
Sedang asik menikmati pantai bersama sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, membuat Haidar membulatkan matanya saat melihat orang yang berdiri tak jauh dari saung yang di sewanya.
Haidar terus mengamati orang tersebut, sampai tidak sadar kalau Alina tengah memanggilnya. Sampai akhirnya Haidar sadar stelah, Alina menepuk bahunya.
“Kamu lihat apa?" Tanya Alina sambil mengikuti arah pandang Haidar yang sejak tadi membuatnya tidak menjawab panggilan dari Alina.
Alina pun kaget siapa yang tengah berdiri di sana, “Kenapa bisa mereka ada di sini juga?" Desis Alina.
Mereka? Artinya bukan hanya satu orang saja yang berada di sana, dan bukan hanya Haidar saja yang mengenali nya ternyata Alina juga.
Tanpa menunggu lagi, Alina langsung keluar dari saung dan menuju ke orang yang ia lihat tadi. Ternyata benar, itu adalah Edi. Mengapa bisa mereka berdua ada di sini juga?
“Wei, lo berdua ngapain ada di sini?" Sepru Alina sambil menepuk bahu Meilla dari belakang.
Pasangan suami istri itu pun langsung menoleh ke belakang, melihat siapa yang ada di belakang dan mengapa nya itu.
“Lah, Lo berdua juga ngapain di sini?" Sahut Edo.
“Liburqn lah anjay!" Jawab Alina.
Meilla pun m nganggur, “Yah sama lah, liburan. Ini kan tempat umum, emang kita gak boleh ke sini?"
“Bukan, maksud gue dunia ini kan luas kenapa pula harus ketemu kalian berdua di sini!" Seru Alina.
Meilla mengelus perutnya yang memang masih datar itu, “Diq pengen ke pantai aunty!" Seru Meilla dengan pelan.
Alina mengikuti arah tangan Meilla dan langsung tersenyum lebar, “Ulululuh kalau dia yang pengen gue gak bisa larang deh!" Ujar Alina sambil terkekeh.
Setelah itu mereka menikmati angin pantai dengan bahagia. Sampai akhirnya tiba lah sunset yang sejak tadi Alina tunggu. Sambil berdiri tepi pantai dan bergandengan tangan dengan Haidar.
Alina menikmati sunset itu dengan bahagia, ia tersenyum bahagia. Entah mengapa perasaannya seperti lega, seperti tak ada beban apapun yang sedang di rasanya.
“kamu suka?" Tanya Haidar membuyarkan lamunan Alina.
Alina menoleh sekilas ke arah Haidar, lalu kembali fokus pada pandangan indah di depannya, “Suka banget!" Serunya.
Haidar mengelus Surai rambut hitam Alina yang saat ini di biarkan tergerai bebas di tiup angin laut. Haidar tersenyum saat melihat Alina sedang tersenyum juga. Tidak menyangka kalau membuat Alina bahagia itu mudah.
KEBAHAGIAAN ITU DICIPTAKANNYA BUKAN DI CARI!
Iya gak?
“Makasih karena berkat perjuangan kamu, kita bisa sampai di titik ini, Lin!" Seru Haidar tiba-tiba membuat Alina memutar tubuhnya agar bisa memandang Haidar.
Haidar pun melakukan hal yang sama, akhirnya mereka sekarang berdiri berhadapan dengan tangan Haidar menggenggam tangan Alina dengan erat.
“Makasih juga karena akhirnya kamu kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku beneran cinta sama kamu!" Balas Alina.
Haidar tersenyum kecil, memori tentang dulu perlakuan nya pada Alina terputar kembali. Rasa bersalah itu datang, meskipun Haidar tahu itu telat.
“Maaf karena dulu sempat bikin kamu malu, maaf karena aku terlalu egois dan maaf karena aku gak bisa terima kamu dari dulu!" Haidar meminta maaf pada Alina tentang kejadian dulu.
Alina menggeleng, “It's okay Haidar, semua itu udah lewat gak perlu lagi di ingat. Sekarang tinggal kita berjalan ke depan, hingga menemukan titik yang paling bahagia di hidup kita!"
__ADS_1
“Makasih karena kamu selalu sabar selama ini Alina, maaf kalau sampai saat ini aku belum bisa jadi yang terbaik untuk kamu!"
