merasa curiga melihat Haidar dan Alina berbisik-bisik langsung menatap keduanya dengan tajam.


“Hayo, ngomongin apa kalian?” tanya Indira.

__ADS_1


Alina yang kaget langsung menggeleng cepat, sedangkan Haidar hanya tersenyum kecil, “Orang tua gak boleh tahu urusan anak muda!” jawab Haidar membuat Alina reflek memukul bahu kekasihnya itu lalu terkekeh pelan, begitu pun dengan Indira.


Tak lama Roy sudah selesai bersih-bersih dan sudah keluar dari kamar.mereka semua bangkit dan menuju meja makan untuk makan malam bersama. Alina merasa nyaman di situasi seperti ini, tidak merasa kesepian.


Semuanya makan dengan nikmat beberapa kali masakannya di puji oleh Haidar dan juga Roy, membuat Alina salah tingkah karena itu semua bumbu racikannya sedangkan tadi Indira hanya membantu menggoreng saja, eits itu semua maunya Alina kok bukan Indira yang menyuruh.


“Udah cocok ini mah berumah tangga!” goda Haidar membuat Alina memukul lengan cowok itu.


Indira dan Roy mengangguk bersamaan, “Bener tuh, biar cepat punya cucu kita, iya gak mah?” sahut Roy.


“Astaga, satu keluarga kebelet semua anjay!” gerutu Alina dalam hati.


Indira terkekeh melihat wajah Alina yang memerah, karena terus di goda oleh dua lelaki di rumah ini, “Udah cukup, demen banget sih godain Alina. Kasihan itu mukanya udah merah!” tegur Indira pada suami dan anaknya.


“Kita juga mengerti keputusan Alina, bagus loh Alina mengejar cita-citanya lebih dulu biar bisa mengajarin anaknya nanti. Kalian jangan terus godain dia ah!” sambung Indira membuat Roy dan Haidar mengangguk paham.


Alina tersenyum mendengar itu semua dan melanjutkan acara maknanya. Tapi sayang acara makan malamnya hancur begitu saja saat mereka kedatangan orang yang langsung masuk tiba-tiba ke dalam rumah bahkan menghampiri mereka ke meja makan.


“Giselle!” seru Roy dan Indira bersamaan.


“Mau apa kamu datang ke rumah saya?” tegas Roy ingin tahu apa tujuan Giselle datang ke sini.


Giselle mengeluarkan sesuatu dari tasnya,sebuah kertas dan testpack yang langsung di berikan kepada Roy.


“Aku hamil mas, kamu harus tanggung jawab!” seru Giselle dengan kencang.


Bagaikan di smabar petir di siang bolong, itu lah yang Indira dan Haidar rasakan saat ini. Sedangkan Alina hanya bisa diam, tidak berkomentar apapun dan Vanesa yang masih terus menatap Haidar dan Alina secara bergantian.


Roy mendorong Giselle agar perempuan itu tidak dapat menyentuhnya, “Kamu gila? Saya tidak mau tanggung jawab! Selama ini kamu selalu minum pil, agar kehamilan tidak pernah terjadi!”


Giselle menggeleng, air matanya sudah tumpah begitu saja. “Tapi ini anak kamu mas, kamu harus tanggung jawab!” kekeuh Giselle.


Roy tetap menggeleng, “Kita sudah pisah lebih dari dua bulan, kenapa baru sekarang kamu bilang kamu hamil! Kamu mau merusak kebahagiaan saya? Hah?” bentak Roy.

__ADS_1


Vanesa yang mendengar itu semua geram dabn tidak terima ibunya di perlakukan sama orang yang pernah ia panggil papah itu.


“Pah, ini beneran anak Papah! Bahkan usia kehamilan mamah pun sudah 3 bulan yang artinya sebelum papah meninggalkan kita, dia sudah ada di perut mamah. Hanya saja, mamah baru merasakan nya sekarang!” tegas Vanesa.


Indira menggeleng, kakinya lemas seakan tidak sanggup lagi berdiri saat ini. Haidar yang melihat kondisi Indira saat ini terpukul beralih berdiri di samping dan menggenggam tangannya


“Saya tidak akan tanggung jawab dengan itu semua! Pergi kamu sekarang dai rumah saya, dan jangan pernah datang lagi ke sini!” tegas Roy tetap dengan pendiriannya.


Roy sudah sangat merasa bahagia dengan Keluarga kecilnya saat ini, apalagi di tambah dengan Alina gadis ceria yang mampu membuat suasana semakin ramai.


Giselle menggeleng laalu berlutut di kaki Roy membuat Vanesa berusaha mengangkat ibunya agar tidak melakukan hal itu, tetapi sayang tenaga Giselle lebih kuat dan Vanesa tak berhasil.


“Mas, tapi ini beneran anak kamu. Saya berani test DNA untuk membuktikan kebenaran nya!” mohon Giselle.


Hati Indira tergerak, tidak tega melihat Giselle melakukan itu apalagi katanya Giselle sedang mengandung, terlepas anak siapa Indira tidak peduli, yang jelas Indira tidak tega melihat Giselle memohon kepada Roy sampai seperti itu.


Indira berjalan menghampiri Roy, lalu membisikkan sesuatu pada suaminya itu. Roy kaget dengan permintaan Indira yang mengatakan untuk Roy bertanggung jawab pada kehamilan Giselle saat ini.


Roy menggeleng tidak setuju dengan saran dari Indira itu, Roy tidak mau menyakiti hati Indira lagi, cukup sekali dan tidak akan terulang lagi. Apalagi ia akan membuat Haidar kecewa dengannya dengan keputusan Indira itu.


“Gak bisa Indira, ini bukan sala saya! Saya tidak akan tanggung jawab apapun sama dia!” tolak Roy.


Indira mengelus lengan Roy dengan lembut, “Mas, cuma tanggung jawab secara materi saja untuk anak itu. Kasihan ank itu tidak bersalah mas!” seru Indira.


Haidar yang mendengar perkataan Indira pun tidak setuju dengan itu semua, “Mamah apa-apaan, Haidar gak setuju dengan keputusan mamah!”


“Tapi nak-” jawab Indira namun di potong kembali oleh Haidar.


“Kalau papah setuju dengan keputusan mamah, lebih baik Haidar pergi dari rumah ini. Jangan pernah kalian anggap Haidar sebagai Anka kalian, karena Haidar tidak Sudi dengan ini semua!” tegas Haidar membuat Indira kaget dengan perkataan Haidar itu.


Alina pun merasakan hal yang sama, kaget dengan apa yang bilang tadi, segitu keras kepalanya Haidar ternyata.


“Pah, Vanesa mohon untuk tanggung jawab dengan ini semua! Kasihan mamah, pah!” mohon Vanesa.

__ADS_1


Kira kira Roy akan tanggung jawab gak ya?


__ADS_2