
Setelah berdiskusi bagaimana cara menjelaskan ini semua pada Fandi, akhirnya mereka memutuskan untuk segera ke rumah Meilla dan memberitahu masalah ini ke orang tuanya.
Berat memang, terapi bagaimana hanya ini jalan satu-satunya. Bukan kah, bangkai semakin lama di pendam nanti akan tetap tercium juga? Apalagi ini masalah yang cukup serius, menyangkut masa depan kedua anak muda dan anak yang tidak bersalah.
Semuanya berangkat menuju rumah Meilla bersama-sama. Meilla masih terus menggenggam tangan Edo, hanya itu yang bisa membuat Meilla nyaman dan aman.
Alina duduk di samping Haidar, di belakang ada Edo dan Meilla. Sedangkan di mobil Lio, ada Elsa di sampingnya dan Nanda di belakang. Mereka sengaja menemani Edo untuk mengakui ini semua.
“Lo tenang, gue yakin papi bisa ngerti keadaan lo sekarang walaupun pasti dia akan marah lebih dulu nanti!” seru Haidar sambil matanya fokus pada jalanan.
Alina menatap Haidar sekilas lalu menoleh ke belakang dan Tersenyum kepada meilla, “Semua orang tua pasti akan marah karena hal ini, karena sama saja kita mencoreng nama baik keluarga. Tetapi balik lagi, semua sudah terjadi dan kalian harus ikhlas bagaimana pun reaksi bokap Meilla!” seru Alina.
Meilla dan Edo mengangguk membenarkan ucapan Alina, “Thanks karena kalian sudah bantu kita sampai sini, maaf kalau akhirnya bikin kalian kecewa juga.” sahut Edo.
Alina mengangguk, “It's okay, semua manusia pasti pernah khilaf. Jadilah semua nya pelajaran buat kalian bahkan untuk kalian aja buat gue juga atas apa yang terjadi sekarang.”
Meilla kembali terisak mendengar itu semua, memang bawaan hamil terlalu sensitif dengan apapun.
Setelah menghabiskan waktu di perjalanan mereka semua telah sampai di kediaman Meilla. Nampak mobil Fandi sudah terparkir rapi di sana, artinya dia sudah pulang dari kantor. Tetapi mobil Riani belum nampak di parkiran, apakah ibunya itu belum pulang?
Mereka semua masuk ke dalam rumah Meilla dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu sambil menunggu Fandi yang tengah di panggilkan pembantu rumah Meilla.
Masih risau dan gelisah yang bukan hanya Meilla saja yang merasakan, tetapi semua yang ada di sana pun merasakan seakan atmosfer di sana berbeda.
Sampai akhirnya suara deheman terdengar tidak jauh dari mereka duduk. Semuanya langsung menoleh ke arah suara tersebut dan terlihat Fandi dan Riani tengah berjalan ke arah mereka. Ternyata Riani sudah pulang juga, dan kebetulan mobilnya lagi di bengkel.
Fandi dan Riani duduk di bangku kosong berdampingan, bahkan Fandi dan Riani memperhatikan satu persatu wajah teman-teman Meilla semua. Saat mata Fandi melihat keberadaan Edo, raut wajahnya langsung berubah dan emosi apalagi saat melihat tangan Edo menggengam tangan putrinya.
“Kamu ngapain lagi dekatin anak saya!Saya sudah bilang untuk jauhin Meilla, kamu gak dengar? Hah!” bentak Fandi sampai berdiri dan menunjuk wajah Edo.
__ADS_1
Yang lain langsung menelan ludahnya karena takut dengan suara Fandi yang begitu keras terhadap Edo. Masing-masing membayangkan bagaimana reaksi Fandi nanti.
“Pergi kamu dari sini sekarang juga!” suruh Fandi mengusir Edo dengan suara keras.
Saat tangan Fandi ingin menarik tangan Edo, Meilla langsung bangkit dan menghalangi kegiatan Fandi itu. Meilla menangis sampai bersujud di kaki Fandi membuat Riani dan Fandi bingung dengan kelakuan anaknya ini.
“Meilla, bangun! Apa-apaan kamu sampai segitunya belain cowo ini!” seru Fandi menyuruh Melilla bangkit dari sujud di kakinya.
Meilla tetap tidak bangkit, malah mendengar suara isakan kencang dari gadis itu. Alina bangkit untuk membantu Meilla bangun, begitu pun dengan Elsa. Tidak tega rasanya melihat Meilla seperti itu.
Saat Meilla sudah bantu berdiri, dan saat itu pun Edo bangkit dari duduknya dan berhadapan langsung dengan Fandi. Jantung Edo berdebar kencang, rasanya ingin mati saja saat itu juga apalagi wajah Fandi yang sangat seram saat ini.
“Mau apa kamu?” belum sempat Edo berbicara, lagi-lagi Fandi membentak nya.
