
Kebahagiaan terpancar dari wajah dua sejoli pagi ini. Keduanya kembali bersama ke kampus, meskipun Alina yang menjemput Haidar ke rumah. Tak apa lah, namanya pasangan harus saling melengkapi.
Sepanjang perjalanan keduanya membicarakan apa saja yang terlewatkan selama apa saya yang terlewat selama beberapa hari tak bersama kemarin. Alina menceritakan tentang healing nya bersama dengan Elsa. Lalu bertemu dengan Hoodie couple yang saat ini mereka telah gunakan.
Ini Haidar yang minta loh, untuk menggunakan Hoodie itu saat ke kampus. Biar semua warga kampus tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih yang sangat bahagia dan tidak boleh ada yang ganggu.
“Alina!” panggil seseorang yang jaraknya tidak jauh dari mereka.
Alina dan Haidar menoleh arah sumber suara tersebut, ternyata ada Alister berdiri di sana dengan tas bertengkar di sebelah kanan bahunya. Wajah Haidar yang tadinya bahagia berubah masam saat melihat Alister.
“Awas aja kalo dia kesi-” belum ucapannya Haidar selesai, Alister sekarang sudah tepat berada di depan mereka membuat Haidar menghela napasnya kasar.
Alina yang melihat perubahan wajah Haidar, langsung menggenggam tangan kekasihnya itu agar lebih tenang.
“Ada apa, Ali?” seru Alina.
Alister mengeluarkan sebatang cokelat dari saku jaketnya, “Ini cokelat dari Singapura, bunda titip untuk kamu.” seru Alister.
“Bunda? Gimana kabar bunda?” tanya Alina sambil menerima cokelat itu dan masukkan nya ke dalam saku Hoodie nya.
Alister mengangguk, “Baik kok, bunda nyuruh aku untuk ajak kamu main ke rumah, Lin!” beritahu Alister.
Yaps benar, cokelat itu memang titipan dari Maya ibunda Alister. Hubungan Maya dengan Alina di bilang cukup dekat. Dulu Alina memang sering berkunjung ke rumah Alister, karena ia sering merasa bosan di rumah sendirian.
Lalu bagaimana Maya tahu kalau Alister bertemu dengan Alina di kampus ini? Yaps, Alister yang bercerita pada Maya, tentang pertemuan nya dengan Alina di sini. Lalu respon bundanya sangat bahagia, karena memang sudah lama tidak bertemu dengan Alina. Kaya menyuruh Alister untuk mengajak Alina main ke rumahnya jika ada waktu.
Haidar yang sudah tidak tahan melihat pemandangan di depannya dan mendengar apa yang mereka bicarakan, langsung menghempaskan tangan Alina yang tadi di genggamnya dan menarik jaket depan milik Alister.
Haidar tak suka dengan cara Alister yang dengan sengaja atau terang-terangan mengibarkan bendera perang dengannya.
“Lo buta? Dia udah punya cowok!” tegas Haidar.
Hal itu membuat warga kampus yang berlalu-lalang menjadi ingin tahu apa yang tengah terjadi. Langsung ketiganya menjadi pusat perhatian di pagi hari ini.
Alina yang melihat Haidar melakukan itu, berusaha untuk memisahkan keduanya, “Haidar, cukup! Malu di lihatin orang!” seru Alina.
Haidar yang sama sekali tidak menghiraukan apa yang di bilang Alina. Tangannya tetap menarik jaket milik Alister, dengan satu tangan lagi sudah mengempal kuat, tinggal melayangkan pukulan pada wajah musuh di depannya.
__ADS_1
“Haidar lepas, kalau kamu gak lepas, kita kaya kemarin lagi!” mendengar ucapan dari Alina membuat Haidar akhirnya melepaskan cengkraman itu dari jaket Alister.
Haidar langsung menggenggam tangan Alina dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya di gunakan untuk menunjuk wajah Alister yang tampak sedang tersenyum licik.
Alister memang sengaja tidak melawan atau membalas apapun perlakuan Haidar tadi. Menurut nya, biar Alina yang menilai kalau Haidar tidak baik untuk Alina, karena cowok itu hanya bisa mengandalkan emosi nya saja.
“Sekali lagi gue lihat lo deketin Alina, habis lo sama gue!” ancam Haidar lalu menarik Alina keluar dari kerumunan.
Haidar membawa Alina menuju kantin, dirinya butuh yang segar-segar untuk mendinginkan kepalanya yang tadi terbakar api cemburu. Alina menaruh segelas es jeruk di hadapan Haidar, dan Haidar langsung menegak habis minuman itu.
