
Kehidupan Meilla jadi berubah setelah kejadian kemarin. Banyak yang menjadi tak suka dengan Meilla karena di anggap telah mengambil gebetannya temen sendiri.
Meilla tak habis pikir dengan mulut orang-orang yang sok tahu seperti mereka.
"Ih gue sebel banget anjir!" Geram Meilla.
Alina dan Elsa terus menenangkan Meilla, jangan sampai emosi meilla kelewat batas, bisa-bisa leher mereka yang membicarakan Meilla patah karena di pukul Meilla.
"Lin, Lo bantuin gue napa." Ujar meilla meminta bantuan Alina.
"Iya gimana caranya? Gue pun gak tahu!" Seru alina.
"Klarifikasi kek atau apa gitu! Ah gue gak suka kaya gini Alina!"
"Lagian sih lo, di Jambak aja sampe begitu mana Haidar terlalu manis lagi!" Seru Elsa.
Meilla menghela napasnya kesal, ia bingung harus bagaimana agar namanya kembali bersih dan tidak di sangkut pautkan. Oleh hubungan Alina dan haidar.
"Udah sih, nanti juga mereka capek sendiri . Tutup kuping aja dulu La." Ujar Alina yang tidak ada solusi lain.
"Ah gak bisa, besok gue gak usah sekolah aja kali ya!" Seru Meilla.
Alina menggeleng, "jangan anjir, sebentar lagi kita ujian nanti lo ketinggalan kalau gak masuk."
Meilla nampak berpikir, "Ah gue mau Haidar, bersihin nama gue! Kan semua karena dia! Gerutu meilla.
Tiba-tiba terdengar suara lelehan dari belakang, "Meilla, Meilla dari dulu lo emang gak berubah ya, Sukanya sama temen sendiri terus, tapi sayang lo kalah terus." Ujar Vanesa yang tengah berdiri di belakang mereka.
Ketiganya otomatis menoleh ke arah Vanesa, Meilla yang mendengar cibiran itu tak terima langsung menampar pipi Vanesa dengan keras.
"Semua karena lo yang Dateng lagi ke sini!" Ujar meilla keras membuat suasana kelas menjadi hening.
Vanesa tertawa keras, "Lo hati-hati sama Meilla, dia terlalu pintar mainin perannya!" Bisik Vanesa pada Alina.
Alina menggeleng, seakan tidak percaya dengan omongan Vanesa yang menjelekkan Meilla. Alina mengenal Meilla sudah hampir 3tahjn, sedangkan kenal Vanesa hanya baru beberapa Minggu kalau. Jelas Alina lebih percaya Meilla di bandingkan dengan Vanesa.
Balik lagi, pasti semua ini karena ada alasan nya, itulah yang ada di pikiran alina.
Vanesa pergi begitu saja sambil terkekeh, keadaan di kelas menjadi riuh berisik, desas sesuai terdengar menjelekkan Meilla saat ini.
"Gak nyangka gue sama si Meilla."
"Kok Meilla bisa gitu ya sama Alina, padahal selama ini Alina baik sama dia."
"Yang gue denger sih, Meilla sama Haidar udah sahabatan dari kecil."
"Yah tapi kalau namanya sahabat, gak sedekat kaya kemarin kali. Dia gak sadar apa kalau itu nyakitin Alina."
Begitu lah kira-kira tanggapan dari teman sekelasnya. Meilla, Alina dan Elsa pun mendengar itu dengan jelas. Meilla langsung bangkit dari duduknya dan menggebrak meja.
"Eh Lo pada sini ngomong depan gue! Berani gak lo?" Teriak Meilla sambil menunjuk beberapa orang yang tadi bicara.
Tidak ada yang bergerak sama sekali dari tempatnya, takut tangan nya di buat patah oleh Meilla.
"Lo kalau gak tau kebenaran nya bisa diem gak sih!" Teriak Alina pada akhirnya yang jengah mendengar perkataan pedas untuk Meilla.
"Tuh kan La, Alina aja masih belain lo tapi lo gak tau diri deket-deket Haidar!" Teriak salah satu yang bicara.
Meilla yang ingin menghampiri nya lalu di cegah oleh Elsa dan Alina, tidak mau Meilla melakukan sesuatu yang bisa melukai orang lain.
__ADS_1
"Kalian denger ya, Meilla sama Haidar udah kenal jauh sebelum gue kenal sama Haidar. Wajar kalau Meilla bisa sedekat itu sama Haidar! Gue ajak mempermasalahkan hal itu, kenapa lo pada ribet? Teriak Lina lagi.