“Kamu segalanya untukku Haidar, kita selangkah lagi untuk hidup bahagia bersama, selamanya! Makasih untuk segalanya Haidar!" Seru Alina membuat Haidar memajukan wajahnya lalu mencium kening Alina dengan sayang.
Setelah itu tangan Haidar di lingkaran di punggung Alina dan merapatkan posisi berdiri mereka, hingga akhirnya ciuman Haidar turun hingga ke bibir Alina. Pertama kali mereka melakukan hal itu, dan sama-sama terbuai dengan situasi yang ada.
Hingga akhirnya mereka kembali sadar hampir menghabiskan waktu 2 menit untuk saling mencicipi bibir pasangan masing-masing. Alina tersenyum teduh, begitu pun dengan Alina, lalu keduanya berpelukan erat seakan dunia milik mereka. Pelukan itu akhirnya terlepas saat Edo dan Meilla datang ke arah mereka.
“Anjayl mesra amat pasangan satu ini!" Seru Edo.
Meilla dan Edo melihat jelas apa yang sedang Alina dan Haidar lakukan tadi. Sampai Edo mengambil moment itu detik demi detik di ponselnya.
“Sialan, Lo berdua ngapain sih ganggu aja!" Kesal Alina.
Meilla terkekeh melihat wajah Alina yang memerah karena malu, “Biasa aja kali, wajar kok!" Sahut Meilla.
Alina yang di goda langsung menduselkan wajahnya pada dada Haidar, “Haidar, Meilla tuh ngeledek!" Adu Alina membuat Meilla semakin terkekeh begitu pun Edo.
Edo memberikan ponselnya pada Alina dan Haidar, untuk melihat Vidio yang tadi ia rekam dari jarak yang tidak terlalu jauh.
“Serasa dunia milik sendiri ya sayang, ya lain ngontrak!" Seru Meilla membuat Alina mendelik kesal ke arah sahabatnya itu.
“Share ke gue, Do!" Seru Haidar membuat Edo mengangguk.
“Kalian pasangan yang serasi tahu, kapan sekiranya menyusul kita?" Seru Edo.
Alina dan Haidar saling bergengam tangan, “Sabar kenapa sih!" Gerutu Alina kesal.
Setelah perdebatan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di restoran yang ada di pinggir pantai ini. Restoran dengan duduk lesehan membuat Meilla dan Alina senang karena bebas bergerak.
“Ehem, rencananya sih bulan depan. Kenapa emang?" Jawab Meilla.
“Gue ikut ya, pengen lihat." Meilla mengangguk.
Setelah itu mereka makan bersama dengan nikmat sambil menikmati angin pantai yang semakin dingin karena sudah malam.
“Lin, masalah Abang lo gimana?" Tanya Edo di sela waktu makannya.
Alina menatap Edo sekilas mendengar pertanyaan itu, “Lo tahu gak sih, abang gue sampai bawa Gadis ke acara makan malam keluarga anjir! Tanya tuh Haidar!"
Haidar hanya mengangguk.
“Ah gila, setahu gue dia juga masih jalan sama Nanda juga anjir. Padahal gue sama Lio udah bilang sama Nanda buat putusin di Gadis tapi tetap aja!" Sahut Edo.
Meilla mengangkat tangannya, “Eh tapi tunggu, makan malam keluarga? Kok ada Haidar? Lo berdua habis ketemuan keluarga?" Tuduh Meilla.
Alina yang merasa keceplosan langsung menggeleng cepat sebelum Meilla dan Edo curiga.
“Yah makan malam keluarga gue, bokap gue nyuruh ajak Haidar. Sekalian karena kakak gue bawa pacar juga. Eh pas tahu, dia bawa Gadis kan sebel banget!" Jawab Alina dengan santai.
Meilla mengangguk-angguk, setelah percaya dengan penjelasan Alina tadi. Meilla dan Edo mampir ke rumah Haidar tetapi kata pembantunya, keluarga Haidar sedang makan malam di luar.
“Dar, Tante Indira ada di rumah kan?" Tanya Meilla.
__ADS_1
Haidar mengangguk, “Ada!" Jawabnya.
“Gue sama Meilla besok mau kesana pulang kuliah, dia ngidam makan masakan Tante Indira soalnya. Boleh kan?" Seru Edo memberitahu tujuan Meilla menanyakan Indira.
