Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Pulang..


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu selama perjalanan menuju rumah Alina. Keduanya hanya berbicara sedikit saja. Mood Alina kembali berubah saat ini. Rasanya ingin sekali Alina tidak pulang ke rumahnya, tetapi ia bingung harus ke mana kalau tidak pulang.


Dulu waktu Meilla dan Elsa belum menikah, ia masih bisa menginap di rumah sahabat nya itu. Tetapi sekarang kondisinya kan beda, kedua sahabatnya sudah memiliki suami yang menjadi prioritas mereka. Alina baru berpikir, mengapa tidak menginap saja di rumah Hellena ya tadi.


Haidar mengantarkan Alina sampai dalam rumah, untuk meminta maaf pada orang tua Alina karena mengantarkan anak nya terlalu malam. Meskipun sekarang baru pukul 9 malam sih, tetapi tetap saja Alina pergi sejak pagi.


Tetapi sayang, kedua orang tua Alina sudah tidak ada di ruang keluarga dan pasti mereka sudah berada di kamar. Tanpa mau menunggu orang tua Alina, akhirnya Haidar pulang tanpa pamit.


Seperti biasa sebelum mereka berpisah, Haidar selalu mengecup kening dan memeluk Alina dengan erat. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih untuk hari ini.


"Kamu bersih-bersih, habis itu nanti kita sleep call ya!" Seru Haidar.


Alina mengangguk, "Kamu pulangnya hati-hati ya, dan langsung bersih-bersih juga!"


Haidar mengelus kepala Alina, "Sabar ya sayang, sebentar lagi kita gak akan pamitan kaya gini lagi karena kita sudah satu rumah!"


Alina mengehela napasnya, "Bisa gak sih waktu itu di percepat, aku udah gak sabar hidup bareng sama kamu. Karena saat ini yang aku punya cuma kamu!"


Haidar mengelus lengan kekasihnya itu, "Sabar sayang,semua udah ada waktunya."


Alina hanya bisa mengangguk lalu memeluk Haidar lagi, "Jagan pernah tinggalin aku ga, sampai waktu itu tiba!"


Haidar mengelus punggung Alina, "Pasti sayang, i love you Alina!"


"I love you too, Haidar!" Sahut Alina.


Setelah itu akhirnya Haidar benar-benar pulang, dan Alina mulai menaiki tangga menuju kamar nya untuk beristirahat. Seperti malam-malam sebelumnya. Ada Adero berdiri di ujung tangga paling atas sambil menatap nya tajam.


"Enak ya jadi Lo, bisa keluyuran kemana pun gapa tahu batasan waktu!" Sindir Adero.


Alina yang sudah lelah hanya diam sambil terus melangkah menuju kamarnya, tanpa peduli dengan ucapan Adero tadi.


Adero yang tak suka di abaikan langsung menarik tangan adiknya itu dan membuat Alina berbalik badan.


"Lo kenapa sih kak? Gue gak ganggu lo kan? Yang bikin lo gak boleh keluar sama papah, ya lo sendiri! Jadi bukan salah gue!" Kesal Alina karena Tangan nya di tarik.


Adero menarik napasnya, "Lo bisa gak sih gak usah ikut campur lagu sama hubungan gue!"


Alina menaikkan alisnya, bingung.


Adero memberikan ponselnya yang berisikan foto Alina dan Gadis di depan cafe waktu itu. Alina kaget, dari mana Adero dapat foto itu.


"Puas udah bikin pacar gue nangis, karena omongan dan tamparan lo!" Marah Adero.


Tunggu, tamparan? Memang nya waktu itu Alina menampar Gadis? Sialan tuh cewek batin Alina.


Alina menggeleng mencoba memebela dirinya, "Gue gak sentuh dia sama sekali kak, dia bohong!"


Adero berdesis, "Apa lagi yang bisa gue percaya dari omongan lo anjir, lo udah terlalu naif buat semuanya Lin!"


Alina tetap menggeleng, "Gue beneran gak ngapa-ngapain tuh cewek. Lo tahu kenapa dia ada di sana? Ya karena dia lagu nungguin cowok barunya! Dia kan long* kak!"

