Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
menyesal


__ADS_3

Sekarang sudah pukul 2 malam dan Alina masih berada di arena balapan bersama Alvaro. Sejak tadi Alvaro sudah mengajak Alina untuk pulang, terapi Alina kekeuh masih ingin tetap di sini.


Alina merasa bebas saat ini, seakan Alina tengah melepas topeng yang selama ini ia pakai. Bukan karena selama ini ia munafik, tetapi ia hanya bosan dengan kehidupan sehari-hari nya selama ini. Apalagi yang selalu saja tertuju pada seorang haida, seseorang yang tidak pernah bisa menghargai nya.


Mengapa baru sekarang Alina menyadarinya itu? Apa sekarang Alina sudah bosen dengan kesibukan nya yang hanya mengejar seorang Haidar? Seorang yang terus berlari tanpa menoleh ke belakang untuk melihatnya?


"Lin, balik yuk? Ini udah jam 2 pagi loh!" Buku Alvaro lagi, tetapi lagi-lagi Alina hanya menggeleng lalu kembali berbincang dengan para gadis yang ada di sana.


"Lin, gue sama anak-anak mau cabut juga, Lo gue anter pulang dulu ya?" Ujar Alvaro lagi.


"Kemana?" Bukannya menjawab malah bertanya balik.


"Ehen, ke base camp. Lo balik ga?


"Kenapa?"


"Tempatnya gak pantes buat Lo datengin."


"Gue ikut ya?"


Alvaro menggeleng, "gak bisa Lin, di sana tempatnya buruk dan Lo pasti gak akan nyaman."


Alina menggeleng, "please, gue ikut ya?"


"Udah gak apa-apa ro, ajak aja. Ada kita ini yang jagain dia!" Ujar salah satu cewek yang namanya Tasya.


Alvaro menggeleng, "Alina gak mungkin nyaman di sana sya, Lo tau sendiri keadaan basecamp kita."


"Gue janji gak akan ngerepotin ko kok. Please, gue ikut ya kali ini aja." Mohon Alina.


Akhirnya mau tidak mau, Alvaro mengangguk pelan, memang benar yang berita sempat Alvaro dengar Alina itu tipe perempuan yang keras kepala.


Semua anggota atau teman-teman Alvaro tadi hendak pergi dari area balapan menuju basecamp mereka. Serah jadi kebiasaan mereka, kalau habis balapan akan berkumpul di basecamp apalagi saat menang maka akan ada acara makan-makan disana.


"Varo, gue seneng deh bisa kaya gini." Ujar Alina di atas motor.


Alvaro yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah spion untuk melihat wajah cantik milih Alina. Alvaro salah mengartikan maksud dari ucapan alina, Alvaro kita Alina senang karena berada di dekatnya seperti ini.


"Seneng karena?" Pancing Alvaro.


"Seneng karena gue ngerasa bebas, bukan karena bebas pergi malam kaya gini ya, tapi karena gue ngerasa inilah diri gue sendiri. Gue bisa nge ekspresiin apapun yang rasain malam ini." Jawabannya membuat Alvaro merasa kecewa.


"Memangnya selama ini yang Lo lakuin bukan dari hati Lo sendiri?" Tanya Alvaro.


"Dari hati gue juga sih, cuma gue kaya ngerasa jenuh aja sama apa yang selama ini gue lakuin. Makannya malam ini gue ngerasa kaya bebas aja dari itu semua." Ujar Alina.


"Lo bisa kayak gini terus kok lin."


"Caranya?"


"Lo terima apa yang gue ajuin tadi, gue jamin Lo akan terlepas dari kejenuhan Lo selama ini."


Tapi, kalo Lo belum siap gak apa-apa kok, gue akan setia nunggu sampai Lo siap." Ujar Alvaro lagi.


"Tapi kalau gue mau ikut lo gini lagi, boleh kan ro?"


Alvaro hanya mengangguk dan tersenyum lewat kaca spion. "Ternyata hati lo masih di tutup ya Lin." Ujar Alvaro dalam hati.


****


Sedangkan di tempat lain, ada seseorang yang tengah kebingungan atau panik melihat kamar adik perempuan nya kosong alias tidak ada orang di sana.

__ADS_1


"Kemana coba si Alina, gini hari belum pulang!" Tanyanya pada diri sendiri.


Adero yang baru saja pulang langsung dapat laporan dari Eni kalau Alina belum pulang ke rumah. Dengan cepat Adero mengecek kamar Alina dan benar apa yang di bilang Eni. Tanpa menunggu lagi, Adero segera menghubungi teman-teman adiknya. Meilla, Elsa dan Lio itulah yang Adero hubungi.


