Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
pelakunya


__ADS_3

Setelah merencanakan bagaimana selanjutnya tentang masalah Nanda. Mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sangat tidak baik untuk Meilla karena tengah hamil muda.


Seperti biasa, Haidar mengantar kan Alina lebih dulu pulang ke rumahnya. Seperti biasa pula, sebelum mereka berpisah, Haidar selalu mencium kening Alina dan memeluk nya erat, jangan lupakan juga ungkapan cinta yang selalu membuat Alina merasa beruntung.


“Makasih karena kamu masih terus menemani hari ku sampai saat ini. Semoga selalu seperti ini!” seru Haidar sambil memeluk Alina.


Alina mengangguk di dalam pelukan itu, “Aku pun berharap seperti itu!” jawab Alina.


Setelah itu Haidar melepaskan pelukannya lalu mencium kening Alina cukup lama, membuat Alina menikmati tiap detik yang berlalu saat itu.


Setelah merasa puas, Haidar melepaskan ciuman itu kalau beralih mengelus wajah Alina dengan lembut, “Selamat beristirahat sayang, maaf karena kamu pulang kemalaman. I love you, Alina!” seru Haidar.


Alina tersenyum manis, “I love you more, Haidar. Kamu hati-hati di jalan ya, kabarin aku kalau sudah sampai!” seru Alina dan di anggukin oleh Haidar.


Setelah drama perpisahan antara Alina dan Haidar itu, akhirnya Haidar melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alina setelah melihat Alina telah masuk ke dalam rumah nya.


...****************...


Alina membuka pintu utama, dan ia kembali merasakan sepi di dalam rumah ini. Jelas karena hanya ada dirinya saja di sini yang belum tidur. Adero da Eni mungkin sudah tidur di kasur empuk mereka masing-masing.


Alina melangkahkan kakinya menuju kamar, dengan bersanding kecil membuat Alina tak sadar kalau ada Adero berdiri di ujung tangga atas.


Alina kaget setelah mendengar suara Adero yang menyapa nya dengan nada ketus, yang sama sekali belum pernah Alina dengar.


“Bary pulang jam segini?” ketua Adero.


Alina mengangguk, “Iya ada urusan tadi kak!” jawab Alina dengan sopan.


“Cowok Lo mana? Cuma nganterin lo sampai depan gerbang? Di kira lo gak punya kakak kali ya, gak pernah sopan cowok lo sama gue!” ketus Adero.


Alina menggeleng, “Selama ini dia mau izin sama kakak, tapi selalu aja kakak gak pernah ada di rumah!” jawab Alina memang begitu adanya.


Adero menggeleng, “Lo gak lihat sekarang jam berapa? Bisa-bisanya dia bawa Lo pulang jam segini? Mau jadi apa lo, hah?”

__ADS_1


“Jangan karena lo udah tunangan sama dia, terus kalian seenaknya pulang malam kaya gini. Jangan buat malu keluarga Lin!” sambung Adero dengan nada tinggi.


Alina menggeleng, “Di hilang gue ada urusan mendadak tadi, makanya pulang malam ini. Gue gak kaya lo, yang kadang gak pulang semalaman!” seru Alina emosi, sampai ia menggunakan lo-gue dengan kakaknya.


“Ngurusin temen lo yang masuk penjara?” ujar Adero membuat Alina kaget dengan ucapan itu.


Dari mana kakaknya tahu soal itu?


“Lo tahu dari mana masalah itu? Apa selama ini lo selalu nguntit gue?” tuduh Alina.


Adero terkekeh, “Gue ada di lokasi kejadian, saat temen lo di tangkap polisi!”


Alina semakin kaget dengan berita itu, sejak kapan Adero main ke club? Yang Alina tahu selama ini Adero hanya sekedar mengikuti balap liar saja.


“Kak, Lo pergi ke club? Sejak kapan? Lo tahu kan kalau papah gak suka lihat Lo balapan liar, apalagi masuk ke club!”


Adero menyandarkan punggungnya ke dinding di samping pintu kamar Alina, “Selagi papah gak tahu, gue bebas mau kemana aja!”


“Kak, apa Lo lihat siapa yang ngejebak Nanda?” tanya Alina.


Adero tertawa sinis kali ini, “Kalau gue bilang, gue yang jebak teman lo itu. Lo percaya gak?”


Alina menggeleng, “Dengan alasan apa lo ngejebak temen gue kak? Emang dia punya masalah sama lo?” bukannya menjawab Alina malah balik bertanya tentang alasannya.


