Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Prom Night 2


__ADS_3

Malam perpisahan, membuat siswa dan siswi merasa sedih. Setelah tiga tahun bersama, belajar bersama, tertawa bersama akhirnya mereka kembali di pisahkan.


Semua nya terus berjalan, pelajaran hidup sangat lah penting. Kita bisa mengambil hikmah apa yang telah kita dapat di kehidupan sebelumnya.


...****************...


Kecemburuan terlihat dari wajah Haidar saat ini, saat mengetahui Alina akan bernyanyi di depan bersama dengan Alfin. Bukan karena Alfin punya masalah dengannya, tetapi ia tak suka melihat Alina dekat dengan cowok lain.


Benar kan apa yang Alvaro bilang waktu itu? Haidar tidak akan memberikan apa yang sudah di klaim menjadi miliknya di ganggu oleh orang lain.


“Ada yang cemburu, guys!” cibir Lio saat melihat wajah Haidar yang memerah dan matanya terus menatap gerak gerik Alina di atas sana.


“Sabar napa Dar, bentar lagi lo yang ada di sana! Lo udah siap belum?” Tanya Edo.


Haidar yang mengangguk tanpa matanya beralih sedikit pun dari ujung sana. Memang, rencana mereka adalah menembak Alina di malam ini. Haidar akan maju dan naik ke atas panggung untuk mengungkapkan biru semua. Menurut kalian bakal berhasil gak?


“Lo harus bisa ngeyakinin Alina agar dia punya alasan buat tetap di Indonesia!” seru Meilla membuat yang lain menoleh ke arah Meilla termasuk Haidar yang sebentar lalu kembali fokus pada Alina.


“Maksud lo?” tanya Nanda.


“Iya, dia bilang orang tuanya nyuruh dia kuliah di Amerika tapi dia belum nentuin pilihannya.” sahut Elsa memberitahu yang lain.


“Makanya, Lo harus bisa yakin Alina, biar kita bisa sama-sama terus kaya gini.” ujar meilla dan di anggukin oleh yang lain.


Tak lama mulai terdengar petikan gitar dari atas sana, bertanda kalau Alina akan mulai bernyanyi yang diiringi oleh Alfin di sampingnya.


...****...


...“Waktu terus berlalu seiring langkahku...


...Melewati ruang rindu di setiap malam ku...


...Tak bisa ku hindari rasa cinta ini...


...Terbelenggu dalam merindukanmu...


...Bukan Ku tak bersyukur atas kasihMu...


...Dengan berjuta cinta yang datang kepadaku...


...T'lah tersimpan rasa di dalam lubuk hatiku...


...Dalam diam ku mengagumi mu...


...Walau berjuta cinta Yang datang kepadaku...


...Tak bisa menggantikan rasa cinta ku padamu...


...Walau beribu bintang menyinari hatiku...


...Kau tetap pilihanku di dalam diam ku”...


Suara Alina terdengar merdu di telinga siapa saja yang mendengarnya saat ini, bahkan sampai saat ini, bahkan sampai kapan ikut menghayati setiap bait yang di nyanyikan Alina.


“Deep banget anjir Alina nyanyinya!” seru Lio yang ikut merasakan.


“Dia mau pergi Dar, Lo cegat buruan sebelum dia pergi beneran!” sahut Nanda.


Haidar bangkit dari duduknya dan langsung di tarik kembali oleh Nanda, “Santai bro, ada waktunya lo naik nanti, biarin Alina ngelupain apa yang ada di perasaan dia dulu, biar dia tenang!” ujar Nanda dan di setujui oleh semuanya.


Sampai di akhir lagu, mata Haidar tetap menatap Alina tanpa beralih sedikit pun. hingga suara sorakan terdengar dari anak-anak yang lain meminta Alina untuk bernyanyi lagi.


“Aduh guys, gue cuma latihan lagu itu.” seru Alina seakan meminta maaf kalau ia tidak bisa menyanyi lagi.


setelah mengucapkan terimakasih pada semuanya yang berada di sini, Alina juga mengucapkan sesuatu untuk seseorang yang selama ini mengajarkan banyak hal.