“Pelan-pelan haidar.” peringat Alina.
Setelah gelas es jeruk itu kosong, Haidar kembali meletakkan gelasnya di atas meja dan menerima tisu dari Alina untuk membersihkan mulutnya bekas minuman tadi.
“Cokelat yang tadi mana?” seru Haidar membuat Alina mengerutkan dahinya, bingung.
“Untuk apa?” tanya Alina yang ingin tahu tujuan Haidar meminta coklat pemberian Alister.
Haidar menadahkan tangannya, agar Alina memberikan cokelat itu padanya, “Mau aku buang!” ketus Haidar.
Haidar semakin tak suka saat mendengar Alina memanggil nama mantan kekasihnya itu hanya dengan singkatan saja. Bisa di panggil itu adalah panggilan sayang untuk si mantan.
“Kamu sedekat itu sama keluarga nya?” tanya Haidar.
Alina mengangguk, “Lumayan, kamu tahu kan aku sering ngerasa sepi karena orang tua aku jauh. Makanya aku sering main ke rumah Ali, dan ketemu bundanya.” jelas Alina dengan jujur.
Haidar langsung bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari sana. Ia malas bertengkar dengan Alina, makanya ia memilih pergi untuk menenangkan emosinya.
Loh kan Haidar yang bertanya, lalu kenapa Haidar pula yang tak suka mendengar jawaban jujur dari Alina itu. Gak jelas memang kalau lagi cemburu!
Alina yang melihat Haidar berdiri langsung bertanya, “Ih kamu mau kemana?” tanya Alian.
Haidar tidak menjawab apapun, dan ingin melangkahkan kakinya, belum sempat melangkah tangannya di cekal oleh Alina membuat Haidar kembali membalikkan badannya.
“Nih coklatnya, terserah mau kamu apain. Aku gak mau gara-gara cokelat ini, kita berantem. Baru juga baikan masa berantem lagi, capek tahu! Kapan bahagianya kalau kaya gitu terus!” keluh Alian.
Haidar mengambil cokelat itu lalu di letakkan nya begitu saja di atas meja kantin. Lalu menggengam tangan Alina dan mengajak nya pergi dari sana. Siapapun bisa mengambil nya!
__ADS_1
“Alina, jangan pernah Nerima apapun lagi dari dia ya? Aku gak suka lihatnya!” seru Haidar menyuarakan hatinya.
Alina terkekeh, “Kamu lagi cemburu ya?” goda Alina.
Haidar mendengus kasar, “Daru tadi kamu gak nyadar kalau aku lagi cemburu?” tanya Haidar dengan ketus.
Alina mengangguk, “Nyadar kok, kamu lucu tau kalau lagi cemburu. Muka kamu jadi merah-merah gitu, gemesin!” goda Alina.
Lagi-lagi Haidar mendengus kasar mendengar pengakuan itu dari Alina, “Tapu kamu denger gak apa yang aku bilang tadi?”
Alina mengangguk, “Iya denger Haidar, aku gak akan Nerima apapun lagi dari dia.” ujar Alina.
Haidar mencium pucuk kepala Alina dengan sayang, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam kelas masing-masing untuk menunggu dosen pengajar datang.
Sedangkan di kantin, Hellena yang menemukan coklat biru di atas meja yang tidak bergerak sedikit pun setelah di tinggal oleh Alina dan Haidar tadi.
“Anjir, ini cokelat mahal! Punya siapa ya, kok di taruh begini aja!” seru Hellena sambil celangak celinguk mencari pemilik coklat tersebut.
Tetapi sepertinya tidak apa pemiliknya di sini, buktinya tidak ada yang mendekat meskipun cokelat itu di angkat oleh Hellena. Ternyata di belakang coklat itu ada sebuah surat dengan kertas ukuran yang sangat kecil sampai Hellena susah membaca surat itu.
Teruntuk kamu yang cantik,
Terimalah coklat ini, sebagai tanda kasih
pertemanan kita.
Alister.
Hellena kaget setelah membaca surat di belakang coklat itu. Entah kebetulan atau memang begini cara Alister untuk memberinya coklat tersebut. Jantung Hellena menjadi berdebar, karena senang.
Memang, Hellena menyukai Alister sejak pandangan pertamanya. Alister adalah tipe Hellena banget, cowok cool gimana gitu.
Sejak nomernya di taruh di ponsel Alister, sejak itu pula Hellena menunggu pesan dari cowok itu. Tapi sampai sekarang pun tidak ada pesan sama sekali.
Jadi, Alister sama Hellena aja gimana?
Baru juga baikan, bahagia ada aja pasti pengganggu nya.
__ADS_1