
Setiap manusia mempunyai masalalu, entah itu masa lalu yang manis atau pun masa lalu yang buruk yang pernah mereka rasakan. Tetapi bukanlah seharusnya masa lalu tidak perlu di ingat kembali?
...****************...
"Ngapain?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Edo yang melihat Vanesa mengikuti langkah Haidar.
Vanesa tidak menjawab pertanyaan itu dan pergi begitu saja.
"Haidar, tunggu." Panggil Vanesa tapi tetap di acuhkan oleh Haidar.
Edo menarik tangan Vanesa agar berhenti melangkah, "Lo mau ngapain?" Edo kembali bertanya.
"Gue cuma mau ketemu Haidar, Lo tau kan udah berapa tahun gak ketemu dia!"
Edo menggeleng, "buat apa lagi?"
Belum sempat Vanesa menjawab secara seseorang terdengar memanggil namanya.
"Vanesa." Panggil Alina yang kembali lebih dulu dari kantin karena di kantin ada Haidar.
Alina berjalan menghampiri Vanesa yang di depannya ada Edo juga. Alina bingung buat apa Edo menghampiri Vanesa. Ah paling Edo mau modus batin Alina.
"Lo lagi ngapain di sini? Katanya tadi gak mau ke kantin?" Tanya alina pada Vanesa dan Edo kaget karena melihat Alina terlihat akrab.
"Hem, iya. Gue cuma mau ke toilet kok." Jawab Vanesa bohong.
"Kan toilet disana, kenapa lo lewat jalan sini?" Vanesa hanya mengangguk.
Sekarang Alina menatap Edo, "Lo ngapain do di sini? Lagi modusin anak baru ya lo?" Goda Alina.
"Engga anjir, gue kebetulan lewat aja terus ketemu sama dia." Ujar Edo sambil menatap Vanesa dengan tatapan tak suka.
Alina menepuk bahu Edo pelan dan membisikkan, "dia cantik loh, gak mau sama dia aja? Dari pada sama Meilla udah galak mantan, sahabat sendiri pula." Bisik Alina pelan dan membuat Edo kaget dengan semua ucapan Alina. Apalagi ucapan Meilla mantan sahabatnya sendiri? Siapa?
"Apaan sih Lo Lin, udah gue cabut!" Pamit Edo.
"Nanti gue mintain nomer teleponnya tenang Do." Teriak Alina.
****
Di kantin sekolah
Haidar dan yang lainnya duduk di meja biasa. Tak jauh dari meja Meilla yang tengah duduk bersama kedua sahabatnya.
Haidar menatap Alina dari tempat duduknya berharap Alina akan menghampiri seperti kemarin-kemarin. Tetapi sayangnya hal itu musnah begitu saja, karena Alina lebih memilih pergi ke kelas.
__ADS_1
Ada yang aneh yang Haidar rasain sekarang, seperti ada yang hilang dari jiwanya. Apakah itu seorang Alina? Atau yang hilang hanya kebiasaan Alina yang selalu mengganggu dirinya?
Lamunan Haidar Butar saat mendengar suara Edo yang tiba-tiba datang, "Lo kenapa gak bilang kalau tuh cewek ada di sini?" Ujar Edo sambil menepuk meja dan menatap Lio.
Meilla yang mendengar itu langsung menoleh ke arah meja Haidar begitu pula dengan Elsa.
"Gue mau Haidar yang liat sendiri do." Ujar lio
"Buat apa anjing!" Teriak Edo membuat orang yang ada di sana mendengar langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
Nanda yang tidak mau mereka jadi pusat perhatian langsung menarik tangan Edo agar duduk dan mencoba menenangkan.
"Lo sama sekali gak tau masalah ini Dar?" Ujar Nanda.
Haidar yang mendengar pertanyaan itu langsung merasa bingung. Apa maksudnya dari pertanyaan Nanda tadi.
Nanda yang paham akan kalau Haidar bingung. "Maksud gue, sebelumnya lo gak tau kalau Vanesa mau pindah sekolah ke sini?"
Lio, dan Edo yang mendengar pertanyaan itu pun langsung menepuk bahu Nanda, bermaksud untuk tidak menanyakan hal itu. Karena seharusnya nanda tau bagaimana hubungan Vanesa dan Haidar.