__ADS_1


“Buat alina, thanks karena lo, gue tahu betapa indahnya masa SMA ini, karena lo juga gue tahu gimana harus bersabar dan berusaha agar mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun sampai saat ini lo belum juga jadi milik gue haha.” ujar Alina dengan kekehan di akhir katanya.


“Maaf kalau selama sekolah, hidup lo jadi gak tenang karena gue yang selalu mengacau di hari-hari Lo. mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, sebelum nantinya kita sibuk sama urusan masing-masing.”


“Seperti lirik yang tadi gue nyanyiin, gue gak bisa terus maksa lo buat jadi milik gue, tapi kalau emang Lo butuh gue nantinya entah sebagai apa, gue akan siap selalu buat lo.”


“Haidar, bahagia selalu ya sama pilihan lo dan sekali lagi terima kasih banyak.” ujar Alina lalu bangkit dari duduknya dan ingin turun dari sana.


Ternyata tanpa sadar Haidar sudah menunggu Alina di bawah tangga. Haidar mengulurkan tangannya membuat Alina turun dari tangga.


Keduanya baling berhadapan, Haidar menatap Alina dengan dalam, begitu pula sebaliknya. tersirat jelas keduanya memiliki rasa yang sama.


“Naik lagi ke atas mau?” tanya Haidar ingin mengajak Alina ke atas panggung.


Alina menaiki alisnya bingung, “Mau ngapain?” tanya Alina.


Tanpa menunggu lama, Haidar membawa Alina kembali naik ke atas, dan Alina hanya menuruti apa yang akan Haidar lakukan nanti di atas.


Haidar mengambil alih microfon yang tadi di gunakan Alina dan kembali berdiri berhadapan dengan Alina.


“Alina, jangan pergi.” kalimat pertama yang keluar dari mulut Haidar.


Alina tidak berani menatap mata Haidar, terlalu takut kembali terbuai pikirnya. Biar bagaimanapun, sekarang posisinya Alina sedang menata hatinya kembali.


“Alina, kamu mau gak jadi milik aku mulai sekarang?” seru Haidar dengan nada bergetar karena baru pertama kalinya ia mengucapkan kalimat yang panjang di depan banyak orang.


Terlebih lagi saat ini ia tengah mengucapkan perasaan nya untuk Alina di depan satu angkatan sekolahnya dan masih ada beberapa guru di sana.


Alina terbelak kaget, tidak menyangka kalau Haidar bisa mengatakan itu di depan publik alias di depan banyak orang. belum sempat bersuara, suara teriakan dari yang lain membuat Alina menunduk.


“Terima!” sorak semua bersamaan.


“Terima!” sorak mereka lagi.


Alina mengambil napasnya dalam, setelah itu kembali“ mengangkat wajahnya untuk melihat wajah tampan di depannya. Alina tersenyum begitu pula dengan Haidar.


Haidar yang kaget dengan respon Alina langsung bertanya, “Kenapa?” hanya itu yang bisa Haidar tanyakan.


“Tunggu dulu, gue belum selesai ngomong jangan di selak!” gerutu Alina.


Haidar hanya mengangguk patuh, jantungnya berdebar hebat, badannya panas dingin, semua sudah di luar bayangannya, lalu apa yang akan ia lakukan kalau Alina beneran menolaknya.


“Maksudnya, gue gak bisa nolak lo lagi haidar.” seru Alina sambil tersenyum.


Haidar yang masih overthinking hanya diam tidak merespon apapun, sampai Alina menepuk bahu Haidar baru lah sadar kembali.


“Gue mau kok jadi milik Lo mulai sekarang, Haidar!” ujar Alina lagu membuat senyum Haidar mengembang begitu saja.


“Serius?” tanya Haidar dan di anggukin oleh Alina.


Tanpa di duga Haidar langsung memeluk Alina dan di terima baik oleh alina. “Jangan pernah pergi, alina.” seru Haidar di sela-sela pelukan mereka.


