
Sejak tadi Haidar menyalahkan dirinya, karenanya Alina jadi seperti ini. Entah apa yang harus Haidar lakukan setelah ini tak tau.
Dokter belum keluar dari ruangan, tetapi teman-temannya sudah tiba disana. Mereka berada di dalam satu mobil milik Meilla. karena tadi Edo, Hendra dan Lio pergi menggunakan mobil Haidar.
"Itu Haidar." tunjuk Elsa saat melihat Haidar yang tengah duduk di kursi tuggu.
Mereka segera menghampiri Haidar, dengan menanyakan bagaimana kejadiannya dan bagaimana kondisi Alina saat ini.
"Dar, kenapa bisa kaya gini?" tanya Meilla panik.
Haidar hanya diam, Ia memang tak suka bicara banyak pada orang yang tidak terlalu dekat dengan nya.
"Biar gue yang tanyain ya. Lo tunggu sana aja." ujar Edo sambil menyuruh Meilla duduk di kursi kosong yang tak jauh.
Setelah Meilla pergi, Edo mulai bertanya pada Haidar apa yang sebenarnya terjadi lalu mengapa Alina yang menjadi korban. Dengan malas, haidar menceritakan kejadiannya pada Edo dan juga di dengar oleh Nanda dan Lio.
"Sialan tuh orang! Gue pastiin setelah ini muka dia ancur!" emosi Nanda setelah mendengar semua cerita dari Haidar.
Lio mengelus pundak Nanda, "menurut gue gak usah di bales deh, gue gak mau kita jadi tawuran lagi karena masalah ini!' ujar Lio berusaha meredam emosi Nanda.
Nanda menggeleng keras, "Gak bisa, karena dia Alina jadi kayak gini. Gue gak terima, Alina itu temen gue!" memang Nanda lah yang paling tidak mengontrol emosi sama seperti Haidar dulu, tetapi sekarang Haidar mulai bisa mengontrol di situasi tertentu.
"Nan, yang dibilang Lio bener. Gue gak mau, ada perang besar lagi sama SMA Nuansa. Cukup sekali dan gak akan terulang lagi." ujar Edo yang berusaha meredam emosi Nanda.
"Tapi gue setuju sama Nanda." ujar Haidar tiba-tiba.
Haidar sama seperti Nanda yang tidak terima melihat Alina sampai terluka seperti ini, bukan ia mulai suka sama Alina tapi karena rasa bersalah yang sekarang bersarang di dadanya.
Mendengar keributan dari perkumpulan cowok-cowok ini, Meilla mendekat ke arah mereka dan diikuti oleh Elsa.
__ADS_1
"Karena apa, Alina bisa kaya gini?" tanya Meilla kepada mereka.
Akhirnya Edo memberitahu meilla, kalo Alina terkena pukulan Alparo waktu menghalangi Haidar agar tidak kena pukulan.
Emosi Meilla muncul mendengar ini semua, dan meilla langsung menatap Haidar tak suka. Sudah sering nyakitin hati sahabatnya, sekarang fisiknya pun di buat sakit sama manusia es ini.
Tanpa di duga Meilla menarik baju milik Haidar, "Lo liat Haidar pengorbanan yang Alina kasih buat Lo sampe segini nya! Lo udah sering nyakitin hatinya dan sekarang Lo lukai. juga fisiknya!" emosi meilla.
"illa, tenang la. ini rumah sakit, jangan berantem di sini." ujar Elsa sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Meilla di baju milik Haidar.
"Gak bisa sa, cowok macam dia itu benar-benar harus di kasih pelajaran!" ujar meilla lalu meninju wajah Haidar dengan keras hal itu membuat semua orang yang ada di sana kaget.
"Illa cukup! yang terpenting sekarang kondisi Alina, buat apa Lo marah-marah kaya gini kalo nyatanya ini semudah terjadi." ujar Elsa dan emosi meilla mulai reda.
"Lo liat, kalo sampai Alina kenapa-napa. Gue bakal lakuin lebih dari ini. jangan pikir gue takut sama Lo!" ancam Meilla lalu pergi dari hadapan Haidar.
Haidar yang di maki dan di pukul Meilla hanya bisa diam tanpa melawan sama sekali. semua yang dikatakan Meilla benar, makannya sekarang ia sangat merasa bersalah pada Alina.
Edo yang melihat kelakuan Meilla seperti tadi menggeleng dan tersenyum kecil, kagum.
"Gila ya Meilla, serem anjir berurusan sama dia." seru Lio sambil mengusap lengannya yang tengah merinding.
Nanda mengangguk, "iya, bener banget dia mengancam si Haidar lagi!" ujarnya
"Kalo kata gue, gemesin anjir, cocok kaya jadi pacar gue!" ujar Edo sambil terus memandang Meilla yang masih terus menggerutu di ujung sana.
Kepala Edo di toyor oleh ketiga lelaki disana, bukannya marah ia malah cengengesan tak jelas seperti orang salting.
"Terus jadinya gimana ini masalah si alparo? kita diemin aja gitu? gue gak setuju kalo gitu, setidaknya kasih dia sedikit pelajaran lah karena udah berani nyakitin Alina." Ujar Nanda yang mulai membahas tentang alparo.
__ADS_1
"Udah lah gausah, kita biarin aja. gue gak mau ada perang lagi sama SMA Nuansa." ujar Edo yang tidak setuju.
"Setelah ini kumpul di basecamp!" ucap Haidar dan tidak bisa di bantah oleh siapapun.
Tak lama dokter keluar dari ruangan Alina, dokter memberitahu bahwa Alina sudah sadar dan bisa pulang hari ini tanpa perlu di rawat karena tidak ada luka yang cukup serius. setelah mengatakan itu dokter pamit dan mempersilahkan teman-temannya untuk melihat kondisi Alina di dalam.
"Alina, Lo gak apa-apa?" tanya Elsa saat melihat Alina yang tengah duduk di atas tempat tidur rumah sakit.
Alina mangangguk, meskipun kepalanya masih sedikit pusing. Alina menatap mereka satu persatu dan terakhir matanya berbinar saat ada Haidar di sana.
"Pasti Haidar yang bawa gue kesini." ujar Alina dengan nada suara pelan.
Semuanya mengangguk, termasuk Haidar. Saat ingin turun dari tempat tidur, tiba-tiba Alina meringis sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Mau kemana sih Lo, mau nyamperin tuh cowok?" ujar meilla tak suka.
Alina mengangguk lalu kembali duduk sambil matanya terus memandang Alina dengan hati yang berdebar tak karuan.
"Alina, cukup ya gak usah lagi lo ngejar tuh cowok. Lo begini karena dia, gue gak habis pikir sama lo. kenapa bisa Lo ngelakuin ini cuma buat cowok yang gak bisa ngehargain apapun yang Lo korbanin buat dia!" ujar meilla tak suka sambil menunjuk Haidar.
Alina menggeleng, "Illa, ini semua bukan salah Haidar. gue sendiri yang berdiri di tengah-tengah mereka sampe gue gak bisa menghindar dari pukulan itu."
Meilla terdiam, mau dibilangin gimana pun, Alina tidak akan berhenti mengejar Haidar.
"Pulang sama gue." seru Haidar saat sudah berada di samping tempat tidur Alina.
Alina yang mendengar itu kaget dan langsung mengangguk, tidak mau melewatkan kesempatan ini.
"Loh, terus kita pulang gimana kalo Lo nganterin si Alina?" seru Lio.
__ADS_1
Haidar hanya diam saja lalu membantu Alina untuk turun dari tempat tidur, karena kesempatan itu Alina memanfaatkan dengan baik.