__ADS_1


Tanpa di sadari tangan Adero kembali melayang dan kembali menampar pipi Alina. Perih itu yang aku a rasa saat ini, bukan hanya di pipi tetapi di hatinya juga. Sudah dua kali Adero melakukan hal itu yang padahal selama ini tidak pernah dia lakukan.


"Kak, lo ta..tampar gue lagi?" Ujar Alina dengan suara menahan sakit.


Tangan yang tadi Adero gunakan untuk menampar Alina, sekarang tergenggam erat, Adero merasa ada jarum yang menusuk hatinya saat mendengar pertanyaan Alina dengan kata tadi.


"Lin, sorry!" Seru Adero denga nada bersalah, sungguh merasa sangat bersalah.


Alina menggeleng, "Lo tampar gue lagi, karena bela Gadis lagi kak. Dua kali lo lakuin ini sama gue kak!"


"Lo baru kenal sama dia kak, sedang kan kita hidup bersama selama ini, dan lo masih gak tahu kapan gue bohong dan kapan gue jujur? Lo lebih percaya sama yang baru lo kenal, di banding percaya sama adik sendiri?"


"Gue kira lo kakak yang bijak, bisa bedain yang baik dan enggak. Untungnya buat gue apa sih ngasih tahu ini semua sama lo. Kalo gak buat demi kebaikan lo?" Sambung Alina yang masih terus berbicara walau napasnya terasa sesak, karena berbicara sambil menangis.


"Sekarang terserah lo deh kak, gue gak akan ganggu hidup lo lagi, anggap gue udah mati gak papa kak. Satu hal yang harus lo tahu, gue itu sayang sama lo kak!" Seru Alina lalu membalikkan y untuk segera masuk ke dalam kamarnya yang tinggal beberapa langkah lagi.


Adero yang mendengar ucapan Alina tadi, semakin sedih melihat adiknya sangat hancur karena nya. Benar apa kata Alina, masa ia lebih percaya dengan Gadis yang baru ia kenal dari pada adiknya sendiri, apa untungnya untuk Alina kalau bukan untuk kebaikan Adero sendiri.


Adero melangkah juga mendengar Alina untuk segera meminta maaf, tetapi sayang Alina sudah masuk ke dalam kamarnya.


Sebelum menutup pintu dengan rapat, Alina kembali berkata. "Oh ya makasih untuk tamparan keduanya kak. Gue gak mau ngerasain yang ketiga, jadi mungkin mulai besok lo gak akan ngelihat gue lagi!" Seru Alina dan akhirnya benar-benar masuk ke dalam lalu mengunci kamar nya.


Tunggu, gak akan ngelihat Alina lagi maksudnya adiknya itu mau kemana? Batin Adero.


Adero mengetuk pintu kamar Alina terus menerus tetapi tetap tidak ada jawaban apapun dari dalam membuat hatinya semakin cemas kepada adik satu-satunya itu.


"Alina, buka pintunya! Kakak minta maaf, kamu jangan berbuat aneh-aneh, Alina!"


"Alina, buka atau kakak dobrak pintunya!"


"Ada apa Adero?" Tanya Reymond.


Adero menggeleng, rasanya tak sanggup menceritakan semua apa yang terjadi di antara dirinya dengan Alina. Pasti Reymond akan marah besar lagi pada Adero.


"Alina, ini papah nam, buka sayang!" Seru Reymond sambil mengetuk pintu Alina.


Tetapi sama tidak ada jawaban apapun dari dalam, sampai Mira pun ikut mengetuk pintunya tetap saja.


"Dobrak aja pah, mamah takut Alina kenapa-napa di d!" Seru Mira.


Reymond mengangguk dan mulai mendobrak pintu kamar Alina bersama dengan Adero, tetapi sayang pintu itu tidak bisa juga terbuka. Maklum pintu mahal yang memang di desain kuat.


"Ada apa sebenarnya kak?" Kali ini Mira yang bertanya pada Adero.


"Jawab kalau ditanya tuh!" Kesal Reymond karena Adero sejak tadi tidak memberitahu apa yang terjadi.


Adero menundukkan kepalanya, takut. "Ada sedikit salah paham aku sama Alina mah!"


"Terus? Biasanya kalian tidak akan sampai seperti ini. Apa masalah nya sangat serius?" Tanya Mira lagi.


