
Setelah bel pulang berbunyi, Alina merapikan mejanya dengan semangat. Alina bergegas keluar kelas meninggalkan Meilla dan Elsa yang masih membereskan meja nya masing-masing.
"Tuh anak semang banget." Ujar Elsa melihat Alina yang telah keluar kelas.
"Mau ketemu calon mertua, ya semangat lah." Sahut Meilla sedikit keras agar Vanesa mendengarnya.
"Oh iya, mau ketemu nyokap nya Haidar ya." Ujar Elsa ikutan keras karena tahu mengapa Meilla melakukan itu.
"Iya lah, dari pada ngejar terus gak dapet eh malah nyuruh nyokap nya ngambil papahnya tuh cowok. Murahan banget gak sih?" Sindir Meilla.
Vanesa pun mendengar itu semua dengan jelas, dan tahu itu semua tertuju untuknya. Vanesa menahan sabarnya agar tidak meledak mendengar sindiran dari Meilla.
"Murahan atuh." Sahut Elsa lalu tertawa bersama dengan Meilla.
Ternyata kesabaran Vanesa tidak bisa di tahan, Vanesa pun menghampiri meja Meilla lalu menggebrak nya keras.
"Maksud lo apa ngomong begitu?" Bentak Vanesa tak suka.
Meilla hanya tertawa dan di ikuti oleh Elsa, "Ada yang kesindir ternyata Sa." Ujar meilla sangat sambil tangannya merapikan mejanya.
"Gue gak ngusik Lo, kenapa lo ngusik gue!" Ujar Vanesa.
"Dengan lo dateng lagi ke hadapan gu, sama aja lo ngusik gue;" desis Meilla tajam, Elsa yang mendengarnya langsung menciut.
"Gue kesini buat sekolah, bukan buat ngeliat lo!" Bela Vanesa untuk dirinya sendiri.
Meilla tertawa, "Sekolahan banyak, kenapa lo malah milih di sini kalau lo gak ada maksud dan tujuan tertentu Vanesa! Gue bukan cewek bego kaya Lo!"
Vanesa emosi mendengar ucapan Meilla yang menurutnya sangat keterlaluan, tanpa aba-aba Vanesa menarik rambut Meilla dengan keras dan membuat Meilla mengasuh kesakitan. Elsa pun berusaha melepaskan tangan Vanesa di kepala Meilla.
"Lo emang bukan cewek bego, tapi lo itu cewek munafik!" Bentak Vanesa.
"Gue tahu sebenarnya sejak dulu lo juga suka kan sama Haidar? Sampel-sampel li nyuruh orang tua lo buat jodohin lo sama Haidar! Tapi sayang Haidar nolak perjodohan itu! Sekarang yang murahan siapa kalau faktanya begitu?" Ujar Vanesa lagi membuat Elsa melongo tak percaya sedangkan Meilla masih terus mengasuh tanpa mengelak, memang benar itu semua lalu dari mana Vanesa tahu tentang itu?
Tak lama datang haidar dan langsung menepis tangan Vanesa dari kepala Meilla dengan sekali tepisan saja. Haidar langsung menarik Meilla ke dalam pelukannya sambil mengelus kepal Meilla.
"Pergi!" Usir Haidar pada Vanesa.
Sebelum pergi dari sana, Vanesa melirik Alina yang berada di samping Haidar. Terlihat dari mata Alina, ada kecemburuan di sana mungkin karena melihat Meilla yang tengah di peluk Haidar saat ini.
"Lo lihat Lin, sahabat lo sendiri begitu sama orang yang lo suka, di depan mata lo lagi, gue saranin lo hati-hati sama dia." Ujar Vanesa dari sana lalu pergi.
Alina mendengar itu hanya diam sambil matanya terus menatap Meilla dan Haidar. Terlihat sekali kedekatan mereka berdua. Bohong kalau di bilang Alina tidak sakit melihat ini.
Bisa rasain gimana sakitnya Alina ketika sahabatnya pelukan sama orang yang dia cintai meskipun temannya adalah sahabat dari cowok itu?
Lalu dari mana Haidar tahu kalau Meilla tengah bertengkar dengan Vanesa di dalam kelas. Ada siswa kelas Alina yang memberitahu Alina sebenarnya tentang kejadian ini, tetapi saat itu Alina sedang bersama Haidar makanya mereka berdua datang bersamaan.
"Sakit?" Tanya Haidar dan di anggukin oleh Meilla.
__ADS_1
Meskipun ketua karate, Meilla pun perempuan pasti akan merasakan sakit. Haidar masih terus menenangkan Meilla dengan mengelus kepalanya.
"Gue anter pulang?" Ujar Haidar.
Alina mendengar itu langsung berbicara, "Bukannya kita ada janji?" Ujar Alina seakan mengingatkan Haidar.
Haidar langsung menoleh ke arah Alina tanpa melepaskan pelukannya dengan Meilla, "kita antar Meilla dulu, boleh? Ujar Haidar.
Alina hanya mengangguk, ingin protes pun tidak bisa karna melihat kondisi Meilla yang terlihat sangat shock seperti ini.
"Meilla itu ada trauma kalau rambutnya di tarik, makanya dia bisa sampai kaya gini." Ujar Lio yang datang tiba-tiba dari belakang.