"Selama gue temenan sama Meilla atau selama kalian kenal sama Meilla, emangnya lo pernah lihat Meilla deket-deket sama Haidar selain kemarin? Enggak kan?"
"Situasi dan kondisi kemarin itu mengharuskan Haidar mengambil tindakan seperti itu buat ngelindungi Meilla, ya karena cuma Haidar yang Tah gimana Meilla kemarin."
"Kalau Meilla berniat ngambil Haidar dari gue, udah dari awal masuk sekolah mereka publikasikan persahabatan mereka kali! Coba punya akal di pake! Jangan cuma lihat dari satu sisi!" Ujar Alina memberi penjelasan agar mereka berhenti menghakimi Meilla.
"Sebentar lagi kita bakalan lulus, dan setelah itu mungkin kita gak akan pernah ketemu lagi. Gue harap sama kalian, bikin hari-hari terakhir kita di sekolah itu menyenangkan bukan malah jadi begini! Kelas itu di kenal kelas yang solidaritas nya tinggi, masa cuma karena masalah Meilla sama Haidar kita pecah!" Ujar Lio yang tiba-tiba datang dari luar kelas.
"Asal kalian tau, gue juga sahabatan sama Meilla sejak SMP dan gak pernah tuh gue lihat Meilla ngedeketin Haidar! Lo jangan pada termakan sama omongan Vanesa, dia anak baru yang bisa ngacauin ini semua." Ujar Lio lagi menyindir sosok Vanesa yang orangnya entah kemana.
"Vanesa sama Meilla itu punya masalah sejak SMP, jadi wajar kalau mereka masih membawa dendam masing-masing sampai sekarang!" Beritahu Alina pada semuanya dan membuat semuanya hanya bisa diam.
Semua fakta yang di sebutkan Alina dan Lio membuat siapapun kaget, ternyata Meilla bukan orang sembarangan, maksudnya dia sahabatan dengan most wanted di sekolah ini.
"Illa, sorry." Ujar semua yang tadi menghakimi Meilla dan meilla hanya bisa mengangguk.
Lio mendekat ke arah meja Meilla, lalu duduk di samping Meilla. Tanpa di duga Lio mengelus punggung Meilla dan hal itu pun di lihat oleh Elsa.
"Sabar." Hanya itu yang keluar dari mulut lio.
Elsa bangkit dari duduknya untuk keluar kelas, hatinya panas melihat Lio mengelus punggung Meilla tadi. Belum sempat melangkah, tangannya di cekal oleh Lio.
"Mau kemana?" Tanya Lio.
"Mau cuci muka!" Ketus Meilla membuat Alina memicingkan matanya, seperti tidak beres pikirnya.
"Gue anter ya?"
"Gak perlu, gue masih punya kaki buat jalan sendiri!" Ujar Elsa dan menghempaskan tangan Lio begitu saja.
Belum sempat Lio bangun, Alina menahan Lio, "Duduk dulu sebentar, gue mau ngomong " ujar Alina.
"Gue mau ngejar Elsa, Lin. Nanti aja ya?" Seru Lio yang ingin kembali bangkit.
Alina menahan tangan Lio, "Duduk sebentar doang!" Seru Alina galak.
Akhirnya mau tak mau Lio pun duduk kembali, menunggu apa yang akan Alina tanyakan.
"Lo sama Elsa, ada hubungan lebih selain temen ya?" Tanya Alina dengan suara pelan.
Lio tidak berpikir kalau Alina pakan menanyakan hal itu, apa karna tingkah laku Elsa dan dia terlihat seperti orang pacaran?
Lio diam tidak menjawab, lalu melirik Meilla dan Alina secara bergantian. Ternyata yang di lirik sedang menatapnya tajam.
"Jawab!" Galak Meilla.
Lio mengangguk pelan, "Iya, gue jadian sama Elsa di ulang tahun Bobi!" Jujur Lio dengan nada suara pelan.
Alina dan Meilla kaget, "Apa?" Teriak keduanya dan seisi kelas menoleh ke arah mereka.
"Sorry." Ujar Alina sambil menyengir ke arah teman-temannya.
Lio ingin bangkit tapi lagi-lagi di tahan, kali ini bukan Alina tetapi Meilla.
Meilla menoyor kepala Lio cukup keras sampai terdengar suara meringis dari mulut lio.
"Lo pacaran sama dia, ngapain lo segala pake ngelus punggung gue sialan! Lo mau bikin Elsa salah paham lagi sama gue?" Bentak meilla.