Dan dari mereka bertiga tidak ada yang tau dimana Alina berada sekarang. Semakin panik, itulah yang dirasakan Adero sekarang. Dengan cepat Adero mengambil kunci mobilnya dan segera mencari Alina.


Disisi lain, Meilla yang sedang menonton Drakor hingga jam 2 pagi pun di kagetkan dengan suara deringan dari ponselnya. Dengan cepat iya menerima panggilan dari Adero, kakaknya Alina.


"Iya kak?


"..."


"Enggak kak."


"..."


"Belum pulang?"


"..."


"Oke kak l, aku coba bantu cari ya kak."


Bipp


Setelah panggilan itu terputus dengan cepat Meilla menghubungi seseorang yang ia yakini tahu di mana keberadaan Alina saat ini. Karena yang ia tau, malam ini Alina akan pergi bersama dengan Haidar.


"Dibawa kemana tuh ana orang sampai jam segini belum pulang!" Gerutu meilla sambil menunggu terhubung nomor Haidar di ponselnya.


Tak lama terdengar suara Haidar.


"Halo, Alina di mana?" Tanya Meilla to the point.


"...."


"...."


"Terus sekarang kemana? Kenapa sampai jam segini Alina belum juga sampai rumah?"


"...."


"Iya, Lo gak nganterin dia pulang?"


"...."


"Brengsek!"


Bipp


Meilla yang mendengar jawaban dari Haidar langsung emosi, bisa-bisa nya Haidar tidak mengantarkan Alina pulang padahal Haidar sendiri yang membawa Alina keluar.


"Emang dasar manusia laknat! Kenapa lo gak mati aja sih dar!" Gerutu meilla.


Sekarang Meilla bingung harus bagaimana.


Tak lama deringan ponsel kembali terdengar, dan ternyata dari Elsa yang menanyakan hal yang sama seperti Adero.


"Lo dimana sekarang?" Tanya Meilla pada Elsa.


"...."


"Bilang Lio suruh jemput gue ke sini, gue mau ikut cari Alina, kalau gue keluar sendiri mana boleh."

__ADS_1


"...."


Bipp


Setelah menutup panggilan itu, Meilla segera berganti pakaian.


Tak lama ponsel nya kembali berdering dengan cepat Meilla menerima panggilan tersebut tanpa melihat yang tenga menghubunginya.


"Dimana?" Tanya Meilla.


"...."


"Haidar?" Ujar meilla sambil melihat nama yang tertera di ponselnya dan memang benar yang di panggilan itu Haidar.


"...."


"Ngapain lo jemput gue?"


"...."


Bip


"Kenapa malah tuh anak yang jemput gue?" Ujarnya sambil turun ke bawah.


Dan saat sampai di ruang tamu, terlihat Haidar di sana tengah duduk bersama dengan Fandi papanya.


"Tuh dia Meilla, kalian hati-hati ya. Kalo perlu bantuan segera hubungi papi." Ujar Fandi dan di anggukin oleh Haidar dan meilla.


Setelah pamit pada Fandi, keduanya langsung keluar rumah Meilla dan langsung masuk ke dalam mobil Haidar.


"Kenapa lo gak anter dia pulang brengsek!" Ujar meilla.


Haidar terdiam, ia merasa bersalah saat ini. Karena nya Alina menghilang sekarang.


"Jawab anjing!" Bentak meilla yang sudah emosi.


"Gue gak suka denger Lo bicara kata kasar Meilla!" Ujar haidar.


"Lo brengsek dar, gue udah sering bilang sama lo. Kalau Lo gak bisa nerima Alina, setidaknya lo gak bikin dia sakit!"


Haidar hanya terdiam dan tidak menanggapi omongan Meilla. Lagi-lagi terdengar suara ponsel Meilla, dan ia ingat kalau Elsa dan Lio akan menjemput nya di rumah tadi.


"Hallo, sorry gue udah di jalan sama Haidar."


"...."


"Iya."


"...."


"Oke, gue kesana sekarang."


Bipp


Pasti setelah ini Elsa akan bertanya mengapa Meilla bisa bersama haidar?


"Ke sekolah sekarang, kita ketemu Elsa sama Lio dulu di sana." Ujar meilla dan di anggukin oleh Haidar.


Tidak di pungkiri kalau Haidar pun khawatir dengan keberadaan Alina saat ini. Pasalnya ponsel Alina tidak bisa di hubungi sejak tadi dan semakin mereka panik.


"Semoga lo baik-baik aja Lin." Doa Haidar dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2