Alina menatap Meilla, “Serius lo udah ngerasain ngidam? Ah seru ya pasti!"
Meilla mengangguk, “Ngidam pertama gue itu, makan masakan Tante indira?! Gak papa kan Lin, gue berkunjung ke rumah Haidar?" Meilla meminta izin pada Alina.
Alina langsung mengangguk cepat, “Yah boleh lah, kenapa pula harus gak boleh. Biar bagaimanapun lo kan sahabatnya Haidar, La. Apalagi ini kemauan Dede bayi, masa iya gue gak kasih izin."
“Maaf ya karena dulu sempat egois dan gak suka ngelihat lo berkunjung ke rumah Haidar. Maaf banget tentang itu!" Seru Alina.
Meilla mengangguk lalu tersenyum, “Gak papa Lin, itu wajar karena lo pacarnya Haidar. Lagi pula dulu pun sama, Diana suka marah kalau gue datang ke rumah Haidar!"
Alina yang mendengar nama Dia a langsung terenyuh, entah mengapa sampai sekarang pun Alina merasa kalau Diana tuh masih ada dan selalu ada di sisi Haidar. Tapi ah, mungkin itu hanya kekhawatiran Alina saja.
“Habis ini lo berdua mau kemana?" Tanya Edo.
“Lqngsung pulang, gue ngjaj Alina dari pagi soalnya!" Jawab Haidar.
Edo mengangguk, “Yaudah bareng ya. Konvoi kita!"
Setelah membayar semua tagihan, mereka keluar dari restoran dan berjalan ke arah parkiran mobil. Alina melihat ada pedagang aksesoris di sana. Tanpa meminta izin pada Haidar dan yang lain, langkah Alina berbelok ke arah tukang aksesoris tersebut.
Haidar yang menyadari Alina tak ada di sampingnya, langsung celangak celinguk mencari sang kekasih yang tiba-tiba hilang.
Haidar takut Alina di culik om-om!
“Astaga, itu anak!" Gerutu Haidar pelan setelah melihat keberadaan Alina yang nampak sedang memilih gelang di sana.
“Lo tunggu sini aja, atau duluan ke mobil. Gue mau susul Ali a dulu!" Seru Haidar dan Edo hanya mengangguk.
Haidar melangkah ke arah Edo, setelah dekat Haidar menarik telinga Alina dengan pelan membuat Alina langsung menoleh ke arah Haidar. Tanpa rasa bersalah, Alina hanya menyengir tak berdosa.
“Bisa izin dulu gak kalau pergi?" Seru Haidar sambil berbisik pada Alina.
Alina terkekeh, “Takut aku di ambil orang ya?" Bukannya menjawab dengan berbisik juga, tapi suara Alina lumayan kencang membuat yang pedagang tertawa.
“Ini calon suami yang neng ceritain tadi? Ganteng pisan euy!" Seru si bapak.
Alina mengangguk, “Iya dong pak ganteng, makanya saya takut kehilangan dia! Mau saya ikat dengan gelang ini!" Seru Alina sambil mengangkat gelang yang di pilihnya tadi.
Ada dua gelang bertali hitam tetapi dengan Inisial yang berbeda, seperti Inisial Alina dan Haidar.
Alina memberikan gelang yang berinisial A pada Haidar, dan inisial H untuk Alina. Seperti tukaran inisial nama gitu!
“Jadi berapa pak?" Tanya Alina.
“Jadi 30 ribu neng!" Jawab pedangan nya.
Haidar langsung memberikan uang pecahan 100 ribu pada si bapak, “Kembaliannya untuk bapak aja!" Seru Haidar membuat si bapak mencium uang dari Haidar.
“Ya Allah makasih banyak mas, bapak do'a in semoga semua nya lancar tanpa kendala apapun, dan bahagia selalu sampai tua!" Doa si penjual.
__ADS_1
Alina dan Haidar mengaminin doa tersebut, lalu berpamitan untuk segera pulang karena waktu semakin malam. Alina tersenyum bahagia, rencananya membuat hari ini sangat indah sudah berhasil dengan sempurna. Alina berharap hal ini terjadi, sampai nanti maut yang memisahkan mereka.
Bantu Aminin guys!