Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Acara


__ADS_3

Hari Sabtu malam atau sering disebut malam Minggu adalah malam terpanjang karena besok adalah hari weekend yang kebanyakan orang akan bermalas-malasan di hari itu. seperti hanya rebahan di kasur tanpa mandi seharian.


Di malam Minggu ini juga Alina dan Meilla serta Elsa datang ke acara pentas seni di sekolah SMA Nuansa. ketiganya sangat menikmati acara tersebut. Saat sedang menikmati lagu tiba-tiba Alina melihat seorang Haidar.


"Gue kesana sebentar ya." pamit Alina kepada kedua sahabatnya.


keduanya hanya mengangguk.


Sedangkan Alina melangkah menuju di mana Haidar sedang berdiri. Tampan itulah yang ada di otak Alina saat ini meskipun setiap hari Haidar memang tampan.


"Hai, Haidar." sapa Alina.


Haidar hanya diam dan sambil melihat penampilan yang ada di atas panggung, sebenarnya ia tak suka ada disini tetapi Edo memaksanya ikut. tapi bisa saja menolaknya, tapi entah mengapa ia malah memutuskan untuk ikut ke sini.


"Gue kira, lo gak suka berada di tempat rame kaya gini." ujar Alina sedikit heran.


Haidar menatap Alina sebentar lalu kembali lagi melihat band yang ada di atas panggung dan Haidar terpanah dengan tampilan Alina tanpa seragam sekolah melainkan dengan pakaian bebas. Cantik, satu kata itu terlintas di pikiran Haidar.


"Haidar, kita duduk di kedai sana yuk. Lumayan sepi." ajak Alin sambil menujuk ke kedai minuman.


Tanpa Alina sangka, Haidar mengangguk kan kepalanya dan melangkah lebih dulu.


Keduanya duduk di bangku yang disediakan di sana dan memesan minuman masing-masing.


"Haidar dateng sama Edo ya?"


Haidar mengangguk.


"Terus Edo nya mana? Kok lo sendirian tadi?"


Haidar mengangkat bahunya tak tahu.


pas mereka datang Edo, Nanda dan Lio berpisah entah kemana makhluk tiga itu dan Haidar pun tak tau.


"Ah pasti tuh anak lagi cari cewek disini." oceh Alina entah pada siapa.


Saat ingin berbicara lagi, Alina dan Haidar di kagetkan oleh datangnya seseorang.


"Alina?" ujar orang tersebut seperti sedang memastikan kalau orang yang dilihat tidak salah.

__ADS_1


Alina berusaha mengingat siapa orang tersebut.


"Alparo?" ujar Alina dan langsung di anggukin oleh cowok itu


Alparo melirik ke arah Haidar yang hanya diam sambil memperhatikan wajahnya.


"Lo pacaran sama Haidar sekarang?' Tanya alparo melirik ke arah Haidar.


"Lo kenal Haidar?" tanya Alina yang terkejut.


Alparo mengangguk, "siapa sih yang gak kenal sama seorang Haidar, dia itu dulu satu SMP sama gue." ujarnya


Alina mengangguk-angguk.


"Gimana kabar lo dar? udah sembuh?" tanya alparo dengan nada yang sedang meledek.


Haidar menatap Alparo dengan tatapan tajam sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum.


"Udah sembuh? Emang Haidar sakit apa?" tanya Alina karna penasaran.


Alparo terkekeh, "Lo pacaran sama dia, tapi dia gak jujur tentang masalah dia apa? Ah banci Lo dar." Cibir alparo.


"Dia bukan pacar gue!" tegas Haidar.


Bukan nya berhenti tertawa, Alparo malah tambah kencang sampai di sudut matanya keluar air.


"Udah gue tebak, Lo kan gak suka cewek!" desis Alparo membuat Haidar semakin emosi dan akhirnya bangun dari tempat duduk lalu menghantam wajah alparo dengan kencang.


Alparo yang kaget karena Haidar tiba-tiba saja memukulnya langsung jatuh ke belakang. Alparo yang tidak terima di pukul oleh Haidar, berusaha untuk membalasnya. melihat perkelahian itu, Alina berusaha memisahkan keduanya. bahkan mereka sudah menjadi bahan tontonan oleh orang yang terdekat nya.