Haidar hanya menggeleng dan tidak mau menjawab apapun.
"Tapi Dar, tadi gue liat Alina sama Vanesa udah akrab aja." Ujar Edo.
Haidar langsung menatap Edo dan begitu pula yang dilakukan oleh lio dan Nanda.
Edo mengangguk, "serius."
"Gak bisa dibiarin." Ujar Haidar lalu bangkit dan pergi.
"Illa, mereka lagi ngomongin Vanesa bukan sih?" Tanya Elsa pada Meilla.
Meilla hanya mengangkat bahunya tidak menjawab.
"Tapi gue yakin sih iya, kok mereka bisa kenal sama Vanesa sih ya?" Tanya Elsa sangat penasaran.
"Gue gak tau Elsa." Seru Meilla membuat Elsa mendengus kesal.
Belum sempat Elsa bertanya lagi, Lio menghampiri meja mereka dan langsung menyeruput es milik Elsa tanpa minta izin lebih dulu membuat Elsa langsung berteriak marah.
"Lio, ih lo mah! Itu kan punya gue ******!" Teriak Elsa yang tidak terima.
"Abis bekas lo enak sih." Sahut Lio santai.
Elsa langsung memukul kepala Lio cukup keras sampai membuat Lio mengasuh kesakitan.
__ADS_1
"Lo galak banget sih, kebanyakan main sama Meilla sih!" Ujar Lio membuat Meilla menatap tajam.
Lio hanya menampilkan cengiran khas dirinya.
"Lio, tadi Lo pada ngomongin Vanesa ya?" Tanya Elsa pada Lio karena tingkah kepo nya sudah akut.
Lio yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap Meilla dan langsung mendapat gelengan sebagai Jawaban.
"Vanesa? Anak kelas kita itu? Yang anak baru?" Ujar Lio.
Elsa menatap mengangguk.
"Ngapain ngomongin dia, kenal juga enggak. Lo ngaco deh!" Seru Lio.
Elsa tidak percaya, karena di dalam hatinya yakin kalau tadi Haidar cs sedang membicarakan Vanesa.
"Mending lo pergi deh, ganggu tau!" Usir Meilla.
"Berisik lo, orang gue mau pdkt sama elsa." Seru Lio
Elsa yang mendengar itu, "idih najis ogah banget. Jauh-jauh sana Lo!" Ujar Elsa sambil menepuk bahunya entah apa yang di maksud.
Lio memasang wajah murung, "tega sekali kamu, lalu malam aja mintanya sleep call kalau di sekolah sok jual mahal." Ujarnya sambil dramatis.
Meilla yang melihat mimik wajah Lio pun tertawa begitu juga dengan Elsa. Lio memang termasuk cowok humoris di antara Haidar Cs.
"Gee cabut." Pamit Lio pada akhirnya.
Meilla dan Elsa hanya mengangguk, "kita juga balik ke kelas yuk La." Ajak Elsa dan di anggukin oleh Meilla.
Keduanya berjalan keluar kantin dan menuju ke kelas, tetapi di tengah perjalanan mereka tidak sengaja bertemu Vanesa yang hendak ke tata usaha membeli sesuatu.
"Eh tuh anak barunya, samperin yuk. Kita ajak kenalan sama dia." Ajak Elsa.
"Mau ngapain?" Tanya Meilla malas.
"Ya kenalan aja, siap tau temen kita jadi nambah La."
Meilla hanya mendengus sebal, terapi kalau Meilla tolak nanti Elsa malah semakin curiga.
"Hai Vanesa." Sapa Elsa.
"Hai, Lo satu kelas sama gue juga kan?" Tanya Vanesa basa basi.
"Iya, kenalin gue Elsa dan ini sahabat gue Meilla." Ujar Elsa.
__ADS_1
Meilla yang berhadapan langsung dengan Vanesa hanya melayangkan tatapan tajam tak ada senyuman sama sekali.
"Hai Meilla, udah lama ya kita gak ketemu." Ujar vanesa dan membuat Meilla langsung menghentikan napasnya sedangkan Elsa yang mendengar itu langsung bingung.