Alina melepaskan pelukan itu, lalu mengangguk, “Gak akan haidar.” jawab Alina dan kembali membuat Haidar membawa masuk Alina ke dalam pelukannya.


Hingga teriakan seseorang membuat mereka melepaskan pelukannya. “Woy udah kali, kasihan sama yang jomblo!” teriak Nanda lalu di sorakin oleh yang lainnya.


sebelum turun, Haidar sempat berkata, “Thanks buat kalian semua!” serunya pada siapapun yang ada di sana.


Menurutnya semua teman-teman angkatannya sangat berjasa untuk moment tadi. hingga akhirnya Alina menjadi miliknya sekarang.


Alina dan Haidar kembali ke meja mereka bersama sahabat-sahabatnya. senyuman indah milik Alina dan senyuman tampan milik Haidar tidak luntur sampai acara selesai nanti mungkin.


Acara kembali berjalan dengan semestinya, hingga akhirnya sudah sampai di perhujung acara untuk malam yang indah ini.


“Akhirnya kita sampai juga di perhujung acara untuk malam perpisahan ini, sedih gak? sedih pasti ya, kita akan berpisah. Kita akan memulai kehidupan baru lagi dengan lingkungan baru. Gue harap, Kalian gak pernah lupa dengan masa SMA Garuda.” seru Erni.

__ADS_1


“Untuk terakhir kalinya, sebelum acara ini selesai, gue mau minta kalian buat nyalain flash di hp masing-masing dan di angkat ke udara,biaya gini.” seru Erni sambil memeragakan apa yang di minta pada teman-temannya.


satu angkatan tersebut ikut melayangkan ponselnya sambil menyalakan flash dan menggerakkan ponselnya ke kanan dan ke kiri.


“Kita nyanyi bareng-bareng ya guys, tolong matiin lampunya ya.” seru Erni dan lampu mulai padam bersamaan dengan musik yang mulai mengalun.


......................


Datang akan pergi


Lewat kan berlalu


Ada kan tiada bertemu akan berpisah


Awal kan berakhir


Terbit kan tenggelam


Pasang akan surut bertemu akan berpisah


Hey, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Du..du..du..di


Du..du..du..du


Du..du..du..du


Du..du..du..du


......................


Semua bernyanyi sambil mengayunkan ponselnya. Ada yang meneteskan air mata, karena mengingat moment apa saja yang telah tercipta selama bersekolah di SMA Garuda.


Suasana bertambah haru, karena di atas panggung di layar proyektor terdapat video-video amatir yang selama ini di ambil oleh panitia pelaksana.


Tertawa sambil menangis adalah hal yang sangat menyayat hati bukan? Seperti itu lah keadaan di dalam ballroom hotel ini.


“Gue kenapa culun amat sih dulu.” gerutu Lio saat melihat wajah dulu waktu masih kelas 10.


“Sampai sekarang juga masih culun.” sahut Elsa sambil terkekeh, padahal di pipinya sudah banjir air mata.


“Thanks guys, karena sudah bertahan di pertemanan yang amburadul ini.” seru Edo.


“Gye harap, kita terus sama-sama kaya gini.” seru Nanda di anggukin oleh yang lain.


Haidar terus menggenggam tangan Alina dengan erat. “Makasih karena sudah mau ngasih aku kesempatan, Lin.” seru haidar.


Alina mengangguk, tanpa mengucapkan kata apapun.


“Kamu hutang penjelasan sama aku tentang Alvaro, setelah ini bisa jelasin?” pinta Haidar dan di anggukin oleh Alina.


“Makanya, apa-apa tuh dengerin dulu jangan main marah aja.” cibir Alina.


Haidar tersenyum lalu menciumi pucuk kepala Alina dengan sayang. Haidar berharap akan selalu bersama Alina mulai saat ini.

__ADS_1


Maaf ya kalau menurut kalian alurnya membosankan :(


__ADS_2