Adero menggeleng, "Cuma masalah sepele mah."

__ADS_1


Mira menghela napasnya, dalam hatinya curiga kalau ini bukan masalah sepele seperti apa yang Adero bilang. Ali a bukan anak yang seperti ini, pasti anak itu sedang kecewa saat ini. Maklum naluri seorang ibu pasti selalu kuat.


"Alina buka nak, ini papah dan mamah, sayang!" Seru Reymond yang masih berusaha tetapi masih tidak ada jawaban.


****


Di lain tempat.


Nanda yang mengantarkan Hellena pulang ke rumah, seperti tadi apa yang telah di pesan oleh Alina dan yang lain kalau Nanda tidak boleh mengajak Hellena kemana-mana lagi.


Mereka telah sampai di depan rumah besar milik Hellena dan sudah turun pula dari mobil. Sebelum Hellena masuk ke dalam rumah, Nanda kembali membuka obrolan, padahal sepanjang jalan pun mereka banyak mengobrol.


Saat sedang berbicara santai, sharing satu sama lain tentang kehidupan mereka sebelum bertemu. Tiba-tiba ponsel Nanda berdering kencang. Menandakan ada panggilan masuk di sana. Nanda mengambil ponsel tersebut di saku, lalu melihat siapa yang menghubunginya, ternyata Gadis


"Ngapain lagi nih cewek nelepon!" Guman Nanda di dengar pula oleh Hellena.


Nanda memberitahu kan layar ponselnya yang bertuliskan nama Gadis di sana pada Hellena, sekarang Hellena tahu siapa yang sedang menghubungi Nanda.


"Angkat lah, kangen kali dia!" Cibir Hellena.


Nanda menggeleng, "Buat apa anjay, udah gak ada hubungan apapun masih ganggu gue!"


"Emang lo udah putusin dia? Eh maksudnya udah ngomong langsung sama dia tentang hubungan lo ini?" Tanya Hellena yang ber firasat kalau Nanda hanya menganggap sudah putus dengan Gadis tanpa berbicara pada kekasihnya itu.


Seperti meninggalkan tanpa kata, mengerti kan?


Nanda menggeleng, "Buat apa lagi? Gue udah lihat semuanya dengan mata kepala gue Hell, semua udah jadi bukti dan gue anggap kita udah putus!"


Hellena menghela napasnya, "Tunggu,meskipun gue baru 3 kali pacaran tapi gue tahu kalau putus itu harus ada komunikasi juga, biar pihak sana pun gak di gantungan!"


"Alah males gue berurusan lagi sama dia!"


Hellena menggeleng, "Gak bisa Nanda, Lo harus selesaiin dulu masalah li sama dia sebelum lo melangkah maju ke depan lagu. Bukan apa, dia pasti anggap li pacarnya kalau begitu!"


"Lo takut ya?" Seru Nanda.


Hellena hanya diam entah harus jawab apa. Memang benar apa yang di tanya kan Nanda, Hellena takut kalau nanti ia memulai hubungan dengan Nanda tapi Nanda sendiri belum menyelesaikan masalahnya dengan Gadis.


"Oke, kalau gitu akan segera selesaiin ini semua buat lo, Hell!" Seru Nanda membuat Hellena kaget dengan kata itu.


Hellena menggeleng, "Bukan untuk gue Nan, memang seharusnya seperti itu. Biar bagaimanapun Gadis perempuan, dan gus tahu rasanya kalau di tinggalina gitu aja tanpa kepastian!"


Nanda mengangguk, "Iya calon pacar!"


Hellena terkekeh pelan untuk menutupin kegugupannya karena Nanda mengatakan itu. Dasar cowok


"Ya udah kalau gitu gue masuk dulu ya?" Pamit Hellena.


Nanda mengangguk, "Oke deh, besok berangkat kuliah gue jemput ya?"


Hellena mengangguk dengan senyum malu-malu. Setelah itu keduanya berpisah, dengan Hellena yang masuk rumah, dan Nanda yang menuju kost Gadis untuk mengelas masalahnya.

__ADS_1


Semoga aja setelah ini semua, Gadis tidak akan menganggu gue lagi dan Hellena batin Nanda.


Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat cerita nya!


__ADS_2