"Stop Haidar!" teriak Alina tapi tidak di dengar oleh Haidar maupun alparo.


Dengan nekat Alina mendekat ke arah mereka dan berdiri di tengah-tengah keduanya. tanpa di duga pukulan yang ingin alparo layangkan ke Haidar malah terkena ke wajah Alina hal itu membuat tubuh alina terjatuh karena tidak seimbang. dengan cepat Haidar menahan tubuh alina agar tidak terjatuh ke tanah dan terlihat darah mengucur dari hidung Alina.


"Astaga." ujar Haidar pelan saat melihat darah segar.


"Stop Haidar, jangan berkelahi. Gue gak mau lo terluka lebih parah dari ini." ujar Alina dengan nada suara yang semakin lemas.


"Alina." Panggil Haidar untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Mata Alina mulai tertutup, Haidar segera mengangkat tubuh alina menggendongnya ala bridal style. Tak di pungkiri kalau sekarang Haidar panik melihat kondisi Alina.


Sebelum berlalu dari sana tepatnya di depan Alparo, Haidar sempat mengatakan. "urusan kita belum selesai!" ancam Haidar lalu berlalu dari sana.


Dengan cepat haidar memasukkan Alina ke dalam mobilnya dan segera membawa Alina ke dan sakit terdekat agar mendapatkan pertolongan.


"Kenapa lo bodoh banget, Alina?" ujar Haidar sambil terus menggenggam tangan Alina.


Sedangkan di tempat kejadian tadi menjadi bahan pembicaraan dan membuat Edo cs serta Meilla cs mendekat ke sana.


"Ada apa sih?" tanya Edo pada salah satu orang.


"Barusan ada ribut, Alparo Sama siapa gitu terus ada cewek mau misahin mereka, eh malah kena tonjok dan dia langsung pingsan." jelas orang tersebut.


"Alparo?" ucap Edo.


Cowok itu mengangguk lalu menunjuk Alparo yang di maksud tadi, "iya, itu alparo."


Edo orang yang di maksud itu, dan memicingkan maganha, ternyata alparo yang ia kenal juga.


"Terus ceweknya di bawa kemana?" tanya Nanda saat tau siapa yang di maksud cowok itu.


"Kayaknya sih ke rumah sakit, soalnya mimisan sih terus pingsan." ujar cowok itu dan di anggukin oleh Nanda lalu mengucapkan terimakasih.


Edo melihat Meilla yang juga sedang bertanya dengan seseorang di sana, dengan cepat Edo menghampiri Meilla untuk memberi tau hal ini. tanpa orang itu kasih tau siapa yang berusaha berantem. Edo sudah bisa menebak siapa lawan Alparo.


Karena Haidar dan Alparo memanglah musuh sejak dulu, dan bisa dipastikan juga kalau cewek yang di maksud itu adalah Alina. Karena saat itu Meilla hanya berdua dengan Elsa tanpa Alina.


"Meilla." panggil Edo dan membuat Meilla menoleh ke sumber suara.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Yo, coba hubungi Haidar dia bawa Alina ke rumah sakit mana!" ujar Nanda lalu menyuruh Lio menghubungi Haidar.


Dengan cepat Lio mengeluarkan ponselnya dan menghubungi bintang, tidak lama sambungan itu terhubung.


"Rumah sakit Merdika." hanya itu yang diucapkan Haidar lalu mati begitu saja.


Dengan cepat Edo serta yang lainnya pergi dari sana menuju rumah sakit yang di beritahu Haidar tadi. Sama seperti Haidar tadi saat berhadapan dengan alparo mengatakan sesuatu pada alparo.


"Kalau sampe Alina kenapa-napa, Lo bakal berurusan sama gue!" ancam Edo lalu berlalu dark sana.

__ADS_1


Bukannya takut, Alparo malah terkekeh sambil memegangi sudut bibirnya yang sedikit perih karena sobek.


__ADS_2