
Setelah kunjungannya ke ruang Alina hari itu, sejak itu pula Haidar seakan menghilang dari kehidupan Alian. Haidar yang tidak masuk kuliah, Haidar yang tidak bisa di hubungi, dan Haidar yang tidak nampak dimana pun, bahkan di rumah nya saja saat Alina kunjungi tidak ada.
Indira bilang, Haidar pergi bersama dengan teman kampus nya selama beberapa hari. Tapi karena Alina tidak mengetahui satu pun teman kampus Haidar, jadi agak sulit mencari informasi tentang Haidar.
Alina merasa bersalah, mungkin penyebab Haidar menghilang karena Reymond yang menolak dan mengusir Haidar saat itu. Seja kejadian itu hingga kini, Alina tidak berhenti menangis bahkan ia suka bolos kuliah hanya untuk mencari Haidar.
Alina bertanya kepada para sahabatnya pun, tidak ada yang tahu bahkan kepada meilla sekali pun. Alina bingung harus bagaimana lagi. Apakah hubungannya harus berakhir seperti ini? Bahkan untuk menyalahkan ke dua orang tuanya pun Alina tak mampu.
“Haidar, kamu kemana? Kenapa kau ninggalin aku kaya gini?” seru Alina pada dirinya sendiri.
Saat ini Alina sedang berada di salah satu mall untuk berkunjung ke sebuah toko buku. Karena ada buku yang harus Alina beli untuk keperluan tugas kampusnya. Sebenarnya malas, karena mood Alina sedang tidak baik tetapi harus.
Sedang memilih buku, ponsel Alina berdering tanda ada sebuah panggilan masuk. Dengan cepat Alina mengambil ponselnya itu di tas lalu menerima panggilan tersebut, ternyata dari Elsa.
“Iya, Sa?”
“....”
“Di mall xxxx, kenapa?”
“....”
“Oke!”
Bip
Alian menghela napasnya, sebenarnya malas untuk bertemu orang saat ini. Ali a memilih sendiri, meskipun merasa kesepian. Tetapi bagaimana, Elsa adalah sahabat nya.
Setelah selesai membeli buku, Alian berjalan menuju sebuah tempat makan untuk menunggu Elsa datang. Tapi tak di sangka saat masuk ke tempat makan tersebut, Alina melihat seseorang yang ia kenal.
Ingin menghampiri tetapi sepertinya orang tersebut sedang sibuk. Akhirnya Alina memilih duduk di bangku kosong yang kebetulan tidak jauh dari orang tersebut. Selesai memesan makanan, Alina mengeluarkan laptopnya dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Tak di sangka pula, orang tersebut melihat ke arah aliran dan menghampiri Alina.
“Alina?” sapa Alvaro, orang yang di maksud Alina tadi.
Alina mengangkat wajahnya menoleh ke arah suara tersebut, “Alvaro.” seru Alina.
Alvaro tersenyum lalu tanpa di suruh, ia duduk di bangku depan Alian, “Lagia da Maslaah ya?” seru Alvaro langsung to the point.
Alina menggeleng lalu tersenyum.
“Gue tahu lo Alina, kalau sendiri kaya gini pasti lagi ada sesuatu yang terjadi sama lo. Mau cerita?” Tanya Alvaro.
Alina menggeleng lagi, “Gue gak papa alvaro, kebetulan emang lagi pengen sendiri.” seru Alina.
Alvaro mengangguk pura-pura percaya saja, ia tidak mau memaksa Alina takut Alina tidak nyaman.
“Itu cewek baru lo?” tanya Alina pelan.
__ADS_1
Alvaro terkekeh, “Bukan, dia sekertaris gue. Kenapa, Lo cemburu ya kalau gue punya cewek?” seru Alvaro sambil menaik turunkan alisnya.
Alian terkekeh, “Ngaco dasar, lo tahu gue udah punya Haidar mana mungkin cemburu sama lo.”
“Ehem tapi kenapa dia juga kaya seumuran sama lo?” tanah Alina lagi.
Alvaro mengangguk, “Iya emang, dia itu anaknya temen bokap gue. Kebetulan sama lulusan SMA juga makanya masih muda.”
“Ceritanya lo di jodohin gitu?” tuduh Alina sambil terkekeh.
Alvaro langsung menggeleng cepat, “Pikiran lo ngaco, gue sama dia cuma sebatas rekan kerja Alina. Gak perlu cemburu berlebihan gitu ah!” cibir Alvaro sambil terkekeh.
Alina langsung memanyunkan bibirnya, “Kan kirain.” seru Alina.
“Alina, Lo sama Haidar aman kan? Kalau Haidar sudah gak bisa jagain lo lagi bilang sama gue ya, biar gue yang gantiin dia.” seru alvaro, membuat Alina terdiam tidak menjawab apapun.
Belum sempat menunggu jawaban Alina, klien yang sedari tadi Alvaro tunggu sudah datang membuat Alvaro harus segera balik ke mejanya untuk meeting.
“Lin, gue balik ke sana dulu ya, ada pekerjaan yang harus gue selesaikan.” pamit Alvaro.
