Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Masa lalu ketemu Masa depan


__ADS_3

Kalian tahu kan rasanya di jauhin oleh orang yang kita sayang bagaimana? Tidak enak kan! Itu lah rasanya. Segala sesuatu yang biasanya di lakukan bersama, sekarang tidak bisa.


Lalu Taukan rasanya, cemburu saat melihat kekasihnya berbicara dengan cowok lain, terlebih lagi cowok itu masalalu kekasihnya.


Itulah yang Haidar rasakan saat ini, waktu Alina pergi dari hadapannya. Haidar memang mengikuti Alina kemana gadis itu akan pergi. Ternyata ke kantin, awalnya Haidar biasa saja melihat Alina berbicara dengan Hellena. Tetapi tak lama datang seseorang cowok dan langsung di samping kekasihnya itu.


Darah Haidar seakan langsung naik ke kepala, berusaha kuat untuk menahan emosinya. Haidar duduk tidak jauh dari tempat Alina, otomatis Haidar bisa mendengar jelas apa yang mereka sedang bicarakan.


Yang awalnya emosi karena cemburu, langsung senyum setelah mendengar apa yang Alina ucapkan pada cowok yang bernama Alister itu. Alina masih menjaga hatinya meskipun sedang marah dengannya.


Cara Haidar berbeda dengan kebanyakan orang, biasanya orang akan langsung menghampiri kekasihnya saat tahu sedang bersama dengan cowok lain. Tapi Haidar menunggu sampai Alina dan Hellena pergi dari sana dan baru lah ia menghampiri Alister.


“Apa benar-benar gak ada harapan lagi buat kita bersatu, Lin?” seru Alister pelan berharap hanya dirinya sendiri yang mendengar.


Namun Alister salah, ternyata ada seseorang di belakang nya yang mendengar perkataan itu. Lalu membuat Alister membalikan badannya untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.


“Jangan berharap lebih, Alina bilang dia udah punya Haidar sendiri, bukan?” seru Haidar.


Alister menatap Haidar dengan seksama, “Sorry, Lo siapa?” tanya Alister.


Haidar tersenyum kecil lalu menjulurkan tangannya, berniat untuk memperkenalkan dirinya pada Alister. Alister pun menyambut uluran tangan itu.


“Gue Haidar, sekaligus Haidar hatinya alina.” seru Haidar dengan bangganya.


Haidar terkejut dengan itu semua, “Gye Alister, mantannya Alina!” seru Alister sengaja ingin membuat Haidar emosi.


Tetapi Alister salah, Haidar hanya tersenyum miring seperti mengejek, “Mantan yang berharap buat balik lagi sama Alina, tapi di tolak?” sindir Haidar.


Ah apakah Haidar lupa kalau dirinya ini cowok dingin, ternyata bisa julid juga ya sama lawannya seperti itu.


Bukannya Haidar yang tersulut emosi malah Alister yang emosi mendengar cibiran itu dari Haidar, “Bukan di tolak, cuma butuh waktu lebih buat luluhin hati Alina lagi!” seru Alister.


Haidar hanya menganggukkan kepalanya, “Jangan terlalu yakin, nanti kalau gak sesuai harapan bisa sakit dari ini.”


Alister mengepalkan tangannya, menahan untuk tidak memukul Haidar saat ini. Meskipun sebenarnya ia ingin sekali memukul wajah tengil orang di depannya.


“Gue ingetin sama lo, jangan pernah deketin Alina lagi, sebelum gue yang akan maju buat ngadepin lo!” acan Haidar dengan suara dinginnya.


Alister terkekeh pelan mendengar ancaman itu, “Sebwlum Alina menikah, gue gak akan berhenti buat ngejar dia. Lo siap-siap buat punya saingan saat ini!”


Sekarang Haidar yang tersulut emosi, ia paling tidak suka kalau Alina seakan di jadikan barang taruhan seperti ini. Ingat kasusnya dengan Adriel kan, oh ya gimana kabar itu orang ya btw.