__ADS_1
"Tau lo, songo banget anjir!" Seru Alina menimpili.
Lio menggaruk kepalanya, "gue kira dia gak cemburuan kaya Lo Lin, eh ternyata gue salah!" Seru Lio jujur.
Meilla menoyor lagi kepala lio, begitu pula dengan Alina, "Capek-capek gue klarifikasi tadi tentang gue sama Haidar, eh lo lagi bikin masalah! Emang ya temen temen Lo gak ada otaknya semua!" Ujar Alina.
"Termasuk gue Lin?" Ujar meilla lalu di jawab dengan gelengan dan cengiran Leh Alina.
"Ya udah makanya gue sekarang mau kejar Elsa buat minta maaf, eh malah di tahan sama lo berdua!" Ujar Lio membela diri.
"Ya udah sono buruan! Bawa dia kesini, gue juga mau minta maaf takut dia juga salah paham sama gue;" ujar Meilla dan di anggukin oleh Lio.
Setelah kepergian Lio, Alina pun menceritakan apa yang terjadi kemarin saat berkunjung ke rumah Haidar dan bertemu dengan Indira.
"Gue berharap, nyokap nya Haidar bisa segera sembuh." Dia Alina dan di Aminin oleh Meilla.
"Gue harap juga begitu, kasihan Haidar selama ini dia nanggung beban hidup sendiri, meskipun gue tahu dia gak pernah kekurangan. Apapun." Ujar meilla.
"Illa, gue nanya sesuatu boleh?" Meilla mengangguk mengizinkan Alina bertanya.
"Memang benar, dulu lo juga suka sama Haidar sampai lo minta ke orang tua lo buat bikin perjodohan antara lo sama Haidar?" Tanya Alina.
Alina mengetahui itu dari Elsa makannya Alina pun kaget dengan fakta itu.
Meilla mengangguk pelan, "itu dulu, awal gue masuk SMP Lin, tapi waktu terus berjalan dan perasaan itu menghilang."
"Lo yakin rasa itu udah bilang? Kalau lo masih simpan rasa itu, gue siap mundur kok La."
Meilla mengangguk cepat sangat yakin bahwa perasaan itu memang sudah hilang dari hatinya dan terganti dengan perasaan yang baru dengan seseorang.
"Seiring berjalannya waktu, gue malah jatuh cinta sama Edo tapi sayang Edo gak bisa balas perasaan gue waktu itu."
Alina bingung dengan penjelasan Meilla, "Kalau gak salah, waktu itu lo bilang mantanya Nanda? Maksudnya li pernah pacaran sama Nanda tapi hati lo buat Edo?"
Meilla menggeleng, ia terjebak dengan situasi ini. Benarkah, kalau sekali berbohong akan terus berbohong dan sekarang waktunya kebohongan itu terungkap.
"Waktu itu gue bohong soal Nanda mantan gue, gue cuma gak mau lo terus nanya tentang Haidar, karena gue gak ada hak buat ngasih tau lo semua kehidupan Haidar."
Alina mengangguk paham posisi Meilla saat itu, "Illa, kalau gue minta lo jangan bohong lagi sama gue, bisa gak?"
Meilla mengangguk cepat, "Bisa Lin, bisa banget. Gue minta maaf banget kalau selama ini belum jadi temen yang baik buat Lo."
"Gue juga minta maaf soal kemarin Lin, maaf kalau gue terlalu berlebihan dan Haidar juga terlalu berlebihan. Lo mau kan maafin gue?"
Alina mengangguk, "Kalau gue marah, gue gak mungkin Deket Lo sekarang pasti milih ngediemin lo kaya waktu gue kecewa dulu."
"Makasih banget Lin, lo bener-bener terlalu baik, gue harap lo sama Haidar cepet bersatu."
Alina mengangguk lalu berkata amiin dalam hati, meskipun hatinya sedikit kecewa karena meilla telah membohongi nya lagi tentang Nanda.
"Terus sekarang lo sama Edo gimana?"
"Dia bilang mau berjuang buat gue, tapi sampai sekarang gue gak pernah tuh lihat batang hidungnya!" Gerutu meilla.
"Gue bantuin mau?"
Meilla menggeleng, "Jangan, biarin, gue mau tahu sampai mana dia berjuang buat gue." Alina akhirnya mengangguk.
"Gue juga do'ain biar lo sama Edo bisa bersatu." Doa Alina untuk Meilla dan di Aminin kembali dalam hati Meilla.
__ADS_1