Alian mengangguk, “Okay, semangat bestie biar cepat kaya raya.” seru Alina.
Alvaro bangkit dari duduknya, tak lama ponsel Alina berdering ada panggilan dari Elsa. Dengan cepat Alina menerima dan memberitahu lokasinya saat ini. Pesanan Alina datang, bersamaan dengan datangnya Elsa.
“Lo tumben gak ngajak gue, Lin!” seru Elsa setelah selesai memesan makanan.
Elsa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan memberikan kepada Alina. “Ini undangan buat lo.” seru Elsa.
Alina menerima itu dan langsung melihat siapa yang telah mengundang nya, betapa terkejutnya Alian saat melihat nama Elsa dan Lio yang tertera di sana.
“Lo sama Lio mau tunangan?” tanya Alina untuk memastikan kebenaran nya.
Elsa mengangguk lalu tersenyum, “Iya, Lin. Lusa gue sama Lio akan tunangan, maaf kalau gue kasih kabar nya mendadak.”
Tiba-tiba wajah Alina berubah menjadi sedih, karena kembali mengingat kejadian waktu itu yang menyebabkan Haidar menghilang hingga sekarang.
“Lo beruntung bisa di restuin sama kedua orang tua lo, meskipun lo masih kuliah. Gak kaya gue, yang sekarang hubungan gue pun jadi gak jelas.”
“Haidar belum ada kabar sama sekali, Lin?”
Alian menggeleng.
“Lo yang sabar ya, mungkin dia lagi nenangin diri dulu sebentar. Gue yakin dia gak akan nyerah dan ninggalin lo begitu aja.” seru Elsa.
Alian mengangguk, “Gue harap pun begitu Sa. Selamat ya buat lo sama Lio, semoga kalian bahagia.” seru Alina.
Elsa mengangguk, “Makasih atas ucapannya, Lo Dateng ya jangan enggak.” Alina mengangguk.
__ADS_1
Elsa menoleh ke arah kanan, dan melihat Alvaro sedang bekerja, “Lin, itu Alvaro bukan sih?” tanya Elsa.
Alian mengangguk, “Iya, dia lagi meeting.”
Elsa tersenyum, “Dia keren ya Lin.”
Alina menepuk bahu Elsa, “Ingat lusa lo mau jadi tunangan orang ” Alina mengingat kan Elsa.
Elsa terkekeh, “Tapi serius Lin, Alvaro keren banget masih muda udah jago banget bisnis kaya gitu.”
Alian mengangguk, “Iya, udah lah gak usah ngomongin Alvaro kasihan nanti telinganya panas karena kita omongin gini.” kekeh Alina.
Keduanya makan bersama setelah makanan Elsa datang.
“Sa, kira-kira Haidar kemana ya?” tanya Alina setelah selesai makan.
Elsa mengangkat bahunya, “Gak tau Lin, Lio aja coba cari info tapi gak berhasil.”
Alina menghela napasnya sedih. “ Gue takut papah ngomong yang bikin Haidar sakit hati waktu Haidar di suruh keluar dari rumah waktu itu.”
Elsa kaget, “Haidar di usir sama papah lo?”
Alina mengangguk.
“Anjir gue baru tau, pantes Haidar sampai segininya. Lo udah tanya ke Meilla?”
Alina mengangguk, “Udah dan Meilla bilang gak tau. Bahkan nyokapnya Haidar juga bilang Haidar pergi sama temen kampusnya.”
Elsa terdiam, bingung harus menjawab apa. Takut salah dan membuat Alina semakin sedih memikirkan masalah ini.
“Cabut yuk Lin, lo udah gak ada kepentingan lagi kan di sini?” ajak Elsa.
Alian menggeleng, “Yuk, gue mau langsung balik mau lanjut nugas.”
Elsa mengangkat tangannya memanggil pelayan, untuk meminta tagihannya. Tetapi Alina dan Elsa di buat kaget.
“Maaf mba, bill nya sudah di bayar sama cowok yang duduk di sana.” seru pelayan sambil menunjuk bangku Alvaro yang sedang serius berbicara dengan seorang pria paruh baya.
Setelah pelayan itu pergi, “Gila, udah ganteng, baik, pinter bisnis pula. Beruntung banget yang jadi pacarnya dia nanti.” seru Elsa.
Alina mengangguk setuju, “Benar tuh, yaudah yuk cabut. Natar aja bilang makasih ya, dia kayaknya lagi sibuk.”
Alina dan Elsa bangkit dari duduknya, saat melewati meja Alvaro, tanpa di sangkar Alvaro sempat mengatakan, “pulang nya hati-hati Alina, inget pesan gue tadi gue masih di sini.” seru Alvaro dengan nada pelan yang hanya bisa di dengar oleh mereka.
Alina hanya mengangguk lalu kembali melangkah bersama dengan Elsa. Hatinya di buat bimbang saat ini, ingin tetap bersama Haidar tapi kondisinya begini, ingin mundur tapi takut salah langkah!
Alina harus bagaimana jadinya, menurut kalian?
__ADS_1
Kira-kira Haidar kemana ya?