“Gue peringatan sekali lagi sama lo, jangan pernah deketin Alina lagi, kalah lo tetap ngeyel lo lihat apa yang akan gue lakuin sama lo nanti!” ancam Haidar.


Alister terkekeh lalu mengangguk, “Aduh takut di ancam terus!” seru Alister dengan nada menyindir.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Haidar langsung pergi dari sana sebelum kesabarannya yang habis dan dia malah menghajar Alister di sana. Tidak mau kejadian itu terulang lagi, waktu itu Alina bisa memaafkan nya kalau sekarang ia takut hubungan nya malah semakin hancur.


Alister memandang Haidar dari belakang, “Alina milik gue, gak ada siapapun yang bisa miliki Alina selain gue!” batin Alister.


...****************...


Jam kuliah Alina sudah selesai, hari ini terasa sepi menurut Alina. Karena ada yang berubah di hari ini mungkin hingga beberapa hari ke depan. Alina menghubungi Elsa, untuk mengajaknya bertemu.


Bosen dan sepi itu yang sedang Alina rasakan, jadi ia akan mengajak Elsa untuk healing sebentar sebelum ia pulang ke rumah.


“Sa, jalan yu?”


“.....”


“Mall aja, jangan ke cafe.”


“.....”


“Biarin aja, nanti gue ceritain sama lo.”


“.....”


Bip


Setelah memutuskan panggilan itu, Alina segera berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan menjemput Elsa ke kampusnya. Tadi Elsa bilang kalau hari ini Haidar mengajak yang lain untuk berkumpul di cafe. Untung saja hari ini Alina ingin sekali jalan ke mall bukan ke cafe.


“Ish, kenapa dia gak nyamperin gue sih!” gerutu Alina sambil bersiap-siap untuk melajukan mobilnya.


“Lah kan lo sendiri yang minta kaya gini, kenapa lo sendiri juga yang gak terima, Alina!” monolog Alina lalu melajukan mobilnya keluar kampus.


Alina ikut bermacet-macetan dengan pengendara lain. Setelah menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya Alina telah sampai di depan kampus Elsa dan sahabatnya yang lain itu. Alina turun dari mobilnya lalu menghubungi Elsa ingin memberitahu kalau dirinya telah sampai.


Saat keluar dari mobil, banyak pasang mata yang langsung melihat ke arahnya. Kebanyakan para mahasiswa yang melihat dengan tatapan kagum dan memuja. Melihat kecantikan Alina yang sangat natural, membuat siapa saja langsung terpesona.


“Gila, bidadari dari mana itu!” seru seorang mahasiswa yang kebetulan ada di depan kampus.


“Kayaknya bukan anak sini deh, gue gak pernah lihat dia.” sahut yang lainnya.


“Gue coba minta kontak ya!” seru salah satu playboy di kampus ini.


Cowok itu berjalan ke arah Alina, setelah sampai di hadapan Alina cowok itu semakin terpana melihat kecantikan Alina dari dekat. Ternyata lebih dari cantik!


“Hai boleh kenalan?” seru cowok itu.


Alina yang di samperin tiba-tiba dengan cowok, langsung kikuk karena tak nyaman. Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa, tetapi saat ini ia memiliki kekasih biar bagaimanapun ia harus menjaga hati kekasih nya.

__ADS_1


“Eh lo mau ngapain!” belum sempat Alina menjawab, Elsa sudah datang.


Cowok tadi langsung menatap Elsa dengan tatapan tak suka, “Mau kenalan, kenapa?” jawab cowok itu.


“Mending pergi deh, sebelum pacarnya lihat lo bisa babak belur nanti!” ancam Elsa membuat si cowok langsung pergi begitu saja.