Alina yang mendengar fakta itu hanya mengangguk, berusaha untuk ikhlas atau berusaha untuk nyaman melihat ini semua. Biar bagaimanapun Meilla yang lebih dulu mengenal Haidar.
"Ya udah ayo ke parkiran." Ajak Haidar ke Alina.
Alina mengangguk lalu mengikuti langkah Haidar dari belakang, sedangkan Haidar sedang merangkul pundak Meilla yang masih sedikit terisak.
Di kelas hanya menyusahkan Elsa dan Lio.
Tanpa aba-aba Elsa melempar tasnya pada Lio untung saja dengan sigap Lio mengambil tas tersebut.
"Kamu mah tadi ngomongnya menjelekkan aku tau!" Ujar Elsa
Tangan Lio terulur untuk mengelus kepala Elsa, "Iya maaf ya, itu kan biar akting kita totalitas sayang."
"Tapi kan gak gitu juga ih!"
"Ya udah jalan duluan, tunggu di tikungan depan aku ke parkiran dulu ambil mobil." Ujar Lio.
"Jangan lama tapi." Lalu di anggukin oleh Lio.
Keduanya berpisah setelah keluar dari kelas, tidak mau terlihat jalan bersama karena itulah kemauan Elsa. Sebenarnya Elsa juga mau semua orang yang ada di sekolah tau kalau Lio sudah menjadi miliknya agar tak ada lagi yang menggoda Lio dari adik kelas.
Sepanjang perjalanan Lio dan Elsa pun mendengar desas desus yang barusan terjadi, yang Meilla di rangkul oleh haidar, sedangkan Alina berjalan di belakang.
Banyak yang mencibir Meilla karena teman makan teman, banyak juga yang bingung sejak kapan Meilla Deket dengan Haidar. Dan semua berasumsi kalau itu alasan Haidar menolak Alina terus karena sedang dekat dengan Meilla.
...****************...
Di sepanjang perjalanan, Haidar masih terus menenangkan Meilla yang tengah duduk di sampingnya sedangkan Alina duduk di kursi belakang.
"Se trauma itukah?" Batin Alina.
Lalu mendengar suara deringan ponsel, ternyata itu ponsel milik Alina. Dengan cepat Alina mengambil ponselnya yang berada di tas.
"Iya, Alvaro?"
"...."
__ADS_1
"Sorry, gue ada acara, nanti gue kabarin lagi ga?"
"...."
"Bye, Alvaro."
Bipp
Haidar mendengar itu semua, langsung melirik lewat kaca ada rasa tak suka mendengar percakapan Alina dengan Alvaro tadi.
"Mau pergi sama Alvaro? Tanya Haidar tiba-tiba membuat Alina yang sedang memasukkan kembali ponselnya terhenti.
"Iya, nanti." Sahut Alina jujur.
Hadar tak suka, "Jangan pergi sama Alvaro." Larang Haidar.
"Kita udah bahas tentang ini Haidar, gak perlu di bahas lagi sekarang." Seru Alina tak suka dengan larangan itu.
"Gue ikut kalau gitu." Seru Haidar.
Alina menghela napasnya, nanti saja lah membahas ini setelah mengantar kan Meilla pulang.
Meilla sudah tenang dan sekarang mulai sadar dengan situasi yang ada saat ini. Meilla menoleh ke belakang terdapat Alina yang tengah memandang jalan dari Kaca.
"Alina." Panggil Meilla pelan merasa tak enak hati.
"Lo udah naikkan illa?" Tanya Alina memastikan kondisi Meilla.
Meilla mengangguk, "maaf."
Alina mengangguk, "gak papa, Lo gak salah kok. Lagian gue kan bukan pacar Haidar, gak punya hak juga gue marah. Apalagi lo yang lebih dulu Deket sama Haidar sejak dulu."
Haidar yang mendengar itu merasa tersindir dengan ucapan Alina. Tak ada hak marah karena tidak memiliki status lebih selain teman itulah.
"Pindah tempat duduk yuk Lin." Ujar Meilla.
Alina menggeleng, "Gak usah La, sebentar lagi juga sampai kan? Nanggung juga."
"Tapi."
"Gak papa Meilla." Ujar Alina untuk menepis rasa tak enak hati Meilla itu. Padahal dalam hati Alina pun merasa tak nyaman.
Tak lama ketiganya sampai di rumah Meilla. Meilla turun lebih dulu, lalu di susul oleh Haidar dan Alina. Meilla mengajak Alina dan Haidar untuk masuk lebih dulu ke dalam tetapi di tolak oleh Haidar karena ingin segera membawa Alina ke rumahnya.
"Oh gitu, yaudah deh. Next kalian main ke sini ya." Ujar meilla yang di anggukin oleh keduanya.
"Oh iya, Lin jangan lupa beli yang apa gue bilang tadi, Haidar tau kok toko langganan gue." Seru Meilla mengingatkan.
Tanpa bertanya lagi, Haidar hanya mengangguk pada Alina karena Haidar paham. Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil Haidar.
__ADS_1
"Sudah siap alina?" Tanya Haidar memastikan dan di anggukin oleh Alina.