Edo menarik napas panja g sebelum akhirnya bersuara, “Maaf om, saya kesini dengan tujuan yang sangat penting. Maaf om, sebelumnya saya ingin meminta izin untuk menikahi Meilla, karena-”
Edo menggeleng dan akhirnya berlutut kepada Fandi seperti yang Meilla lakukan tadi, “Om maafin papah saya kalau selama ini punya salah, tetapi di luar dari itu semua saya benar-benar meminta izin untuk nikah dengan Meilla! Karena Meilla-” tanpa di sangka Fandi malah menaikan kakinya hingga Edo tersungkur kebelakang.
Haidar dan yang lainnya geram melihat perlakuan Fandi pada Edo itu, Haidar bangkit lalu menghadap ke Fandi untuk menjelaskan apa tujuan Edo meminta izin seperti itu.
“Pi, bisa gak dengerin dulu penjelasan Edo, jangan kasar seperti itu!” seru Haidar yang tak suka melihatnya.
Fandi menatap Haidar tidak percaya, baru kali ini Haidar berkata dengan nada sedikit tinggi kepada nya.
“Kamu gak perlu ikut campur, ini urusan papi sama dia!” sahut Fandi.
Haidar menarik napasnya dengan berat lalu akhirnya, “Meilla hamil dengan Edo!” seru Haidar dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan sejak tadi.
Fandi dan Riani terdiam cukup lama seakan berpikir apakah ini semua benar atau hanya akal-akalan anak muda di depannya ini agar mendapat restu?
__ADS_1
Riani menggeleng lalu menghampiri Meilla dan bertanya langsung kepada putri semata wayangnya ini, “Meilla, jawab mami apakah yang di bilang Haidar tadi itu benar?”
Meilla yang masih menangis hanya bisa mengangguk lemah, tidak bersuara apapun. Riani terus menggeleng kan kepala masih tidak percaya dengan berita ini, sedangkan Fandi masih diam tidak berkutik di tempatnya sambil terus memandang Edo yang sudah berdiri dan Meilla secara bergantian.
“Mami gak percaya, itu gak mungkin kan? Kamu anak baik, gak mungkin ngelakuin hal di luar batas seperti itu!” seru Riani yang menolak untuk percaya.
Meilla menggeleng lalu mengambil tangan Riani dan menggenggam erat, “Tapi ini semua memang terjadi mi, aku hamil mi, beneran hamil! Kalau mami gak percaya, kita tes!” seru Meilla sambil terisak.
Tanpa di duga, Fandi langsung menghantam wajah Edo dengan keras hingga Edo jatuh ke belakang yang untung nya ada sofa di sana. Lio dan Nanda langsung membantu Edo untuk bangkit dan menghalangi Fandi yang ingin memukul kembali Edo.
“Btengsek kamu! Sama kaya papah kamu! Bisa-bisanya kamu ngerusak masa depan anak saya! Soalan!” maki Fandi pada Edo.
Haidar menahan Fandi agar tidak maju dan menghantam Edo lagi, “Papi sabar, Haidar tahu pasti papi sama mami kaget dengar berita ini tetapi bagaimana ini semua sudah terjadi. Sekarang tinggal papi kasih keputusan untuk kejadian ini bagaimana baiknya!” seru Haidar emosinya sedang tinggi.
Fandi berdecih ke lantai, “Saya gak akan pernah Sudi ngasih restu ke kamu, brengsek! Saya akan suruh Meilla gugurin kandungan itu!” teriak Fandi membuat yang ada di sana kaget dengan perkataan Fandi.
Meilla menggeleng lalu memeluk Fandi dengan erat, “Papi please, jangan gugurin kandungan ini, dia gak bersalah Pi. Meilla mau mengurusnya sampai besar, Meilla siap dengan ini semua!”
Fandi menggeleng, “Gak bisa, ini semua udah buat malu keluarga kita, dan sekarang kamu memilih mempertahankan kehamilan kamu sama laki-laki brengsek ini? Gak bisa Meilla, papi malu, mami juga malu! Lebih baik gugurin kandungan itu sekarang sebelum ada yang tahu tentang ini!”
“Papi, itu bukan keputusan yang baik, kasihan anak itu tidak bersalah, masa papi tega mau hilangin dia dari bumi ini? Keputusan yang baik itu, cuma papi sama mami kasih restu sama mereka untuk menjalin ini semua dan merawat bayi itu sampai besar!” seru Haidar membantu mengingatkan Fandi.
Fandi terdiam cukup lama, sedangkan Riani sudah menangis sejak tadi. Tidak bisa bayangkan apa yang di rasa anaknya itu, pasti sedih sekali saat ini. Riani setuju dengan ucapan Haidar, karena itu keputusan yang terbaik. Lagi pula hubungan Fandi dan Yanuar tidak baik hanya karena bisnis, masa dendam itu terus berlanjut sampai lama?
“Papi mau, Haidar yang tangguh jawab dengan ini semua kalau tidak Meilla harus tetap gugurin kandungan itu!” seru Fandi setelah diam memikirkan semuanya.
Iya loh, akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Fandi, terus kira-kira apa ya jawaban Haidar?
Penasaran?
__ADS_1