Alina terkekeh mendengar Elsa mengatakan itu, “Lo berani juga ternyata.” seru Alina,


“Iya lah, lo lupa kalau kita pernah di ajarin karate sama Meilla. Ehem jadi kangen kita yang selalu bertiga ya” seru Elsa tiba-tiba mengingat masa SMA mereka yang selalu bersama.


Alina pun mengangguk lalu tersenyum, “Gimana kalau kita ajak dia jalan hari ini?” usul Alina.


“Ajak Meilla? Enggak deh. Gue masih malas banget sama dia, Lin.”


Alina menghela napasnya, “Sa, sebenarnya adil gak sih kita kaya gini sama Meilla. Secara semua orang pasti punya privasi kan, sama kaya kita juga. Gak semua orang harus tahu tentang kehidupan kita.”


“Gue rasa kalau Lo masih marah sama dia, kayaknya berlebihan deh. Gue aja yang jadi korban di sini ngerasa biasa aja walaupun masih ada rasa kecewa sama dia. Tapi biar bagaimanapun Meilla kan sahabat kita, Sa.” lanjut Alina.


“Tentang masalah itu, Lo udah tanya ke Haidar?” bukannya menanggapi ucapan Alina, Elsa mana bertanya ke masalah waktu itu.


Alina mengangguk, “Udah, kebetulan gue ketemu Meilla juga di rumah Haidar waktu itu, jadi gue tanya langsung sama mereka berdua.”


“Terus, gimana? Bener, pernah?” kaget Elsa.


Alina menggeleng, “Gak pernah, cuma hampir. La tahu gak gue sama Haidar, lagi break buat beberapa waktu.”


Alina semakin terkejut mendengar berita itu, “Break? Serius?”


Alina mengangguk, “Iya, makanya gue gak mau ke cafe karena males ketemu dia. Gue ngerasa ini salah satu cara biar hubungan gue sama dia bisa saling terbuka ke depannya.”


“Lo gak takut, kalau Haidar malah Deket sama Meilla. Lin?”


Alina langsung menggeleng-geleng, “Enggak, gue percaya sama Edo, Kalau dia bisa buat Meilla luluh dan gak ada celah buat deketin Haidar.’’


Elsa menghela napasnya, “Ehem semua keputusan ada di tangan lo, gue gak bisa ikut campur juga sama masalah lo. Tapi gue berharap lo dapetin hasil yang terbaik dari apa yang lo tanam sejak dulu. Gue emang kecewa sama Haidar, tapi kalau hati lo milih Haidar, gue bisa apa yang cuma sebagai sahabat Lo. Iya kan?”


Alina mengangguk, lalu menggengam tangan Elsa, “Thanks karena lo ngerti posisi gue saat ini, tapi kalau gue minta lo buat maafin Meilla dan bersikap seperti dulu sama dia, Lo bisa gak Sa?”


Elsa menggeleng, “Kalau untuk sekarang kayaknya belum bisa deh Lin, maaf ya.”


Alina tersenyum, “It’s okay, gue gak akan maksa lo kok. Tapi lo harus ingat ya apa aja yang udah kita lakuin selama bertiga. Gue berharap banget persahabatan kita akan kembali seperti dulu.”


Elsa mengangguk lalu tersenyum, “Yaudah yuk jalan.” seru Elsa lalu masuk ke dalam mobil Alina.


Saat Alina ingin masuk ke dalam mobil, matanya tidak sengaja melihat Meilla sedang berdiri tak jauh dari sana. Tanpa pikir panjang, Alina melambaikan tangannya lalu tersenyum, dan Meilla pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Alina lo itu terlalu baik, beruntung Haidar milikin lo, Gue berharap hubungan lo sama Haidar berjalan mulus Samapi ke jenjang serius nantinya. Gue akan ngelakuin apapun biar Haidar bahagia dan bahagia dia ada di lo.” seru Meilla dalam hati setelah melihat mobil Alina melesat pergi dari lingkungan kampusnya.


__ADS_2