Adero mengangguk, “Dia ngambil pacar gue dek! Gue benci sama dia, makanya sengaja gue jebak dia malam itu!”


Alina terdiam sebentar mendengar kata pacar, Aya ****! Apakah pacar yang di maksud Adero itu adalah gadis?


“Tunggu, pacar lo Gadis?”


Adero mengangguk lalu tersenyum, kakaknya ini seperti memiliki dua kepribadian, tadi marah sekarang malah tersenyum, Alina jadi takut.


“Kak, Gadis itu bukan perempuan yang baik. Gue kenal dia, karena temen satu sekolah gue dulu! Terus cuma karena Gadis, Lo tega ngelihat sahabat gue masuk penjara?” seru Alina.

__ADS_1


“Mau dia baik atau ngga, gue cinta sama dia Lin! Selama ini, cuma dia bisa ngertiin gue. Tapi setelah ketemu sama temen lo itu, dia mutusin gue dan pacaran sama temen lo! Gue benci sama Nanda!”


Alina menggeleng tak habis pikir dengan ini semua, Adero seperti anak muda yang baru beranjak dewasa karena dua mengatasi masalah nya dengan cara seperti ini.


“Kak, Ini semu bisa di bicarain baik-baik gak perlu sampai ke kantor polisi segala kaya gini. Sekarang gue tanya lagi sama lo, dapet dari mana barang haram itu?”


Adero terdiam, “Kak jawab! Apa Lo juga makai barang itu selama ini?” tuduh Alina dan membuat Adero langsung menggeleng cepat.


“Enggak Lin, gue gak separah itu. Gue cuma beli ke temen gue, dan itu hanya buat ngejebak si Nanda.” jawab Adero yang takut Alina malah melapor ke orang tuanya.


Bisa-bisa dia yang di masukan ke dalam kantor polisi oleh kedua orang tuanya sendiri. Karena Reymond melarang keras perbuatan ini, kalau hanya sekedar mabuk itu tidak jadi masalah yang serius untuk Reymond, karena Reymond tahu semakin di larang akan semakin di lakukan. Tapi kalau untuk narkoba, Reymond tidak akan bisa memaafkan.


“Kak, tolong buat pernyataan kalau ini semua cuma jebakan. Gue mau Nanda bebas dari penjara, kasihan kak!” mohon Alina.


Adero lagi-lagi menggeleng, “Ogah, dia tetep musuh gue Lin, selagi Gadis masih pacaran sama dia. Lagi pula kalau dia di rest, dan negatif dua bakalan bebas sendiri!”


“Kak, Gadis itu bukan cewek yang baik. Gue gak seru kalau lo sama dia. Cari cewek yang bener kak, banyak kok!”


“Gye cinta sama Gadis, kaya lo cinta sama Haidar. Gue bakal perjuangin cinta gue ini sampai kapan pun!”


Alina menghela napasnya, sama seperti Nanda waktu itu saat di beritahu kalau Gadis bukan perempuan baik, dan Nanda tetap ngotot kalau Gadis tidak seperti apa yang Alina pikir. Padahal Alina tahu persis bagaimana latar belakang keluarga Gadis sejak dulu.


“Gue mohon, pikirin lagi omongan gue tadi, atau lo tahu resikonya akan seperti apa nantinya. Gue pun yakin, papah gak akan setuju sama pilihan lo kali ini!”


“Terserah, yang jelas gue akan rebut Gadis kembali dari temen lo itu! Gue yang lebih dulu kenal Gadis, dengan gampangnya tuh curut ngambil kekasih gue!” ujar Adero kesal.


Alina hanya diam lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak menyangka kalau semua terjadi karena ulah kakaknya sendiri. Bagaimana ia menceritakan ini semua kepada sahabatnya? Alina takut dengan respon mereka setelah mengetahui hal ini.


“Kenapa sellau ada ja masalah nya? Kapan gue bahagianya kalau kaya gini?” seru Alina pada dirinya sendiri.


Setelah itu, Alina langsung bersih-bersih sebelum tidur dan sebelum sleep call dengan kekasih tampannya yang mungkin saat ini juga tengah bersih-bersih.


Alina akan menceritakan ini semua pada Haidar lebih dulu, karena Alina tahu Haidar akan merespon seperti apa. Kalian pun pasti tahu, karena Haidar orang yang bijak!

__ADS_1


__ADS_2